Chapter 05

"Zia," Maddy terkejut.

Di antara banyak hal yang Maddy inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Ia tahu betapa Zia sangat mencintai Arza, sangat sulit membuat Zia berhenti dan menyadari bahwa Arza tidak akan pernah menoleh padanya.

Sahabatnya akan pura-pura tuli dan buta ketika Arza mengeluarkan omongan menyakitkan perihal ia sangat tidak menyukai Zia.

Sekarang ketika mendengar Zia berkata demikian, Maddy tidak bisa menahan air mata harunya. Ia bahagia akhirnya Zia menyadari bahwa hal yang dilakukannya sia-sia.

"Zi, gue ikut seneng sama keputusan lo. Gue harap ini bukan sekadar omongan sesaat lo. Mungkin ini sulit, tapi pelan-pelan aja lupain Arza-nya. Jangan takut bersungguh-sungguh ada gue selalu dukung lo," ucap Maddy tulus.

Zia tersenyum, tipis. "Udahlah gak usah dipikirin, ini emang waktunya gue move on, lagi pula cowok bukan cuman Arza."

Maddy menatap sahabatnya takjub. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Zia akan mengatakan hal itu. Maddy mengalihkan pandangannya, tapi tidak sengaja menangkap Gaby yang berjalan ke arahnya.

Lebih tepatnya ke arah tempat Arza yang berjarak dua meja di sampingnya. Ia tersenyum sinis ketika mengingat kejadian menyebalkan di rumah sakit.

Ia memperhatikan Gaby yang berjalan sambil menunduk dengan tangan memegang nampan. Kemudian ia melirik Zia yang masih sibuk dengan makanannya, tadi Zia baru saja makan nasi goreng dan sekarang sudah berubah menjadi bakso. Waw, Maddy takjub dengan perubahan selera makan Zia.

Gaby semakin mendekat, senyum miring terlihat di wajah cantik Maddy. Ia sengaja mengulurkan satu kakinya untuk menjegal gadis cengeng itu. Namun...

PRANG!

Mata Maddy membulat sempurna ketika melihat Gaby jatuh dengan isi yang di atas nampan itu berserakan. Bahkan gadis itu belum menyentuh kakinya, bagaimana bisa Gaby jatuh.

Seisi kantin mendadak hening mendengar kebisingan itu. Zia yang baru saja menyuap bakso ke dalam mulutnya tersentak kaget mendengar itu sehingga baksonya muncrat keluar. Sialan! Melirik ke arah tempat kegaduhan itu.

Matanya menyipit mengenali siapa gadis yang sedang duduk tergeletak di lantai dengan tubuh gemetaran.

"Heh Gaby! Ngapain lo masih duduk di situ, cosplay jadi suster ngesot?"

Entah siapa yang berbicara seperti itu, tapi karena ucapannya kantin tiba-tiba menjadi bising kembali karena ledakan tawa. Gaby semakin menunduk mengerut takut, air mata yang sedari tadi ditahan meluncur begitu saja. Ia meremas tangannya yang gemetar, ucapan mengejek dan hinaan dari berbagai arah terdengar di telinganya.

"Bangun." Suara serak dan dingin itu membuat Gaby tertegun.

Ia mendongak dan matanya langsung bertatapan dengan netra sehitam malam. Entah sejak kapan, tiba-tiba kantin kembali hening.

Zia tidak menyangka di hari pertamanya masuk ia akan disuguhkan drama romantis antara pemeran utama wanita dan pria. Ia kembali menyuap baksonya sambil menyaksikan bagaimana Arza dengan kerennya mengulurkan tangan pada Gaby yang masih duduk tergeletak di lantai.

"Bangun." Arza mengulurkan tangannya dengan wajah datar.

Suasana kantin kembali hening.

Gaby menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca dan bibir pucat, ragu dan takut tergambar jelas di wajahnya. Namun, setelah meyakinkan diri, Gaby menyambut uluran tangan Arza dengan gemetar.

"Makasih," ucap Gaby pelan setelah berhasil berdiri.

Arza diam lalu tiba-tiba membuka jaket yang dikenakannya, dipasangkan jaket itu pada Gaby yang bajunya penuh tumpahan jus.

"Kenapa bisa jatuh?" Tanya Arza serak.

Gaby menunduk, tapi tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia tidak menyangka Arza akan membantunya. Mereka memang berpacaran tapi itu hanya sebuah kesepakatan.

"Gaby," panggil Arza dingin, tapi gadis itu masih belum menjawab. Pemuda itu menghela napas pelan. "Kalian semua yang tadi jadiin pacar gue bahan bercandaan, maju!"

Arza mengedarkan tatapannya. Pandangannya pada sekitar dengan tajam membuat siapa pun merinding.

Siapa yang mau berurusan dengan Arza selain Zia. Arza tidak terlalu banyak omong, tapi sekali bertindak bisa membuat siapa pun mengerut bagai semut. Kekejaman Arza sudah terkenal di dalam sekolah maupun luar sekolah bahkan guru pun angkat tangan dan tidak mau berurusan dengannya.

Mata Arza bergulir pada gadis yang masih sibuk dengan makanan seolah tidak peduli dengan sekelilingnya. Arza tahu pasti gadis itu dalangnya yang membuat Gaby seperti ini. Ia melangkah mendekati Zia, seperti singa yang sedang mengincar mangsanya.

"Gue tau ini pasti ulah lo."

Zia baru saja ingin menyuap baksonya otomatis berhenti ketika mendengar suara itu. Ia mendongak dan terkejut melihat Arza berdiri di sana.

"Lo ngomong apa?" tanya Zia berusaha santai.

"Gak usah pura-pura!" sentak Arza. "Lo pasti yang buat Gaby kayak gitu, kan?" tudingnya dengan mata berkilat tajam.

"Lo nggak punya mata? Jelas-jelas gue dari tadi duduk di sini, kenapa malah nyalahin gue?!" sahut Zia dengan nada kesal.

PRANG!

Arza melempar mangkuk bakso milik Zia kencang hingga isinya berserakan di lantai dan menimbulkan suara bising.

"Lo itu sampah! Lo pikir dengan ngelakuin hal kayak gini bakal bikin gue balik suka sama lo, jangan mimpi!" Suara Arza menggema kejam. "Sekali lagi lo ngelakuin hal ini sama pacar gue, lo tahu akibatnya!" ancamnya membuat siapa pun bergetar.

Tapi tidak untuk Zia yang sedari tadi tidak mendengar apa yang diucapkan cowok itu, fokusnya pada bakso miliknya yang telah berpindah tempat bergelindingan di lantai. Wajahnya seketika mengerut, bibirnya menipis kesal ia menatap Arza marah kemudian mengebrak meja.

Zia mengebrak meja kencang. "Punya sopan santun gak lo?! Bakso itu masih gue makan, kenapa lo lempar sialan!" sentak Zia tajam.

Zia paling benci ketika sedang makan ada orang yang mengganggu atau menyingkirkan makanannya, apalagi membuang makanan yang masih ia makan seperti ini.

Semua orang terdiam kaku mendengar perkataan Zia. Maddy yang ingin membantu sahabatnya langsung tertegun tidak percaya.

Teman-teman Arza yang berada di belakang Gaby menelan ludah, sementara Gaby tersedak ludah sendiri seolah melindungi diri.

Brian yang saat itu sedang minum langsung tersedak dan batuk, menahan tawa hingga mengena ke teman-temannya.

Arza melirik gadis itu malas. "Terus terang, Zia, kalau ini salah satu cara murahan lo buat narik perhatian gue, buang khayalan lo itu jauh-jauh. Bahkan, sampai nangis darah pun, gue gak akan pernah suka sama lo."

"Najis!" Zia memutar bola matanya. "Lo punya bukti gue yang bikin cewek lo jatuh, ha? Gak ada kan? Asal banget mulut lo koar-koar gak jelas."

"Tuh lihat cewek lo, nunduk terus kayak lagi mulung duit. Siapa yang gak jatuh kalau jalannya aja gitu!" lanjutnya sambil mengedikkan dagu menunjuk Gaby yang memang sedang menunduk.

Arza terdiam.

Kalau tidak tahu situasi, mungkin saat ini Maddy sudah tertawa ngakak. Benar, ternyata bukan hanya dirinya saja yang risih dengan cara berjalan Gaby yang terus menunduk.

Sejak tadi Maddy kesal pada Gaby yang sedari tadi diam seolah korban. Padahal Gaby jatuh sendiri, awalnya memang Maddy ingin memberi sedikit pelajaran pada gadis itu, tapi Gaby sudah jatuh duluan sebelum menyentuh kakinya yang Maddy persiapkan untuk menjegal. Namun, kenapa sekarang malah begini?

Terpopuler

Comments

Lina Hibanika

Lina Hibanika

heh dasar gadis playing victim 😡

2025-10-22

1

Amriati Plg

Amriati Plg

Ngk ada, cctv apa di kantin

2025-12-10

0

Heni Mulyani

Heni Mulyani

lanjut

2025-10-21

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01
2 Chapter 02
3 Chapter 03
4 Chapter 04
5 Chapter 05
6 Chapter 06
7 Chapter 07
8 Chapter 8
9 Chapter 09
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 01
2
Chapter 02
3
Chapter 03
4
Chapter 04
5
Chapter 05
6
Chapter 06
7
Chapter 07
8
Chapter 8
9
Chapter 09
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!