Bab 2. Desakan Keluarga

“Kalau memang kamu belum siap hamil, biarkan Gaza menikah lagi!” ucap Puspa sembari menatap Nala sinis.

Nala hanya diam, tetap tenang tak peduli bagaimana pendapat puspa terhadapnya. 

“Jika memang Mas Gaza Setuju…”

“Tidak!” Gaza memotong ucapan Nala. “Nek, Gaza sudah menikah dengan Nala. Jadi, jangan meminta sesuatu yang tidak akan pernah bisa Gaza lakukan lagi.” Gaza menatap serius anggota keluarganya.

Puspa menarik nafasnya kesal. “Tapi usia Nenek gak ada yang tau.” 

Nala tersenyum sinis, ia melirik ke arah Gaza. Suaminya tetap tenang tak ada pembelaan lagi. Hanya segitukah usaha suaminya menjaga nama baiknya. Sepertinya Nala terlalu berharap.

“Jika Mas Gaza menikah lagi, kami harus bercerai dulu, Nek. Tolong jelaskan itu pada Gaza.” Setelah mengucapkan itu. Nala melepas paksa genggaman tangan Gaza pada pinggangnya.

“Mau ke mana?” tanya Gaza.

Nala hanya melirik sekilas kemudian beralih ke arah Puspa dan Maya. “Maaf, Nala izin ke kamar dulu. Malam ini kalian makan saja, tidak usah menunggu Nala.”

Nala berlalu menaiki tangga dengan tenang, hanya terlihat tenang. Air matanya bahkan sudah jatuh saat ia membalikkan tubuhnya tadi. Ia hanya tak ingin terlihat lemah. 

Suasana seketika hening, Zanna melirik sekilas pada Gaza yang mengusap wajahnya kasar. Zanna memilih diam, bukan ranahnya untuk bicara. Pendapatnya tak akan didengar sama sekali.

“Nek…” panggil Gaza pelan. “Maaf, bukan maksud kami menunda. Gaza menikahi Nala di usianya yang cukup muda. Biarkan dulu istri Gaza menikmati masa mudanya. Lagi pula kami tidak menunda, hanya belum diberikan saja.” Gaza berucap sangat hati-hati, ia takut menyinggung Neneknya.

“Bu, Maya setuju dengan Gaza, jangan terlalu menekan Nala, Bu. Apalagi masih kuliah. Mungkin itu yang menyebabkan mereka belum diberikan anak, Nala dan Gaza sama-sama sibuk. Belum waktunya.” Maya berusaha menenangkan Ibu mertuanya itu.

Puspa menatap Maya jengah. “Kalian selalu memanjakan Nala dan Gaza. Apa aku harus mati dulu baru kalian memikirkan anak.” 

“Gak Nek…”

“Pokoknya…” Puspa kembali memotong ucapan Gaza. “Kalian harus pergi memeriksakan kesuburan. Atau…” Pupsa menatap Gaza penuh selidik.

“Apalagi?” tanya Gaza lelah.

“Kamu dan Nala menggunakan kontrasepsi?” tebak Puspa.

Gaza menarik nafas dalam, ia berusaha menahan diri agar tidak menyakiti Neneknya. “Gak, Nek. Kami tidak menggunakan apapun sama sekali, memang belum waktunya saja.” Gaza masih berusaha memenangkan Puspa.

“Ya sudah, bujuk istri mu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Kamu juga ikut. Kalau kamu yang gak bisa punya anak, kamu Nenek pecat jadi cucu.” Puspa kemudian berlalu meninggalkan Gaza yang terkejut akibat ucapannya.

***

Zanna dan Nala sedang berbaring di kamar Zanna, ruangan yang dipenuhi nuansa berwarna merah mudah. Sangat identik dengan Zanna yang ceria dan riang. Sesekali Zanna memainkan ujung rambut Nala yang sedikit pirang. Zanna tau, Nala dan Kakaknya sedang ribut, sehingga Nala memilih mengurung diri di kamar Zanna.

“Maafin Kak Gaza dan keluarga aku ya,” pinta Zanna membuat Nala menoleh dan tersenyum lembut.

Nala menggeleng pelan, sesekali ia menarik nafas berat. “Aku memutuskan untuk bercerai, tapi Mas Gaza menolak.” 

Sontak saja Zanna terkejut, ia menatap tak percaya ke arah Nala. “Kamu minta cerai?” tanya Zanna tak percaya.

“Hem…” gumam Nala sembari mengangguk.

Zanna menarik tubuh Nala agar duduk menghadap dirinya, ia memperhatikan dengan baik apa ada bagian tubuh Nala yang terluka atau mengalami kekerasan.

“Kenapa sih?” tanya Nala kesal.

“Kamu gak di apa-apain ‘kan sama Kak Gaza?” tanya Zanna panik.

Nala tertawa pelan. “Gak, aku baik-baik saja. Meniduriku aja dia gak berani apalagi berbuat kasar.” 

Zanna menghentikan gerakannya. ia bisa merasakan bagaimana menderitanya Nala selama ini. Ia dituntut untuk hamil, sementara syarat untuk hamil saya tidak dilakukan keduanya. Selama ini Zanna selalu pendengar yang baik, sehingga semua masalah yang terjadi di rumah tangga kakaknya, ia tahu sedikit-sedikit.

“Jangan suruh aku bersabar, aku sudah capek,” ucap Nala saat melihat Zanna yang siap menasehatinya. 

Zanna tak jadi mengelurakan ucapannya, kata-kata Nala cukup membungkamnya. Kakaknya memang keterlaluan. 

“Malam ini tidur di sini?” Zanna mengalihkan pembahasan.

Nala tak menjawab, wajahnya jelas menyiratkan kelelahan yang luar biasa. “Nenek meminta Mas Gaza menikah lagi…” suara Nala bergetar. “Aku gak mau jadi yang kedua, Na. Lebih baik berpisah saja, toh Mas Gaza gak cinta sama aku.” 

Zanna mengusap lengan Nala. Zanna pun tak habis pikir dengan ucapan Neneknya tadi. Walaupun, Kakaknya menolak dengan tegas, tapi Zanna yakin, pembahasan ini akan terus berlanjut dan membuat Nala semakin menderita.

“Mungkin kedepannya aku akan jarang berkunjung, Na. Mas Gaza juga gak bisa membela aku. Jelas-jelas dia tau kenapa sampai detik ini aku gak hamil. Tekanan keluarga kalian luar biasa, Na. Aku hanya ingin menjaga mentalku saja, setidaknya aku harus fokus untuk menyelesaikan kuliahku, KKN dan skripsi. Aku gak mau mati di usia muda.” 

Zanna mengerucutkan bibirnya, ia tak terima dengan Nala yang terkesan ingin menyerah dengan pernikahannya. “Jangan begitu, buktikan kalau kamu mampu. Aku ada di pihak kamu kok.”

“Aku gak bisa hamil, Na. Aku sendirian. Jadi… Aku menyerah.” Nala membaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur. “Numpang tidur malam ini ya, subuh nanti aku pindah.” 

Nala memejamkan matanya, ia ingin mengabikan semua perasaan di hatinya. Mengenai berpisah dengan Gaza, dan tuntutan untuk hamil.

Zanna hanya menatap punggung kakak iparnya itu, semakin hari semakin kurus, Zanna bisa melihat dengan jelas perubahan Nala selama ini. Masih ceria, tapi hanya untuk menutupi kesedihan di hatinya.

“Kak Gaza jahat,” gumam Zanna sendiri, ia kemudian ikut berbaring di sisi Nala.

Zanna larut dalam pikirannya, matanya tak bisa terpejam. Ia tak mau Nala terpisah dari Kakaknya, tapi membuat mereka saling mencintai rasanya akan sulit, tapi Zanna ingin mencoba sekali saja.

Suara pintu yang terbuka membuat Zanna menghela nafasnya pelan, siapa lagi kalau bukan suami dari perempuan yang kini terlelap di sampingnya.

Gaza mendekat, mengetahui adiknya belum terlelap membuat Gaza menghentikan langkahnya.

“Udah tidur dari tadi, sambil nangis kayaknya.” Zanna berbohong, setidaknya Gaza harus merasa bersalah sedikit saja.

“Dia bukan perempuan cengeng,” ucap Gaza yang mendekat ke arah istrinya.

Zanna jengah, Kakaknya selalu saja menganggap semuanya biasa saja. “Jangan mau nikah lagi, jangan dengarkan ucapan Nenek,” ucap Zanna pelan.

Gaza yang ingin mendekati Nala berhenti, ia menatap Zanna yang ikut menatapnya serius. “Gak ada yang mau menikah lagi,” ucap Gaza dengan suara yang menyerupai berbisik, ia takut Nala akan terbaung.

“Janji…” Zanna mengulurkan jari kelingkingnya. Gaza menyambut, tak mau berdebat dengan adiknya yang sedikit cerewet tapi selalu perhatian padanya.

“Kalau Kakak ingkar janji, aku akan bawah Nala pergi yang jauh,” ancam Zanna serius.

Gaza mengabaikan ucapan Zanna, ia memilih mendekat ke istrinya. Pelan tapi pasti, Gaza mengangkat tubuh kecil istrinya untuk di bawah ke kamar mereka. 

“Jangan disakiti…” Zanna kembali memperingati sebelum Gaza keluar dari kamarnya.

Gaza hanya mengangguk, entah di lihat oleh adiknya atau tidak. Ia hanya ingin mengakhiri perdebatan mereka.

Perlahan Gaza meletakkan Nala di tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuh Nala. Tangannya terulur, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nala. Cantik, dan tak terusik sedikitpun. 

Terdengar hembusan nafas kasar dari Gaza, ia masih memikirkan kenapa ia bisa menikahi Nala, gadis kecil yang wajahnya menyerupai perempuan yang ia sukai. Saat itu, Gaza bahkan mempunyai kesempatan untuk mundur dan menikah dengan wanita itu. Tapi hatinya justru ragu dan  menerima dengan yakin kehadiran Nala. 

“Jangan pernah berfikir untuk bercerai, Nala. Bersabarlah sebenar,” ucap Gaza sembari mengecup kening Nala. 

Gaza mengambil bantal, kemudian beranjak untuk berbaring di sofa, ia memiringkan tubuhnya hingga bisa melihat Nala yang terlelap di tempat tidur. Rasa aneh kembali menjalar di hati, terlebih mengingat bagaimana yakinnya Nala meminta cerai padanya siang tadi.

Gaza menggeleng, mengabaikan gunda di hatinya. Ia memilih memejamkan mata demi mengusir semua riuh di pikirannya. Ia berharap, itu hanya emosi sesaat saja. Mungkin Gaza harus memikirkan cara agar Nala tidak memikirkan perpisahan lagi.

Terpopuler

Comments

Fierda

Fierda

Sampai sini masih belum ketebak sih apa maunya gaza 🤔

2026-03-09

0

ༀ⋆🍾⃝ͩʀᷞɪͧɴᷠɪᷧ⋆M⃟3💋⋆ༀ

ༀ⋆🍾⃝ͩʀᷞɪͧɴᷠɪᷧ⋆M⃟3💋⋆ༀ

aneh sih klau tak cnt knp dipilih

2026-04-05

0

Deera__

Deera__

hmmm aku masih penasaran sejauh ini

2026-03-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2 Bab 2. Desakan Keluarga
3 Bab 3. Jangan Dipaksa
4 Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5 Bab 5. Kok Sakit?
6 Bab 6. Gia untuk Anggia
7 Bab 7. Promil ala Nenek
8 Bab 8. Sakit
9 Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10 Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11 Bab 11. Pingsan
12 Bab 12. Gaza Panik
13 Bab 13. Keberadaan Dani
14 Bab 14. Rahasia Terbongkar
15 Bab 15. Dani dan Zanna
16 Bab 16. Rencana Zanna
17 Bab 17. Nasehat Bunda
18 Bab 18. Gaza Terdesak
19 Bab 19. 90 Hari
20 Bab 20. Rumah Kita!
21 Bab 21. Usaha Gaza
22 Bab 22. Mengawasi Nala
23 Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24 Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25 Bab 25. Hampir Ketahuan
26 Bab 26. Malu
27 Bab 27. Mencari Bukti
28 Bab 28. Bertemu Dani
29 Bab 29. Cemburu
30 Bab 30. Tidur Bersama
31 Bab 31. Sedikit Bersemangat
32 Bab 32. Dua Pria Tua
33 Bab 33. Istriku Yang Cantik
34 Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35 Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36 Bab 36. Tatapan Gaza
37 Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38 Bab 38. Kabar Bahagia
39 Bab 39. Pelepasan KKN
40 Bab 40. Perpisahan
41 Bab 41. Perjalanan
42 Bab 42. Sepi!
43 Bab 43. Berbohong
44 Bab 44. Titik Lokasi
45 Bab 45. Pria Misterius
46 Bab 46. Kabar Terbaru
47 Bab 46. Terror
48 Bab 48. Kangen Pulang
49 Bab 49. Terluka
50 Bab 50. Gaza Kesal
51 Bab 51. Senang-Senang
52 Bab 52. Terciduk
53 Bab 53. Hukuman
54 Bab 54. Dalam Kendali Dani
55 Bab 55. Marah Part 2
56 Bab 56. Rumah
57 Bab 57. Rumah Mertua
58 Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59 Bab 59. Ikut KKN
60 Bab 60. Mentertawakan Nasib
61 Bab 60. Malam Yang Dingin
62 Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63 Bab 63. Bayangan Hitam
64 Bab 64. Gaza Demam
65 Bab 65. Notifikasi
66 Bab 66. Keberadaan Nala
67 Bab 67. Obat Tidur
68 Bab 68. Mengejar Maaf
69 Bab 69. Rahasia Gaza
70 Bab 70. Menuntut Lebih
71 Bab 71. Pergi dan Bebas
72 Bab 72. Waktu yang Hampa
73 Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74 Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75 Bab 75. Selesai
76 Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77 Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78 Bab 78. Sebuah Kepastian
79 Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80 Bab 80. Lepas Dari Kendali
81 Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82 Bab 82. Pernikahan Anggia
83 Bab 83. Penghianat
84 Bab 84. Kamar Hotel
85 Bab 85. Pria berpengalaman
86 Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87 Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88 Bab 88. Rencana Bulan Madu
89 Bab 89. Manis atau Pedas
90 Bab 90. Berangkat
91 Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2
Bab 2. Desakan Keluarga
3
Bab 3. Jangan Dipaksa
4
Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5
Bab 5. Kok Sakit?
6
Bab 6. Gia untuk Anggia
7
Bab 7. Promil ala Nenek
8
Bab 8. Sakit
9
Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10
Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11
Bab 11. Pingsan
12
Bab 12. Gaza Panik
13
Bab 13. Keberadaan Dani
14
Bab 14. Rahasia Terbongkar
15
Bab 15. Dani dan Zanna
16
Bab 16. Rencana Zanna
17
Bab 17. Nasehat Bunda
18
Bab 18. Gaza Terdesak
19
Bab 19. 90 Hari
20
Bab 20. Rumah Kita!
21
Bab 21. Usaha Gaza
22
Bab 22. Mengawasi Nala
23
Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24
Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25
Bab 25. Hampir Ketahuan
26
Bab 26. Malu
27
Bab 27. Mencari Bukti
28
Bab 28. Bertemu Dani
29
Bab 29. Cemburu
30
Bab 30. Tidur Bersama
31
Bab 31. Sedikit Bersemangat
32
Bab 32. Dua Pria Tua
33
Bab 33. Istriku Yang Cantik
34
Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35
Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36
Bab 36. Tatapan Gaza
37
Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38
Bab 38. Kabar Bahagia
39
Bab 39. Pelepasan KKN
40
Bab 40. Perpisahan
41
Bab 41. Perjalanan
42
Bab 42. Sepi!
43
Bab 43. Berbohong
44
Bab 44. Titik Lokasi
45
Bab 45. Pria Misterius
46
Bab 46. Kabar Terbaru
47
Bab 46. Terror
48
Bab 48. Kangen Pulang
49
Bab 49. Terluka
50
Bab 50. Gaza Kesal
51
Bab 51. Senang-Senang
52
Bab 52. Terciduk
53
Bab 53. Hukuman
54
Bab 54. Dalam Kendali Dani
55
Bab 55. Marah Part 2
56
Bab 56. Rumah
57
Bab 57. Rumah Mertua
58
Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59
Bab 59. Ikut KKN
60
Bab 60. Mentertawakan Nasib
61
Bab 60. Malam Yang Dingin
62
Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63
Bab 63. Bayangan Hitam
64
Bab 64. Gaza Demam
65
Bab 65. Notifikasi
66
Bab 66. Keberadaan Nala
67
Bab 67. Obat Tidur
68
Bab 68. Mengejar Maaf
69
Bab 69. Rahasia Gaza
70
Bab 70. Menuntut Lebih
71
Bab 71. Pergi dan Bebas
72
Bab 72. Waktu yang Hampa
73
Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74
Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75
Bab 75. Selesai
76
Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77
Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78
Bab 78. Sebuah Kepastian
79
Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80
Bab 80. Lepas Dari Kendali
81
Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82
Bab 82. Pernikahan Anggia
83
Bab 83. Penghianat
84
Bab 84. Kamar Hotel
85
Bab 85. Pria berpengalaman
86
Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87
Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88
Bab 88. Rencana Bulan Madu
89
Bab 89. Manis atau Pedas
90
Bab 90. Berangkat
91
Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!