Bab 3. Jangan Dipaksa

Nala memperhatikan sekeliling kamarnya, ia sudah bisa menebak siapa yang membawanya ke kamar. Pasti Gaza yang memindahkannya. Mereka berada di rumah orang tuanya, jika saat ini mereka berada di rumah sendiri, Gaza tidak akan sepeduli itu padanya.

“Kenapa harus libur sih,” keluh Nala. 

Sudah menjadi keharusan, sabtu dan minggu atau hari libur lainnya mereka akan menginap di kediaman orang tua Gaza, itulah syarat yang diminta orang tua Gaza saat keduanya memutuskan untuk pisah rumah.

Andai keluara Gaza tau, memilih tidak tinggal bersama bukan karena ingin mandiri, tetapi agar Gaza dan Nala tak terjebak sandiwara dan bisa tidur di kamar masing-masing tanpa ketahuan.

Nala melirik ke arah Gaza yang masih terlelap di sofa, azan subuh sudah berkumandang. Biasanya Gaza sudah bangun dan melaksanakan sholat subuh di masjid, mengingat ayah Gaza adalah kepala keluarga yang cukup tegas dalam semua aspek termasuk soal agama. Tetapi entah kenapa Gaza menjadi pria yang justru bermain-main dengan pernikahan.

Perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya, ia harus mempersiapkan diri. Entah drama apalagi yang akan terjadi di meja makan nanti. Semalam ia beruntung karena bapak mertuanya sedang menghadiri acara pengajian yang diadakan salah satu tetangganya. Jadi Nala bisa sedikit memberontak.

“Agrahhh…” Nala menepuk kepalanya, ia kesal dengan isi pikirannya sendiri. Kenapa dia terjebak dalam pernikahan seperti ini. Belum lagi ia harus bermesraan pada Gaza, hatinya selalu lemah soal itu.

“Pokoknya harus cerai,” ucap Nala dengan suara setengah berbisik. “Tapi bagaimana caranya?” tanya Nala lagi.

Nala memilih membungkus tubuhnya dengan selimut, ia mencaci gaza berulang kali. Hanya sandiwara, tapi hatinya justru terbawa arus.

Tanpa Nala sadari, Gaza melihat dan mendengar semuanya. Perasaannya aneh, tapi ia mengabaikannya. Gaza memilih bangun dan memasuki kamar mandi, ia sudah terlambat untuk sholat berjamaah di masjid.

Suara pintu kamar mandi yang tertutup menyadarkan Nala, ia mengintip dari balik selimutnya. “Dia dengar gak ya?” tanya Nala pelan. 

Gaza keluar dari kamar mandi, ia melihat Nala yang duduk sambil memeluk lututnya. 

“Mandi! Aku tunggu kamu buat sholat berjamaah,” perintah Gaza.

Nala hanya melirik sekilas kemudian beranjak ke kamar mandi. Tapi sebelum menutup pintu kamar mandi ia menoleh ke arah Gaza yang sedang mengeringkan rambutnya.

“Mas, sholat saja. Gak usah tunggu aku. Cukup di depan manusia aja sandiwaranya, di depan Allah, jangan. Udah ketahuan soalnya.”

Ucapan Nala membuat Gaza diam sejenak. Ia melempar handuknya ke sembarang arah. Nala sudah mulai memberontak, bisa jadi semua orang akan tahu bagaimana kondisi rumah tangganya nanti.

Gaza dan Nala akhirnya shalat berjamaah, mau tak mau Nala menurut saat melihat Gaza menunggunya.

“Nala…” panggil Gaza setelah istrinya tersebut menyalami tangannya.

“Hem…” jawab Nala singkat, ia tak menatap Gaza, lebih memilih sibuk membereskan alat sholatnya.

“Kita harus bicara.” Gaza menatap Nala serius.

“Bicara?” tanya Nala bingung. “Tumben Mas? biasanya kita tidak pernah bicara jika berdua?” 

“Kita sekarang ada di rumah orang tuaku, tolong bersikap baiklah,” ucap Gaza dengan suara datar.

Nala menghentikan pergerakan tangannya, ia berlatih menatap Gaza tajam. “Kali ini aku capek, Mas. Satu tahun ini aku kurang baik apa? dikatain mandul aja aku diam. Aku kurang baik apa? harusnya kamu Mas, kamu tegas. Aku tau hubungan kita gak wajar, tapi di depan keluargamu, minimal bela aku dikitlah. Didepan aku aja tegas, harus begini, begitu. Minimal di depan keluarga kamu juga begitu, bela aku.” Suara Nala bergetar.

“Baik,” jawab Gaza singkat.

Nala tercengang, ucapan panjang lebarnya hanya dijawab sesingkat itu.

“Satu lagi… Bagaimanapun caranya, aku gak mau melakukan tes kesuburan, Mas tau sendiri kenapa aku gak hamil-hamil sampai saat ini,” ucap Nala tegas.

Gaza hanya mengangguk, kali ini ia hanya bisa menuruti tak mau membantah banyak hal.

Setelah berbicara dengan Gaza, Nala memilih keluar dari kamar, ia harus membantu mertuanya di dapur. Meskipun ada asisten rumah tangga, tapi kebutuhan suaminya harus ia yang siapkan. 

“Ciee habis keramas…” celetuk Zanna, gadis itu sudah menunggu di ujung tangga.

“Namanya juga mandi, masa gak keramas.” Nala menjawab seadanya.

“Mandi subuh-subuh?” Kembali Zanna bertanya. Wajah herannya terlalu di buat-buat, padahal gadis itu tau, tak ada yang terjadi.

Nala menatap Zanna kesal, ia menyesal tidak sempat mengeringkan rambutnya tadi. Apalagi melihat Ibu mertuanya yang senyum-senyum saat melihat interaksinya dengan Zanna.

“Sudah, Na. Kakak mu jangan di godain. Bantu ibu bawain tehnya Bapak,” perintah Maya membuat Zanna meninggalkan Nala yang masih menatapnya tajam.

Nala melakukan hal yang sama, menyiapkan teh untuk Gaza. Ia mengaduk teh cukup lama hingga Maya menatapnya heran.

“Jangan di aduk terus, sudah larut itu gulanya,” tegur Maya lembut.

Nala tersenyum kikuk, ia melihat Gaza yang sudah duduk di meja makan. Entah kapan pria itu datang. Keasyikan melamun membuat Nala tidak menyadari kehadirannya.

“Lagi bacakan mantra, Bu,” ucap Nala sembari tertawa. 

Sandiwara dimulai.

Maya tersenyum lembut, “mantra buat apa?” tanyanya penasaran.

“Biar Mas Gaza gak nikah lagi,” jawab Nala dengan suara yang sedikit nyaring.

Senyum di wajah Maya surut, suasana seketika hening. Maya melirik ke arah suaminya yang serius menatap koran di tangannya. Sementara Gaza, ia hanya bisa memejamkan matanya, ia berharap bapaknya tidak mendengar ucapan istrinya tadi.

“Ucapan Nenek semalam jangan dimasukkan kehati ya,” bisik Maya lembut.

Nala tersenyum lebar, “bercanda Bu, aku gak masukkan ke hati kok.”

Maya mengangguk, ia mengusap pelan lengan Nala seolah memberi kekuatan.

Semua sudah duduk di meja makan, tak ada yang bersuara hanya denting sendok yang beradu dengan piring. Sikap tegas Iskandar Alindra selaku kepala keluarga membuat semuanya patuh pada aturan yang pria paruh baya itu tetapkan. Tapi hanya satu yang bisa melewati batasan itu, Puspa, Ibu dari pria Iskandar Alindra.

“Nala, hubungi Bundamu untuk makan malam di sini. Sudah lama kita tidak berkumpul, Jadi malam ini kalian bermalam lagi di sini. Besok atau lusa baru pulang, turun ke kampusnya dari sini saja.” Iskandar memecahkan keheningan setelah memastikan semua orang selesai dengan sarapannya.

“Oh Baik, Pak. Nala akan hubungi Bunda nanti.” Nala tersenyum senang, setidaknya ia bisa bertemu Bundanya malam ini.

“Anggia… Kamu suruh ke sini juga, Nak. Ibu kangen.” Maya meminta penuh semangat.

Nala mengangguk pelan, jika Kakaknya datang maka ia akan terabaikan. Ia melirik ke arah Gaza yang sedang berbicara dengan bapaknya, biasanya reaksi pria itu tak jauh berbeda dengan Ibunya jika soal Anggia.

“Gaza, Nala…” panggil Puspa pelan.

Nala menahan nafasnya, entah apa lagi yang akan wanita tua itu bicarakan. Nala melirik ke arah Zanna. Tatapan keduanya beradu. Zanna hanya tersenyum lembut seolah meminta Nala bersabar. Sementara Nala menghembuskan nafas kesal.

“Nenek sudah mencarikan dokter kandungan terbaik untuk kalian berdua.” 

Nala menunduk, ia sudah tau arah pembicaraannya akan kesana. Ia ingin memberontak, tapi takut durhaka.

“Buat apa, Bu?” kali ini Iskandar angkat bicara. Ia menatap Ibunya kemudian beralih pada Gaza dan Nala.

Gaza menatap Puspa, kemudian tangannya menarik tangan Nala yang sedang memainkan ujung bajunya di balik meja makan.

“Nek, Gaza dan Nala ingin berusaha lebih giat lagi. Mengenai pemeriksaan kesuburan, kami merasa kami tidak ada masalah, jadi tolong hargai keputusan kami.” Gaza berbicara sangat hati-hati tapi terdengar tegas.

“Setahun, Gaza? Pernikahan selama itu dan kalian belum memiliki keturunan. Jelas saja ada masalah, kecuali kalian menunda mempunyai momongan, wajar saja. Tapi kamu sendiri yang bilang tidak menunda ‘kan?” Puspa mulai kesal,  terdengar dari nada suaranya yang mulai meningkat.

Suasana hening, Iskandar mulai memahami situasi yang terjadi. Masalah ini bukan baru-baru ini terjadi, tetapi sepertinya sudah semakin serius.

“Bu… Biarkan dulu ya, Nala masih kuliah, sebentar lagi selesai.” Iskandar akhirnya menengahi saat melihat Gaza diam cukup lama.

“Terserah…” Puspa meninggalkan meja makan degan kesal dan sedikit kecewa karena putranya kali ini tidak membelanya.

Suasana meja makan terasa tegang, Nala hanya bisa menunduk. Ia kesal dengan Gaza yang membelanya sekedarnya, jika bukan karena Bapak mertuanya sudah pasti Nala akan diseret ke rumah sakit.

“Pa, terima kasih,” ucap Nala pelan.

Iskandar tersenyum lembut, tapi tatapannya berubah tajam saat ia melirik Gaza. 

“Gaza, setelah ini temui Bapak di ruangan kerja.” 

Perintah tegas dan jelas, tandanya pria paruh baya itu sedang marah. Gaza pasrah, ia tahu kelemahannya jika di hadapan keluarganya, terlalu penurut.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

ngomong aja Nala, jebret habis itu mau bubaran ke, indah aja lah kamu juga msh Ori Nala, mungkin Gaza senang sm Anggie😎

2026-03-08

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

capeknya jadi nala.

2026-03-03

0

Rusmini Mini

Rusmini Mini

jgn jgn Nala gak pernah di sentuh Gaza selama mrk menikah

2026-01-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2 Bab 2. Desakan Keluarga
3 Bab 3. Jangan Dipaksa
4 Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5 Bab 5. Kok Sakit?
6 Bab 6. Gia untuk Anggia
7 Bab 7. Promil ala Nenek
8 Bab 8. Sakit
9 Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10 Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11 Bab 11. Pingsan
12 Bab 12. Gaza Panik
13 Bab 13. Keberadaan Dani
14 Bab 14. Rahasia Terbongkar
15 Bab 15. Dani dan Zanna
16 Bab 16. Rencana Zanna
17 Bab 17. Nasehat Bunda
18 Bab 18. Gaza Terdesak
19 Bab 19. 90 Hari
20 Bab 20. Rumah Kita!
21 Bab 21. Usaha Gaza
22 Bab 22. Mengawasi Nala
23 Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24 Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25 Bab 25. Hampir Ketahuan
26 Bab 26. Malu
27 Bab 27. Mencari Bukti
28 Bab 28. Bertemu Dani
29 Bab 29. Cemburu
30 Bab 30. Tidur Bersama
31 Bab 31. Sedikit Bersemangat
32 Bab 32. Dua Pria Tua
33 Bab 33. Istriku Yang Cantik
34 Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35 Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36 Bab 36. Tatapan Gaza
37 Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38 Bab 38. Kabar Bahagia
39 Bab 39. Pelepasan KKN
40 Bab 40. Perpisahan
41 Bab 41. Perjalanan
42 Bab 42. Sepi!
43 Bab 43. Berbohong
44 Bab 44. Titik Lokasi
45 Bab 45. Pria Misterius
46 Bab 46. Kabar Terbaru
47 Bab 46. Terror
48 Bab 48. Kangen Pulang
49 Bab 49. Terluka
50 Bab 50. Gaza Kesal
51 Bab 51. Senang-Senang
52 Bab 52. Terciduk
53 Bab 53. Hukuman
54 Bab 54. Dalam Kendali Dani
55 Bab 55. Marah Part 2
56 Bab 56. Rumah
57 Bab 57. Rumah Mertua
58 Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59 Bab 59. Ikut KKN
60 Bab 60. Mentertawakan Nasib
61 Bab 60. Malam Yang Dingin
62 Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63 Bab 63. Bayangan Hitam
64 Bab 64. Gaza Demam
65 Bab 65. Notifikasi
66 Bab 66. Keberadaan Nala
67 Bab 67. Obat Tidur
68 Bab 68. Mengejar Maaf
69 Bab 69. Rahasia Gaza
70 Bab 70. Menuntut Lebih
71 Bab 71. Pergi dan Bebas
72 Bab 72. Waktu yang Hampa
73 Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74 Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75 Bab 75. Selesai
76 Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77 Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78 Bab 78. Sebuah Kepastian
79 Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80 Bab 80. Lepas Dari Kendali
81 Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82 Bab 82. Pernikahan Anggia
83 Bab 83. Penghianat
84 Bab 84. Kamar Hotel
85 Bab 85. Pria berpengalaman
86 Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87 Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88 Bab 88. Rencana Bulan Madu
89 Bab 89. Manis atau Pedas
90 Bab 90. Berangkat
91 Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2
Bab 2. Desakan Keluarga
3
Bab 3. Jangan Dipaksa
4
Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5
Bab 5. Kok Sakit?
6
Bab 6. Gia untuk Anggia
7
Bab 7. Promil ala Nenek
8
Bab 8. Sakit
9
Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10
Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11
Bab 11. Pingsan
12
Bab 12. Gaza Panik
13
Bab 13. Keberadaan Dani
14
Bab 14. Rahasia Terbongkar
15
Bab 15. Dani dan Zanna
16
Bab 16. Rencana Zanna
17
Bab 17. Nasehat Bunda
18
Bab 18. Gaza Terdesak
19
Bab 19. 90 Hari
20
Bab 20. Rumah Kita!
21
Bab 21. Usaha Gaza
22
Bab 22. Mengawasi Nala
23
Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24
Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25
Bab 25. Hampir Ketahuan
26
Bab 26. Malu
27
Bab 27. Mencari Bukti
28
Bab 28. Bertemu Dani
29
Bab 29. Cemburu
30
Bab 30. Tidur Bersama
31
Bab 31. Sedikit Bersemangat
32
Bab 32. Dua Pria Tua
33
Bab 33. Istriku Yang Cantik
34
Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35
Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36
Bab 36. Tatapan Gaza
37
Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38
Bab 38. Kabar Bahagia
39
Bab 39. Pelepasan KKN
40
Bab 40. Perpisahan
41
Bab 41. Perjalanan
42
Bab 42. Sepi!
43
Bab 43. Berbohong
44
Bab 44. Titik Lokasi
45
Bab 45. Pria Misterius
46
Bab 46. Kabar Terbaru
47
Bab 46. Terror
48
Bab 48. Kangen Pulang
49
Bab 49. Terluka
50
Bab 50. Gaza Kesal
51
Bab 51. Senang-Senang
52
Bab 52. Terciduk
53
Bab 53. Hukuman
54
Bab 54. Dalam Kendali Dani
55
Bab 55. Marah Part 2
56
Bab 56. Rumah
57
Bab 57. Rumah Mertua
58
Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59
Bab 59. Ikut KKN
60
Bab 60. Mentertawakan Nasib
61
Bab 60. Malam Yang Dingin
62
Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63
Bab 63. Bayangan Hitam
64
Bab 64. Gaza Demam
65
Bab 65. Notifikasi
66
Bab 66. Keberadaan Nala
67
Bab 67. Obat Tidur
68
Bab 68. Mengejar Maaf
69
Bab 69. Rahasia Gaza
70
Bab 70. Menuntut Lebih
71
Bab 71. Pergi dan Bebas
72
Bab 72. Waktu yang Hampa
73
Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74
Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75
Bab 75. Selesai
76
Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77
Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78
Bab 78. Sebuah Kepastian
79
Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80
Bab 80. Lepas Dari Kendali
81
Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82
Bab 82. Pernikahan Anggia
83
Bab 83. Penghianat
84
Bab 84. Kamar Hotel
85
Bab 85. Pria berpengalaman
86
Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87
Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88
Bab 88. Rencana Bulan Madu
89
Bab 89. Manis atau Pedas
90
Bab 90. Berangkat
91
Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!