Bab 5. Kok Sakit?

Kaki Nala terlihat memerah, tapi bagusnya tidak sampai melepuh. Gaza membantu Nala duduk di sofa, ia mengambil salep luka bakar yang tadi di bawah oleh Rey. 

Zanna dan Rey, duduk berjongkok tak jauh dari Nala. Keduanya menatap penuh khawatir pada Nala, terlebih Rey yang kini diliputi rasa bersalah.

Nala memejamkan matanya saat Gaza mulai mengoleskan salep. “Pelan-pelan, Mas.” 

Gaza menatap sekilas. Ia kembali mengoles pelan, sesekali ia meniup lembut agar rasa perih yang Nala rasakan sedikit berkurang.

Rey menatap penuh rasa khawatir, wajah jahilnya kini terlihat serius bercampur takut, ia melirik Nala kemudian berpindah ke Gaza. Ia sudah siap untuk di marah oleh suami dari temannya itu.

“Maaf,” bisiknya pelan tapi masih bisa didengar oleh Nala.

Iskandar dan Maya yang tadinya khawatir kini duduk di sofa bersama  Ratih dan Anggia. Mereka membiarkan Gaza mengobati Nala.

“Kamu kalau bercanda liat-liat kondisi dan situasi, Rey.” Iskandar memperingati keponakannya itu.

“Iya Om, tadi gak liat kalau Nala lagi bawain minuman,” ucap Rey dengan rasa bersalah.

Zanna kesal, ia memukul Rey kesal. “Makanya, punya mata dipakai. Nampan segede itu masa gak liat.”

Rey meringis saat tangannya mendapat pukulan dari Zanna.

“Maaf, Na. Aku kira tadi Nala lagi nguping sambil liatin Kak Gaza dan Kak Anggia ketawa di ruang keluarga, takutnya kesurupan soalnya diam gak gerak-gerak. Makanya aku inisiatif kagetin.”

Gaza menghentikan gerakan tangannya saat mendengar ucapan Rey, ia melirik sekilas pada Nala yang terus menunduk. Ia kemudian menatap Anggia. 

Anggia memalingkan wajahnya saat menyadari Gaza dan orang tua Gaza menatap ke arahnya.

“Masih sakit? Mau ke kamar?” tanya Gaza lembut.

Nala menggeleng, “cuman kena air panas kok,” ucap Nala pelan. Ia menyingkirkan tangan Gaza yang masih mengusap lembut kaki Nala.

“La, serius kamu diemin aku? Kamu marah?” tanya Rey yang dari tadi tak mendapat tanggapan apapun dari Nala.

Nala tersenyum, kemudian menggeleng pelan. “Kamu ‘kan gak sengaja, jadi gak apa-apa. Aku juga yang salah tadi, harusnya langsung pergi.Tapi aku mau sesuatu…” Nala diam sejenak, ia melirik Gaza yang juga meliriknya tajam. Nala mendekat ke arah Rey dan Zanna. “Aku mau es krim, boleh?” bisiknya.

Rey dan Zanna mengangguk bersamaan, mereka mengacungkan jempolnya tanda setuju.

“Rey yang traktir,” ucap Zanna semangat.

“Hmmm.” Gaza menatap mereka bertiga secara bergantian dan berakhir pada Rey. “Jangan bawa istri saya makan sembarangan,” ucap Gaza penuh peringatan.

“Gak, Kak. Jangan berburuk sangka,” bantah Rey.

“Lalu tadi, istri saya bisikin kalian berdua apa?”

Zanna dan Rey saling melirik kemudian melirik Nala yang kini menunduk seolah tak ingin terlibat.

“Mau ikut Rey bikin vlog buat kontennya,” jawab Zanna cepat.

Gaza menarik nafasnya panjang, ia tahu ketiga orang ini sedang berbohong, tapi akan ia biarkan untuk sekarang, tak enak dengan keluarga Nala.

Gaza kembali melirik Nala, istrinya itu hanya diam dan terus menunduk, entah menatap kakinya yang memerah atau sedang menghindari tatapan dari Gaza.

Puspa yang baru turun terkejut melihat Rey dan Zanna yang jongkok di hadapan Nala, kembali tatapan Puspa berpindah, warna merah di kaki Nala sangat kontras dengan kulit putihnya.

“Astagfirullah, Nala. Kaki kamu kenapa?” tanya Puspa khawatir.

Wanita tua itu menarik Rey agar menjauh dari Nala, ia duduk tepat di samping Nala. 

“Nek, astaga. Aku cucumu juga.” Protes Rey tapi tak mendapat respon apapun selain Zanna yang tertawa mengejeknya.

Tangan Puspa bergerak menyentuh kaki cucu menantunya itu, kekhawatiran jelas terlihat dari wajahnya.

“Gak apa-apa, Nek.” Nala menjawab sembari tersenyum.

“Gak apa-apa, bagaimana? ini merah kayak kepiting rebus.” Ucapan Puspa sontak membuat Rey tertawa nyaring.

“Rey!” Iskandar memanggil dengan suara tegas.

Sontak saja Rey diam, ia melirik Zanna yang menyuruhnya diam.

“Sudah diobati?” tanya Puspa lagi, ia menyentuh pelan kaki Nala.

“Sudah, Nek. Tadi sudah di kasih salep sama Mas Gaza,” jawan Nala pelan.

Nala tersenyum tipis, Puspa yang terlihat sangat khawatir, bahkan kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas.

“Sakit?” tanya Puspa lagi.

“Gak, Nek.” Nala menjawab singkat. 

Wanita tua di hadapannya ini, kadang membuatnya kesal setengah mati. Tapi perhatian yang diberikan selalu membuat Nala terharu.

“Kamu bagaimana sih, Za. Jagain istri aja gak bisa.” Puspa kini menatap Gaza yang dari tadi diam.

“Iya, Gaza yang salah.” Demi kewarasan dirinya, Gaza hanya bisa mengakui kesalahan yang tiba-tiba dituduhkan padanya.

“Sudah-sudah.” Maya yang tadi asik berbincang dengan besannya menengahi. “Rey dan Zanna, kalian siapkan bahan-bahan untuk bakar-bakar di halaman belakang,” perintah Maya.

Rey dan Zanna serentak berdiri, mereka merasa lebih baik menghindar sekarang ketimbang terlibat obrolan orang dewasa.

Nala ikut berdiri. “Tunggu, aku ikut,” ucapnya.

Tapi belum sempat Nala melangkah tangannya ditahan oleh Gaza. “Kaki kamu sakit, diam aja di sini.” 

Nala melepas tangannya dari Gaza. “Gak apa-apa, Mas. Ini sudah sembuh kok. Cuman air panas, sudah kebal. Mas temani Kak Anggia aja ke halaman belakang.”

Setelah mengucapkan itu, Nala langsung mengejar Rey dan Zanna yang sudah berada di dapur. 

“Loh, Nala? Beneran sudah sembuh?” teriak Puspa, tapi Nala sudah menghilang di balik pintu dapur. “Istrimu itu, keras kepalanya ngikutin kamu,” lanjut Puspa sembari menatap Gaza kesal.

“Gaza, tadi Nala nyuruh kamu temani Anggia ‘kan?” tanya Maya lembut. “Ajak ke taman belakang, Za.” 

Anggia terkejut sebab namanya di sebut, ia yang tadi sibuk menatap ponsel nya beralih ke arah Gaza yang juga menatapnya.

“Ayo, kita juga ke belakang,” ajak Iskandar membuat mereka akhirnya berdiri dan berpindah tempat, hari sudah semakin malam dan mereka sudah mulai lapar.

Nala meringis pelan saat ia sampai ke dapur, ia melihat Rey dan Zanna yang kini sibuk mengangkat bahan makanan yang akan mereka bakar-bakar malam ini.

“Loh kok di sini?” tanya Zanna heran, ia melihat Nala yang duduk sambil menatap kakinya.

“Hem, malas di luar.” Nala menjawab jujur.

Rey mendekat, ia menatap Nala serius. “Na… Sakit gak?” 

Nala mengangguk, ia menatap kakinya lagi. “Sakit dikit,” jawabnya kemudian tersenyum lebar.

Rey tak ikut tersenyum, ia terus menatap Nala. Cukup lama hingga senyum di bibir Nala surut. Perempuan itu menunduk tak berani menatap Rey dan juga Zanna.

“Dasar perempuan, kalau bohong gampang banget ketahuan,” ucap Rey kemudian kembali sibuk dengan beberapa daging yang akan dibakar.

“Duduk aja dulu, nenangin isi otak. Kalau sudah, kamu nyusul ke belakang,” ucap Rey. Pria itu menarik Zanna yang tadinya ingin duduk di kursi samping Nala. “Ayo, jangan diganggu,” lanjut Rey.

Zanna menuruti, ia mengikuti langkah Rey dan meninggalkan Nala sendirian di dapur.

Wanita itu tersenyum miris, seolah mengejek dirinya sendiri. “Kok sakit?” tanyanya sambil mengusap dadanya pelan.

Setelah tenang, Nala memutuskan untuk menyusul keluarganya yang sudah berkumpul di halaman belakang.

Samar-samar suara tawa keluarganya terdengar. Ia berjalan pelan hingga berdiri di depan pintu keluar.

Nala mengedarkan pandangannya, Rey dan Zanna yang sibuk membakar tengah berdebat perihal daging yang sudah matang atau belum.

Mertuanya dan juga Bundanya sibuk bercerita hingga sesekali tawa terdengar. 

Tapi ada yang mengusik pandangan Nala. Interaksi Gaza dan Anggia, keduanya berbicara cukup serius dan cukup terpisah dari semua keluarga, seolah pembahasan mereka cukup penting dan tak mau di ganggu.

“Dahlah, ntar juga pisah,” ucap Nala pada dirinya sendiri.

Ia memutuskan keluar setelah berapa kali menarik nafas. 

“Nala, sini!” teriak Zanna. “Rey gak bisa bedain ini sudah matang apa gak. Punyanya sampai gosong gini!” Zanna mengangkat daging yang sudah berwarna kehitaman.

Nala tersenyum lebar, langkahnya dipercepat untuk menghampiri Zanna dan Rey. Tapi ia kesal, sebab harus melewati Gaza dan Anggia.

“Nala…’’ Gaza mencekal tangan Nala.

“Iya Mas?” tanya Nala, jangan lupa senyum yang ia buat selebar mungkin.

“Temani Mas di sini,” ucap Gaza pelan.

Nala diam, ia menatap Gaza cukup lama kemudian beralih ke Kakaknya.

“Kan ada Kak Anggia, Mas. Aku mau bakar-bakar sama Zanna dan Rey. Kalian ngobrol aja, mumpung bisa ketemu.” Nala berucap lembut. Ia menarik paksa tangannya.

“Kaki kamu masih sakit, Sayang.” Gaza kembali menarik tangan Nala, tapi Nala menepisnya.

“Aku duduk aja kok, Mas. Jadi gak usah khawatir. Aku juga gak teledor sampai-sampai kaki sendiri di bakar,” ucap Nala sarkas.

“La… Mas tadi gak bermaksud…” 

“Iya Mas,” potong Nala cepat. “Aku paham.”

Setelah mengucapkan itu Nala dengan cepat pergi dari hadapan Gaza. Ia muak dengan semuanya, Gaza dan semua sandiwaranya. Nala ingin melepas semuanya.

Gaza menatap punggung Nala yang menjauh, ada perasaan kosong yang ia rasakan. Nala sudah mulai memperlihatkan dengan jelas bahwa merek tidak baik-baik saja. Sepertinya tekad untuk berpisah pun semakin kuat. Gaza menghela nafas lelah, sepertinya ia harus memikirkan ulang mengenai pernikahan merek.

Terpopuler

Comments

Siti Nurjanah

Siti Nurjanah

ini keluarga apaan? udah tau gaza nikah ma adiknya kok di biarkan berduaan ma kakaknya. dan gaza jd cowok kok egois

2026-08-19

0

linanda eneste

linanda eneste

dih mama nya aneh ne.. ga boleh gitu maker.. kn Gaza dah nikah sm adiknya anggia jd ga boleh bedua

2026-06-04

0

only siskaa

only siskaa

mewek sii aplgi di baca pas abis di putusin 🥲
rasanya tiap kata air mata netes netes Mulu 😭😭🥲

2026-02-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2 Bab 2. Desakan Keluarga
3 Bab 3. Jangan Dipaksa
4 Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5 Bab 5. Kok Sakit?
6 Bab 6. Gia untuk Anggia
7 Bab 7. Promil ala Nenek
8 Bab 8. Sakit
9 Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10 Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11 Bab 11. Pingsan
12 Bab 12. Gaza Panik
13 Bab 13. Keberadaan Dani
14 Bab 14. Rahasia Terbongkar
15 Bab 15. Dani dan Zanna
16 Bab 16. Rencana Zanna
17 Bab 17. Nasehat Bunda
18 Bab 18. Gaza Terdesak
19 Bab 19. 90 Hari
20 Bab 20. Rumah Kita!
21 Bab 21. Usaha Gaza
22 Bab 22. Mengawasi Nala
23 Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24 Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25 Bab 25. Hampir Ketahuan
26 Bab 26. Malu
27 Bab 27. Mencari Bukti
28 Bab 28. Bertemu Dani
29 Bab 29. Cemburu
30 Bab 30. Tidur Bersama
31 Bab 31. Sedikit Bersemangat
32 Bab 32. Dua Pria Tua
33 Bab 33. Istriku Yang Cantik
34 Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35 Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36 Bab 36. Tatapan Gaza
37 Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38 Bab 38. Kabar Bahagia
39 Bab 39. Pelepasan KKN
40 Bab 40. Perpisahan
41 Bab 41. Perjalanan
42 Bab 42. Sepi!
43 Bab 43. Berbohong
44 Bab 44. Titik Lokasi
45 Bab 45. Pria Misterius
46 Bab 46. Kabar Terbaru
47 Bab 46. Terror
48 Bab 48. Kangen Pulang
49 Bab 49. Terluka
50 Bab 50. Gaza Kesal
51 Bab 51. Senang-Senang
52 Bab 52. Terciduk
53 Bab 53. Hukuman
54 Bab 54. Dalam Kendali Dani
55 Bab 55. Marah Part 2
56 Bab 56. Rumah
57 Bab 57. Rumah Mertua
58 Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59 Bab 59. Ikut KKN
60 Bab 60. Mentertawakan Nasib
61 Bab 60. Malam Yang Dingin
62 Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63 Bab 63. Bayangan Hitam
64 Bab 64. Gaza Demam
65 Bab 65. Notifikasi
66 Bab 66. Keberadaan Nala
67 Bab 67. Obat Tidur
68 Bab 68. Mengejar Maaf
69 Bab 69. Rahasia Gaza
70 Bab 70. Menuntut Lebih
71 Bab 71. Pergi dan Bebas
72 Bab 72. Waktu yang Hampa
73 Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74 Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75 Bab 75. Selesai
76 Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77 Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78 Bab 78. Sebuah Kepastian
79 Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80 Bab 80. Lepas Dari Kendali
81 Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82 Bab 82. Pernikahan Anggia
83 Bab 83. Penghianat
84 Bab 84. Kamar Hotel
85 Bab 85. Pria berpengalaman
86 Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87 Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88 Bab 88. Rencana Bulan Madu
89 Bab 89. Manis atau Pedas
90 Bab 90. Berangkat
91 Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2
Bab 2. Desakan Keluarga
3
Bab 3. Jangan Dipaksa
4
Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5
Bab 5. Kok Sakit?
6
Bab 6. Gia untuk Anggia
7
Bab 7. Promil ala Nenek
8
Bab 8. Sakit
9
Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10
Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11
Bab 11. Pingsan
12
Bab 12. Gaza Panik
13
Bab 13. Keberadaan Dani
14
Bab 14. Rahasia Terbongkar
15
Bab 15. Dani dan Zanna
16
Bab 16. Rencana Zanna
17
Bab 17. Nasehat Bunda
18
Bab 18. Gaza Terdesak
19
Bab 19. 90 Hari
20
Bab 20. Rumah Kita!
21
Bab 21. Usaha Gaza
22
Bab 22. Mengawasi Nala
23
Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24
Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25
Bab 25. Hampir Ketahuan
26
Bab 26. Malu
27
Bab 27. Mencari Bukti
28
Bab 28. Bertemu Dani
29
Bab 29. Cemburu
30
Bab 30. Tidur Bersama
31
Bab 31. Sedikit Bersemangat
32
Bab 32. Dua Pria Tua
33
Bab 33. Istriku Yang Cantik
34
Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35
Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36
Bab 36. Tatapan Gaza
37
Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38
Bab 38. Kabar Bahagia
39
Bab 39. Pelepasan KKN
40
Bab 40. Perpisahan
41
Bab 41. Perjalanan
42
Bab 42. Sepi!
43
Bab 43. Berbohong
44
Bab 44. Titik Lokasi
45
Bab 45. Pria Misterius
46
Bab 46. Kabar Terbaru
47
Bab 46. Terror
48
Bab 48. Kangen Pulang
49
Bab 49. Terluka
50
Bab 50. Gaza Kesal
51
Bab 51. Senang-Senang
52
Bab 52. Terciduk
53
Bab 53. Hukuman
54
Bab 54. Dalam Kendali Dani
55
Bab 55. Marah Part 2
56
Bab 56. Rumah
57
Bab 57. Rumah Mertua
58
Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59
Bab 59. Ikut KKN
60
Bab 60. Mentertawakan Nasib
61
Bab 60. Malam Yang Dingin
62
Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63
Bab 63. Bayangan Hitam
64
Bab 64. Gaza Demam
65
Bab 65. Notifikasi
66
Bab 66. Keberadaan Nala
67
Bab 67. Obat Tidur
68
Bab 68. Mengejar Maaf
69
Bab 69. Rahasia Gaza
70
Bab 70. Menuntut Lebih
71
Bab 71. Pergi dan Bebas
72
Bab 72. Waktu yang Hampa
73
Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74
Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75
Bab 75. Selesai
76
Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77
Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78
Bab 78. Sebuah Kepastian
79
Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80
Bab 80. Lepas Dari Kendali
81
Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82
Bab 82. Pernikahan Anggia
83
Bab 83. Penghianat
84
Bab 84. Kamar Hotel
85
Bab 85. Pria berpengalaman
86
Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87
Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88
Bab 88. Rencana Bulan Madu
89
Bab 89. Manis atau Pedas
90
Bab 90. Berangkat
91
Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!