Mas Dosen, Ayo Cerai!

Mas Dosen, Ayo Cerai!

Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!

Nala Purnama Dirgantara, ia menarik nafas panjang, menatap kosong pada tangannya yang baru saja di genggam oleh suaminya, Gaza Aliandra.

“Mas…” panggil Nala. 

Gaza menatap Nala, lalu kembali fokus pada telepon genggamnya. Senyum terukur di sudut bibirnya. Manis dan membuat Nala terpesona, tapi yang harus Nala ketahui, Gaza hanya suaminya saat bersama orang banyak. 

Nala lelah, ia ingin bebas tanpa perlu bersandiwara, pernikahan tanpa cinta, desakan keluarga dan banyak hal lainnya membuat Nala kehabisan energi.

“Mas, Ayo cerai!”

Sontak saja, pria yang tadi sibuk dengan telepon genggam itu menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Nala. Matanya menyipit seolah meyakini apa yang baru saja Nala ucapkan.

“Ulangi!” Gaza berucap penuh penekanan.

“Aku ingin kita bercerai saja,” ulang Nala, lalu menundukkan pandangannya. “Satu tahun kita menikah semuanya penuh sandiwara. Tak ada cinta di antara kita, hanya wasiat Ayah, jadi…”

“Sandiwara?” Gaza tersenyum mengejek. “Satu tahun lalu aku memenuhi permintaan Almarhum ayahmu. Menikahi kamu didepan jenazah ayahmu sendiri, lalu kamu bilang itu sandiwara?” 

Nala meneguk ludahnya kasar, suara Gaza tak meninggi tapi penuh penekanan. 

“Bukan itu, kehidupan setelah pernikahan. Semuanya penuh kepalsuan, di hadapan keluarga dan orang-orang kita terlihat baik-baik saja, tapi saat di rumah… kita asing.” Suara Nala bergetar, menahan gejolak yang selama ini ia pendam.

“Lalu kamu ingin seperti apa? di cintai? Kamu tau aku gak bisa untuk itu, Nala. Untuk saat ini jangan menuntut itu padaku,” tegas Gaza.

Mendengar itu, Nala sontak menatap Gaza. “Maka dari itu, ayo bercerai! Agar kamu bisa bersama dengan orang yang kamu cintai!”

“Cukup!” bentak Gaza. “Jangan memancing emosiku, kita sedang di rumah keluargaku. Bersikap baiklah.” 

Nala menekan dadanya saat ia merasakan denyut samar, sakit tapi tak bisa disembuhkan seorang diri.

“Aku capek! Capek sekali, Gaza Aliandar,” ucap Nala lirih.

Setelah mengatakan itu, Nala segera berbalik memasuki kamar mandi. Ia tak mau Gaza melihatnya menangis dan terkesan lemah. Hanya dengan berkedip saja, Nala yakin air matanya pasti akan jatuh.

Gaza menghembuskan nafas berat melihat sikap Nala yang tiba-tiba berubah. Tapi, tak ada yang salah dari ucapan Nala. Pernikahan ini penuh sandiwara dan saling menyakit. Namun, menuruti permintaan Nala adalah sesuatu yang tak mungkin Gaza lakukan. 

Cukup lama Nala di kamar mandi, menenangkan diri dan memastikan tak ada sisa air mata di pipinya. Saat keluar, dia masih melihat Gaza berdiri di tempat tadi. Tanpa beranjak sedikitpun, seolah menunggu Nala.

Nala menghembuskan nafasnya kasar. Ia memilih berlalu, tapi tangannya kembali di cekal oleh Gaza. Tatapan suaminya berhasil membuat nyali Nala mengecil.

“Nala, jangan pernah berpikir untuk berpisah. Keluarga Aliandra sangat menjaga  reputasi keluarga. Jadi, sebesar apapun keinginan untuk bercerai, itu tidak akan terjadi.” Gaza kembali memperingati Nala, gadis manis yang ia nikahi secara paksa setahun lalu.

Nala tersenyum, ia memperlihatkan deretan giginya hingga membuat Gaza mengerutkan keningnya. Tadi ia melihat Nala yang sedih, seolah menjadi istri paling tersakiti. Lalu sekarang tersenyum lebar seolah semua baik-baik saja.

“Aku akan membuat Pak Gaza menceraikan aku, jadi bersiaplah.” Nala berucap sembari mengedipkan matanya.

Gaza menyipitkan matanya, entah apa lagi yang akan Nala lakukan. Tapi, Gaza menduga setelah ini, istri kecilnya ini akan semakin membuatnya pusing.

“Nala…” Gaza memperhatikan istrinya dari atas hingga ujung kaki.

Nala yang merasa di perhatikan segera menarik diri, ia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya.

“Ganti pakaian kekurangan bahan itu. Tubuhmu terlalu kurus, gak pantas.” Gaza tersenyum mengejek, kemudian berlalu dari hadapan Nala. Ia mengabaikan Nala yang menatapnya penuh dendam.

“Apa? Kurus? Aku…”

“Sholat, Nala…” potong Gaza. “Sholat, agar pikiranmu jernih dan tidak berpikir untuk bercerai. Kamu tau… itu tak mungkin.” Gaza kembali menegaskan ucapannya sebelum hilang di balik pintu.

Nala meraup udara sebanyak mungkin, satu ruangan dengan Gaza membuat dadanya sesak. Sikap dingin Gaza semakin hari semakin menyiksa, semua bukan tanpa sebab. Nala mencintai pria itu, semakin hari semakin tak bisa mengendalikan perasaannya. Jadi, sebelum semua semakin menyiksa, berpisah adalah jalan satu-satunya. Jalan menuju move on dari cinta sepihak, begitulah pikir Nala.

Nala memutuskan mengganti pakaiannya, bukan karena ucapan Gaza. Tapi saat ini Nala berada di rumah mertuanya. Setelah ia keluar dan berkumpul bersama keluarga suaminya, maka penampilannya akan menjadi pusat perhatian, mengingat keluarga suaminya cukup taat agama.

setelah berganti dengan baju yang lebih sopan, Nala menuruni tangga, tujuannya adalah ruang keluarga. Di sana semua telah berkumpul, Ibu mertuanya, adik iparnya dan jangan lupakan tetua di rumah ini, Neneknya Gaza, perempuan paling cerewet setelah Ibunya Nala.

“Kak Nala…” panggil, Zanna adik perempuan Gaza. wajahnya adik kakak itu mirip, hanya saja Zanna mempunyai sifat ramah dan mudah bergaul, tidak seperti Gaza. “Sini, duduk.” 

Zanna menepuk sofa di sampingnya, tapi belum sempat Nala duduk. Gaza sudah menariknya untuk duduk di samping pria itu.

“Kak Gaza!” teriak Zanna. “Biarin Nala duduk di samping aku, Kak. Ihh… pelit banget, ‘kan Kakak tiap hari berdua terus,” protes Zanna.

Gaza tak menjawab, ia membiarkan adiknya meluapkan semua kekesalannya. Ia tetap merangkul pinggang Nala membuat istrinya bergerak gelisah.

“Sudah, jangan ribut. Biarkan saja Kakakmu, Nala ‘kan istrinya, jadi wajar,” ucap Maya, Ibu dari Gaza dan Zanna.

Zanna yang mendengar ucapan Ibunya semakin kesal. Bagaimanapun Nala dan Zanna sudah berteman lama. Semenjak Nala menikah dengan Kakaknya, keduanya jadi jarang bertemu dan berbagi cerita.

“Hem…” 

Semua seketika hening ketika wanita tua itu berdehem ringan, ia menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan. Tatapannya berhenti pada Nala, tajam serta penuh selidik. 

“Sudah hamil?” Puspa, Nenek tua yang dihormati keluarga Aliandra.

Nala menggeleng, tapi ia tetap tersenyum. “Maaf, Nek…” hanya itu yang Nala ucapkan setiap orang bertanya perihal dirinya.

“Besok kita kerumah sakit,” ucap Puspa membuat suasan kembali hening.

Nala mengangguk tapi tangannya dengan cepat menepis tangan Gaza yang masih merangkul pinggangnya. Pelan tapi pasti, Nala menggeser duduknya sedikit menjauh dari Gaza.

Gaza merasakan pergerakan Nala, pria itu menoleh ia menatap Nala yang membuang muka ke arah lain. Tatapan intimidasi Gaza tak berhasil membuat Nala takut.

“Apa susahnya menghamili istri sendiri,” sindir Puspa lagi, kini wanita tua itu menatap Gaza kesal.

“Anak itu anugerah, Nek. Kami sudah berusaha, hasilnya tetap menjadi keputusan Allah.” Gaza berusaha bersikap bijak.

Nala mendengus kesal. Keputusan Allah mana yang suaminya tunggu. Gaza tau betul kenapa hingga saat ini Nala tak bisa hamil. Tapi selama ini Nala hanya bisa membela diri sendiri. Sedangkan suaminya, berlindung di balik kata-kata bijak dan menyalahkan takdir.

“Huff, Nek, sebenarnya… Akh…” Nala tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Gaza kembali menarik pinggangnya hingga terasa sakit. “Mas pelan-pelan.” Suara Nala tertahan, ia nyaris membentak jika tidak ingat dia sedang berada di mana.

Maya mengerutkan keningnya, “Nala mau ngomong apa?” tanya Maya berusaha mencari tahu.

Nala kembali merasakan genggaman kuat di pinggangnya. “Lupa, Bu.” Nala menjawab seadanya.

“Kalau memang kamu belum siap hamil, biarkan Gaza menikah lagi!”

Terpopuler

Comments

Amanda rames

Amanda rames

trima aja nala usul keluarga nya biar bisa buat alasan kalo kamu tidak tahan di madu🤣

2026-05-22

1

Siti Aisyah

Siti Aisyah

bener si Gaza nya suruh nikah lg...jd ada alasan utk cerai Krn gak mau dipoligami👍

2026-04-12

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

mantap, ceritanya aku baru baca udh gemes liat suaminya 🤭

2026-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2 Bab 2. Desakan Keluarga
3 Bab 3. Jangan Dipaksa
4 Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5 Bab 5. Kok Sakit?
6 Bab 6. Gia untuk Anggia
7 Bab 7. Promil ala Nenek
8 Bab 8. Sakit
9 Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10 Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11 Bab 11. Pingsan
12 Bab 12. Gaza Panik
13 Bab 13. Keberadaan Dani
14 Bab 14. Rahasia Terbongkar
15 Bab 15. Dani dan Zanna
16 Bab 16. Rencana Zanna
17 Bab 17. Nasehat Bunda
18 Bab 18. Gaza Terdesak
19 Bab 19. 90 Hari
20 Bab 20. Rumah Kita!
21 Bab 21. Usaha Gaza
22 Bab 22. Mengawasi Nala
23 Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24 Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25 Bab 25. Hampir Ketahuan
26 Bab 26. Malu
27 Bab 27. Mencari Bukti
28 Bab 28. Bertemu Dani
29 Bab 29. Cemburu
30 Bab 30. Tidur Bersama
31 Bab 31. Sedikit Bersemangat
32 Bab 32. Dua Pria Tua
33 Bab 33. Istriku Yang Cantik
34 Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35 Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36 Bab 36. Tatapan Gaza
37 Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38 Bab 38. Kabar Bahagia
39 Bab 39. Pelepasan KKN
40 Bab 40. Perpisahan
41 Bab 41. Perjalanan
42 Bab 42. Sepi!
43 Bab 43. Berbohong
44 Bab 44. Titik Lokasi
45 Bab 45. Pria Misterius
46 Bab 46. Kabar Terbaru
47 Bab 46. Terror
48 Bab 48. Kangen Pulang
49 Bab 49. Terluka
50 Bab 50. Gaza Kesal
51 Bab 51. Senang-Senang
52 Bab 52. Terciduk
53 Bab 53. Hukuman
54 Bab 54. Dalam Kendali Dani
55 Bab 55. Marah Part 2
56 Bab 56. Rumah
57 Bab 57. Rumah Mertua
58 Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59 Bab 59. Ikut KKN
60 Bab 60. Mentertawakan Nasib
61 Bab 60. Malam Yang Dingin
62 Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63 Bab 63. Bayangan Hitam
64 Bab 64. Gaza Demam
65 Bab 65. Notifikasi
66 Bab 66. Keberadaan Nala
67 Bab 67. Obat Tidur
68 Bab 68. Mengejar Maaf
69 Bab 69. Rahasia Gaza
70 Bab 70. Menuntut Lebih
71 Bab 71. Pergi dan Bebas
72 Bab 72. Waktu yang Hampa
73 Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74 Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75 Bab 75. Selesai
76 Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77 Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78 Bab 78. Sebuah Kepastian
79 Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80 Bab 80. Lepas Dari Kendali
81 Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82 Bab 82. Pernikahan Anggia
83 Bab 83. Penghianat
84 Bab 84. Kamar Hotel
85 Bab 85. Pria berpengalaman
86 Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87 Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88 Bab 88. Rencana Bulan Madu
89 Bab 89. Manis atau Pedas
90 Bab 90. Berangkat
91 Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Mas Dosen, Ayo Cerai!
2
Bab 2. Desakan Keluarga
3
Bab 3. Jangan Dipaksa
4
Bab 4. Tertawa Bersama Anggia
5
Bab 5. Kok Sakit?
6
Bab 6. Gia untuk Anggia
7
Bab 7. Promil ala Nenek
8
Bab 8. Sakit
9
Bab 9. Tiba-Tiba Pergi
10
Bab 10. Mulai Takut Kehilangan
11
Bab 11. Pingsan
12
Bab 12. Gaza Panik
13
Bab 13. Keberadaan Dani
14
Bab 14. Rahasia Terbongkar
15
Bab 15. Dani dan Zanna
16
Bab 16. Rencana Zanna
17
Bab 17. Nasehat Bunda
18
Bab 18. Gaza Terdesak
19
Bab 19. 90 Hari
20
Bab 20. Rumah Kita!
21
Bab 21. Usaha Gaza
22
Bab 22. Mengawasi Nala
23
Bab 23. Sewajarnya Suami Saja
24
Bab 24. Nenek Mulai Bertindak
25
Bab 25. Hampir Ketahuan
26
Bab 26. Malu
27
Bab 27. Mencari Bukti
28
Bab 28. Bertemu Dani
29
Bab 29. Cemburu
30
Bab 30. Tidur Bersama
31
Bab 31. Sedikit Bersemangat
32
Bab 32. Dua Pria Tua
33
Bab 33. Istriku Yang Cantik
34
Bab 34. Jaminan dan lain-lainnya
35
Bab 35. Gaza Mulai Berubah
36
Bab 36. Tatapan Gaza
37
Bab 37. Jangan Dekat-Dekat
38
Bab 38. Kabar Bahagia
39
Bab 39. Pelepasan KKN
40
Bab 40. Perpisahan
41
Bab 41. Perjalanan
42
Bab 42. Sepi!
43
Bab 43. Berbohong
44
Bab 44. Titik Lokasi
45
Bab 45. Pria Misterius
46
Bab 46. Kabar Terbaru
47
Bab 46. Terror
48
Bab 48. Kangen Pulang
49
Bab 49. Terluka
50
Bab 50. Gaza Kesal
51
Bab 51. Senang-Senang
52
Bab 52. Terciduk
53
Bab 53. Hukuman
54
Bab 54. Dalam Kendali Dani
55
Bab 55. Marah Part 2
56
Bab 56. Rumah
57
Bab 57. Rumah Mertua
58
Bab 58. Sabar Sedikit Lagi
59
Bab 59. Ikut KKN
60
Bab 60. Mentertawakan Nasib
61
Bab 60. Malam Yang Dingin
62
Bab 62. Sedikit Lebih Lembut
63
Bab 63. Bayangan Hitam
64
Bab 64. Gaza Demam
65
Bab 65. Notifikasi
66
Bab 66. Keberadaan Nala
67
Bab 67. Obat Tidur
68
Bab 68. Mengejar Maaf
69
Bab 69. Rahasia Gaza
70
Bab 70. Menuntut Lebih
71
Bab 71. Pergi dan Bebas
72
Bab 72. Waktu yang Hampa
73
Bab 73. Belum Siap Jadi Janda
74
Bab 74. Berbenah Sebelum Bertemu
75
Bab 75. Selesai
76
Bab 76. Ucapan Nenek Puspa
77
Bab 77. Pulang Ke Rumah Bunda Ratih
78
Bab 78. Sebuah Kepastian
79
Bab 79. Hubungan Yang Berakhir
80
Bab 80. Lepas Dari Kendali
81
Bab 81. Tentang 2 Keponakan
82
Bab 82. Pernikahan Anggia
83
Bab 83. Penghianat
84
Bab 84. Kamar Hotel
85
Bab 85. Pria berpengalaman
86
Bab 86. Kesalahan yang Menguntungkan
87
Bab 87. Menuruti Permintaan Nenek Puspa
88
Bab 88. Rencana Bulan Madu
89
Bab 89. Manis atau Pedas
90
Bab 90. Berangkat
91
Bab 91. Makan Malam Tidak Romantis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!