02 : Layaknya suami pencemburu

“Jangan sentuh istriku! Dasar keluarga pembunuh!” Bambang menarik belakang kerah kemeja pria yang bekerja sebagai pengelola keuangan bisnis milik mertuanya, sampai empunya ikut berdiri.

“Suami?” Adi langsung menoleh kebelakang, kakinya bergerak sesuai arah kepala. Ia tepis tangan lancang yang mencengkram kain. “Apa maksudmu?!”

Bambang menatap sinis, ia seperti seorang suami pencemburu. Ditepuk-tepuknya telapak tangan. “Padmini adalah istriku! Kami baru saja menikah beberapa jam yang lalu.”

Pria berpeci hitam dan wajah lesu itu secepat kilat memandang sang kekasih yang sudah dipacarinya selama dua tahun lamanya. “Benarkah itu, Ami?”

Padmini yang dipanggil dengan nama kesayangan dan hanya kedua orang tua, serta Rahardi saja diperbolehkan, memilih bungkam. Dia mengais tanah gundukan, meremas kuat seolah menyalurkan rasa kesakitannya.

Diam berarti benar, hal tersebut bagaikan suara petir disiang hari tanpa badai maupun langit mendung. “Tolong jelaskan ke Kakang! Sebenarnya apa yang telah terjadi, Ami?”

Permintaan tanpa adanya pemaksaan dikarenakan dia paham wanita yang menyembunyikan wajah di lipatan lutut itu jiwanya tengah terguncang.

Bambang tak tinggal diam, begitu lancang melompati makam ibu mertuanya. Menarik sedikit kasar lengan sang istri hingga beranjak. “Ayo pulang! Kau bukan lagi seorang gadis! Wajib menjaga martabat keluarga!”

Wajah Padmini bersimbah air mata, menatap nelangsa sang kekasih hati. “Ma_af, Kang. Kisah kita sampai di sini saja, aku telah menikah dengan pilihan Ayah dan Ibuk.”

“Berhenti!” suara tegas Rahardi, menghentikan langkah Bambang yang setengah menyeret Padmini.

“Dia manusia bukan binatang! Kedua orangtuanya memperlakukannya bak berlian, mengapa kau lancang sekali menyeretnya seperti seekor hewan!” Didorongnya dada Bambang sampai dia mundur nyaris terjengkang. Kemudian ditarik lembut lengan Padmini, dia bawah agak menjauh.

“Sakit kah ini?” tanyanya parau kala melihat bekas cengkeraman di pergelangan tangan sang wanita.

“Kang, tolong jangan buat gaduh! Aku tak mau bila mereka lebih parah lagi menyalahkan Paman atas kecelakaan maut itu,” beberapa kali telinganya mendengar kasak kusuk entah siapa yang menyebarkan fitnah.

Selentingan kabar mengatakan kalau ayahnya Rahardi, sengaja mencelakai kedua orang tua Padmini – supaya bila putranya menikahi putri tunggal pemilik perkebunan tebu dan sawah terluas perkampungan Hulu, maka derajat keluarganya akan ikutan terangkat.

“Apa karena itu juga kau menerima pernikahan aneh ini, Padmi? Tolong jawab!” Dagu sang kekasih ia tahan menggunakan telunjuk dan ibu jari, lalu secepatnya dilepaskan. Ingin rasanya dihapus lelehan air mata itu, tapi dirinya tidak ingin menjatuhkan kehormatan gadisnya.

“Iya. Aku tak mau mereka menghina Paman, dan kalian,” aku nya jujur.

“Ya Tuhan, Padmi. Sudah berapa kali Kakang katakan! Jangan dengarkan mereka! Yang terpenting, orang tua kita merestui, itu saja sudah cukup!” betapa gemasnya dia melihat sifat tidak enakan Padmini.

Bambang menatap tak suka, tapi dia menahan diri untuk tidak menyerang.

Beberapa orang yang masih disana memandang rendah pasangan yang sebelumnya sudah digadang-gadang akan menikah dalam waktu dekat.

“Dasar tak tahu malu, di pemakaman pun berani mereka memperlihatkan kemesraan.”

“Si Padmini juga, jadi perempuan murahan sangat – telah menikah tapi masih juga menggatal!”

Cibiran disertai tatapan merendahkan tertuju pada dua sosok yang berdiri berhadapan dan sama sekali tidak lagi bersentuhan.

Namun di wilayah mereka, bila berduaan dengan lawan jenis sudah melanggar peraturan adat yang ketat.

“Aku pun bingung, Kang. Ayah dan Ibuk sudah tahu kalau kita saling mencintai, dan mereka merestui. Namun tiba-tiba _”

“Padmini!” Sumi mendatangi sang keponakan, menarik kuat lengannya. “Kau itu sudah bersuami! Jaga marwah mu sebagai seorang wanita dan istri!”

“Dan kau, Rahardi!” Tudingnya menggunakan jari telunjuk. “Mulai hari ini, engkau dipecat! Juragan Pandu sendiri yang mengatakan sewaktu di puskesmas desa tetangga, sebelum dilarikan ke rumah sakit kota.”

Adi tertawa geli, tatapannya merendahkan. “Oh, jadi ini rencana kotor kalian, ya? Menyebarkan fitnah menuduh ayahku sengaja bunuh diri dan mencelakai kedua orang tua Padmini, tak lain ingin menguasai harta gadis malang yang baru saja kehilangan ayah dan ibunya.”

Ada getar pada netra hitam Sumi. Sebisa mungkin dia mengatur ekspresi. “Jangan asal menuduh kau! Kalau tak percaya, bisa tanyakan pada suamiku, dan tim penolong sewaktu di kejadian!”

Padmini ditarik paksa sampai langkahnya terseok-seok. Sebelum keluar dari area pemakaman, sosok memprihatinkan itu menoleh ke belakang, menatap sendu pria yang ia cintai.

Ingin rasanya Rahardi menerjang, dan membawa pergi sang kekasih hati. Namun hal tersebut sama saja dengan menjatuhkan martabat keluarga Padmini, dan menodai kehormatannya sebagai seorang gadis dikenal baik hati, lemah lembut, berjiwa welas asih.

Pria yang juga tengah berduka akibat kehilangan sang ayah itu hanya bisa memandang nanar. Dia akan mencari tahu dalang dibalik musibah besar ini.

***

Pada malam hari – kediaman paling besar di kampung Hulu, terlihat terang benderang. Empat buah lampu petromax dinyalakan menerangi ruangan luas, tikar plastik dan pandan sudah digelar.

Sumi dan suaminya, Wandi, serta Bambang – terlihat menyambut para tamu yang hendak tahlilan. Senyum mereka sendu, sorot mata pilu. Sesekali bibinya Padmini menyeka air mata di pipi, ia seperti belum ikhlas akan kehilangan adik sepupunya.

Para pemuda dan bapak-bapak, duduk rapi bersandar pada dinding tembok. Mereka bercengkrama dengan suara lirih seraya menunggu kedatangan pak ustadz yang akan memimpin acara tahlilan.

Di bagian dapur luas, ibu-ibu tengah sibuk menyiapkan teh hangat, dan kudapan berupa kue tradisional.

Padmini tidak ikut acara tahlilan, memilih mengurung diri di kamar kedua orang tuanya.

Dipandanginya potret hitam putih ayah dan ibunya dan ada juga dirinya yang tergantung di dinding tembok. Air matanya kembali berderai, sesekali isak tangisnya lolos.

“Padmi.” Rinda dan Sundari masuk ke kamar bercahayakan lampu minyak.

“Kau tak ikut melantunkan doa untuk kedua orang tuamu?” Sundari merangkul sang sepupu yang duduk di atas tilam sambil memeluk lututnya.

Rinda meletakkan nampan berisi nasi dan lauk, serta teh hangat di meja rias kayu jati.

“Aku disini saja,” jawabnya lirih, masih dengan posisinya memeluk lutut.

“Padmi, aku suapi ya? Sedari siang ku perhatikan kau sama sekali tak ada makan apapun. Mau, ya?” tanya Rinda dengan nada membujuk.

“Aku belum lapar, sama sekali tak berselera.”

“Kalau tak mau makan, paling tidak minum teh hangatnya. Supaya tak lemas badanmu, dan perutmu pun menjadi hangat,” rayu Sundari penuh perhatian.

Akhirnya Padmini mengangguk. Menerima gelas kaca bening berisi teh. Ia meneguk sedikit minuman hangat itu, keningnya mengernyit kala lidahnya terasa getir.

“Kenapa?” tanya Rinda, memandang lembut.

“Rasanya lebih pahit dari yang biasa kuminum,” jawab Padmini, ia memperhatikan warna teh yang sangat pekat, lalu kembali meneguk minumannya.

“Ya itu karena gulanya dikurangi dan daun tehnya dibanyakin, jadinya sedikit pahit,” Sundari memberikan alasan masuk akal.

Segelas teh pun sudah tandas. Rinda mengambil wadah minuman dalam genggaman Padmini, kembali meletakkan di meja rias.

Tidak lama kemudian, pandangan mata Padmini mengabur, kepalanya terasa berat sekali. “Kenapa aku jadi pusing dan mengantuk, ya ...?”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

iisshhh sabahat kw ternyata, apa mereka terlibat konspirasi bersama paman bibi dan mas Bambang tak uk uk itu.. 🙄🧐

2025-10-29

2

Reni

Reni

eeeee dikasih obat itu pasti tehnya 😬😬😬
astaga kok curiga ini Ami sengaja dibuat nikah sama Bambang emg seluruh keluarga besar ikut andil mungkin mau menguasai harta peninggalan ortue
padahal biyen pas SMA pacarku Bambang wong e Masya Allah bener2 luar biasa sabar , kerjaan e puasa puasa dan puasa g ada bosen e ngingetin sholat sama ngajak puasa aaaaa manisnya tapi Bambang yg disini jiannnnn bikin pingin ngebejek aku

2025-10-29

3

Lina Budiarti

Lina Budiarti

komen q melenceng iki kak tk pikir bkl cerita romantis gt novel slnjt nya la kok horor yo angel tidur nek mlm 😭😭😭....

2025-10-29

2

lihat semua
Episodes
1 01 : Seperti di paksa
2 02 : Layaknya suami pencemburu
3 03 : Mengapa kita ada disini?
4 04 : Seret ke tanah lapang
5 05 : Kutukan Maut Padmini
6 06 : Lebih baik aku mati
7 07 : Tak ada jejak sama sekali
8 08 : Lembah Pembuangan Jin
9 09 : Rukmi
10 10 : Jalan rahasia
11 11 : Mengintai
12 12 : Kirman
13 13 : Tabir masa lalu
14 14 : Penemuan
15 15 : Suatu hari nanti
16 16 : Permohonan
17 17 : Selamat jalan
18 18 : Teror mulai berdatangan
19 19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20 20 : Mencari sekutu
21 21 : Kesepakatan
22 22 : Ihsan
23 23 : Sepi yang mencurigakan
24 24 : Pencarian
25 25 : Pesta pernikahan
26 26 : Sedikit membalas
27 27 : Menuntut pertanggungjawaban
28 28 : Pesta tak terlupakan
29 29 : Teror datang lagi
30 30 : Tuyul
31 31 : Dikejar-kejar Tuyul
32 32 : Mirna
33 33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34 34 : Dukun sakti mandraguna
35 35 : Menjemput Laba-laba
36 36 : Semburan Wening
37 37 : Sundel bolong
38 38 : Ki Demang
39 39 : Tuntutan
40 40 : Menjelang malam berburu
41 41 : Mulut beracun
42 42 : Padmini keluar
43 43 : Egois
44 44 : Sundari ketakutan
45 45 : Ramuan apa?
46 46 : Sarman
47 47 : Salam perpisahan
48 48 : Hampir saja
49 49 : Ingin melaporkan
50 50 : Igun ketakutan
51 51 : Mahakarya
52 52 : Karung misterius
53 53 : Hadiah tidak berbahaya
54 54 : Wati
55 55 : Seperti di setrum
56 56 : Menuju pengakuan
57 57 : Pak lurah
58 58 : Anak siapa itu?
59 59 : Murkanya seorang suami
60 60 : Menyangkal
61 61 : Pengejaran
62 62 : Ayo masuk
63 63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64 64 : Rinda
65 65 : Memberi kejutan
66 66 : Interogasi
67 67 : Mulai penelusuran
68 68 : Bambang
69 69 : Cindera mata
70 70 : Tamu spesial
71 71 : Igun kehilangan akal
72 72 : Terkencing-kencing
73 73 : Mengapa?
74 74 : Perjanjian lain
75 75 : Pikirkan nanti
76 76 : Bau bangkai
77 77 : Sumi mulai senam jantung
78 78 : Hipnotis
79 79 : Makhluk Bunian
80 80 : Pengejaran
81 81 : Mencari solusi
82 82 : Minimal minta maaf
83 83 : Juned
84 84 : Rido
85 85 : Jangan
86 86 : Kunjungan
87 87 : Ramuan ajaib
88 88 : Ingin cepat mengakhiri
89 89 : Kebakaran
90 90 : Membumihanguskan
91 91 : Genap
92 92 : Pengorbanan
93 93 : Sama-sama tak sempurna
94 94 : Tata lah masa depan
95 95 : Memulai hari baru
Episodes

Updated 95 Episodes

1
01 : Seperti di paksa
2
02 : Layaknya suami pencemburu
3
03 : Mengapa kita ada disini?
4
04 : Seret ke tanah lapang
5
05 : Kutukan Maut Padmini
6
06 : Lebih baik aku mati
7
07 : Tak ada jejak sama sekali
8
08 : Lembah Pembuangan Jin
9
09 : Rukmi
10
10 : Jalan rahasia
11
11 : Mengintai
12
12 : Kirman
13
13 : Tabir masa lalu
14
14 : Penemuan
15
15 : Suatu hari nanti
16
16 : Permohonan
17
17 : Selamat jalan
18
18 : Teror mulai berdatangan
19
19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20
20 : Mencari sekutu
21
21 : Kesepakatan
22
22 : Ihsan
23
23 : Sepi yang mencurigakan
24
24 : Pencarian
25
25 : Pesta pernikahan
26
26 : Sedikit membalas
27
27 : Menuntut pertanggungjawaban
28
28 : Pesta tak terlupakan
29
29 : Teror datang lagi
30
30 : Tuyul
31
31 : Dikejar-kejar Tuyul
32
32 : Mirna
33
33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34
34 : Dukun sakti mandraguna
35
35 : Menjemput Laba-laba
36
36 : Semburan Wening
37
37 : Sundel bolong
38
38 : Ki Demang
39
39 : Tuntutan
40
40 : Menjelang malam berburu
41
41 : Mulut beracun
42
42 : Padmini keluar
43
43 : Egois
44
44 : Sundari ketakutan
45
45 : Ramuan apa?
46
46 : Sarman
47
47 : Salam perpisahan
48
48 : Hampir saja
49
49 : Ingin melaporkan
50
50 : Igun ketakutan
51
51 : Mahakarya
52
52 : Karung misterius
53
53 : Hadiah tidak berbahaya
54
54 : Wati
55
55 : Seperti di setrum
56
56 : Menuju pengakuan
57
57 : Pak lurah
58
58 : Anak siapa itu?
59
59 : Murkanya seorang suami
60
60 : Menyangkal
61
61 : Pengejaran
62
62 : Ayo masuk
63
63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64
64 : Rinda
65
65 : Memberi kejutan
66
66 : Interogasi
67
67 : Mulai penelusuran
68
68 : Bambang
69
69 : Cindera mata
70
70 : Tamu spesial
71
71 : Igun kehilangan akal
72
72 : Terkencing-kencing
73
73 : Mengapa?
74
74 : Perjanjian lain
75
75 : Pikirkan nanti
76
76 : Bau bangkai
77
77 : Sumi mulai senam jantung
78
78 : Hipnotis
79
79 : Makhluk Bunian
80
80 : Pengejaran
81
81 : Mencari solusi
82
82 : Minimal minta maaf
83
83 : Juned
84
84 : Rido
85
85 : Jangan
86
86 : Kunjungan
87
87 : Ramuan ajaib
88
88 : Ingin cepat mengakhiri
89
89 : Kebakaran
90
90 : Membumihanguskan
91
91 : Genap
92
92 : Pengorbanan
93
93 : Sama-sama tak sempurna
94
94 : Tata lah masa depan
95
95 : Memulai hari baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!