04 : Seret ke tanah lapang

“Tunggu apalagi! Arak mereka! Seret ke tanah lapang!” Juned paling semangat berkoar-koar sambil mengangkat tinggi obornya.

“Lainnya! Siapkan minyak tanah! Cepat!” teriaknya lagi.

“Astaga Padmini!” Bambang muncul di antara kerumunan massa. Netranya membasah, dadanya kembang kempis. “Aku tak menyangka bila moralmu rusak sudah! Kurang ku apa, Padmi?! Tega kau nodai ikatan suci pernikahan kita!”

“Tanah kuburan orang tua mu masihlah basah, bahkan taburan kembang pun belum layu, tapi di sini! Saat ini, kau malah berbuat zina! Mencoreng nama baik mereka, melempar kotoran tepat di wajahku yang berstatus suamimu! Tega kau Padmini!” Pria berkaos oblong itu meraup kasar wajahnya sendiri seperti orang frustasi.

“Dasar tak punya malu! Sudah seperti hewan saja kalian!”

“Tunggu apalagi! Gelandang mereka sekarang juga!”

Seruan geram bercampur amarah menggema.

“Kalian sudah termakan fitnah! Aku dan Padmini, tak tahu mengapa bisa berada disini! Kami dijebak, sewaktu tadi diriku_”

“Cukup Rahardi! Percuma kau mau menyanggah, berkelit! Bukti sudah ada didepan mata. Hanya orang dungu yang masih mau mempercayai kata-kata pria bejat macam dirimu! Cuih!” Wandi meludahi wajah pria yang menahan amarah.

“Jahat kau, Paman! Kalian tak bisa mengarak kami tanpa terlebih dahulu memberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan!” Padmini mulai sadar, fakta menyakitkan ini bagaikan ribuan jarum menusuk hatinya.

“Halla! Jangan banyak cakap! Cepat seret mereka!” Juned kembali memprovokasi.

Dua orang wanita muda menarik kasar lengan Padmini yang masih bersimpuh. Tanpa hati menjambak rambut panjangnya sampai Kepalanya mendongak.

Cih!

Buih air ludah membasahi pipi si gadis. “Inilah wajah aslimu, Lonte! Dulu para pemuda begitu menggilaimu, menyanjung setinggi langit. Menjadikan dirimu kriteria ideal seorang istri – ternyata kau lebih murahan daripada harga garam dapur!”

“Kalian akan menyesal memperlakukan aku layaknya kotoran!” Padmini menggeram, hilang sudah rasa simpatinya kala diperlukan hina.

“Ha ha ha … kalian dengar 'kan? Si Sundal ini hendak mengancam. Luar biasa sangat perangainya!” Tarikan rambut dikuatkan, tubuh Padmini didorong kuat. “Jalan kau, Jalang!”

“Berdiri kau, Bedebah!”

Rahardi pun ditarik oleh tiga pemuda. Didorong-dorong sampai nyaris tersungkur.

Caci maki, jambakan, pukulan di kepala, cubitan menyakitkan di kulit memenuhi tubuh Padmini dan juga Rahardi.

Para warga berjumlah lebih dari seratus orang, berteriak! Melontarkan kata-kata tidak manusiawi. Menuduh tanpa bukti lebih akurat, mempercayai apa yang terlihat.

Suara kentongan saling bersahutan-sahutan. Seruan bertambah kencang. Juned dan beberapa pemuda berteriak membahana.

“Wahai warga kampung Hulu! Jangan kau tiru pasangan mesum ini! Kelakuan mereka mengotori wilayah kita! Bahkan belum ada dua puluh empat jam orang tua mereka meninggal, tapi sudah melepaskan syahwat di selep padi!”

Kedua tangan Padmini dibekuk di belakang punggung oleh seorang pemuda. Saat lainnya sibuk meneriaki, sosok paruh baya main mata dengan si pria. Kemudian dia mendekat lalu meremas bokong sekal tertutup kain jarik.

Sang pemuda pun mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memasukkan sebelah tangannya ke dalam ujung jarik, meraba paha berkulit mulus, kala mau naik lebih ke atas lagi ….

"Setan kalian! Binatang!” Padmini meronta hingga terlepas, tangannya berayun menampar pipi pria berbau tembakau.

Plak!

“Dasar hewan! Kalian meneriaki aku tak bermoral, tapi lihatlah si tua bangka ini melecehkan diriku!”

Rahardi pun memberontak, menerjang pemuda yang menyeringai puas.

Bugh!

“Kau apakan kekasihku, Bangsat?!” Tinjunya mengenai rahang, netra Rahardi memerah diliputi amarah.

Dua lawan seratus tentulah kalah telak.

Bambang menendang dada pria yang masih berusaha memukul si pemuda. “Hajar dia! Jangan kasih ampun! Dirinya sedang membuat skenario murahan agar kita terkecoh!”

“Jangan!” Padmini maju, langsung dihalangi beberapa wanita. “Kang Adi!”

Jeritan pilu itu bagaikan angin lalu, tangannya dipukul kala mencoba menggapai pria terkapar dan masih terus ditendang.

“Cukup! Berhenti!”

Seruan suara bak toa melengking dan menghentikan aksi brutal.

Rahardi meludah darah, wajahnya kotor akibat pijakan telapak sandal, dan kaki tak beralas, kaosnya berubah warna. Dengan sisa tenaga ia berusaha berdiri, masih sempat menyuguhkan senyum menenangkan agar Padmini berhenti menjerit-jerit.

Bukannya berhenti, Padmini bertambah histeris mendapati mulut kekasihnya berdarah, air liur bercampur tanah dan darah. Jarak mereka terhalang empat langkah kaki orang dewasa.

“Kita punya Tuhan, mengapa kalian berkelakuan bak orang tak beriman?!” Pak ustadz datang menghadang bersama istrinya.

Wanita berkerudung lebar, bernama Halimah, cepat-cepat menghampiri Padmini, mengalungkan selendang lebar menutupi bahu terbuka yang kemejanya dibuang entah oleh siapa. “Yang sabar ya, Nak. Kebenaran pasti menemukan jalannya.”

Kemudian dia menoleh ke dua wanita menarik tangan Padmini. “Kalian wanita, terlahir dari rahim wanita bergelar ibu. Namun mengapa begitu tega mempermalukan sesama kaum mu, mempertontonkan auratnya menjadi santapan mata para pria, hah?!”

Kedua perempuan tadi bergeming, tangan mereka otomatis terlepas dari lengan Padmini.

“Berdasarkan apa kalian memperlakukan dua anak manusia ini dengan sangat keji?!”

Tak ada yang berani menjawab, mereka sangat menghormati pak ustadz.

“Mereka baru saja kehilangan orang tua, bahkan Rahardi sedari umur lima tahun sudah tidak memiliki ibu. Tanpa ampun kalian pukul, pijak, tendang dirinya? Hebat betul ya tipu daya Setan. Dalam sekejap mata bisa menyihir warga beriman langsung berkelakuan tak jauh berbeda daripada dia!” gelegar suara pak ustadz, menghantarkan getar rasa takut.

Tentu hal itu membuat para dalang pembuat kekacauan menatap tak suka.

“Dan kalian lihat wanita itu?!” Bu Halimah menunjuk pada Padmini. “Semasa orang tuanya hidup, saya menjadi saksi, berani mempertanggungjawabkannya suatu hari nanti – Padmini, tak sekalipun kedapatan mengenakan busana terbuka. Pakaiannya selalu tertutup meskipun tidak berhijab. Pada malam ini, kalian telah melakukan dosa besar, mempermalukan dirinya. Tak memberikan kesempatan kepadanya untuk menutupi tubuh secara sempurna!”

"Itu karena ulahnya sendiri!” Nisda membelah barisan wanita, berdiri didepan lainnya. Dia adalah ibu tirinya Rahardi, ibunya Rinda.

"Kampung kita memiliki peraturan ketat tentang hukuman bagi pasangan berbuat zina, dan mereka telah melakukan perbuatan laknat itu. Sudah sepantasnya dihukum adat 'kan?” tanyanya dengan nada menantang, gesture pongah.

Istrinya pak ustadz Daud – maju. Berdiri di antara dua insan menahan sakit pada sekujur tubuh. “Berduaan bukan berarti telah berbuat tak senonoh, kan? Bisa jadi mereka dijebak. Seharusnya sebagai seorang dukun beranak, bu Nisda bisa melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Bila orang sehabis bercinta, pasti meninggalkan bekas. Apa salah satu diantara kalian telah mendapati bukti itu?”

Pernyataan bu Halimah, menghantam kesadaran beberapa orang. Mereka hanya ikut-ikutan, tak berpikir sampai sedalam itu.

Sumi maju, berdiri di sebelah Nisda, temannya. “Demi nama kedua orang tua Padmini! Izinkan saya memberikan bukti nyata bukan sekedar omong kosong!”

Massa menahan napas, pengakuan ini sangatlah penting demi menyelamatkan mereka dari rasa bersalah kalau seandainya Padmini dan juga Rahardi tidak terbukti telah melakukan perzinahan.

“Di dalam lemari pakaian keponakan saya, Padmini. Ada lebih dari tiga potong celana dalam pria, serta kaos singlet. Kalau tak percaya, periksalah sendiri!” Barang bukti dikeluarkan dari dalam keresek hitam.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

FLA

FLA

dih gedek aku pada mereka, ah untung ada pak ustad ma istrinya kalo gak dah gak tau lagi deh

2025-10-29

4

≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄

≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄

Anjiirrrr, gini amat mau dapat harta/Cleaver/

2025-10-29

1

Somini

Somini

Hanya demi harta kekayaan hati nurani tertutup rapat,mata melihat tapi serasa buta,telinga mendengar tapi laksana tuli, lidah yang tak bertulangpun ikut memainkan peran terdiam bisu, hai para warga kampung hulu, belajar menilai orang itu jangan dari sampul mata telanjang kalian.
hasutan tak berbukti kalian jadikan acuan untuk menghakimi insan yang belum tentu salah...
Tangkap sutradara semua lakon ini, jangan terbius oleh kata2 , lihatlah ada maksud dibalik semua ini.
Bambang ,terlalu dini kau berdrama.
ibu tiri dimn mn emang kejam yaa.
Para cecunguk sekongkol untuk menguasai semua kekayaan Padmini ..
Mengorbankan keponakan demi mendulang suksesnya rencana.

2025-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 01 : Seperti di paksa
2 02 : Layaknya suami pencemburu
3 03 : Mengapa kita ada disini?
4 04 : Seret ke tanah lapang
5 05 : Kutukan Maut Padmini
6 06 : Lebih baik aku mati
7 07 : Tak ada jejak sama sekali
8 08 : Lembah Pembuangan Jin
9 09 : Rukmi
10 10 : Jalan rahasia
11 11 : Mengintai
12 12 : Kirman
13 13 : Tabir masa lalu
14 14 : Penemuan
15 15 : Suatu hari nanti
16 16 : Permohonan
17 17 : Selamat jalan
18 18 : Teror mulai berdatangan
19 19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20 20 : Mencari sekutu
21 21 : Kesepakatan
22 22 : Ihsan
23 23 : Sepi yang mencurigakan
24 24 : Pencarian
25 25 : Pesta pernikahan
26 26 : Sedikit membalas
27 27 : Menuntut pertanggungjawaban
28 28 : Pesta tak terlupakan
29 29 : Teror datang lagi
30 30 : Tuyul
31 31 : Dikejar-kejar Tuyul
32 32 : Mirna
33 33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34 34 : Dukun sakti mandraguna
35 35 : Menjemput Laba-laba
36 36 : Semburan Wening
37 37 : Sundel bolong
38 38 : Ki Demang
39 39 : Tuntutan
40 40 : Menjelang malam berburu
41 41 : Mulut beracun
42 42 : Padmini keluar
43 43 : Egois
44 44 : Sundari ketakutan
45 45 : Ramuan apa?
46 46 : Sarman
47 47 : Salam perpisahan
48 48 : Hampir saja
49 49 : Ingin melaporkan
50 50 : Igun ketakutan
51 51 : Mahakarya
52 52 : Karung misterius
53 53 : Hadiah tidak berbahaya
54 54 : Wati
55 55 : Seperti di setrum
56 56 : Menuju pengakuan
57 57 : Pak lurah
58 58 : Anak siapa itu?
59 59 : Murkanya seorang suami
60 60 : Menyangkal
61 61 : Pengejaran
62 62 : Ayo masuk
63 63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64 64 : Rinda
65 65 : Memberi kejutan
66 66 : Interogasi
67 67 : Mulai penelusuran
68 68 : Bambang
69 69 : Cindera mata
70 70 : Tamu spesial
71 71 : Igun kehilangan akal
72 72 : Terkencing-kencing
73 73 : Mengapa?
74 74 : Perjanjian lain
75 75 : Pikirkan nanti
76 76 : Bau bangkai
77 77 : Sumi mulai senam jantung
78 78 : Hipnotis
79 79 : Makhluk Bunian
80 80 : Pengejaran
81 81 : Mencari solusi
82 82 : Minimal minta maaf
83 83 : Juned
84 84 : Rido
85 85 : Jangan
86 86 : Kunjungan
87 87 : Ramuan ajaib
88 88 : Ingin cepat mengakhiri
89 89 : Kebakaran
90 90 : Membumihanguskan
91 91 : Genap
92 92 : Pengorbanan
93 93 : Sama-sama tak sempurna
94 94 : Tata lah masa depan
95 95 : Memulai hari baru
Episodes

Updated 95 Episodes

1
01 : Seperti di paksa
2
02 : Layaknya suami pencemburu
3
03 : Mengapa kita ada disini?
4
04 : Seret ke tanah lapang
5
05 : Kutukan Maut Padmini
6
06 : Lebih baik aku mati
7
07 : Tak ada jejak sama sekali
8
08 : Lembah Pembuangan Jin
9
09 : Rukmi
10
10 : Jalan rahasia
11
11 : Mengintai
12
12 : Kirman
13
13 : Tabir masa lalu
14
14 : Penemuan
15
15 : Suatu hari nanti
16
16 : Permohonan
17
17 : Selamat jalan
18
18 : Teror mulai berdatangan
19
19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20
20 : Mencari sekutu
21
21 : Kesepakatan
22
22 : Ihsan
23
23 : Sepi yang mencurigakan
24
24 : Pencarian
25
25 : Pesta pernikahan
26
26 : Sedikit membalas
27
27 : Menuntut pertanggungjawaban
28
28 : Pesta tak terlupakan
29
29 : Teror datang lagi
30
30 : Tuyul
31
31 : Dikejar-kejar Tuyul
32
32 : Mirna
33
33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34
34 : Dukun sakti mandraguna
35
35 : Menjemput Laba-laba
36
36 : Semburan Wening
37
37 : Sundel bolong
38
38 : Ki Demang
39
39 : Tuntutan
40
40 : Menjelang malam berburu
41
41 : Mulut beracun
42
42 : Padmini keluar
43
43 : Egois
44
44 : Sundari ketakutan
45
45 : Ramuan apa?
46
46 : Sarman
47
47 : Salam perpisahan
48
48 : Hampir saja
49
49 : Ingin melaporkan
50
50 : Igun ketakutan
51
51 : Mahakarya
52
52 : Karung misterius
53
53 : Hadiah tidak berbahaya
54
54 : Wati
55
55 : Seperti di setrum
56
56 : Menuju pengakuan
57
57 : Pak lurah
58
58 : Anak siapa itu?
59
59 : Murkanya seorang suami
60
60 : Menyangkal
61
61 : Pengejaran
62
62 : Ayo masuk
63
63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64
64 : Rinda
65
65 : Memberi kejutan
66
66 : Interogasi
67
67 : Mulai penelusuran
68
68 : Bambang
69
69 : Cindera mata
70
70 : Tamu spesial
71
71 : Igun kehilangan akal
72
72 : Terkencing-kencing
73
73 : Mengapa?
74
74 : Perjanjian lain
75
75 : Pikirkan nanti
76
76 : Bau bangkai
77
77 : Sumi mulai senam jantung
78
78 : Hipnotis
79
79 : Makhluk Bunian
80
80 : Pengejaran
81
81 : Mencari solusi
82
82 : Minimal minta maaf
83
83 : Juned
84
84 : Rido
85
85 : Jangan
86
86 : Kunjungan
87
87 : Ramuan ajaib
88
88 : Ingin cepat mengakhiri
89
89 : Kebakaran
90
90 : Membumihanguskan
91
91 : Genap
92
92 : Pengorbanan
93
93 : Sama-sama tak sempurna
94
94 : Tata lah masa depan
95
95 : Memulai hari baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!