05 : Kutukan Maut Padmini

Rinda menyambar kain dalam genggaman Sumi, merentangkan seraya meneliti. “Benar, ini milik kang Adi. Aku sendiri yang memberi tanda inisial huruf awal nama, agar tak tertukar dengan punya suamiku.”

“Celana dalam ini pun miliknya. Aku juga yang menyulam benang timbul agar dapat membedakan kepunyaannya Ayah, bang Juned, serta kang Adi.” Diremasnya kain tadi. Kembali dirinya berkata lantang! “Aku berani bersumpah! Pernah melihat mereka berciuman bibir di selep padi!”

Padmini tertawa sumbang sarat kesakitan dan rasa benci mendalam.

Belum cukup sampai di sana, seseorang ikut unjuk gigi – meremukkan hati dan menggerus tanpa sisa rasa percaya Padmini.

“Asal kalian tahu!” Sundari berdiri di samping Bambang, berjarak.

“Pria ini adalah kekasihku. Kami berencana menikah awal tahun depan. Namun demi amanah terakhir Paman dan Bibi, kami mengalah mengubur impian membina rumah tangga. Lantas, apa yang didapat oleh bang Bambang? Belum genap satu hari satu malam, harga dirinya diinjak-injak. Martabat keluarganya direndahkan, padahal dia sudi berkorban. Aku tak ikhlas!” pekiknya dengan linangan air mata.

Faktanya, Sundari dan Bambang adalah pasangan suami istri lewat pernikahan siri penuh intrik.

Pak ustadz beserta istrinya merasa sesuatu mengerikan akan terjadi. Kumpulan massa kembali mulai menggila.

“Minggir pak Ustadz! Bu Halimah! Biarkan kami yang menghukum mereka!” teriak salah satu warga.

“Tolong gunakan logika kalian!” Pak ustadz Daud merentangkan kedua tangannya.

Bu Halimah cepat-cepat mendekati Padmini, merangkul erat.

“Wahai sahabat dan saudaraku! Tolong dengarkan manusia tak berilmu ini! Kalian boleh tak percaya, mengatai diriku pembual, tapi demi Tuhan aku tak berbohong!” Wandi menangkupkan kedua tangannya. Wajahnya tersorot lampu obor, netranya membias nyala api.

“Tentu dalam hati kalian bertanya-tanya bukan? Mengapa pak Ustadz dan istrinya begitu keukeuh membela pasangan yang jelas-jelas kedapatan berduaan dalam keadaan berbusana tidak sopan. Sebenarnya, mereka ini telah lama bekerja sama dengan mendiang pak Ipul – apabila nanti Rahardi menjadi menantu juragan Pandu, maka akan kecipratan rezeki besar.” Ekspresi pamannya Padmini sangat meyakinkan.

“Ternyata, ini alasan dibalik kalimat membawa nama Tuhan. Agama kau jadikan temeng demi mengeruk keuntungan pribadi. Dasar Jahanam!” Juned menyiramkan bensin di hati massa yang tengah membara.

“Usir mereka! Arak lagi pasangan mesum itu!” lengkingan itu disambut teriakan setuju.

“Bu, tolong lepaskan saya!” Padmini berusaha melepaskan tangan bu Halimah. “Cukup sampai disini saja kalian membelaku, jangan sampai jadi korban amukan massa. Keluarlah dari kampung ini! Suatu saat nanti, balasan setimpal menimpa mereka!”

“Pak ustadz, pergilah! Bawa istrimu! Terima kasih atas kemurahan hati kalian!” Rahardi mengusir pembelanya. Percuma saja mereka mengungkapkan fakta, kalau rencana busuk ini sudah dirancang sedemikian rupa agar berjalan sempurna.

Lengan bu Halimah ditarik, sampai pelukannya terlepas dari Padmini. Wanita berumur 40 tahun itu tersungkur kala didorong kuat.

Pak ustadz dipukul beberapa kali pada bagian dada, baru kemudian ditinggalkan.

Padmini dan juga Rahardi, kembali diarak sampai ke tanah lapang.

.

.

Kayu telah disusun melingkar, mengepung pasangan yang dituduh telah berbuat zina.

Tak ada teriakan, penyanggahan, maupun pekikan mencoba menarik simpati.

Sang gadis menatap setiap wajah yang meneriaki, lalu memandang lama pada manusia yang dia anggap saudara, sahabat. Kemudian bibir terlukanya menyeringai sinis.

Rahardi melakukan pengorbanan bertaruh nyawa. Kedua tangannya memegang lembut bahu tertutup kain selendang putih yang telah berubah warna bercampur tanah. Air matanya menetes manakala melihat luka gores di pipi, sudut bibir kekasih hatinya. Keringat, darah, dan debu menjadi satu.

“Ami, dengarkan Kakang! Begitu nanti Akang memberi aba-aba, tolong kau lari secepat yang dirimu bisa. Selamatkan dirimu! Berjanjilah untuk bertahan hidup bagaimanapun caranya! Menurut ya, Sayang?” bujuknya. Air matanya mulai tumpah.

Padmini menggeleng. “Lebih baik aku ikut mati, kalau tak bisa selamat bersama!”

Rambut panjang kusut, menggumpal itu ia elus sayang. “Engkau pernah berjanji akan menuruti kata-kata calon suamimu ini, ‘kan? Kakang mohon, jangan sia-siakan kesempatan yang ada.”

Suara isaknya lolos. Dia kembali meraung bukan lagi dikarenakan ditikam para manusia licik, jahat. Namun permintaan pria yang ia kasihi. Padmini menepis tangan Rahardi, ia melesak maju sampai berdiri di dekat tumpukan kayu setinggi perutnya.

Jari telunjuknya ia acungkan tepat menunjuk bulan purnama. Sorot matanya penuh dendam, suaranya sarat amarah membara.

“AKU BERSUMPAH! Menuntut balas kalian! Kampung Hulu ini akan menjadi wilayah mati layaknya kuburan kala langit mulai menggelap! Hidup penduduknya jauh dari kata tenang! Teror terus menghantui! Setiap orang yang menjadi dalang, kupastikan MATI!!” Bagi siapa saja yang cuma ikut-ikutan, tunggulah hari pembalasan itu tiba!”

Hembusan angin lembut menerpa, menegakkan bulu kuduk, hawa hangat seketika turun drastis. Dingin menusuk tulang – Bulan purnama bersinar lebih terang seakan menerima sumpah kutukan Padmini.

Minyak tanah disiram pada lingkaran kayu, sampai menciprat ke tubuh Padmini dan Rahardi.

Pemuda yang menyiram bahan bakar menyingkir, berdiri sedikit jauh dari tumpukan kayu.

Jari jempol kaki Rahardi menarik sebatang kayu lumayan besar, saat seseorang membawa obor hendak menyalakan api, tiba-tiba tumpukan rapi itu berhamburan.

“Lari Padmi! Lari Sayang!!” Rahardi berteriak. Kayu sudah dalam genggaman, dan obor pun dapat dia rebut.

Bugh!

Pria yang menghidupkan api terlambat melarikan diri. Tubuhnya yang tertimpa kayu, disulut oleh Rahardi.

Akhh!

Nyala api merambat, Padmini berhasil merobohkan tumpukan sebelum terbakar. Kain jarik nya disingkap sampai batas paha agar memudahkannya berlari.

“TANGKAP PADMINI!!” Juned berteriak.

Para pemuda dan bapak-bapak berlari ke arah Padmini.

Namun Rahardi menghadang dengan sebuah obor dan kayu terbakar dalam genggaman. “Berani kalian maju, maka bersiaplah terbakar seperti dia!”

Para pemuda pun melihat teman mereka yang sedang berguling-guling di rerumputan.

Kali ini pria menyimpan seribu dendam itu benar-benar waspada, bertahan paling tidak sampai Padmini telah jauh dari jangkauan.

Ia menerjang belasan orang yang melesak maju hendak membekuk nya.

Satu, dua, tiga orang tersulut api. Namun nyali lainnya tak surut, semakin gila ingin melukai Rahardi.

Desingan suara anak panah terlepas dari busurnya terdengar memecah malam, menancap di betis pria yang semampunya melawan. Bambang lah pelakunya.

Juned melempar tali tambang, begitu hinggap di bahu abang iparnya, langsung saja sosok lain menangkap.

Rahardi diperlakukan seperti seekor Lembu mau disembelih.

Bugh!

Dia ambruk, leher terjerat tali. Tubuhnya ditarik oleh dua orang. ‘Siapapun yang bisa menyelamatkan kekasihku, aku bersumpah akan mengabdi kepadamu – baik dalam keadaan hidup maupun mati!’

“Lempar dia ke tumpukan api yang masih menyala itu!”

Jeritan kencang itu menyentak hati Padmini, dia menoleh ke belakang. Meremat dadanya yang terasa teramat sakit, melihat dari kejauhan pria sangat disayanginya tengah disiksa. “Kang Adi!”

Namun, Padmini memegang janjinya. Harus selamat dari kematian tidak adil ini agar dapat membalas dendam.

Sinar rembulan menjadi penerang langkah kaki gadis cantik dijuluki kembang desa. Deru napas Padmini memecah keheningan malam masuk waktu dini hari. Ujung selendangnya menari-nari mengiringi perjalanan memacu adrenalin itu.

Setiap langkah yang menginjak ranting, rumput tajam, bagaikan berjalan diatas semak berduri.

Setibanya di perbatasan kampung, ia pikir dirinya sudah aman, ternyata ….

“Wah, wah … benar kata si Bambang. Malam ini kita dapat mangsa empuk, mana cantik sekali lagi. Ayo sikat!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

yuyun Rahayu

yuyun Rahayu

disini ikut geram aku dgn prilaku bambang..apakah padmini meninggal atau mash hdp setelah bertemu dgn manusia² durjana..dan bagaimnaa dgn Rahardi apakah meninggal dunia ..ahh bikn penasaran ..tp aku harp Padmini gk meninggal ...

2025-10-30

6

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

ohhh si bambang sialan ini

ish2 kek mana yaa dasar bambang penghianat

2025-10-30

5

Y.S Meliana

Y.S Meliana

ingin ku teriaaaak 'aaaaaakh' dekdekan jadi'y

2025-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 01 : Seperti di paksa
2 02 : Layaknya suami pencemburu
3 03 : Mengapa kita ada disini?
4 04 : Seret ke tanah lapang
5 05 : Kutukan Maut Padmini
6 06 : Lebih baik aku mati
7 07 : Tak ada jejak sama sekali
8 08 : Lembah Pembuangan Jin
9 09 : Rukmi
10 10 : Jalan rahasia
11 11 : Mengintai
12 12 : Kirman
13 13 : Tabir masa lalu
14 14 : Penemuan
15 15 : Suatu hari nanti
16 16 : Permohonan
17 17 : Selamat jalan
18 18 : Teror mulai berdatangan
19 19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20 20 : Mencari sekutu
21 21 : Kesepakatan
22 22 : Ihsan
23 23 : Sepi yang mencurigakan
24 24 : Pencarian
25 25 : Pesta pernikahan
26 26 : Sedikit membalas
27 27 : Menuntut pertanggungjawaban
28 28 : Pesta tak terlupakan
29 29 : Teror datang lagi
30 30 : Tuyul
31 31 : Dikejar-kejar Tuyul
32 32 : Mirna
33 33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34 34 : Dukun sakti mandraguna
35 35 : Menjemput Laba-laba
36 36 : Semburan Wening
37 37 : Sundel bolong
38 38 : Ki Demang
39 39 : Tuntutan
40 40 : Menjelang malam berburu
41 41 : Mulut beracun
42 42 : Padmini keluar
43 43 : Egois
44 44 : Sundari ketakutan
45 45 : Ramuan apa?
46 46 : Sarman
47 47 : Salam perpisahan
48 48 : Hampir saja
49 49 : Ingin melaporkan
50 50 : Igun ketakutan
51 51 : Mahakarya
52 52 : Karung misterius
53 53 : Hadiah tidak berbahaya
54 54 : Wati
55 55 : Seperti di setrum
56 56 : Menuju pengakuan
57 57 : Pak lurah
58 58 : Anak siapa itu?
59 59 : Murkanya seorang suami
60 60 : Menyangkal
61 61 : Pengejaran
62 62 : Ayo masuk
63 63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64 64 : Rinda
65 65 : Memberi kejutan
66 66 : Interogasi
67 67 : Mulai penelusuran
68 68 : Bambang
69 69 : Cindera mata
70 70 : Tamu spesial
71 71 : Igun kehilangan akal
72 72 : Terkencing-kencing
73 73 : Mengapa?
74 74 : Perjanjian lain
75 75 : Pikirkan nanti
76 76 : Bau bangkai
77 77 : Sumi mulai senam jantung
78 78 : Hipnotis
79 79 : Makhluk Bunian
80 80 : Pengejaran
81 81 : Mencari solusi
82 82 : Minimal minta maaf
83 83 : Juned
84 84 : Rido
85 85 : Jangan
86 86 : Kunjungan
87 87 : Ramuan ajaib
88 88 : Ingin cepat mengakhiri
89 89 : Kebakaran
90 90 : Membumihanguskan
91 91 : Genap
92 92 : Pengorbanan
93 93 : Sama-sama tak sempurna
94 94 : Tata lah masa depan
95 95 : Memulai hari baru
Episodes

Updated 95 Episodes

1
01 : Seperti di paksa
2
02 : Layaknya suami pencemburu
3
03 : Mengapa kita ada disini?
4
04 : Seret ke tanah lapang
5
05 : Kutukan Maut Padmini
6
06 : Lebih baik aku mati
7
07 : Tak ada jejak sama sekali
8
08 : Lembah Pembuangan Jin
9
09 : Rukmi
10
10 : Jalan rahasia
11
11 : Mengintai
12
12 : Kirman
13
13 : Tabir masa lalu
14
14 : Penemuan
15
15 : Suatu hari nanti
16
16 : Permohonan
17
17 : Selamat jalan
18
18 : Teror mulai berdatangan
19
19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20
20 : Mencari sekutu
21
21 : Kesepakatan
22
22 : Ihsan
23
23 : Sepi yang mencurigakan
24
24 : Pencarian
25
25 : Pesta pernikahan
26
26 : Sedikit membalas
27
27 : Menuntut pertanggungjawaban
28
28 : Pesta tak terlupakan
29
29 : Teror datang lagi
30
30 : Tuyul
31
31 : Dikejar-kejar Tuyul
32
32 : Mirna
33
33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34
34 : Dukun sakti mandraguna
35
35 : Menjemput Laba-laba
36
36 : Semburan Wening
37
37 : Sundel bolong
38
38 : Ki Demang
39
39 : Tuntutan
40
40 : Menjelang malam berburu
41
41 : Mulut beracun
42
42 : Padmini keluar
43
43 : Egois
44
44 : Sundari ketakutan
45
45 : Ramuan apa?
46
46 : Sarman
47
47 : Salam perpisahan
48
48 : Hampir saja
49
49 : Ingin melaporkan
50
50 : Igun ketakutan
51
51 : Mahakarya
52
52 : Karung misterius
53
53 : Hadiah tidak berbahaya
54
54 : Wati
55
55 : Seperti di setrum
56
56 : Menuju pengakuan
57
57 : Pak lurah
58
58 : Anak siapa itu?
59
59 : Murkanya seorang suami
60
60 : Menyangkal
61
61 : Pengejaran
62
62 : Ayo masuk
63
63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64
64 : Rinda
65
65 : Memberi kejutan
66
66 : Interogasi
67
67 : Mulai penelusuran
68
68 : Bambang
69
69 : Cindera mata
70
70 : Tamu spesial
71
71 : Igun kehilangan akal
72
72 : Terkencing-kencing
73
73 : Mengapa?
74
74 : Perjanjian lain
75
75 : Pikirkan nanti
76
76 : Bau bangkai
77
77 : Sumi mulai senam jantung
78
78 : Hipnotis
79
79 : Makhluk Bunian
80
80 : Pengejaran
81
81 : Mencari solusi
82
82 : Minimal minta maaf
83
83 : Juned
84
84 : Rido
85
85 : Jangan
86
86 : Kunjungan
87
87 : Ramuan ajaib
88
88 : Ingin cepat mengakhiri
89
89 : Kebakaran
90
90 : Membumihanguskan
91
91 : Genap
92
92 : Pengorbanan
93
93 : Sama-sama tak sempurna
94
94 : Tata lah masa depan
95
95 : Memulai hari baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!