03 : Mengapa kita ada disini?

Pandangan mata sayu itu mengabur, kepalanya terasa berat sekali. “Kenapa aku jadi pusing dan ngantuk, ya?” Ia menggelengkan kepala guna mengusir rasa kantuk luar biasa, dan mengenyahkan sakit berdenyut-denyut di pucuk kepala. Tetap saja gagal.

Sundari merangkul pundak sepupunya. “Mungkin efek terlalu lelah dan kelamaan menangis, Padmi. Sebaiknya kau tidur saja, urusan lainnya biar kami yang menyelesaikan.”

Padmini hanya mampu mengangguk lemah. Hampir tidak menyadari kalau dirinya sudah berbaring. Matanya benar-benar sulit dibuka seperti diberi perekat, nyeri dikepala nya pun semakin menjadi, tapi rasa kantuk lebih mendominasi.

Setelah memastikan Padmini tertidur pulas – Sundari dan juga Rinda, keluar dari kamar. Nampan berisi menu makan malam pun dibawa lagi ke dapur.

“Masih tak mau makan si Padmi?” tanya seorang ibu yang malam ini membantu di kediaman almarhum juragan Pandu.

“Bagaimana bisa makan kalau pikirannya terus ke Kang Adi, bahkan sampai terbawa mimpi,” dusta Sundari.

“Ya wajar juga lah, mereka sudah lama menjalin hubungan dan santer kabar mau melangsungkan pernikahan. Tiba-tiba si Padmini dinikahi oleh pria belum dikenal baik olehnya, tentu tak semudah itu melupakan sosok lama,” bela ibu berkerudung lebar, istrinya pak ustadz.

Rinda memilih bungkam. Membuang makanan yang tidak disentuh oleh sang majikan, lalu mencuci wadahnya – Rinda sudah sedari tamat SMP menjadi pembantu rumah tangga di kediaman sahabatnya. Sementara sang ibu selain jadi dukun beranak, ia sering dipinta memijat ibunya Padmini.

Sundari terdiam, tidak memiliki kata-kata ampuh yang bisa dijadikan senjata.

Tak lama kemudian, acara tahlilan pun usai. Para ibu-ibu berpamitan pulang, agar bisa berjalan bersama suami mereka yang membawa obor, ada juga memegang senter sebagai penerangan.

Di kampung Hulu, arus listrik belum masuk. Penerangan masih mengandalkan lampu minyak tanah maupun petromax bagi yang memiliki ekonomi lebih baik.

.

.

Tok!

Tok!

Seorang pemuda yang sendirian dirumah, bergegas membuka pintu kala mendengar suara ketukan.

“Ada apa, Jun?” tanyanya pada adik iparnya, suami Rinda.

Ekspresi Juned terlihat tegang, gesture tubuh tak bisa diam. “Anu, Kang _ si Padmini dipukuli oleh suaminya! Tadi, aku mendengar teriakan dia saat menjemput Rinda. Terus, istriku menyuruh melaporkan ke kang Adi.”

Deg.

Tanpa berpikir dua kali, pintu kayu dihempaskan. Pemuda yang sehabis membersihkan rumah setelah acara tahlilan usai – berlari menembus malam tanpa mengenakan alas kaki.

“Badjingan kau Bambang!” napasnya tersengal-sengal, laju kakinya layaknya Kuda, semua tenaga ia kuras habis demi menyelamatkan gadis yang ia jaga bak intan permata, Padmini.

Jarak rumah Rahardi dan Padmini, sekitar dua kilometer jauhnya. Pemuda berkaos singlet dan kemeja polos itu sedikitpun tak melambatkan larinya.

Terangnya cahaya rembulan memudahkan langkahnya agar tidak menabrak pepohonan maupun pagar bambu rumah warga.

Saat sampai di halaman luas, Adi merasakan keanehan. Rumah bos nya terlihat seperti tidak berpenghuni, tak diterangi lampu, gelap gulita. Hanya atap rumah dari seng yang terlihat dikarenakan cahaya bulan penuh.

Namun pemuda yang sudah dilanda cemas itu tetap melangkah, mencari dalam keheningan malam keberadaan gadis pujaannya.

Langkahnya terasa ringan, lebar, matanya menatap penuh kewaspadaan. Dia mengenal seluk-beluk hunian mewah ini, tempatnya mencari rezeki bersama sang ayah.

Begitu tiba di bagian pintu samping, tiba-tiba sorot lampu senter menyilaukan netra Rahardi.

Secepat kilat dia menoleh seraya melindungi mata menggunakan telapak tangan seperti orang hormat bendera.

"Cih! Besar sekali nyalimu, Adi!”

Sebuah suara membuat sang pria menggerakkan kaki ke arah kanan. “Dimana Padmini, Bangsat!”

Bertepatan dengan itu, dua orang menyerang, memukul tengkuk Adi menggunakan kayu sebesar betis orang dewasa.

Bugh!

Bug!

Argh!

Bukan sekali, tapi sampai empat kali – hingga kekasih hati Padmini ambruk sewaktu kepalanya dihantam kayu, perutnya ditendang.

“Penge_cut kali_an!” Adi jatuh pingsan.

Sorot lampu senter menyorot pria terkapar di tanah, suara tawa lirih terdengar puas, setiap pasang mata memandang sinis.

Dua pemuda menggotong pria yang terkenal lumayan pintar bela diri, tapi bila diserang dengan cara curang, dan kondisinya pun tengah berduka kehilangan ayahnya, sementara sang kekasih hati tiba-tiba dinikahi pria lain, ditambah mendapat kabar tentang pemukulan Padmini – membuat kewaspadaan Rahardi terjun bebas.

.

.

“Hem …. auch,” suara ringisan itu terdengar seperti rintihan.

Dalam keremangan cahaya lampu obor pada pilar penyanggah bangunan, Padmini berusaha duduk. Kepalanya sangat pusing, lalu pandangannya turun pada bagian bawah.

Akh!

Pekikan kecil itu memenuhi ruangan yang tidak berdinding.

“Kenapa aku bisa ada disini? Terus mengapa tak mengenakan baju?” Jarik yang membalut badan dibawah ketiak itu ia raba. Padmini didera rasa terkejut sekaligus takut, ia tidak mengenakan dalaman, tapi tidak merasakan ada yang janggal pada area kewanitaannya.

Dia mengenali tempat ini, selep gabah. Bangunan yang digunakan untuk proses mengupas kulit padi, terletak di halaman belakang rumahnya.

Matanya bergerak liar, memindai sekitar, lalu netra lelah itu melotot sempurna saat mendapati sosok lain ada di dekatnya dalam keadaan tertidur.

“Kang Adi!” Perlahan ia mendekati sosok yang bergeming, tergeletak di atas tumpukan jerami.

Padmini memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan, dan jari telunjuknya merasai ada tidaknya hembusan napas, lalu telapak tangannya mencoba meraba tengkuk sang pria.

“Darah?” tanyanya pada diri sendiri saat tangannya berlumuran cairan kental. Padmini menjadi panik, diguncangnya bahu pemuda yang sedari ia kecil, selalu menemaninya. “Bangun, Kang! Bangun! Jangan buat aku takut!”

Cara sedikit kasar itu berhasil membangunkan Rahardi, kala pertama kali membuka mata – wajah bersimbah air mata Padmini yang dilihatnya, lalu ingatannya langsung kejadian yang entah kapan tepatnya terjadi tadi.

“Padmini, kita harus pergi dulu dari sini!” ia enyahkan rasa sakit pada bahu, leher dan kepalanya.

Dengan dibantu oleh Padmini, Adi berhasil duduk. Memandang geram pada pakaian tak layak gadisnya. “Mereka mau menjebak kita, ini semua sudah direncanakan matang-matang.”

“Maksudnya apa, Kang? Kenapa kita harus melarikan diri? Kan, kita tak berbuat salah. Terus, mengapa bisa ada disini?”

“Pakai ini, Sayang!” Kemeja tak dikancingkan, ia buka dan berikan kepada wanita yang masih berusaha mencerna keadaan aneh ini.

Tangan Padmini bergetar sewaktu mengenakan kemeja berlengan panjang, sedikit demi sedikit dia mulai paham perkataan Rahardi, dan mencocokkan dengan kondisi dimana saat ini mereka berada. Belum sempat kancing kemeja dikaitkan, sudah terdengar teriakan membahana!

“Betul kan apa aku bilang! Mereka berzina! Pasti baru saja melepaskan nafsu binatang! Ayo arak! Bakar!” Juned mengacungkan obornya, dia yang tadi mengetuk rumah abang iparnya.

“Tak ku sangka kelakuanmu macam binatang, Padmini! Bibik malu, malu! Harus bagaimana menjelaskan kepada orang tuamu nanti sewaktu diakhirat?!” Sumi meraung-raung, menjambak rambutnya sendiri.

“Kami tak seperti yang kalian tuduhkan! Aku dan kang Adi tidak_”

“Halla! Maling mana mau ngaku! Aku berani bersumpah! Sewaktu ayah tiriku itu masih hidup, dan sedang bekerja di rumah juragan Pandu – aku sering mendapati Padmini diam-diam masuk ke hunian kami, mencari kang Adi!” Rinda menuding wajah wanita yang menganggap dirinya seorang sahabat, padahal aslinya musuh dalam selimut.

“Tunggu apalagi! Arak mereka! Seret ke tanah lapang!”

“Lainnya! Siapkan minyak tanah! Cepat!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

gak harus dijelaskan juga siih bi, yg penting bibi ketemu mereka aja dolooo di akhirat 😋

2025-10-29

3

isya🌀

isya🌀

Fitnah mmg kejamnya tiada tara, sampe disini masih meraba2, siapa yg kejam sesungguhnya. Paman dan bibinya, ataukah rinda dan sundari🤔

2025-10-29

1

FiaNasa

FiaNasa

emang yg paling ngeri itu musuh dalam selimut,,benar kata pepatah,dalam lautan bisa diukur tp dalamnya hati manusia hanya Tuhan yg tau..walaupun orang terdekat,kita tidak tau apa.mereka tulus atau tidak dg kita..

2025-10-29

1

lihat semua
Episodes
1 01 : Seperti di paksa
2 02 : Layaknya suami pencemburu
3 03 : Mengapa kita ada disini?
4 04 : Seret ke tanah lapang
5 05 : Kutukan Maut Padmini
6 06 : Lebih baik aku mati
7 07 : Tak ada jejak sama sekali
8 08 : Lembah Pembuangan Jin
9 09 : Rukmi
10 10 : Jalan rahasia
11 11 : Mengintai
12 12 : Kirman
13 13 : Tabir masa lalu
14 14 : Penemuan
15 15 : Suatu hari nanti
16 16 : Permohonan
17 17 : Selamat jalan
18 18 : Teror mulai berdatangan
19 19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20 20 : Mencari sekutu
21 21 : Kesepakatan
22 22 : Ihsan
23 23 : Sepi yang mencurigakan
24 24 : Pencarian
25 25 : Pesta pernikahan
26 26 : Sedikit membalas
27 27 : Menuntut pertanggungjawaban
28 28 : Pesta tak terlupakan
29 29 : Teror datang lagi
30 30 : Tuyul
31 31 : Dikejar-kejar Tuyul
32 32 : Mirna
33 33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34 34 : Dukun sakti mandraguna
35 35 : Menjemput Laba-laba
36 36 : Semburan Wening
37 37 : Sundel bolong
38 38 : Ki Demang
39 39 : Tuntutan
40 40 : Menjelang malam berburu
41 41 : Mulut beracun
42 42 : Padmini keluar
43 43 : Egois
44 44 : Sundari ketakutan
45 45 : Ramuan apa?
46 46 : Sarman
47 47 : Salam perpisahan
48 48 : Hampir saja
49 49 : Ingin melaporkan
50 50 : Igun ketakutan
51 51 : Mahakarya
52 52 : Karung misterius
53 53 : Hadiah tidak berbahaya
54 54 : Wati
55 55 : Seperti di setrum
56 56 : Menuju pengakuan
57 57 : Pak lurah
58 58 : Anak siapa itu?
59 59 : Murkanya seorang suami
60 60 : Menyangkal
61 61 : Pengejaran
62 62 : Ayo masuk
63 63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64 64 : Rinda
65 65 : Memberi kejutan
66 66 : Interogasi
67 67 : Mulai penelusuran
68 68 : Bambang
69 69 : Cindera mata
70 70 : Tamu spesial
71 71 : Igun kehilangan akal
72 72 : Terkencing-kencing
73 73 : Mengapa?
74 74 : Perjanjian lain
75 75 : Pikirkan nanti
76 76 : Bau bangkai
77 77 : Sumi mulai senam jantung
78 78 : Hipnotis
79 79 : Makhluk Bunian
80 80 : Pengejaran
81 81 : Mencari solusi
82 82 : Minimal minta maaf
83 83 : Juned
84 84 : Rido
85 85 : Jangan
86 86 : Kunjungan
87 87 : Ramuan ajaib
88 88 : Ingin cepat mengakhiri
89 89 : Kebakaran
90 90 : Membumihanguskan
91 91 : Genap
92 92 : Pengorbanan
93 93 : Sama-sama tak sempurna
94 94 : Tata lah masa depan
95 95 : Memulai hari baru
Episodes

Updated 95 Episodes

1
01 : Seperti di paksa
2
02 : Layaknya suami pencemburu
3
03 : Mengapa kita ada disini?
4
04 : Seret ke tanah lapang
5
05 : Kutukan Maut Padmini
6
06 : Lebih baik aku mati
7
07 : Tak ada jejak sama sekali
8
08 : Lembah Pembuangan Jin
9
09 : Rukmi
10
10 : Jalan rahasia
11
11 : Mengintai
12
12 : Kirman
13
13 : Tabir masa lalu
14
14 : Penemuan
15
15 : Suatu hari nanti
16
16 : Permohonan
17
17 : Selamat jalan
18
18 : Teror mulai berdatangan
19
19 : Lebih baik cari Dukun sakti
20
20 : Mencari sekutu
21
21 : Kesepakatan
22
22 : Ihsan
23
23 : Sepi yang mencurigakan
24
24 : Pencarian
25
25 : Pesta pernikahan
26
26 : Sedikit membalas
27
27 : Menuntut pertanggungjawaban
28
28 : Pesta tak terlupakan
29
29 : Teror datang lagi
30
30 : Tuyul
31
31 : Dikejar-kejar Tuyul
32
32 : Mirna
33
33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah
34
34 : Dukun sakti mandraguna
35
35 : Menjemput Laba-laba
36
36 : Semburan Wening
37
37 : Sundel bolong
38
38 : Ki Demang
39
39 : Tuntutan
40
40 : Menjelang malam berburu
41
41 : Mulut beracun
42
42 : Padmini keluar
43
43 : Egois
44
44 : Sundari ketakutan
45
45 : Ramuan apa?
46
46 : Sarman
47
47 : Salam perpisahan
48
48 : Hampir saja
49
49 : Ingin melaporkan
50
50 : Igun ketakutan
51
51 : Mahakarya
52
52 : Karung misterius
53
53 : Hadiah tidak berbahaya
54
54 : Wati
55
55 : Seperti di setrum
56
56 : Menuju pengakuan
57
57 : Pak lurah
58
58 : Anak siapa itu?
59
59 : Murkanya seorang suami
60
60 : Menyangkal
61
61 : Pengejaran
62
62 : Ayo masuk
63
63 : Ingatlah setiap kejahatanmu
64
64 : Rinda
65
65 : Memberi kejutan
66
66 : Interogasi
67
67 : Mulai penelusuran
68
68 : Bambang
69
69 : Cindera mata
70
70 : Tamu spesial
71
71 : Igun kehilangan akal
72
72 : Terkencing-kencing
73
73 : Mengapa?
74
74 : Perjanjian lain
75
75 : Pikirkan nanti
76
76 : Bau bangkai
77
77 : Sumi mulai senam jantung
78
78 : Hipnotis
79
79 : Makhluk Bunian
80
80 : Pengejaran
81
81 : Mencari solusi
82
82 : Minimal minta maaf
83
83 : Juned
84
84 : Rido
85
85 : Jangan
86
86 : Kunjungan
87
87 : Ramuan ajaib
88
88 : Ingin cepat mengakhiri
89
89 : Kebakaran
90
90 : Membumihanguskan
91
91 : Genap
92
92 : Pengorbanan
93
93 : Sama-sama tak sempurna
94
94 : Tata lah masa depan
95
95 : Memulai hari baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!