Raga yang Berbeda

Lyara membuka matanya dengan napas terengah, seolah jantungnya baru saja ditarik paksa dari d4d4. Ia terduduk tiba-tiba, menatap sekeliling dengan pandangan yang masih kabur.

Keningnya berkerut. Tubuhnya kini terbaring di atas hamparan rerumputan hijau lembut yang bergoyang pelan ditiup angin. Aroma bunga memenuhi udara, segar, manis, namun asing. Ia perlahan berdiri, jantungnya masih berdegup cepat, matanya menyapu pemandangan luas yang terbentang di hadapannya. Ladang bunga sejauh mata memandang, seolah dunia ini dibuat dari musim semi yang abadi.

Namun, ada satu hal yang membuat hatinya bergetar, semuanya terasa terlalu tenang.

Terlalu indah untuk menjadi nyata.

“Ara.”

Suara lembut itu terdengar di belakangnya.

Lyara menoleh refleks dan hampir terng4nga melihat sosok yang berdiri beberapa langkah darinya. Seorang wanita bergaun putih panjang, rambutnya berkilau bagai cahaya pagi. Kulitnya pucat bersinar, matanya teduh, namun dalam tatapan itu tersimpan sesuatu yang tak dapat dijelaskan, antara kehangatan dan kesedihan.

Wanita itu berjalan perlahan mendekat. Senyumnya lembut, dan dengan gerakan halus, ia membingkai wajah Lyara dengan kedua tangannya. Sentuhannya terasa nyata, hangat, tapi juga aneh … seperti angin yang berwujud.

“Aku ingin pulang,” lirih Lyara dengan suara bergetar. Ada ketakutan di matanya, ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan.

Wanita itu menatapnya lekat. “Pulang? Kamu sudah tidak bisa pulang, Lyara.”

Lyara tertegun. Alisnya berkerut tajam. “Kenapa? Aku cuma mau pulang!”

Ia berlari tanpa arah, mencoba mencari jalan keluar. Tapi ke mana pun kakinya melangkah, yang ia lihat hanya hamparan bunga yang sama, langit yang sama, dan cahaya yang tak pernah berubah. Seolah ia berputar di dalam dunia yang tak memiliki ujung.

Ketika ia berhenti dan menoleh, wanita itu sudah berdiri di belakangnya lagi, tanpa suara, tanpa langkah. Tatapannya kini berbeda, lebih dalam dan lebih dingin.

“Ragamu ... sudah tidak bisa kamu tempati lagi.”

Lyara membeku. Suara wanita itu bergema di kepalanya. Perlahan, ingatan terakhirnya sebelum terbangun di tempat ini muncul, teriakan, bangunan setengah jadi, rasa takut, dan tubuhnya yang jatuh melayang ke udara.

Matanya membulat. “A-aku ... sudah mati?” suaranya nyaris tak terdengar. Wanita itu mengangguk pelan.

“Tidak! Aku nggak boleh mati! Aku ... aku belum siap! Aku masih punya mimpi! Aku ... aku belum bahagia!” Lyara menjerit histeris, memegangi kepalanya. Air mata menetes deras dari matanya. Napasnya tersengal, suaranya pecah di udara yang sunyi.

Namun tiba-tiba, tangan wanita itu menggenggam tangannya erat. Tatapannya menusuk dalam. “Apa kamu ingin kembali?”

Lyara terdiam. Suara itu menggema di telinganya. Kembali? Pikirannya berputar pada wajah papa, mamanya, dan Viola. Tapi bayangan kematian yang ia alami terasa terlalu menyakitkan. Ia memandang ke arah hamparan bunga yang berkilau di bawah sinar matahari.

“Sepertinya ... di sini lebih tenang,” gumamnya pelan.

Wanita itu tersenyum samar. “Yakin tidak mau membalas dendam?”

Lyara menoleh cepat. “Membalas dendam?” suaranya bergetar.

Wanita bergaun putih itu kini menatap ke arah jauh, ke arah horizon yang berwarna emas. “Kamu mati, sementara mereka masih hidup bahagia. Aku bisa melihat ... ada banyak hal yang belum sempat kamu selesaikan. Kamu akan tahu, setelah kamu kembali nanti.”

“Kalau aku kembali ... apa aku bisa?” tanya Lyara dengan lirih.

“Bisa,” jawab wanita itu datar, “tapi bukan dengan ragamu sendiri. Jiwamu tidak bisa kembali ke ragamu. Tapi kamu bisa ... meminjam ragaku.”

Sebelum Lyara sempat memahami ucapan itu, wanita tersebut menggenggam tangannya lebih erat. Sebuah cahaya putih menyilaukan meledak di antara mereka. Lyara berteriak keras, merasakan sengatan panas seperti petir yang menembus jantungnya, lalu segalanya kembali gelap.

Tok!

Tok!

Tok!

“Nyonya! Nyonya! Bangun, Nyonya!”

Suara itu membuat Lyara membuka matanya dengan terkejut. Ia menatap sekitar. Tubuhnya kini berada di atas lantai dingin, sebuah botol obat tergenggam di tangannya. Ia mengerutkan dahi, lalu menatap tulisan di botol itu.

“Obat apa ini?” gumamnya pelan, kemudian melemparkannya ke lantai. Kepalanya berat, tubuhnya lemas, tapi suara ketukan itu terus berlanjut. Dengan langkah tertatih, ia membuka pintu.

Cklek!

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. “Nyonya nggak apa-apa? Dari kemarin Nyonya nggak keluar kamar! Saya takut ada apa-apa!”

“Nyonya?” Lyara mengulang pelan. Ia menatap wanita itu bingung. “Apa mukaku setua itu?” gumamnya tanpa sadar.

Tatapannya beralih ke sekitar, ini bukan rumahnya. Dindingnya luas, langit-langitnya tinggi, dan perabotannya tampak mewah. Semua terasa asing dan menakutkan.

“Apa-apaan ini? Di mana aku?” bisiknya.

Namun saat pandangannya jatuh ke arah cermin besar di dekat kamarnya, tubuhnya kaku.

Wajah yang menatap balik darinya bukan wajahnya sendiri.

“A-Aaaa! Apa ini?!” teriak Lyara histeris, berlari mendekati cermin dan menyentuh pipinya. Tapi yang ia rasakan bukan kulit muda gadis SMA, melainkan wajah wanita dewasa dengan fitur halus dan elegan.

Namun ia ingat wajah itu ... wajah wanita bergaun putih yang tadi menemuinya!

“Nyonya Elvera, kenapa teriak-teriak begitu?” tanya wanita paruh baya itu, mendekat dengan cemas.

“Aku siapa?” tanya Lyara spontan, suaranya bergetar.

Wanita itu mengerutkan kening. “Nyonya Elvera Lydora, siapa lagi?”

Lyara mematung. Kata itu, menggema di kepalanya. Sama seperti nama belakangnya, dan ini terasa tak masuk akal.

“Nyonya masuk kamar lagi, ya. Nyonya kelihatan pucat banget,” ujar wanita itu lembut, membantu Lyara masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.

Lyara menatapnya kosong. “Nama Bibi siapa?”

Wanita itu tampak ragu. “Saya Nina, Nyonya. Masa Nyonya lupa? Kan sering Nyonya marahin saya kalau salah masak.” Ia menutup mulutnya cepat. “Aduh, maaf, saya nggak bermaksud ngomong begitu, maaf ya Nyonya.”

Lyara hanya diam, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Ia benar-benar bukan dirinya lagi. Wajah itu milik orang lain, wanita cantik pemilik tatapan tajam.

Bi Nina mengambil botol obat yang tadi tergeletak di lantai. Ia membaca labelnya dan bergumam dalam hati, “Apa gara-gara obat tidur ini, ya?”

“Sebentar, Nyonya. Saya ambilkan teh hangat dulu.” Bi Nina pergi, meninggalkan Lyara yang masih terpaku dalam kebingungan yang menyesakkan d4d4.

Lyara menatap sekitar. Ia berusaha mencari petunjuk dan menemukan dompet kulit di atas meja kecil. Ia membuka isinya.

Kartu identitas di dalamnya bertuliskan,

“Elvera Lydora ... 28 tahun?” gumam Lyara pelan.

Ia lalu menatap ponsel di meja, mengambilnya, mencoba membuka layar kuncinya.

“Wow, ponselnya bagus banget,” ujarnya kagum kecil, mencoba menebak sandi. “Tanggal lahir? 0101? 0212? Ck! Gagal terus!”

Namun matanya membulat ketika melihat tanggal di layar ... 4 November 2024.

“Dua ribu dua puluh empat?” Lyara tertegun. Sebelum ini, ia masih di tahun 2019.

Berarti ... ia sudah berpindah lima tahun ke depan.

“Astaga ... apa yang terjadi padaku?! Siapa Elvera ini?! Kenapa aku bisa di tubuhnya?! Kenapa aku nggak bisa tenang bahkan setelah mati?!” jeritnya frustrasi.

Tangannya gemetar, suaranya pecah. Ia berjalan menuju jendela kamar yang terbuka dan menatap langit malam dari balik jendela besar kamar itu. Cahaya rembulan menembus tirai lembut, menyoroti wajah barunya yang asing.

Lalu matanya menangkap sesuatu di bawah—seekor burung kecil yang terperangkap di sangkar. Refleks, Lyara menunduk.

“Eh, kenapa ada kamu di sini?” gumamnya pelan. Ada keanehan aneh di d4danya, perasaan iba. Ia sedikit memajukan tubuhny di tepi jendela, mencoba membuka kait sangkar itu.

Namun sebelum sempat menyentuhnya, sebuah suara berat memecah kesunyian.

“Elvera!”

Suara itu keras dan tegas. Lyara menoleh kaget—

dan tanpa sengaja tubuhnya condong ke depan.

“Aaaah!” teriaknya panik, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Namun, sebelum ia sempat jatuh, sepasang tangan kuat menarik pinggangnya dan memeluknya erat dari belakang.

Lyara terdiam, napasnya memburu. Detak jantungnya berpacu tak karuan. Ia menoleh perlahan. Di belakangnya berdiri seorang pria berwajah tampan, rahangnya tegas, matanya tajam bagai elang. Tatapannya menembus, penuh amarah dan kecemasan.

“Kamu memang ingin kita bercerai, Elvera,” suaranya berat dan dingin, “tapi bukan berarti kamu bisa mengancamku dengan cara seperti ini!”

Tatapan Lyara membeku. Bercerai? Elvera sudah menikah?

Tubuhnya lemas, sementara jantungnya berdentum keras. Kehidupan barunya baru saja dimulai dan sepertinya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

"Apa lagi ini?" batinnya frustasi.

Terpopuler

Comments

Animer's

Animer's

Alhamdulillah yuk bisa yuk bahagia di raga ke 2 terbebas dari keluarga toxic

2026-04-14

0

꒻♬㉹ոa٭*•̩̩͙

꒻♬㉹ոa٭*•̩̩͙

apakah Elvera ada hubungan dengan Lyara???

2026-01-26

0

𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄

𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄

5tahun ya, apa yg terjadi setelah 5tahun?

2026-06-05

0

lihat semua
Episodes
1 Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2 Raga yang Berbeda
3 Menempati Raga Elvera
4 Penolakan Awal
5 Kejanggalan
6 Bibit Perusak
7 Perkataan Pedas Istri Sah
8 Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9 Hilang
10 Sandi Ponsel
11 Memberi Pilihan
12 Jangan Katakan Cerai~
13 Ketegasan Theo
14 Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15 Pembelaan Dian
16 Godaan Istri
17 Sedikit Mencair
18 Serangan Manis Suami
19 Luluhnya Hati Keisya
20 Siapa Kamu?
21 Pria Asing
22 Amarah Theodore
23 Kamu Tidak Percaya?
24 Selamatkan Jantung Ini~
25 Raga Yang Berbeda
26 Pacaran Ala Suami Istri
27 Si Manja
28 Ketegasan Theo
29 Di Labraak
30 Aku Bukan Elvera
31 Bantu Aku, Theo
32 Kesepakatan
33 Hari Pertama Ei Sekolah
34 Hari Baru
35 Nama Yang Teringat
36 Sudah Lepas KB?
37 Lukisan Sepi
38 Pesona Suami Orang
39 Jiwa Asli Menolak Kembali
40 Mike, Dia Mengenalku
41 Raga Yang Tidak Lagi Ada
42 Tangis Yang Pecah
43 Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44 Pengakuan Theodore
45 Kapan Dia Kembali ~
46 Kasih Yang Tak Lepas
47 Pasar
48 Hangat ~
49 Theodore Sakit
50 Mie Instan
51 Tragedi Resto
52 Istri Sah Pemenangnya~
53 Mulai Sensitif
54 Tragedi
55 Kehamilan Yang Rentan
56 Karena Sekarang, Dia Putriku
57 Cuami Baluuuu~
58 Telur Gosong
59 Cinta Pertama Theodore
60 Buka Bajumu!
61 Perhatian Suami
62 USG
63 Aku Mencintaimu~
64 Semakin Tanpa Jarak
65 Merajuk
66 Mempertahankan
67 Kekesalan Eira
68 Salah Tingkah
69 Pentas Eira
70 Papa Dengal lah~
71 Diary Elvera
72 Sebuah Pertanyaan Berat
73 Ketakutan Lyara
74 Mie Malam
75 Olahraga Rutin Bumil
76 Boy Or Girl?
77 Merasakan Yang Sama
78 Keputusan Lyara
79 Beban Yang Terangkat
80 Berita Tak Baik
81 Kelahiran Baby Boy
82 Boy Rakha Lorenzo
83 Pemulihan
84 Kedatangan Daven
85 Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86 Pulang
87 Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88 Keanehan Yang Terjadi
89 Bryan Sadar
90 Kamu Harus Tetap Disini~
91 Jiwa Elvera
92 Cincin Istimewa
93 Jangan Pernah Berubah, Ma
94 Perubahan Lyara
95 Tingkah Aneh Lyara
96 Bukan Mama Ei!
97 Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98 Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99 Benda Yang Terikat
100 Rencana Theodore
101 Sanatas
102 Kehangatan Yang Dirindukan
103 Kehangatan
104 Dua Tahun Berlalu
105 Merasa Familiar
106 Pertemuan Terakhir (End)
107 MAFIA, BODEL TERBARU
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2
Raga yang Berbeda
3
Menempati Raga Elvera
4
Penolakan Awal
5
Kejanggalan
6
Bibit Perusak
7
Perkataan Pedas Istri Sah
8
Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9
Hilang
10
Sandi Ponsel
11
Memberi Pilihan
12
Jangan Katakan Cerai~
13
Ketegasan Theo
14
Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15
Pembelaan Dian
16
Godaan Istri
17
Sedikit Mencair
18
Serangan Manis Suami
19
Luluhnya Hati Keisya
20
Siapa Kamu?
21
Pria Asing
22
Amarah Theodore
23
Kamu Tidak Percaya?
24
Selamatkan Jantung Ini~
25
Raga Yang Berbeda
26
Pacaran Ala Suami Istri
27
Si Manja
28
Ketegasan Theo
29
Di Labraak
30
Aku Bukan Elvera
31
Bantu Aku, Theo
32
Kesepakatan
33
Hari Pertama Ei Sekolah
34
Hari Baru
35
Nama Yang Teringat
36
Sudah Lepas KB?
37
Lukisan Sepi
38
Pesona Suami Orang
39
Jiwa Asli Menolak Kembali
40
Mike, Dia Mengenalku
41
Raga Yang Tidak Lagi Ada
42
Tangis Yang Pecah
43
Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44
Pengakuan Theodore
45
Kapan Dia Kembali ~
46
Kasih Yang Tak Lepas
47
Pasar
48
Hangat ~
49
Theodore Sakit
50
Mie Instan
51
Tragedi Resto
52
Istri Sah Pemenangnya~
53
Mulai Sensitif
54
Tragedi
55
Kehamilan Yang Rentan
56
Karena Sekarang, Dia Putriku
57
Cuami Baluuuu~
58
Telur Gosong
59
Cinta Pertama Theodore
60
Buka Bajumu!
61
Perhatian Suami
62
USG
63
Aku Mencintaimu~
64
Semakin Tanpa Jarak
65
Merajuk
66
Mempertahankan
67
Kekesalan Eira
68
Salah Tingkah
69
Pentas Eira
70
Papa Dengal lah~
71
Diary Elvera
72
Sebuah Pertanyaan Berat
73
Ketakutan Lyara
74
Mie Malam
75
Olahraga Rutin Bumil
76
Boy Or Girl?
77
Merasakan Yang Sama
78
Keputusan Lyara
79
Beban Yang Terangkat
80
Berita Tak Baik
81
Kelahiran Baby Boy
82
Boy Rakha Lorenzo
83
Pemulihan
84
Kedatangan Daven
85
Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86
Pulang
87
Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88
Keanehan Yang Terjadi
89
Bryan Sadar
90
Kamu Harus Tetap Disini~
91
Jiwa Elvera
92
Cincin Istimewa
93
Jangan Pernah Berubah, Ma
94
Perubahan Lyara
95
Tingkah Aneh Lyara
96
Bukan Mama Ei!
97
Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98
Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99
Benda Yang Terikat
100
Rencana Theodore
101
Sanatas
102
Kehangatan Yang Dirindukan
103
Kehangatan
104
Dua Tahun Berlalu
105
Merasa Familiar
106
Pertemuan Terakhir (End)
107
MAFIA, BODEL TERBARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!