Penolakan Awal

Pagi itu, seperti biasanya, Theodore tengah bersiap. Sebagai seorang dokter, rutinitasnya selalu padat dan waktunya tersita oleh pekerjaan. Kini, setelah resmi menjadi dokter spesialis penyakit dalam, tanggung jawabnya semakin besar. Namun, ia selalu berusaha menjaga ketepatan waktu dan kedisiplinannya.

Ia mengenakan jam tangannya, lalu merapikan jas dokter berwarna putih yang menggantung di pundaknya. Setelah memastikan semua perlengkapan siap, tas kerja, ponsel, dan dokumen pasien, ia menatap jam di pergelangan tangan. Masih sempat untuk sarapan.

Dengan langkah pasti, Theodore melangkah keluar kamar. Namun, baru beberapa langkah ia hentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada pintu kamar yang terbuka lebar. “Kemana dia? Biasanya pagi-pagi sudah menungguku di depan kamar,” gumam Theodore heran.

Ia mengangkat bahunya, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul di d4da, lalu melanjutkan langkah menuju ruang makan.

Sesampainya di sana, Theodore terdiam. Seketika, matanya menangkap sosok wanita muda berambut panjang tergerai yang tengah menata makanan di meja. Dress merah yang membalut tubuh wanita itu tampak lembut di bawah cahaya matahari pagi yang menerobos lewat jendela. Gerakannya anggun, dan saat menyelipkan rambut ke belakang telinga, ada aura lembut yang jarang ia lihat.

“Eh, Om, sarapan dulu,” ucap Lyara ceria begitu menyadari kehadiran Theodore. Pria itu mengerutkan dahi, berdehem pelan, lalu berjalan mendekat dan menarik kursi untuk duduk.

“Om mau sarapan apa? Biar aku ambilkan,” katanya dengan semangat, namun tatapan Theodore menajam.

“Usia kita cuma beda lima tahun, El. Jangan panggil aku Om. Itu terdengar menggelikan. Otakmu semakin rusak, ya?” desisnya jengkel.

Lyara tersenyum, lesung pipinya tampak samar. “Om kan panggilan sayang. Kenapa? Enggak suka? Kan lebih …,” Ia mencondongkan tubuhnya mendekat, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas hangat Lyara terasa di wajah Theodore. Jakunnya bergerak naik turun.

“Dekat … rawwrr,” ucap Lyara sambil menirukan suara kucing dan memperlihatkan gerakan cakarnya.

Theodore terkejut, buru-buru memalingkan wajah dan berdehem. Lyara hanya tertawa kecil, lalu duduk di kursinya sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk. Tangannya lincah mengambilkan makanan untuk pria di depannya, tak lain suaminya. Ya, suami dari raga yang kini ia tempati.

“Makanlah, kamu harus coba sup ini,” katanya lembut.

Theodore hanya diam, tak menolak tapi juga tak menunjukkan ketertarikan. Lyara paham, hubungan pemilik raga yang ia tempati dengan keluarganya penuh jarak. Tapi pagi ini, ia mencoba sesuatu yang berbeda. Ia ingin menjadi hangat, walau dirinya hanyalah pengganti dari sosok asli yang telah pergi.

Suasana pagi itu sedikit berubah ketika seorang gadis kecil muncul, berjalan dengan riang sambil memeluk boneka kelincinya. Rambutnya masih agak basah, menandakan baru saja mandi. Ia tampak manis dengan baju kodok warna biru muda.

"Cudah ku bilaaang belhenti belpula-pulaaa, nanti kamu jadi—" saat akan naik ke atas kursinya, tatapan matanya syok melihat keberadaan Lyara di sebelahnya. Ia lalu menoleh menatap Theodore yang tengah menatapnya.

“Jadi lampiiiil,” cicitnya pelan, wajahnya mencerminkan kebingungan antara takut dan cemas.

“Hai, ayo sarapan,” sapa Lyara ramah.

Gadis kecil itu, Eira Adeline Lorenzo, anak kedua Theodore dan Elvera, hanya menatap tanpa suara. Tatapannya berpindah dari Lyara ke Theodore, seolah meminta penjelasan. Theodore hanya mengangkatnya ke kursi dengan lembut, lalu mengelus rambut putrinya.

Eira tidak pernah dekat dengan mamanya. Baginya, sang Mama adalah sosok galak dan menakutkan. Tapi pagi ini, perempuan yang duduk di sampingnya berbeda, tersenyum, lembut, bahkan menyiapkan makanan untuknya.

Pikiran kecilnya mulai berputar liar. “Kila-kila mau diapain Eila? Di malahi? Di kunciin di kamal mandi? Nda di kacih makan? Di culuh tidul di lual? Ndaaa … pelacaan Eila nda buat calah,” batinnya penuh kecurigaan.

Lyara tersenyum. “Ayo makan, anak manis.” Ia mengambilkan semangkuk sup untuk Eira, dan perlahan menyuapkannya. Eira memakan dengan ragu, tapi tetap membuka mulutnya lagi saat sendok berikutnya datang.

Langkah sepatu kembali terdengar. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun berjalan masuk sambil membawa tas dan sisir miliknya. Tanpa bicara, ia duduk dan menatap hidangan di meja. Theodore mengelus rambut anak itu.

“Kok belum dikuncir rambutnya?” tanyanya lembut.

“Nunggu Tante Zeya. Katanya mau anter aku,” jawabnya pelan.

“Sini, sama Papa aja. Jangan merepotkan Tante Zeya,” ucap Theodore sambil hendak mengambil sisir. Namun, sang anak buru-buru menepis tangannya.

“Enggak mau, Pa. Papa kalau nyisir pasti berantakan!” protesnya kesal.

Theodore menghela napas. “Terserah kamu, deh.”

“Mama bisa bantu sisirin,” celetuk Lyara tiba-tiba, membuat anak itu menoleh cepat. Pandangannya tajam, dan penuh rasa marah.

“Enggak usah,” jawabnya singkat, ketus.

Lyara mengangguk perlahan. “Yaudah, kalau enggak mau.” Suaranya lembut, tapi sorot matanya meredup. Ia tak menyangka anak itu akan menolaknya sekeras itu.

Theodore menatap istrinya dengan tatapan sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang ganjil dari sikap Elvera pagi itu, terlalu ramah, terlalu lembut, seolah bukan dirinya. Namun, untuk alasan yang tak bisa ia pahami, hatinya menolak marah. Ada ketenangan yang aneh.

"Enak sup nya? Mama tambahkan sedikit bumbu tadi," ucap Lyara pada Eira yang dengan lahap memakan supnya.

“Kamu … memasak?” tanya Theodore, jelas terkejut. Biasanya Elvera bahkan tak mau menyentuh dapur.

Namun sebelum Lyara sempat menjawab, putri sulung mereka tiba-tiba menyingkirkan sendoknya dan beranjak dari kursi.

Prang!

“Aku kenyang,” katanya pelan, lalu berlalu pergi. Theodore pun menyusul, meninggalkan meja makan yang kini terasa hening dan sepi.

Lyara menatap piring-piring yang masih penuh. Ada rasa kecewa yang menggantung di d4danya. Ia menunduk, menahan napas agar tak pecah tangis.

“Yaudah, biarin aja mereka lapar. Dikasih makanan malah ngelunjak. Dasar manusia,” gumamnya dengan suara gemetar, mencoba menutupi perasaan sakit.

Namun kemudian, suara kecil memecah kesepiannya. “Suap lagi, Mama Lampil,” ucap Eira polos, membuka mulutnya lebar.

Lyara tersenyum tulus, air mata menggantung di pelupuk matanya. Ia menyuapi gadis kecil itu lagi dan lagi secara perlahan, penuh kasih, seolah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai hari ini, keluarga ini akan merasakan hangatnya kasih sayang yang dulu hilang.

"Eeeh Non Eira tumben makannya lahap, biasanya GTM. Gerakan tutup mulut, sekarang GTM gak mau tutup mulut," celetuk Bi Nina yang datang dan menuangkan air ke dalam gelas.

Lyara tersenyum dan mengelus lembut kelala Eira, lalu ia beralih menatap ke arah Bi Nina yang masih terfokus pada kegiatannya. "Bi, apa pernah aku memvkul anak-anak?" pertanyaan Lyara membuat kegiatan wanita paruh baya itu terhenti. Ia menatap heran ke arah Lyara yang bertanya tentang dirinya sendiri.

"Kepala Nyonya masih sakit yah?"

Lyara menghela napas pelan, pertanyaan pasti sangat aneh. "Enggak jadi Bi," balasnya dan kembali menyuapi Eira.

Bi Nina mengg4ruk kepalanya yang tak gatal sambil melangkah pergi. Tapi sesekali ia menoleh ke belakang menatap perilaku Lyara yang terkesan aneh.

"Nyonya makin aneh, efek samping obat tidur itu sangat parah. Mana ada, orang yang bertanya tentang dirinya sendiri," gumamnya pelan.

___________________________________

Hari ini 5 yah, tungguiiiiin😆

Terpopuler

Comments

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

El asli. jahatt bangeet ya🤧🤣🤣

2025-11-05

27

Agnezz

Agnezz

Nyonya El lagi kesambet😅😅 maka jadi aneh dan lain. Tapi malah jadi Nyonya yg baik dan sabar .

2025-11-05

4

RiriChiew🌺

RiriChiew🌺

semenakutkan itukah dirimu dimasa lalu Ampe anak2 pun gak sudii Deket dgn kmu . 🙈
btw Kak Ra banyak typo berterbangan kali inii 😁 tpi masih oke sihh 😉

2025-11-05

7

lihat semua
Episodes
1 Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2 Raga yang Berbeda
3 Menempati Raga Elvera
4 Penolakan Awal
5 Kejanggalan
6 Bibit Perusak
7 Perkataan Pedas Istri Sah
8 Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9 Hilang
10 Sandi Ponsel
11 Memberi Pilihan
12 Jangan Katakan Cerai~
13 Ketegasan Theo
14 Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15 Pembelaan Dian
16 Godaan Istri
17 Sedikit Mencair
18 Serangan Manis Suami
19 Luluhnya Hati Keisya
20 Siapa Kamu?
21 Pria Asing
22 Amarah Theodore
23 Kamu Tidak Percaya?
24 Selamatkan Jantung Ini~
25 Raga Yang Berbeda
26 Pacaran Ala Suami Istri
27 Si Manja
28 Ketegasan Theo
29 Di Labraak
30 Aku Bukan Elvera
31 Bantu Aku, Theo
32 Kesepakatan
33 Hari Pertama Ei Sekolah
34 Hari Baru
35 Nama Yang Teringat
36 Sudah Lepas KB?
37 Lukisan Sepi
38 Pesona Suami Orang
39 Jiwa Asli Menolak Kembali
40 Mike, Dia Mengenalku
41 Raga Yang Tidak Lagi Ada
42 Tangis Yang Pecah
43 Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44 Pengakuan Theodore
45 Kapan Dia Kembali ~
46 Kasih Yang Tak Lepas
47 Pasar
48 Hangat ~
49 Theodore Sakit
50 Mie Instan
51 Tragedi Resto
52 Istri Sah Pemenangnya~
53 Mulai Sensitif
54 Tragedi
55 Kehamilan Yang Rentan
56 Karena Sekarang, Dia Putriku
57 Cuami Baluuuu~
58 Telur Gosong
59 Cinta Pertama Theodore
60 Buka Bajumu!
61 Perhatian Suami
62 USG
63 Aku Mencintaimu~
64 Semakin Tanpa Jarak
65 Merajuk
66 Mempertahankan
67 Kekesalan Eira
68 Salah Tingkah
69 Pentas Eira
70 Papa Dengal lah~
71 Diary Elvera
72 Sebuah Pertanyaan Berat
73 Ketakutan Lyara
74 Mie Malam
75 Olahraga Rutin Bumil
76 Boy Or Girl?
77 Merasakan Yang Sama
78 Keputusan Lyara
79 Beban Yang Terangkat
80 Berita Tak Baik
81 Kelahiran Baby Boy
82 Boy Rakha Lorenzo
83 Pemulihan
84 Kedatangan Daven
85 Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86 Pulang
87 Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88 Keanehan Yang Terjadi
89 Bryan Sadar
90 Kamu Harus Tetap Disini~
91 Jiwa Elvera
92 Cincin Istimewa
93 Jangan Pernah Berubah, Ma
94 Perubahan Lyara
95 Tingkah Aneh Lyara
96 Bukan Mama Ei!
97 Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98 Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99 Benda Yang Terikat
100 Rencana Theodore
101 Sanatas
102 Kehangatan Yang Dirindukan
103 Kehangatan
104 Dua Tahun Berlalu
105 Merasa Familiar
106 Pertemuan Terakhir (End)
107 MAFIA, BODEL TERBARU
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2
Raga yang Berbeda
3
Menempati Raga Elvera
4
Penolakan Awal
5
Kejanggalan
6
Bibit Perusak
7
Perkataan Pedas Istri Sah
8
Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9
Hilang
10
Sandi Ponsel
11
Memberi Pilihan
12
Jangan Katakan Cerai~
13
Ketegasan Theo
14
Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15
Pembelaan Dian
16
Godaan Istri
17
Sedikit Mencair
18
Serangan Manis Suami
19
Luluhnya Hati Keisya
20
Siapa Kamu?
21
Pria Asing
22
Amarah Theodore
23
Kamu Tidak Percaya?
24
Selamatkan Jantung Ini~
25
Raga Yang Berbeda
26
Pacaran Ala Suami Istri
27
Si Manja
28
Ketegasan Theo
29
Di Labraak
30
Aku Bukan Elvera
31
Bantu Aku, Theo
32
Kesepakatan
33
Hari Pertama Ei Sekolah
34
Hari Baru
35
Nama Yang Teringat
36
Sudah Lepas KB?
37
Lukisan Sepi
38
Pesona Suami Orang
39
Jiwa Asli Menolak Kembali
40
Mike, Dia Mengenalku
41
Raga Yang Tidak Lagi Ada
42
Tangis Yang Pecah
43
Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44
Pengakuan Theodore
45
Kapan Dia Kembali ~
46
Kasih Yang Tak Lepas
47
Pasar
48
Hangat ~
49
Theodore Sakit
50
Mie Instan
51
Tragedi Resto
52
Istri Sah Pemenangnya~
53
Mulai Sensitif
54
Tragedi
55
Kehamilan Yang Rentan
56
Karena Sekarang, Dia Putriku
57
Cuami Baluuuu~
58
Telur Gosong
59
Cinta Pertama Theodore
60
Buka Bajumu!
61
Perhatian Suami
62
USG
63
Aku Mencintaimu~
64
Semakin Tanpa Jarak
65
Merajuk
66
Mempertahankan
67
Kekesalan Eira
68
Salah Tingkah
69
Pentas Eira
70
Papa Dengal lah~
71
Diary Elvera
72
Sebuah Pertanyaan Berat
73
Ketakutan Lyara
74
Mie Malam
75
Olahraga Rutin Bumil
76
Boy Or Girl?
77
Merasakan Yang Sama
78
Keputusan Lyara
79
Beban Yang Terangkat
80
Berita Tak Baik
81
Kelahiran Baby Boy
82
Boy Rakha Lorenzo
83
Pemulihan
84
Kedatangan Daven
85
Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86
Pulang
87
Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88
Keanehan Yang Terjadi
89
Bryan Sadar
90
Kamu Harus Tetap Disini~
91
Jiwa Elvera
92
Cincin Istimewa
93
Jangan Pernah Berubah, Ma
94
Perubahan Lyara
95
Tingkah Aneh Lyara
96
Bukan Mama Ei!
97
Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98
Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99
Benda Yang Terikat
100
Rencana Theodore
101
Sanatas
102
Kehangatan Yang Dirindukan
103
Kehangatan
104
Dua Tahun Berlalu
105
Merasa Familiar
106
Pertemuan Terakhir (End)
107
MAFIA, BODEL TERBARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!