Kejanggalan

Theodore baru saja melayani pasien terakhirnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan tubuh dan pikirannya yang terasa begitu lelah. Punggungnya bersandar di kursi, matanya terpejam sesaat. Sungguh, hari ini terasa berat. Masalah pekerjaan dan rumah tangga bercampur menjadi satu dalam kepalanya yang riuh.

Istrinya yang akhir-akhir ini berubah menjadi sosok yang lembut dan ceria justru membuat Theodore kebingungan. Ada sesuatu yang terasa tidak wajar di balik senyuman itu.

Cklek!

Suara pintu terbuka membuat Theodore membuka mata. Seorang dokter wanita berjalan mendekat dengan senyum lebar. Di tangannya tergenggam sebuah tas makanan.

“Bagaimana kabarmu hari ini? Pasiennya lagi banyak?” tanya wanita itu antusias, lalu duduk di hadapan Theodore tanpa meminta izin.

“Yah, lumayan. Nanti aku harus menjalani operasi,” jawab Theodore dengan nada lelah.

“Begitu ya. Kalau begitu, ayo kita makan dulu. Siang ini aku bawakan Ayam asam manis dan juga bayam kesukaanmu.”

Zeya Lyneth—dokter gigi sekaligus sahabat dekat Theodore itu meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja dengan penuh semangat.

Theodore hanya terdiam. Tatapannya kosong menatap Zeya yang tengah menata makanan dengan hati-hati. Pikirannya melayang pada sosok Elvera, istrinya, yang akhir-akhir ini terasa ... aneh.

Ia sempat mencicipi sup buatan istrinya pagi tadi dan entah kenapa, rasanya membuatnya ingat terus dengan wanita itu.

“Theo, kenapa diam saja? Ayo makan,” ujar Zeya sambil menyodorkan sendok.

Theodore tersadar. Ia menerima makanan yang Zeya berikan, lalu melahapnya perlahan. “Kamu tak seharusnya selalu memberiku makan siang, Zeya,” ujarnya pelan.

Zeya tersenyum kecil. “Memangnya kenapa? Kamu sering lupa makan. Jangan sampai sakit. Ayo, coba ayamnya. Aku masaknya agak lama, lho.”

Wanita itu menyodorkan potongan ayam ke arah Theodore. Namun kali ini, bukannya menyambut seperti biasanya, Theodore justru memalingkan wajah dan memilih melanjutkan makannya sendiri.

Tangan Zeya terhenti di udara. Senyum yang semula lembut perlahan luntur. Ia menarik kembali tangannya dan memperhatikan Theodore yang tampak menghindarinya.

“Kamu berantem lagi dengan istrimu? Tadi aku sempat ke sekolah, Keisya kelihatan kesal. Ada apa di rumah?” tanyanya hati-hati.

Theodore menghela napas panjang. “Entahlah. Hari ini Elvera aneh. Seperti ... orang yang berbeda. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Tatapan Zeya berubah. Ia kembali melahap makanannya, namun pikirannya berputar cepat. “Kasihan anak-anakmu. Ibu mereka seperti tidak peduli. Apalagi Eira, dia masih kecil. Tapi ibunya malah sibuk dengan hal lain,” ucap Zeya pelan.

Theodore terdiam, mengingat kejadian pagi tadi—ketika Elvera dengan sabar menyuapi Eira. Hal yang tidak pernah ia sangka akan dilakukan istrinya.

“Oh ya, bagaimana rencanamu? Kamu sudah mengajukan perceraian seperti yang kamu rencanakan dulu?”

Gerakan tangan Theodore terhenti. Tatapannya terangkat, menatap Zeya yang kini menatap balik dengan penuh tuntutan.

“Untuk itu …,”

Tok! Tok!

Keduanya menoleh. Seorang suster muncul di ambang pintu. “Dokter, Direktur memanggil.”

“Baik,” ujar Theodore cepat. Ia berdiri, merapikan jas dokternya, lalu menatap Zeya sekilas.

“Terima kasih untuk makanannya, Zeya.”

Ia pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Zeya yang masih termangu, berpikir keras. “Kenapa sikap Theo hari ini … aneh? Apa Elvera tak lagi meminta cerai padanya?” gumamnya bingung.

.

.

.

.

Malam ini terasa berbeda. Biasanya, Eira akan bermain sendiri sampai tertidur. Tapi kali ini, tampak seorang wanita sedang membacakan buku cerita untuk gadis kecil itu. Keduanya sudah merebahkan diri di atas ranjang, dengan jarak yang sangat dekat.

Dengan wajah lembut dan suara tenang, Lyara membacakan kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.

“Oooh jadi celitanya bawang melah itu nda cuka bawang putih? Padahal meleka celalu belcama di makanan. Kenapa caling iliii?” tanya Eira polos, membuat Lyara tertawa kecil.

“Bukan begitu, ini cuma cerita rakyat. Ayo, sekarang tidur ya. Sudah malam,” ujarnya sambil mematikan lampu kamar dan menarik selimut menutupi tubuh Eira.

Namun, sebelum Lyara sempat beranjak, Eira menatapnya dalam diam. “Mama lampil, becoook jangan jadi monstel lagi yah? Jadi kayak bidadali aja gini, belbaik hati,” ucap Eira dengan polos.

Lyara terdiam, d4danya terasa sesak. Ia menatap wajah kecil itu dan menariknya dalam pelukan. “Memangnya, Mama sebelumnya gimana? Apa Mama pernah memvkul Eira?” tanyanya hati-hati.

“Ndaa,” jawab Eira dengan tatapan polos.

“Enggak? Mama enggak pernah pvkul Eira? Terus, kenapa Eira takut?” Lyara mengernyit bingung.

Ia kira Elvera sering berlaku kasar pada anak-anaknya, tapi jawaban Eira justru membingungkannya.

“Mama cama Papa celing belantem, mama teliak-teliak. Malah-malah telus, cemuanya calah. Ei celing kena malah Mama,” tutur Eira sambil menatap langit-langit kamar.

“Tapi Mama enggak pernah pvkul Ei, kan?” Lyara mengulang pertanyaannya.

Eira menggeleng, lalu bertanya balik dengan polos, “Mama ngelaca pelnah pvkul El nda?”

Lyara terseyum tipis, matanya mulai berkaca. “Enggak, mana mungkin Mama pvkul anak semanis dan sebaik Ei. Sekarang tidur ya.” Ia mengusap lembut kening anak itu, dan seolah mantra, Eira langsung tertidur pulas.

Lyara berdiri pelan, menatap sekeliling kamar yang penuh dengan mainan dan boneka. Ia meraih salah satu boneka milik Eira dan melihatnya dengan seksama. Dulu ia pernah menginginkan untuk di belikan boneka. Hanya saja, sang ayah justru hanya memberikannya pada kakaknya saja.

“Eira umur empat tahun aja udah punya segini banyak boneka. Aku dulu … boro-boro. Yang ada, kakak lagi, kakak lagi. Tapi ya … syukur lah kalau si om-om itu adil ke anak-anaknya,” gumam Lyara lirih sambil mengembalikan boneka ke tempatnya.

Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati. Tapi baru beberapa detik, suara berat memecah keheningan.

“Sedang apa kamu di kamar putriku?!”

Lyara tersentak. Ia menoleh cepat dan melihat Theodore berdiri di ambang koridor, menatapnya tajam.

“Aku hanya menidurkannya, tidak lebih,” jawab Lyara cepat, suaranya pelan takut Eira terbangun.

Namun Theodore tampak tak percaya. Ia segera membuka pintu kamar Eira, memastikan putrinya baik-baik saja. Setelah memastikan sang putri, ia menoleh ke arah Lyara yang berdiri di belakangnya.

“Aku tak akan memaafkanmu jika kamu menyeret putriku dalam masalah kita, Elvera,” desisnya dingin.

Lyara mendengus pelan, matanya menatap balik dengan berani. “Kamu bicara seolah Eira hanya anakmu sendiri. Padahal, buatnya berdua, keringat berdua. Tapi, di mulutmu cuma ‘putriku’. Memangnya aku nggak nyumbang tenaga, huh?” balasnya dengan nada tajam.

Theodore terdiam, tertegun. Tak percaya dengan cara bicara istrinya yang terasa begitu berbeda.

“Kamu—”

Belum sempat ia melanjutkan, Lyara mencondongkan tubuh, jarinya menari pelan di d4da Theodore.

“Kalau om lupa gimana cara buatnya … gimana kalau kita …,” ucap Lyara menggoda, membuat napas Theodore tertahan. Wajahnya memerah, dan tanpa sepatah kata, ia berbalik pergi.

Lyara tersenyum geli melihat kekakuan pria itu. “Udah anak dua, masih aja blushing,” gumamnya pelan.

Namun, tawa itu tak bertahan lama. Ekspresinya berubah sendu. “Ada yang aneh … Eira bilang aku nggak pernah berbuat kasar. Tapi kenapa semua orang takut sama aku? Katanya Elvera sering marah-marah. Apa bisa seseorang marah tanpa alasan?” bisiknya, tatapan matanya kosong menatap lantai, seolah menelusuri masa lalu Elvera yang tak ia pahami.

___________________

Maap yah lama, ada urusan bentar tadi😆

Terpopuler

Comments

sleepyhead

sleepyhead

Padahal si ujang mulai tergoda 🤣

2025-11-05

10

tinie

tinie

wah ternyata Elvera itu hanya terhasut oleh zeya
pasti ada santunan kata kata yg membuat iya harus pisah dengan Theo
marah tak jelas, cemburu buta
pasti di adu domba

lihat saja pagi tadi Keisha minta disisirin rambutnya sama Tante zeya

kirain adik Theo
ternyata hanya teman dekat, teman sejawat

2025-11-06

1

sleepyhead

sleepyhead

No F way, where there's smoke there's fire.....!

2025-11-05

7

lihat semua
Episodes
1 Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2 Raga yang Berbeda
3 Menempati Raga Elvera
4 Penolakan Awal
5 Kejanggalan
6 Bibit Perusak
7 Perkataan Pedas Istri Sah
8 Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9 Hilang
10 Sandi Ponsel
11 Memberi Pilihan
12 Jangan Katakan Cerai~
13 Ketegasan Theo
14 Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15 Pembelaan Dian
16 Godaan Istri
17 Sedikit Mencair
18 Serangan Manis Suami
19 Luluhnya Hati Keisya
20 Siapa Kamu?
21 Pria Asing
22 Amarah Theodore
23 Kamu Tidak Percaya?
24 Selamatkan Jantung Ini~
25 Raga Yang Berbeda
26 Pacaran Ala Suami Istri
27 Si Manja
28 Ketegasan Theo
29 Di Labraak
30 Aku Bukan Elvera
31 Bantu Aku, Theo
32 Kesepakatan
33 Hari Pertama Ei Sekolah
34 Hari Baru
35 Nama Yang Teringat
36 Sudah Lepas KB?
37 Lukisan Sepi
38 Pesona Suami Orang
39 Jiwa Asli Menolak Kembali
40 Mike, Dia Mengenalku
41 Raga Yang Tidak Lagi Ada
42 Tangis Yang Pecah
43 Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44 Pengakuan Theodore
45 Kapan Dia Kembali ~
46 Kasih Yang Tak Lepas
47 Pasar
48 Hangat ~
49 Theodore Sakit
50 Mie Instan
51 Tragedi Resto
52 Istri Sah Pemenangnya~
53 Mulai Sensitif
54 Tragedi
55 Kehamilan Yang Rentan
56 Karena Sekarang, Dia Putriku
57 Cuami Baluuuu~
58 Telur Gosong
59 Cinta Pertama Theodore
60 Buka Bajumu!
61 Perhatian Suami
62 USG
63 Aku Mencintaimu~
64 Semakin Tanpa Jarak
65 Merajuk
66 Mempertahankan
67 Kekesalan Eira
68 Salah Tingkah
69 Pentas Eira
70 Papa Dengal lah~
71 Diary Elvera
72 Sebuah Pertanyaan Berat
73 Ketakutan Lyara
74 Mie Malam
75 Olahraga Rutin Bumil
76 Boy Or Girl?
77 Merasakan Yang Sama
78 Keputusan Lyara
79 Beban Yang Terangkat
80 Berita Tak Baik
81 Kelahiran Baby Boy
82 Boy Rakha Lorenzo
83 Pemulihan
84 Kedatangan Daven
85 Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86 Pulang
87 Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88 Keanehan Yang Terjadi
89 Bryan Sadar
90 Kamu Harus Tetap Disini~
91 Jiwa Elvera
92 Cincin Istimewa
93 Jangan Pernah Berubah, Ma
94 Perubahan Lyara
95 Tingkah Aneh Lyara
96 Bukan Mama Ei!
97 Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98 Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99 Benda Yang Terikat
100 Rencana Theodore
101 Sanatas
102 Kehangatan Yang Dirindukan
103 Kehangatan
104 Dua Tahun Berlalu
105 Merasa Familiar
106 Pertemuan Terakhir (End)
107 MAFIA, BODEL TERBARU
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Luka Yang Tak Pernah Di Pahami
2
Raga yang Berbeda
3
Menempati Raga Elvera
4
Penolakan Awal
5
Kejanggalan
6
Bibit Perusak
7
Perkataan Pedas Istri Sah
8
Senyum Berbeda Di Wajah Yang Sama
9
Hilang
10
Sandi Ponsel
11
Memberi Pilihan
12
Jangan Katakan Cerai~
13
Ketegasan Theo
14
Seorang Ibu Masih Butuh Ibu
15
Pembelaan Dian
16
Godaan Istri
17
Sedikit Mencair
18
Serangan Manis Suami
19
Luluhnya Hati Keisya
20
Siapa Kamu?
21
Pria Asing
22
Amarah Theodore
23
Kamu Tidak Percaya?
24
Selamatkan Jantung Ini~
25
Raga Yang Berbeda
26
Pacaran Ala Suami Istri
27
Si Manja
28
Ketegasan Theo
29
Di Labraak
30
Aku Bukan Elvera
31
Bantu Aku, Theo
32
Kesepakatan
33
Hari Pertama Ei Sekolah
34
Hari Baru
35
Nama Yang Teringat
36
Sudah Lepas KB?
37
Lukisan Sepi
38
Pesona Suami Orang
39
Jiwa Asli Menolak Kembali
40
Mike, Dia Mengenalku
41
Raga Yang Tidak Lagi Ada
42
Tangis Yang Pecah
43
Apa Yang Tersisa Dariku Sekarang?
44
Pengakuan Theodore
45
Kapan Dia Kembali ~
46
Kasih Yang Tak Lepas
47
Pasar
48
Hangat ~
49
Theodore Sakit
50
Mie Instan
51
Tragedi Resto
52
Istri Sah Pemenangnya~
53
Mulai Sensitif
54
Tragedi
55
Kehamilan Yang Rentan
56
Karena Sekarang, Dia Putriku
57
Cuami Baluuuu~
58
Telur Gosong
59
Cinta Pertama Theodore
60
Buka Bajumu!
61
Perhatian Suami
62
USG
63
Aku Mencintaimu~
64
Semakin Tanpa Jarak
65
Merajuk
66
Mempertahankan
67
Kekesalan Eira
68
Salah Tingkah
69
Pentas Eira
70
Papa Dengal lah~
71
Diary Elvera
72
Sebuah Pertanyaan Berat
73
Ketakutan Lyara
74
Mie Malam
75
Olahraga Rutin Bumil
76
Boy Or Girl?
77
Merasakan Yang Sama
78
Keputusan Lyara
79
Beban Yang Terangkat
80
Berita Tak Baik
81
Kelahiran Baby Boy
82
Boy Rakha Lorenzo
83
Pemulihan
84
Kedatangan Daven
85
Perdebatan Tegang Ayah Dan Anak
86
Pulang
87
Kepintaran Eira Bikin Orang Tua Waspada
88
Keanehan Yang Terjadi
89
Bryan Sadar
90
Kamu Harus Tetap Disini~
91
Jiwa Elvera
92
Cincin Istimewa
93
Jangan Pernah Berubah, Ma
94
Perubahan Lyara
95
Tingkah Aneh Lyara
96
Bukan Mama Ei!
97
Bukan Lyara, Bukan Elvera, Siapa Dia?
98
Jawaban Di Penghujung Pertanyaan
99
Benda Yang Terikat
100
Rencana Theodore
101
Sanatas
102
Kehangatan Yang Dirindukan
103
Kehangatan
104
Dua Tahun Berlalu
105
Merasa Familiar
106
Pertemuan Terakhir (End)
107
MAFIA, BODEL TERBARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!