BAB 2. MAMA?

Pagi itu, udara masih lembap oleh sisa hujan malam tadi. Langit kelabu, dan sinar matahari pun enggan menampakkan diri.

Di balik kaca mobil, Elena duduk diam dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya sembab, tapi tidak ada lagi air mata yang keluar. Mungkin karena sudah habis semalam, semua tangisan, semua perih, sudah mengering bersama hati yang patah.

Elena menggenggam erat tas kecil di pangkuannya, jari-jarinya gemetar setiap kali kenangan semalam terlintas.

"Aku akan menikahi wanita lain."

"Kau mandul."

"Tidak ada pria yang mau menerima perempuan sepertimu."

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti gema yang tak mau pergi.

Tiga tahun pernikahan, dan hanya dengan beberapa kalimat, Raven menghancurkan segalanya.

Mobil berhenti di depan rumah besar bergaya klasik di pinggiran kota. Rumah yang dulu selalu menjadi tempat Elena pulang setiap kali dunia luar terasa terlalu kejam.

Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya sebelum turun.

Begitu kakinya melangkah ke halaman, pintu rumah langsung terbuka. Dari dalam, Ibu Elena, Clara Alverez, muncul dengan wajah khawatir.

"Elena!" serunya, langsung berjalan cepat menghampiri putrinya. "Oh Tuhan, Baby. Wajahmu kenapa? Kau menangis semalaman, ya?"

Elena berusaha tersenyum, tapi senyum itu lebih mirip guratan luka. "Aku ... aku ingin bicara, Mom. Dengan Dad juga."

Clara menatapnya cemas. "Masuk dulu, sayang. Ayahmu sedang di ruang kerja."

Begitu mereka masuk, aroma kopi hitam langsung menyambut. Di ruang kerja besar di sisi kanan rumah, Mr. Gerald Alverez, ayah Elena, sedang membaca koran sambil mengenakan kacamata baca. Pria itu berwibawa, berumur lima puluhan, dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis, tapi masih memancarkan aura kuat seorang pebisnis yang disegani.

"Elena?" suara sang ayah dalam, sedikit terkejut. "Kenapa datang pagi-pagi begini? Bukannya kau biasanya baru datang saat akhir pekan?"

Elena berdiri di depan pintu, menunduk, dan air mata kembali menggenang di matanya.

Gerald langsung menaruh korannya, berdiri, dan berjalan cepat mendekati putrinya.

"Sweetheart, ada apa ini?" suara sang ayah lembut namun tegas.

Elena menggeleng, mencoba menahan tangis. Tapi bibirnya bergetar saat berkata, "Dad ... Mom ... Raven ...."

Clara langsung memeluknya. "Astaga, apa yang dilakukan Raven? Katakan padaku, Elena."

Dan di ruang kerja itu, Elena menceritakan segalanya.

Tentang Raven yang pulang membawa kabar kalau ia akan menikahi wanita lain bernama Jessy, dengan alasan keturunan. Bahwa dia sudah berselingkuh dengan wanita itu setahun belakangan.

Tentang bagaimana Raven mengaku kalau wanita itu sedang mengandung anaknya.

Tentang bagaimana Raven menyebut dirinya mandul, dan bahwa tak ada pria lain yang akan mau menerima perempuan seperti dirinya.

Dan tentang bagaimana Raven dengan kejam menolak perceraian, seolah semua ini hanya keputusan bisnis.

Setiap kata yang keluar dari mulut Elena membuat wajah Gerald dan Clara semakin tegang.

Hingga akhirnya, setelah Elena selesai, keheningan panjang memenuhi ruangan.

Clara menatap suaminya, matanya memerah. "Gerald ...."

Namun sang ayah sudah menggertakkan rahangnya, menahan amarah yang meletup-letup. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Anak itu ... berani memperlakukan putriku seperti ini?" suaranya serak tapi penuh tekanan. "Setelah semua yang keluarga kita lakukan untuknya?"

"Gerald, tenang dulu," kata Clara cepat, takut melihat wajah suaminya yang memerah karena marah.

"Tenang?!" bentak Gerald. "Bagaimana aku bisa tenang, Clara?! Elena adalah putri semata wayang kita! Dan pria itu-" ia menunjuk udara, nadanya bergetar oleh emosi, "-pria itu anak dari teman baikku sendiri! Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri sejak kecil! Dan sekarang dia menghancurkan hidup putriku!"

"Gerald ...." Clara mencoba menenangkan, tapi suaminya sudah berjalan ke arah pintu.

"Aku akan ke rumahnya sekarang! Aku akan ajarkan dia arti menghormati perempuan!"

"Dad?!" seru Elena cepat, menahan lengan ayahnya sebelum sempat melangkah keluar. "Dad, jangan!"

Gerald menatap Elena, matanya masih menyala oleh amarah. "Kau ingin aku diam saja melihat dia mempermalukanmu begini, Elena? Menghina kau mandul di depan wajahmu sendiri?!"

Air mata Elena jatuh lagi, tapi ia menggeleng kuat. "Dad, please. Aku tidak mau Dad marah-marah ke rumah Raven. Aku tidak mau orang tahu. Aku tidak mau keluarga kita ikut tercoreng karena orang sepertinya."

Gerald terdiam, menatap putrinya lama. "Tapi, Sweetheart-"

Elena menatap ayahnya dengan mata basah. "Harga diriku sudah hancur, Dad. Jangan biarkan harga diri Dad ikut hilang karena dia."

Kata-kata itu menampar kesadaran Gerald dengan halus tapi keras. Ia menatap Elena yang kini berusaha tegar, meski seluruh tubuhnya masih bergetar karena luka batin yang belum sembuh.

Perlahan, kemarahan di wajah Gerald mulai mencair menjadi kesedihan yang dalam.

Ia menghela napas panjang, lalu menarik Elena ke dalam pelukannya.

Anak perempuannya yang dulu ia gendong dengan penuh kebanggaan kini menangis di dadanya seperti anak kecil. Gerald memeluknya lebih erat.

"Maafkan Daddy, Sweety," ucapnya pelan, menahan emosi. "Aku tidak menyangka Raven ... anak itu ... bisa setega ini. Ayah benar-benar tidak menyangka."

Elena hanya menangis dalam pelukan ayahnya, tanpa suara, tapi air matanya tak berhenti.

"Tenanglah, Sweety," lanjut Gerald. "Ayah janji, Ayah akan bantu urus perceraianmu. Kau tidak perlu menghadapi ini sendirian."

Clara yang berdiri di samping mereka ikut menitikkan air mata. Ia kemudian berkata dengan lembut, tapi penuh ketegasan, "Dan mulai hari ini, kau tidak usah kembali ke rumah Raven. Kau pulang saja ke rumah ini. Rumah orang tuamu. Kau tidak pantas tinggal di rumah pria yang sudah mengkhianatimu seperti itu."

Elena menatap ibunya, suaranya serak. "Tapi, Mom ... semua barang-barangku masih di sana."

"Ambil yang perlu," jawab Clara cepat. "Tapi jangan pernah lagi kau menetap di sana. Kami tidak ingin kau menanggung malu di bawah atap yang sudah ternoda oleh pengkhianatan."

Gerald menatap istrinya lalu mengangguk setuju. "Ibumu benar. Kembalilah ke rumah ini, Elena. Mulai hari ini, kau bukan lagi istri yang menunggu di rumah besar itu. Kau adalah putriku, Elena Alverez, dan Daddy akan pastikan nama baikmu tidak ternodai."

Elena mengusap air matanya, mencoba tersenyum walau lemah. "Terima kasih, Dad, Mom. Aku janji, aku akan kuat."

Clara menggenggam tangan putrinya erat. "Kau selalu kuat, Baby. Hanya saja kali ini ... jangan terlalu menahan diri. Kalau kau ingin menangis, menangislah. Tapi jangan biarkan air mata itu membuatmu lupa siapa dirimu."

Elena mengangguk. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian.

Setelah berbincang cukup lama, ia memutuskan untuk kembali ke rumah Raven sebentar, hanya untuk membereskan barang-barangnya.

"Aku tidak akan lama," katanya sambil berdiri. "Aku hanya ingin mengambil semua barangku dan pergi. Aku tidak akan menatap wajahnya lagi."

Gerald memegang bahunya. "Kau mau Daddy antar?"

Elena tersenyum lemah. "Tidak usah, Dad. Aku bisa sendiri."

Clara mengusap pipi putrinya lembut. "Hati-hati, ya. Dan kalau dia mencoba bicara atau menahanmu, jangan dengarkan. Kau tidak berutang apa pun pada pria seperti dia."

Elena mengangguk pelan, lalu berpamitan.

Sebelum keluar dari rumah, ia menatap kedua orang tuanya sekali lagi. Dalam hati, ia merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, kali ini ia tidak sendirian.

Perjalanan menuju rumah Raven terasa panjang dan menyesakkan. Setiap bangunan, setiap jalan yang mereka lalui dulu bersama terasa asing sekarang. Seperti kota yang sama sekali berbeda, karena cinta yang dulu menghiasi setiap sudutnya telah lenyap.

Begitu sampai di rumah, Elena masuk dengan kunci cadangan yang masih ia pegang. Rumah itu sunyi, hanya suara jam di dinding yang terdengar. Aroma parfum Raven masih samar di udara, membuat dadanya perih.

Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke kamar. Ia membuka lemari dan mulai memasukkan pakaian ke koper. Beberapa foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding, wajah mereka tersenyum bahagia dalam balutan jas dan gaun putih.

Elena menatap foto itu lama, lalu mengambilnya. Ia merobeknya perlahan, potongan demi potongan, hingga hanya serpihan kecil yang tersisa di lantai.

"Cukup sudah," ucap Elena. "Aku tidak mau mengingatmu lagi."

Ia menatap ruangan itu untuk terakhir kalinya, memastikan tak ada lagi barang penting tertinggal. Setelah semuanya selesai, Elena menutup koper dan menarik napas panjang.

Ini bukan rumahnya lagi.

Sebelum pulang ke rumah orang tuanya, perutnya tiba-tiba terasa kosong.

Elena sadar belum makan apa pun sejak malam sebelumnya. Kepalanya mulai pusing, dan perutnya terasa melilit. Ia tidak ingin tumbang. Tidak sekarang, ketika ia harus tetap kuat.

Maka ia memutuskan untuk singgah di sebuah kafe terbuka yang berada di pinggir taman kota. Tempat itu sederhana, dengan meja-meja kayu dan aroma kopi yang menenangkan.

Ia memilih duduk di sudut, di bawah payung besar. Pelayan datang membawakan menu, dan Elena memesan seporsi sup jagung dan roti panggang.

Sambil menunggu, ia memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati hembusan angin yang lembut. Suara tawa anak-anak di taman terdengar samar, membuat dadanya terasa hangat, sekaligus perih.

Elena membuka mata, menatap ke arah taman kecil di depan kafe. Ada anak-anak kecil berlarian sambil membawa balon.

Salah satu dari mereka tersandung, lalu bangkit lagi sambil tertawa. Elena tersenyum tipis melihatnya.

"Menjadi ibu ... aku juga sangat ingin, Raven," gumam Elena.

Matanya mulai berair lagi, tapi sebelum air mata itu sempat jatuh, suara kecil memotong lamunannya.

"Mama?"

Elena terkejut. Suara tersebut lembut, polos, tapi cukup jelas untuk membuat Elena menoleh spontan.

Di samping kursinya berdiri seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun. Rambutnya pirang keemasan, kulitnya pucat, dan matanya biru jernih, memandang Elena dengan ekspresi bingung sekaligus senang.

Elena memandangnya heran. "A-apa? Kau bilang apa tadi, Kid."

Bocah itu tersenyum lebar, menatapnya tanpa ragu. Tangannya yang mungil memegang ujung mantel Elena dengan erat.

"Mama ...," kata sang bocah lagi, suaranya lembut tapi yakin.

Elena membeku di tempat. Seluruh tubuhnya terasa dingin seketika, jantungnya berdetak tak beraturan.

"Mama?" ulang bocah itu sambil menarik sedikit mantelnya, seperti takut Elena akan pergi. "Kau ... Mama, kan?"

Elena menatap anak itu dengan mata membesar. Ia tidak mengenali wajahnya, tapi ada sesuatu dalam tatapan bocah itu yang anehnya terasa ... familiar.

"Kau siapa, Kid?” tanya Elena akhirnya, suaranya bergetar.

Anak itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, lalu menatap Elena dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. "Mama, aku kangen ...."

Elena terdiam, lidahnya kelu, tidak tahu harus berkata apa. Sementara angin siang berhembus pelan, membawa aroma kopi dan bunga yang tiba-tiba terasa begitu asing.

Dan di detik itu, Elena tahu ... hidupnya yang semula hancur karena pengkhianatan Raven, baru saja akan berubah arah, sekali lagi.

Terpopuler

Comments

Mutaharotin Rotin

Mutaharotin Rotin

ayo cerai dari Suamimu alena

2026-04-29

1

Nova 20

Nova 20

suka sama karakter yg tegas gini
sedih tp bukna yg menye menyeee

untung alena punya org tua yg suport dia, bukan org tua yg gila harta
yg takut klau anknya pisah ntar kehilangan menantu kayaaa


ayoo alenaas buang aja itu revan
itu udh ada bocil manggil mama
ntar lg ada bapaknya yg manggil sayang wkwkwk

2026-04-25

1

YULIEN KANTOHE

YULIEN KANTOHE

peluk saja elena.sapa tau bisa membuat hatimu tenang 💪

2026-02-10

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. DIA GILA
2 BAB 2. MAMA?
3 BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4 BAB 4. DEBAT
5 BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6 BAB 6. MENGOBROL SERU
7 BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8 BAB 8. CARA KOTOR
9 BAB 9. ULTIMATUM
10 BAB 10. TIDAK GENTAR
11 BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12 BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13 BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14 BAB 14. SKANDAL
15 BAB 15. BALASAN HANS
16 BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17 BAB 17. MURKA
18 BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19 BAB 19. RACUN JESSY
20 BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21 BAB 21. MAKAN MALAM
22 BAB 22. PERNIKAHAN
23 BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24 BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25 BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26 BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27 BAB 27. KELUARGA
28 BAB 28. TIDAK NYAMAN
29 BAB 29. TERGANGGU
30 BAB 30. LEGA
31 BAB 31. PERTENGKARAN
32 BAB 32. MURKA
33 BAB 33. PANIK
34 BAB 34. THEO TERLUKA
35 BAB 35. KONSEKUENSI
36 BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37 BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38 BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39 BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40 BAB 40. EKSEKUSI
41 BAB 41. BALASAN
42 BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43 BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44 BAB 44. SEMAKIN KACAU
45 BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46 BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47 BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48 BAB 48. BALASAN ELENA
49 BAB 49. ULAH SENDIRI
50 BAB 50. LEGA DAN PUAS
51 BAB 51. KACAU
52 BAB 52. BERANTAKAN
53 BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54 BAB 54. RUNTUH
55 BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56 BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57 BAB 57. LELAH DAN MANJA
58 BAB 58. DAMAI
59 BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60 BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61 BAB 61. CURIGA
62 BAB 62. PANIK
63 BAB 63. DARURAT
64 BAB 64. OPERASI DARURAT
65 BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66 BAB 66. HARU
67 BAB 67. KEKHAWATIRAN
68 BAB 68. OVERPROTECTIVE
69 BAB 69. SUKA CITA
70 BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71 BAB 71. MENGADU
72 BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73 BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74 BAB 74. RUNTUH
75 BAB 75. HANCUR
76 BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77 BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78 BAB 78. TAK BERSISA
79 BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80 BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81 BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82 BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83 BAB 83. MOVE ON
84 BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85 BAB 85. KONTRAKSI
86 BAB 86. PERSALINAN
87 BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88 BAB 88. SEMPURNA
89 BAB 89. KEBERSAMAAN
90 BAB 90. RAMAI
91 BAB 91. RIUH KELUARGA
92 SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. DIA GILA
2
BAB 2. MAMA?
3
BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4
BAB 4. DEBAT
5
BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6
BAB 6. MENGOBROL SERU
7
BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8
BAB 8. CARA KOTOR
9
BAB 9. ULTIMATUM
10
BAB 10. TIDAK GENTAR
11
BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12
BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13
BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14
BAB 14. SKANDAL
15
BAB 15. BALASAN HANS
16
BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17
BAB 17. MURKA
18
BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19
BAB 19. RACUN JESSY
20
BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21
BAB 21. MAKAN MALAM
22
BAB 22. PERNIKAHAN
23
BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24
BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25
BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26
BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27
BAB 27. KELUARGA
28
BAB 28. TIDAK NYAMAN
29
BAB 29. TERGANGGU
30
BAB 30. LEGA
31
BAB 31. PERTENGKARAN
32
BAB 32. MURKA
33
BAB 33. PANIK
34
BAB 34. THEO TERLUKA
35
BAB 35. KONSEKUENSI
36
BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37
BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38
BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39
BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40
BAB 40. EKSEKUSI
41
BAB 41. BALASAN
42
BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43
BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44
BAB 44. SEMAKIN KACAU
45
BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46
BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47
BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48
BAB 48. BALASAN ELENA
49
BAB 49. ULAH SENDIRI
50
BAB 50. LEGA DAN PUAS
51
BAB 51. KACAU
52
BAB 52. BERANTAKAN
53
BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54
BAB 54. RUNTUH
55
BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56
BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57
BAB 57. LELAH DAN MANJA
58
BAB 58. DAMAI
59
BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60
BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61
BAB 61. CURIGA
62
BAB 62. PANIK
63
BAB 63. DARURAT
64
BAB 64. OPERASI DARURAT
65
BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66
BAB 66. HARU
67
BAB 67. KEKHAWATIRAN
68
BAB 68. OVERPROTECTIVE
69
BAB 69. SUKA CITA
70
BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71
BAB 71. MENGADU
72
BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73
BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74
BAB 74. RUNTUH
75
BAB 75. HANCUR
76
BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77
BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78
BAB 78. TAK BERSISA
79
BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80
BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81
BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82
BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83
BAB 83. MOVE ON
84
BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85
BAB 85. KONTRAKSI
86
BAB 86. PERSALINAN
87
BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88
BAB 88. SEMPURNA
89
BAB 89. KEBERSAMAAN
90
BAB 90. RAMAI
91
BAB 91. RIUH KELUARGA
92
SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!