BAB 4. DEBAT

Kafe itu mendadak terasa sesak. Suara riuh pelanggan yang tadi memenuhi udara kini seolah lenyap di telinga Elena. Hanya detak jantungnya yang terasa begitu jelas, berdegup kencang seiring sorot mata tajam pria di hadapannya.

Hans Morelli.

Nama itu kembali menyeruak dari masa lalu seperti pisau yang baru saja diasah. Pria itu berdiri tegak, mengenakan jas hitam yang kontras dengan sinar mentari siang yang menembus kaca besar kafe. Matanya yang kelam menatap Elena dengan ketegasan yang sama seperti dulu; tegas, dingin, dan penuh perhitungan.

Tapi kini ada sesuatu yang berbeda. Tatapan itu tidak hanya dingin, melainkan juga marah.

"Kau menculik anakku?" Suara Hans berat, dalam, dan menusuk.

Elena yang masih duduk terpaku hanya mampu menggeleng pelan, matanya menatap Theo yang kini bersembunyi di diri Elena dengan wajah ketakutan.

"Jangan bodoh, Hans," kata Elena akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Aku bahkan baru saja bertemu anak ini beberapa menit lalu."

Hans mendengus kecil, matanya menyipit. "Beberapa menit? Lalu kenapa dia memanggilmu 'Mama' dan duduk di pangkuanmu seperti itu?"

Nada sarkastik itu membuat darah Elena mendidih. Ia berdiri, menatap balik tanpa gentar.

"Kalau kau tidak terlalu sibuk dengan urusan kantormu, mungkin kau akan tahu kenapa anakmu bisa tersesat di tempat umum seperti ini, sendirian!" tukas Elena.

Beberapa orang mulai melirik. Suara mereka berdua mulai naik tanpa sadar.

Hans menahan rahang, wajahnya menegang. "Jaga bicaramu, Elena. Aku tidak minta ocehan darimu tentang bagaimana aku membesarkan anakku."

Elena menyilangkan tangan di dada, nada bicaranya penuh sindiran. "Tapi jelas kau membutuhkannya. Anak sekecil ini sampai memanggil orang asing 'Mama'. Kau tahu apa artinya itu, Hans? Dia kesepian."

"Cukup!" suara Hans meninggi, tegas, dingin, memotong kalimat Elena begitu saja.

Namun sebelum Elena sempat membalas, suara kecil yang gemetar memecah ketegangan itu.

"Papa, jangan marahi Mama!"

Keduanya serentak menoleh.

Theo kini menatap Hans marah, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya menggenggam erat sisi mantel Elena.

"Theo ...," Hans berusaha menurunkan nada suaranya, tapi bocah itu menggeleng keras.

"Jangan marah-marah pada Mama! Mama baik! Mama tidak jahat! Mama jaga Theo," ujar bocah itu.

Elena tersentak pelan. Bocah itu kini sudah memeluknya, kecil namun begitu erat, seolah takut seseorang akan merenggut Elena darinya.

Hans menatap pemandangan itu dengan campuran bingung dan frustrasi. Ia menarik napas panjang, menunduk sedikit agar sejajar dengan Theo.

"Theo, dengarkan Papa. Itu bukan Mama. Papa sudah bilang-"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Theo menjerit kecil. "Tidam! Ini Mama! Ini Mama Theo!"

Tangisnya meledak. Seketika wajah mungil itu merah, dan air matanya menetes membasahi baju Elena. Ia memeluk Elena makin erat, sementara orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik melihat pemandangan itu.

Elena menatap Hans tajam. "Lihat apa yang kau lakukan? Kau membuatnya menangis."

Hans menegakkan tubuhnya, mengusap wajah dengan frustrasi. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Sebenarnya?" Elena memelototinya. "Atau kau terlalu dingin untuk mengerti perasaan anakmu sendiri?"

Hans terdiam, rahangnya mengeras. Ia terbiasa menghadapi lawan bisnis yang keras kepala, tapi entah mengapa, menghadapi Elena selalu terasa berbeda. Wanita itu tahu cara menusuk sisi terlemahnya tanpa berteriak, tanpa kekerasan, cukup dengan kata-kata dan tatapan matanya.

"Elena ...," ucap Hans dengan nada lebih tenang, "aku minta maaf jika aku terdengar kasar. Tapi Theo adalah anakku, dan aku-"

"Aku tahu," potong Elena cepat, menunduk sambil menepuk lembut punggung Theo yang masih terisak. "Tapi anakmu ini sedang ketakutan, Hans. Setidaknya jangan buat dia berpikir kalau dunia ini terlalu kejam untuknya."

Hans hanya terdiam. Matanya tertuju pada tangan Elena yang dengan lembut mengusap kepala Theo, pada cara wanita itu menunduk dengan penuh kesabaran, menenangkan bocah kecil itu tanpa satu pun nada marah.

Ia terpaku.

Dulu, saat masih muda, ia selalu berpikir Elena hanya tahu cara berdebat dan mengalahkan lawan. Tapi sekarang, di hadapannya, ia melihat sisi Elena yang sama sekali berbeda, lembut, tenang, dan hangat.

Sisi yang selama ini tak pernah ia bayangkan dari seorang wanita yang dulu ia anggap batu karang di dunia bisnis.

Theo perlahan mulai berhenti menangis, tapi masih menempel erat di tubuh Elena, menatap papanya dengan wajah cemberut.

"Papa jahat," gumam Theo dengan hidung tersumbat. "Papa marah sama Theo dan Mama."

Hans tertegun. Ia menghela napas panjang, lalu berjongkok di depan anaknya.

"Papa minta maaf, Theo." Nada suara Hans lembut, tapi bocah itu justru memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya di dada Elena.

Elena yang melihat itu menatap Hans, separuh geli, separuh jengkel. "Lihat? Dia marah padamu."

Hans mengangkat alis. "Dan tampaknya dia lebih percaya padamu daripada pada ayah kandungnya."

Elena menatap balik dengan pandangan tajam yang sedikit mengandung ironi.

"Mungkin karena kau tak pernah memberinya waktu untuk percaya," balas Elena.

Hans ingin membalas, tapi menahan diri. Ia tahu, entah kenapa, kali ini Elena tidak sepenuhnya salah. Ia menatap Theo lagi, bocah kecil itu masih memeluk Elena seolah tak mau dilepaskan.

Keheningan yang janggal menggantung di antara mereka sampai akhirnya seseorang datang menghampiri. Seorang pria berjas abu-abu, lebih muda dari Hans, dengan senyum kikuk yang mencoba mencairkan suasana.

"Hans," panggilnya. "Kau di sini rupanya. Kami butuh tanda tanganmu untuk pertemuan investor jam tiga."

Hans menoleh. "Ronald?"

Ronald Morelli, adik bungsu Hans yang juga tangan kanannya di perusahaan Morelli Corporation, kini berdiri di sampingnya sambil melirik Elena dan Theo secara bergantian.

"Uhm ... aku mengganggu sesuatu, ya?" tanya Ronald bingung akan situasi Hans dan Elena yang tegang.

"Elena Wattson," ucap Hans singkat, nadanya datar. "Kau mungkin sudah dengar tentangnya."

Ronald langsung teringat. Nama itu bukan asing di telinganya, rival bisnis keluarga Morelli sejak lama ketika wanita itu berkerja di perusahaan orang tua dulu.

"Oh. Jadi ini Elena Wattson, atau yang dulu dipanggil Miss. Alvarez. Senang bertemu denganmu," ujar Ronald.

Elena hanya mengangguk, tidak ingin berdebat lebih jauh. Ia terlalu lelah untuk basa-basi dengan keluarga Morelli.

Namun sebelum ada yang bicara lagi, Hans menatap jam tangannya dan menghela napas. Ia berjongkok lagi, menatap Theo dengan serius.

"Theo, Papa harus kerja. Kau ikut Uncle Ronald, ya?" pinta Hans pada anaknya.

Theo menggeleng cepat, memeluk Elena makin erat. "Tidak mau! Theo sama Mama!"

"Elena bukan Mama Theo," Hans mengingatkan dengan nada lembut tapi tetap tegas.

Tapi bukannya mendengarkan, Theo justru menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Papa jahat! Theo tidak mau! Theo mau Mama!" seru sang bocah.

Beberapa pelanggan kembali melirik, bahkan ada yang mulai berbisik-bisik lagi. Ronald memandang kakaknya dengan ekspresi canggung.

"Hans ... mungkin lebih baik jangan dipaksa di sini. Anakmu bisa trauma kalau ...." Ronald melihat Theo yang menempel pada Elena.

Hans menatap adiknya seolah meminta solusi. Theo masih memeluk Elena, dan Elena hanya bisa menatap keduanya dengan wajah kebingungan.

"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Elena jujur, suaranya pelan tapi terdengar jelas. "Aku bahkan tidak tahu kenapa anakmu bersikeras memanggilku Mama."

Hans mengusap pelipis, frustrasi. "Karena aku pernah bilang padanya kalau suatu hari ia akan mengenali ibunya dari hatinya. Tapi aku tidak menduga dia akan ...." Ia menghentikan kalimatnya, menatap Elena sekilas.

Ronald menepuk bahu kakaknya pelan. "Biar aku bantu. Theo tampaknya merasa nyaman dengan Mrs. Elena. Lagi pula, kau harus ke kantor, kan?"

Hans terdiam sejenak, menatap anaknya, lalu ke Elena yang masih memeluk Theo di pangkuannya. Akhirnya ia mengembuskan napas panjang, menyerah.

"Baiklah. Ronald, bawa mereka pulang ke rumah. Aku tak mau Theo menangis di tempat umum," pinta Hans.

Ronald sempat terkejut. "Apa? Bawa pulang ke rumah?"

Hans menatap tegas. "Kau dengar aku, 'kan?"

Ronald mengangguk pelan, sementara Elena menatap tak percaya.

"Tunggu dulu, Hans. Maksudmu aku ikut ke rumahmu?" tanya Elena.

Hans menatapnya dengan dingin. “Kau lihat sendiri, Elena. Dia tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Aku butuh seseorang yang bisa menenangkannya, dan untuk alasan yang entah kenapa, kau bisa melakukannya."

Elena membulatkan mata, ingin membantah, tapi tatapan Hans sudah beralih pada Theo.

Ia menunduk, mengelus rambut anaknya lembut.

"Theo, Papa harus kerja dulu, ya. Jangan nakal, dengar kata Uncle Ronald dan ...," mata Hans terarah pada Elena "... dengar kata Mama."

Elena hampir tersedak udara sendiri. "Hans!" protesnya cepat.

Tapi Hans hanya menatap dengan ekspresi datar, lalu menunduk untuk mengecup kepala Theo.

"Papa pulang sore ini," katanya lembut. "Jangan menangis lagi, Theo."

Theo tersenyum kecil di antara air mata yang belum kering. "Iya, Papa."

Hans menatap Elena sesaat, tatapan yang sulit diartikan, antara getir dan penasaran, sebelum ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kafe.

Ronald yang kini kebingungan akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah, sepertinya aku jadi pengemudi hari ini.”

Elena menatapnya tak percaya. "Ini benar-benar gila. Aku tidak seharusnya ikut-"

"Percayalah," potong Ronald sambil tersenyum canggung. "Kakakku lebih keras kepala daripada yang kau kira. Kalau kau tidak ikut, Theo bisa menangis sampai malam."

Theo yang mendengar itu langsung memeluk Elena lagi, seolah takut Elena menghilang.

"Mama ikut pulang, ya?" kata Theo dengan suara pelan namun memohon.

Elena menatap bocah itu lama, lalu akhirnya menyerah. Ia menghela napas, menatap Ronald lelah.

"Baiklah. Tapi hanya untuk hari ini," ucap Elena.

Ronald mengangguk lega. "Good."

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil hitam milik Elena. Ronald yang menyetir dengan hati-hati sesekali melirik lewat kaca spion, memerhatikan Elena di kursi belakang yang memangku Theo dengan sabar.

Bocah itu kini tampak tenang, bahkan sesekali tertawa kecil ketika Elena memainkan jari-jari mungilnya.

Elena sendiri hanya bisa tersenyum samar.

Ia memandangi wajah kecil itu, lembut, polos, dan begitu damai. Jari-jari mungil yang menggenggam gaunnya dengan erat membuat dadanya terasa hangat.

"Mama ...," Theo berbisik setengah mengantuk. "Nanti Mama tidur di rumah Theo, ya?"

Elena tersenyum lembut, mengusap rambutnya. "Kita lihat nanti, Sayang."

Ronald yang mendengar percakapan itu hanya bisa tertawa kecil.

"Kau tahu, Elena? Aku belum pernah lihat Theo tersenyum selebar itu. Biasanya dia diam dan susah didekati," kata Ronald.

Elena menatapnya dari kaca spion, lalu kembali menunduk ke arah Theo. "Mungkin dia hanya butuh seseorang yang mendengarkannya."

Ronald mengangguk pelan. "Atau mungkin ... dia memang menunggu seseorang sepertimu."

Elena tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul.

Mobil itu terus melaju di bawah langit sore yang mulai berwarna keemasan.

Theo tertidur di pangkuannya, masih dengan tangan kecil yang menggenggam jemarinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang dan penuh luka, Elena merasa dadanya tidak sesakit itu.

Mungkin begini rasanya menjadi seorang ibu, pikir Elena senang dalam hati.

Merasakan cinta yang datang tanpa syarat, tanpa pamrih, hanya dengan sentuhan tangan kecil dan panggilan lembut, Mama.

Terpopuler

Comments

YULIEN KANTOHE

YULIEN KANTOHE

mungkin elena nti pulang setelah habis makan malam dan dede theo sudah tidur x ya.atau menunggu theo p papa pulang.🤭

2026-02-10

1

Paryantikebondalem

Paryantikebondalem

elena tidak langsung pulang ya

2026-01-28

2

Priskha

Priskha

anak kecil tahu mana yg tulus dan tdk

2026-01-10

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. DIA GILA
2 BAB 2. MAMA?
3 BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4 BAB 4. DEBAT
5 BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6 BAB 6. MENGOBROL SERU
7 BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8 BAB 8. CARA KOTOR
9 BAB 9. ULTIMATUM
10 BAB 10. TIDAK GENTAR
11 BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12 BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13 BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14 BAB 14. SKANDAL
15 BAB 15. BALASAN HANS
16 BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17 BAB 17. MURKA
18 BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19 BAB 19. RACUN JESSY
20 BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21 BAB 21. MAKAN MALAM
22 BAB 22. PERNIKAHAN
23 BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24 BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25 BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26 BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27 BAB 27. KELUARGA
28 BAB 28. TIDAK NYAMAN
29 BAB 29. TERGANGGU
30 BAB 30. LEGA
31 BAB 31. PERTENGKARAN
32 BAB 32. MURKA
33 BAB 33. PANIK
34 BAB 34. THEO TERLUKA
35 BAB 35. KONSEKUENSI
36 BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37 BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38 BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39 BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40 BAB 40. EKSEKUSI
41 BAB 41. BALASAN
42 BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43 BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44 BAB 44. SEMAKIN KACAU
45 BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46 BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47 BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48 BAB 48. BALASAN ELENA
49 BAB 49. ULAH SENDIRI
50 BAB 50. LEGA DAN PUAS
51 BAB 51. KACAU
52 BAB 52. BERANTAKAN
53 BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54 BAB 54. RUNTUH
55 BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56 BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57 BAB 57. LELAH DAN MANJA
58 BAB 58. DAMAI
59 BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60 BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61 BAB 61. CURIGA
62 BAB 62. PANIK
63 BAB 63. DARURAT
64 BAB 64. OPERASI DARURAT
65 BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66 BAB 66. HARU
67 BAB 67. KEKHAWATIRAN
68 BAB 68. OVERPROTECTIVE
69 BAB 69. SUKA CITA
70 BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71 BAB 71. MENGADU
72 BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73 BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74 BAB 74. RUNTUH
75 BAB 75. HANCUR
76 BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77 BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78 BAB 78. TAK BERSISA
79 BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80 BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81 BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82 BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83 BAB 83. MOVE ON
84 BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85 BAB 85. KONTRAKSI
86 BAB 86. PERSALINAN
87 BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88 BAB 88. SEMPURNA
89 BAB 89. KEBERSAMAAN
90 BAB 90. RAMAI
91 BAB 91. RIUH KELUARGA
92 SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. DIA GILA
2
BAB 2. MAMA?
3
BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4
BAB 4. DEBAT
5
BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6
BAB 6. MENGOBROL SERU
7
BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8
BAB 8. CARA KOTOR
9
BAB 9. ULTIMATUM
10
BAB 10. TIDAK GENTAR
11
BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12
BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13
BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14
BAB 14. SKANDAL
15
BAB 15. BALASAN HANS
16
BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17
BAB 17. MURKA
18
BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19
BAB 19. RACUN JESSY
20
BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21
BAB 21. MAKAN MALAM
22
BAB 22. PERNIKAHAN
23
BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24
BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25
BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26
BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27
BAB 27. KELUARGA
28
BAB 28. TIDAK NYAMAN
29
BAB 29. TERGANGGU
30
BAB 30. LEGA
31
BAB 31. PERTENGKARAN
32
BAB 32. MURKA
33
BAB 33. PANIK
34
BAB 34. THEO TERLUKA
35
BAB 35. KONSEKUENSI
36
BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37
BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38
BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39
BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40
BAB 40. EKSEKUSI
41
BAB 41. BALASAN
42
BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43
BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44
BAB 44. SEMAKIN KACAU
45
BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46
BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47
BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48
BAB 48. BALASAN ELENA
49
BAB 49. ULAH SENDIRI
50
BAB 50. LEGA DAN PUAS
51
BAB 51. KACAU
52
BAB 52. BERANTAKAN
53
BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54
BAB 54. RUNTUH
55
BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56
BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57
BAB 57. LELAH DAN MANJA
58
BAB 58. DAMAI
59
BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60
BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61
BAB 61. CURIGA
62
BAB 62. PANIK
63
BAB 63. DARURAT
64
BAB 64. OPERASI DARURAT
65
BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66
BAB 66. HARU
67
BAB 67. KEKHAWATIRAN
68
BAB 68. OVERPROTECTIVE
69
BAB 69. SUKA CITA
70
BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71
BAB 71. MENGADU
72
BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73
BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74
BAB 74. RUNTUH
75
BAB 75. HANCUR
76
BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77
BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78
BAB 78. TAK BERSISA
79
BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80
BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81
BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82
BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83
BAB 83. MOVE ON
84
BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85
BAB 85. KONTRAKSI
86
BAB 86. PERSALINAN
87
BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88
BAB 88. SEMPURNA
89
BAB 89. KEBERSAMAAN
90
BAB 90. RAMAI
91
BAB 91. RIUH KELUARGA
92
SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!