BAB 5. RUMAH YANG HANGAT

Udara sore terasa sejuk. Sinar matahari yang menembus jendela mobil memantulkan warna keemasan di rambut pirang Theo. Bocah itu tampak begitu damai dalam pelukan Elena. Dan entah mengapa, dada Elena terasa hangat, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak rumah tangganya berubah menjadi ladang kekecewaan dan air mata.

Begitu mereka masuk, Theo yang tadinya tertidur mulai menggeliat. Bocah itu mengucek matanya dengan tangan mungilnya lalu menatap Elena. Begitu sadar bahwa ia masih berada di pelukan wanita yang ia panggil 'Mama', senyum lebar langsung merekah di wajahnya.

"Mama! Kita udah sampai rumah!" seru Theo riang.

Ronald tertawa kecil. "Lihat? Energinya langsung penuh lagi."

Elena terkekeh, menurunkan Theo ke lantai. Bocah itu langsung menggenggam tangan Elena dan menariknya masuk ke dalam rumah tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk menolak.

"Ini kamar Theo!" seru bocah itu antusias saat mereka berhenti di depan pintu berwarna biru muda yang dipenuhi stiker bintang dan pesawat.

Begitu pintu dibuka, Elena nyaris tertawa. Ruangan itu benar-benar mencerminkan seorang anak kecil berimajinasi luas: dindingnya dipenuhi gambar pesawat dan peta dunia, rak-rak penuh dengan mainan robot, mobil-mobilan, dan boneka hewan yang tertata agak berantakan namun terasa hidup.

"Lihat ini, Mama! Ini pesawat dari Uncle Ronald!" kata Theo sambil mengangkat pesawat mainannya dengan bangga. "Terus ini ... ini robot yang Papa belikan pas ulang tahun Theo!"

Elena tersenyum, matanya mengikuti setiap langkah kecil bocah itu yang memperlihatkan semua mainannya seolah-olah sedang memperkenalkan dunia rahasianya pada orang paling istimewa.

"Kau punya banyak sekali mainan, Theo. Semuanya keren," puji Elena seraya mengelus kepala Theo.

Theo tertawa senang, berlari ke arah kasur dan melompat di atasnya beberapa kali sebelum berhenti karena perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Bocah itu berhenti dengan ekspresi bingung, lalu mengelus perutnya dengan wajah polos.

"Eh ... perut Theo bunyi, Mama," ucap Theo lugu.

Elena dan Ronald yang berdiri di ambang pintu spontan tertawa. Ronald menatap Elena dan mengangkat bahu.

"Kurasa Theo butuh makan siang kedua hari ini," kata Ronald.

Elena menunduk pada Theo. "Kau lapar, Baby?"

Theo mengangguk cepat. "Iya, tapi Mama juga makan ya. Theo tidak mau makan sendiri. Uncle Ronald juga."

Nada suaranya membuat hati Elena meleleh. Ia mengangguk pelan, lalu menatap Ronald. "Boleh aku masak sesuatu untuknya?"

Ronald tampak kaget sejenak, lalu tertawa kecil. "Tentu saja. Aku yakin Hans tidak akan keberatan. Dapur ada di sebelah kanan lorong."

Elena tersenyum. "Terima kasih. Aku tidak mau disebut Mama kejam karena membiarkan anak sekecil ini kelaparan."

Ronald terkekeh, sementara Theo langsung menepuk-nepuk tangan Elena dengan semangat.

"Ayo Mama! Theo mau bantu!" seru Theo penuh semangat.

Mereka bertiga lalu berjalan ke dapur besar yang berkilau bersih dengan peralatan lengkap.

Theo, dengan langkah kecilnya, berusaha mengimbangi langkah Elena sambil sesekali menatap wajah wanita itu dengan tatapan berbinar.

"Apa yang Theo ingin makan?" tanya Elena sambil membuka lemari pendingin.

Bocah itu memiringkan kepala, tampak berpikir keras hingga bibir mungilnya maju sedikit.

"Hmm ... Theo tidak tahu. Yang enak aja," ucap sang bocah.

Elena tertawa. "How cute. Baiklah, Mama masakkan sesuatu yang Theo pasti suka."

Elena mulai menyiapkan bahan-bahan: sedikit pasta, saus tomat segar, dan daging cincang. Aroma bawang putih yang ditumis memenuhi udara, membuat Theo berdiri di atas bangku kecil sambil mengendus seperti anak kucing kelaparan.

"Wangi sekali, Mama!" kata Theo sambil mengibas-ngibaskan tangan kecilnya.

Ronald hanya duduk di kursi bar dapur, menonton pemandangan itu sambil tersenyum.

"Rasanya aku belum pernah melihat Theo sebahagia ini sejak ... sejak lama sekali," ucap Roland yang ikut senang melihat kebahagiaan keponakannya.

Elena berhenti mengaduk panci, menoleh. "Maksudmu?"

Ronald menarik napas. "Theo anak yang ceria, tapi ada kalanya dia diam terlalu lama. Mungkin karena dia tumbuh tanpa sosok ibu. Aku rasa kau bisa melihatnya sendiri."

Elena menatap Theo yang sedang memegang boneka beruangnya sambil tertawa kecil pada hal-hal kecil yang bahkan tak lucu.

"Dia anak yang kuat," kata Elena pelan. "Tapi anak sekecil itu tetap butuh pelukan seorang ibu."

Ronald mengangguk. "Hans tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuh urusan pribadinya. Bahkan soal Theo. Tapi aku rasa, hari ini dia akan terkejut kalau tahu kamu berhasil membuat anaknya begitu nyaman."

Elena tak menjawab. Ia hanya tersenyum samar sambil menuangkan pasta ke piring. Dan ketika makanan siap, Theo langsung bersorak kecil.

Mereka makan bertiga di ruang makan yang hangat. Theo memakan pasta buatan Elena dengan antusias, saus menempel di sudut bibir mungilnya. Elena dengan lembut mengusapnya menggunakan tisu, membuat bocah itu terkikik geli.

"Enak sekali, Mama! Theo suka!" kata Theo dengan senyum lebar.

Elena tertawa pelan. "Aku senang kalau Theo suka."

"Papa pintar masak seperti Mama," Theo menatap Ronald polos. "Uncle yang tidak bisa."

Ronald pura-pura tersinggung. "Hei! Paman bisa masak ... telur rebus."

Theo tertawa keras, begitu juga Elena. Tawa mereka memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Bagi Elena, suasana ini terasa seperti rumah sungguhan, sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.

Setelah makan, Elena membantu membersihkan meja sementara Theo bermain dengan Ronald di ruang tengah. Suara mereka yang bercanda dan tawa kecil Theo mengalun seperti melodi lembut yang membuat Elena sesekali tersenyum sendiri.

Setelah semuanya bersih, Elena kembali ke ruang tengah. Theo berlari ke arahnya, langsung memanjat pangkuannya tanpa izin dan menyandarkan kepala di dada Elena.

"Capek, ya?" tanya Elena sambil mengelus rambut halus bocah itu.

Theo mengangguk pelan, matanya mulai mengantuk. "Mama ... jangan pergi ya."

Hati Elena mencelos mendengar kalimat itu. Ia menatap wajah mungil itu, lalu mengusap punggungnya lembut.

"Mama tidak akan pergi, Sayang. Istirahat dulu, ya," ucap Elena.

Dan hanya dalam hitungan menit, Theo pun terlelap. Napasnya teratur, wajahnya damai. Elena membawa Theo ke kamar sang bocah, membaringkannya di ranjang menatap lama sosok mungil itu. Ada sesuatu yang menusuk hatinya, campuran antara iba dan kasih yang datang begitu tiba-tiba.

Ketika Elena menatapnya seperti itu, suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Suara khas sepatu kulit pria dewasa di lantai marmer. Elena menoleh, dan di sanalah ia melihat sosok tinggi berjas hitam elegan berdiri dengan aura yang sulit diabaikan.

Hans Morelli.

Tatapan tajam itu langsung terarah pada Theo dan kemudian pada Elena. Ada kelegaan yang singkat di mata Hans sebelum berganti dengan sesuatu yang lebih lembut, nyaris tak terlihat.

"Elena, bagaimana Theo?" tanya Hans.

Elena segera menaruh telunjuk di bibir, memberi isyarat agar pria itu tidak bersuara keras. "Theo baru saja tertidur," bisiknya.

Hans berhenti, mengamati wanita itu. Ada pemandangan yang tak biasa di depan matanya, Elena Wattson, rival keras kepala yang selalu menentangnya dalam setiap tender bisnis, kini duduk di sofa rumahnya sambil menenangkan anaknya. Dalam diam, Hans tertegun.

Untuk sesaat, bayangan tentang Elena yang biasanya berbicara dengan nada menusuk berganti dengan sosok lembut yang sedang membenarkan selimut di atas tubuh kecil Theo.

Ronald muncul dari dapur sambil membawa dua cangkir teh. "Brother, kau sudah datang. Elena memasak pasta buat Theo. Anak itu makan dengan senyum lebar sepanjang waktu."

Hans hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah Elena. Ia menatap Theo sejenak, kemudian berbalik menatap Elena.

"Terima kasih sudah menjaganya," ucap Hans tulus. Ikut berjalan ke ruang tengah ketika Elena keluar dari kamar Theo perlahan.

Elena menatapnya sekilas, nada suaranya tenang tapi sedikit lembut. "Bukan masalah besarm"

Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Ronald menaruh dua cangkir teh di meja, lalu pamit meninggalkan mereka berdua. Suasana mendadak sunyi.

"Theo jarang sekali dekat dengan orang lain," kata Hans.

Elena hanya menatap teh di depannya. "Aku rasa, dia hanya butuh seseorang untuk memperhatikannya. Seorang ibu."

Hans menatap wanita itu lama, lalu menunduk sejenak. "Itu yang tidak bisa dia miliki."

Elena menatapnya heran. "Maksudmu?"

Hans menarik napas panjang. "Theo ... lahir dari kesalahan. Ibunya, tidak pernah menginginkannya."

Elena terdiam. Ia sudah mendengar sebagian dari Ronald, tapi mendengar langsung dari Hans memberi makna berbeda. Pria di hadapannya berbicara dengan nada rendah yang penuh dengan sesuatu yang jarang terlihat darinya, penyesalan.

"Dia tidak tahu apa-apa tentang ibunya. Aku hanya bilang padanya bahwa ibunya pergi jauh. Aku pikir itu cara terbaik," kata Hans.

Elena menatap wajah dingin itu, tapi kini ia melihat lebih jauh—lelaki lelah yang berjuang sendiri. "Theo tidak membencimu, Hans. Dia hanya ... rindu kasih sayang dari seorang ibu. Anak-anak selalu bisa merasakan kekosongan, bahkan ketika mereka belum mengerti namanya."

Hans menatap Elena dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Dan kau ... membuatnya berhenti menangis hari ini. Itu hal yang belum pernah kulihat sejak lama."

Elena tersenyum kecil. "Theo anak yang manis. Tidak sulit untuk mencintainya."

Kata 'mencintainya' tadi bergetar lembut di udara, meninggalkan gema aneh di dada Hans. Ia menatap Elena lebih lama dari yang seharusnya, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan: bahwa wanita yang dulu ia pandang sebagai musuh bebuyutan, kini sedang duduk di ruang tengah ha, membawa kehangatan yang bahkan ia sendiri tak tahu masih ada.

Ronald kembali masuk, menepuk bahu kakaknya. "Brother, aku sudah pesan makan malam tambahan. Sekalian anggap traktiran buat Elena."

Hans mengangguk pelan, pandangannya belum lepas dari Elena. Wanita itu menunduk, bersandar santai.

Dan di detik itu, Ronald yang memerhatikan mereka dari sudut ruangan hanya bisa menahan tawa kecil.

Ada sesuatu yang berubah di udara,sesuatu yang lembut, tak terucap, tapi jelas terasa.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, rumah itu terasa hidup.

Dan semua karena kehadiran seorang wanita bernama Elena Wattson.

Terpopuler

Comments

Hasna Mokodongan

Hasna Mokodongan

lanjut ceritanya,jadi penasaran ini,

2026-02-05

0

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Setelah abis iddah kalian menikah.

2026-01-15

0

say't

say't

kok msh nyandang wattson y 🥹

2026-05-10

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. DIA GILA
2 BAB 2. MAMA?
3 BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4 BAB 4. DEBAT
5 BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6 BAB 6. MENGOBROL SERU
7 BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8 BAB 8. CARA KOTOR
9 BAB 9. ULTIMATUM
10 BAB 10. TIDAK GENTAR
11 BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12 BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13 BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14 BAB 14. SKANDAL
15 BAB 15. BALASAN HANS
16 BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17 BAB 17. MURKA
18 BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19 BAB 19. RACUN JESSY
20 BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21 BAB 21. MAKAN MALAM
22 BAB 22. PERNIKAHAN
23 BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24 BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25 BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26 BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27 BAB 27. KELUARGA
28 BAB 28. TIDAK NYAMAN
29 BAB 29. TERGANGGU
30 BAB 30. LEGA
31 BAB 31. PERTENGKARAN
32 BAB 32. MURKA
33 BAB 33. PANIK
34 BAB 34. THEO TERLUKA
35 BAB 35. KONSEKUENSI
36 BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37 BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38 BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39 BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40 BAB 40. EKSEKUSI
41 BAB 41. BALASAN
42 BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43 BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44 BAB 44. SEMAKIN KACAU
45 BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46 BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47 BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48 BAB 48. BALASAN ELENA
49 BAB 49. ULAH SENDIRI
50 BAB 50. LEGA DAN PUAS
51 BAB 51. KACAU
52 BAB 52. BERANTAKAN
53 BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54 BAB 54. RUNTUH
55 BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56 BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57 BAB 57. LELAH DAN MANJA
58 BAB 58. DAMAI
59 BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60 BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61 BAB 61. CURIGA
62 BAB 62. PANIK
63 BAB 63. DARURAT
64 BAB 64. OPERASI DARURAT
65 BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66 BAB 66. HARU
67 BAB 67. KEKHAWATIRAN
68 BAB 68. OVERPROTECTIVE
69 BAB 69. SUKA CITA
70 BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71 BAB 71. MENGADU
72 BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73 BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74 BAB 74. RUNTUH
75 BAB 75. HANCUR
76 BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77 BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78 BAB 78. TAK BERSISA
79 BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80 BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81 BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82 BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83 BAB 83. MOVE ON
84 BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85 BAB 85. KONTRAKSI
86 BAB 86. PERSALINAN
87 BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88 BAB 88. SEMPURNA
89 BAB 89. KEBERSAMAAN
90 BAB 90. RAMAI
91 BAB 91. RIUH KELUARGA
92 SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. DIA GILA
2
BAB 2. MAMA?
3
BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4
BAB 4. DEBAT
5
BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6
BAB 6. MENGOBROL SERU
7
BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8
BAB 8. CARA KOTOR
9
BAB 9. ULTIMATUM
10
BAB 10. TIDAK GENTAR
11
BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12
BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13
BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14
BAB 14. SKANDAL
15
BAB 15. BALASAN HANS
16
BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17
BAB 17. MURKA
18
BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19
BAB 19. RACUN JESSY
20
BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21
BAB 21. MAKAN MALAM
22
BAB 22. PERNIKAHAN
23
BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24
BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25
BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26
BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27
BAB 27. KELUARGA
28
BAB 28. TIDAK NYAMAN
29
BAB 29. TERGANGGU
30
BAB 30. LEGA
31
BAB 31. PERTENGKARAN
32
BAB 32. MURKA
33
BAB 33. PANIK
34
BAB 34. THEO TERLUKA
35
BAB 35. KONSEKUENSI
36
BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37
BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38
BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39
BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40
BAB 40. EKSEKUSI
41
BAB 41. BALASAN
42
BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43
BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44
BAB 44. SEMAKIN KACAU
45
BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46
BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47
BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48
BAB 48. BALASAN ELENA
49
BAB 49. ULAH SENDIRI
50
BAB 50. LEGA DAN PUAS
51
BAB 51. KACAU
52
BAB 52. BERANTAKAN
53
BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54
BAB 54. RUNTUH
55
BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56
BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57
BAB 57. LELAH DAN MANJA
58
BAB 58. DAMAI
59
BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60
BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61
BAB 61. CURIGA
62
BAB 62. PANIK
63
BAB 63. DARURAT
64
BAB 64. OPERASI DARURAT
65
BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66
BAB 66. HARU
67
BAB 67. KEKHAWATIRAN
68
BAB 68. OVERPROTECTIVE
69
BAB 69. SUKA CITA
70
BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71
BAB 71. MENGADU
72
BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73
BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74
BAB 74. RUNTUH
75
BAB 75. HANCUR
76
BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77
BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78
BAB 78. TAK BERSISA
79
BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80
BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81
BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82
BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83
BAB 83. MOVE ON
84
BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85
BAB 85. KONTRAKSI
86
BAB 86. PERSALINAN
87
BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88
BAB 88. SEMPURNA
89
BAB 89. KEBERSAMAAN
90
BAB 90. RAMAI
91
BAB 91. RIUH KELUARGA
92
SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!