BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO

Elena meneguk air putih, mencoba menenangkan getar di dadanya. Ia harus kuat. Ia harus bercerai. Tidak ada jalan lain bagi seorang perempuan yang dikhianati seperti dirinya. Ia masih punya harga diri sebagai seorang wanita, tentu tidak akan menerima pengkhianatan kotor seperti itu ketika Elena dibesarkan dengan cinta dan kesetiaan kedua orang tuanya.

Baru saja ia meletakkan gelas di meja untuk menenangkan air mata yang mulai menggenang, sebuah tarikan kecil di ujung mantelnya membuat Elena terkejut.

Elena menunduk. Seorang bocah kecil, mungkin berusia lima tahun, berdiri di sebelah kursinya. Rambutnya pirang keemasan, matanya biru jernih seperti langit musim semi. Wajahnya tampan dengan pipi gembul kemerahan dan senyum kecil yang terlihat kikuk.

"Mama ...," ucap bocah itu pelan, suaranya serak karena menahan tangis.

Elena mengerjap, kebingungan. "A- apa yang kau katakan, Kid."

"Mama, aku kangen...." Bocah itu kini memeluk lutut Elena, seolah takut Elena akan pergi.

Elena tersentak, buru-buru menunduk. "Baby, kau salah orang. Aku bukan mama-"

Belum sempat kalimat itu selesai, bocah itu mulai menangis keras. Tangisnya tidak seperti rengekan manja anak kecil biasa, tapi tangis yang dalam, menyayat, penuh kehilangan.

Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka, membuat Elena panik. Ia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian, apalagi karena hal seperti ini.

"Hey ... hey, jangan menangis, Sayang," ucapnya lembut, berjongkok agar sejajar dengan si bocah. "Ssst ... jangan menangis ya. Mata dan tenggorokanmu akan sakit kalau menangis."

Namun tangisan itu justru semakin kencang. Bocah itu menunduk, air matanya menetes di atas sepatu kecilnya yang tampak kotor oleh debu.

Elena menghela napas. Ia tak punya hati untuk mengabaikan anak sekecil ini. Tanpa pikir panjang, ia menunduk, mengangkat bocah itu, dan mendudukkannya di pangkuan Elena. Ia menepuk-nepuk punggung mungilnya dengan lembut, seperti yang sering dilakukan ibunya dulu saat Elena kecil dan sedang menangis karena hal sepele.

"Sudah, jangan menangis lagi. Lihat, semua orang melihat ke sini," bisik Elena lembut.

Bocah itu masih terisak, tapi perlahan tangisnya mereda. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Elena, seolah merasa aman di sana.

Elena tak tahu kenapa, tapi pelukan kecil itu menimbulkan sesuatu dalam dirinya, rasa lembut yang menekan sakit hatinya untuk sementara waktu. Seakan bocah ini, dengan cara yang aneh, menenangkan jiwanya yang koyak.

Setelah beberapa saat, bocah itu mengangkat wajahnya. Pipinya masih basah, tapi matanya mulai cerah kembali.

"Namamu siapa?" tanya Elena lembut, menyeka air mata di pipi bulat itu dengan tisu.

"Theo," jawab bocah itu lirih.

"Theo?" Elena tersenyum samar. "Nama yang bagus. Jadi, kenapa kau memanggilku 'Mama', Theo?”

Theo menatap wajah Elena lama, seolah sedang mencari sesuatu di sana. "Papa bilang ... Mama cantik. Kalau aku lihat perempuan cantik seperti Mama, berarti itu Mama."

Elena hampir tertawa, tapi senyumnya lebih banyak mengandung iba daripada geli. "Oh ya? Papa bilang begitu?"

Theo mengangguk mantap, matanya berbinar. "Iya! Papa bilang Mama pergi jauh, tapi suatu hari Theo pasti ketemu Mama lagi. Jadi waktu lihat Mama, Theo langsung tahu. Ini pasti Mama Theo!"

Elena terpaku. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, bercampur pilu. Anak sekecil ini ... begitu merindukan sosok ibunya hingga ia menganggap siapa pun yang sedikit mirip penjabaran abstrak dari ayahnya adalah ibu bocah ini.

"Aku bukan Mama Theo," ucap Elena hati-hati.

Theo langsung menunduk, wajahnya kembali murung. "Theo nakal ya? Theo bikin Mama marah?"

Elena terdiam. Ia menatap wajah polos itu, mendengar suara kecil yang bergetar ketakutan.

"Theo janji enggak nakal lagi, Mama jangan tinggalin Theo, ya? Theo tidak mau sendirian lagi," ucap Theo dengan isakan.

Kalimat itu menghancurkan pertahanan Elena sepenuhnya. Ia menghela napas panjang dan menarik Theo ke dalam pelukannya lagi, kali ini lebih erat.

"Tidak, Sayang. Aku tidak marah. Jangan menangis, ya?" katanya lembut sambil mengusap rambut lembut bocah itu.

Beberapa pengunjung tersenyum melihat pemandangan itu, mengira mereka benar-benar ibu dan anak. Elena tidak peduli. Entah kenapa, pelukan anak kecil ini memberinya ketenangan yang tidak bisa diberikan siapa pun.

"Aku cuma ingin tahu ...Theo di sini sama siapa?" tanyanya perlahan.

Theo menunjuk ke arah taman di seberang jalan. "Sama Papa. Tapi tadi Theo kejar balon warna biru, terus balonnya terbang, Theo kejar ... terus Papa hilang."

Elena menatap arah yang ditunjuk Theo. Di sana banyak orang lalu-lalang, tapi tak ada satu pun yang tampak mencari anak kecil.

"Aku bukan Mama, tapi aku bisa bantu cari Papa, ya?"

Theo menggeleng cepat, matanya membulat panik. "Tidak! Theo tidak mau ditinggal Mama lagi!"

Nada suaranya begitu takut hingga Elena merasa jantungnya mencelos. Ia berusaha menenangkan, mengelus punggung Theo lembut.

"Tenang, aku tidak akan pergi, Sayang. Aku di sini, oke? Tapi kita harus cari Papa kamu juga. Papa pasti panik." ucap Elena lembut.

Theo mengangguk pelan, meski matanya masih dipenuhi air mata yang belum sempat jatuh.

Untuk beberapa saat mereka hanya duduk di sana. Elena memesan segelas jus jeruk untuk Theo, dan bocah itu meminumnya dengan hati-hati, sesekali mengangkat wajah untuk memastikan Elena masih di sana.

Mungkin Tuhan sedang mengirimkan seseorang untuk mengingatkannya bahwa di dunia ini masih ada hati yang lebih murni dari luka, dan hari ini, wujudnya adalah bocah bernama Theo.

"Mama?" bocah itu memanggil lirih. "Mama suka balon?"

Elena tersenyum kecil. "Suka. Tapi aku lebih suka melihat Theo tersenyum."

Theo terkekeh pelan. Tawanya jujur, polos, dan entah kenapa mampu membuat Elena tertawa kecil juga.

Untuk beberapa menit, waktu seolah berhenti. Dunia mereka berdua terasa begitu damai di tengah hiruk pikuk kota. Elena mendengarkan Theo bercerita tentang balon birunya, tentang rumahnya yang katanya besar tapi sepi, dan tentang Papa-nya yang sibuk bekerja.

"Papa baik," katanya sambil mengunyah potongan kecil kue yang Elena pesan untuknya. "Tapi Papa sering marah kalau Theo keluar rumah. Katanya banyak orang jahat di luar."

"Oh, begitu," sahut Elena pelan, memandang anak itu dengan iba.

Theo menatapnya lagi. "Tapi Papa bilang ... kalau Mama ketemu Theo, Mama pasti sayang sama Theo, ya kan?"

Elena tidak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum samar, mengelus pipi gembul bocah itu, lalu berbisik pelan, "Tentu saja, Sayang. Siapa pun yang jadi Mama Theo, pasti sayang sekali sama Theo."

Theo tersenyum lega, matanya berbinar seperti langit cerah setelah hujan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Theo?!" Sebuah suara berat, tegas, namun juga terkejut terdengar dari belakang.

Elena menoleh.

Langkah seseorang mendekat cepat. Sosok tinggi besar dengan jas hitam rapi dan aura berwibawa yang tidak asing baginya. Rambut hitamnya tertata, wajahnya tegas dan dingin, sama seperti dulu.

Elena terpaku. Dunia seolah berhenti berputar sesaat ketika matanya benar-benar mengenali pria itu.

Hans Morelli.

Nama itu bergema di kepalanya. Rival lamanya di dunia bisnis, pria ambisius yang dulu selalu bersaing dengan Elena sejak masa kuliah, dan kini pemilik perusahaan besar yang menjadi pesaing utama Raven Wattson.

Tapi apa yang paling mengejutkan bukanlah kemunculannya di tempat itu ... melainkan kenyataan bahwa Theo berteriak memanggil pria itu.

"Papa!" seru Theo riang, melambaikan tangan kecilnya.

Elena membeku di tempat. Dunia seperti berputar balik begitu cepat hingga ia kehilangan arah.

Hans menatap Elena dengan tatapan tajam dan heran sekaligus dingin.

"Kau menculik anakku?" tuduh Hans.

Elena terperangah. "Huh?" repsonnya.

Namun Hans tidak memberi waktu untuk menjawab. Ia mendekat, langkahnya berat dan pasti, menatap Elena seolah siap menuntut penjelasan atas dosa besar yang belum sempat wanita itu pahami.

Dan saat itu, di bawah tatapan tajam pria yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalunya, Elena hanya bisa terdiam, antara terkejut, bingung, dan tak tahu harus berkata apa.

Untuk sesaat, tak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara detak jam kafe dan napas tercekat Elena yang terdengar di antara ketegangan itu.

Sampai akhirnya, Hans kembali membuka suara, suaranya dalam dan dingin, "Jelaskan, Elena. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan dengan anakku?"

Nada itu membuat Elena mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan, bersiap memukul sang pria atas tuduhannya barusan. Namun sesuatu menahannya.

Terpopuler

Comments

Nova 20

Nova 20

dua manusia beda usia
tapi dengan hati yang menyimpan lukaa

semoga nanti kalian bisa saling menyembuhkan
aduuhhh ykin deh itu si theo bakalan jd cupid buat 2 rival lama hihihi

2026-04-25

0

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Senang nak tuduh2 Kamu yg cuai jaga anak

2026-01-14

1

awesome moment

awesome moment

tu kn...sll menghakimi dluan

2026-01-20

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. DIA GILA
2 BAB 2. MAMA?
3 BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4 BAB 4. DEBAT
5 BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6 BAB 6. MENGOBROL SERU
7 BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8 BAB 8. CARA KOTOR
9 BAB 9. ULTIMATUM
10 BAB 10. TIDAK GENTAR
11 BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12 BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13 BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14 BAB 14. SKANDAL
15 BAB 15. BALASAN HANS
16 BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17 BAB 17. MURKA
18 BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19 BAB 19. RACUN JESSY
20 BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21 BAB 21. MAKAN MALAM
22 BAB 22. PERNIKAHAN
23 BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24 BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25 BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26 BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27 BAB 27. KELUARGA
28 BAB 28. TIDAK NYAMAN
29 BAB 29. TERGANGGU
30 BAB 30. LEGA
31 BAB 31. PERTENGKARAN
32 BAB 32. MURKA
33 BAB 33. PANIK
34 BAB 34. THEO TERLUKA
35 BAB 35. KONSEKUENSI
36 BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37 BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38 BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39 BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40 BAB 40. EKSEKUSI
41 BAB 41. BALASAN
42 BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43 BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44 BAB 44. SEMAKIN KACAU
45 BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46 BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47 BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48 BAB 48. BALASAN ELENA
49 BAB 49. ULAH SENDIRI
50 BAB 50. LEGA DAN PUAS
51 BAB 51. KACAU
52 BAB 52. BERANTAKAN
53 BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54 BAB 54. RUNTUH
55 BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56 BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57 BAB 57. LELAH DAN MANJA
58 BAB 58. DAMAI
59 BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60 BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61 BAB 61. CURIGA
62 BAB 62. PANIK
63 BAB 63. DARURAT
64 BAB 64. OPERASI DARURAT
65 BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66 BAB 66. HARU
67 BAB 67. KEKHAWATIRAN
68 BAB 68. OVERPROTECTIVE
69 BAB 69. SUKA CITA
70 BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71 BAB 71. MENGADU
72 BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73 BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74 BAB 74. RUNTUH
75 BAB 75. HANCUR
76 BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77 BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78 BAB 78. TAK BERSISA
79 BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80 BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81 BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82 BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83 BAB 83. MOVE ON
84 BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85 BAB 85. KONTRAKSI
86 BAB 86. PERSALINAN
87 BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88 BAB 88. SEMPURNA
89 BAB 89. KEBERSAMAAN
90 BAB 90. RAMAI
91 BAB 91. RIUH KELUARGA
92 SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. DIA GILA
2
BAB 2. MAMA?
3
BAB 3. BOCAH BERNAMA THEO
4
BAB 4. DEBAT
5
BAB 5. RUMAH YANG HANGAT
6
BAB 6. MENGOBROL SERU
7
BAB 7. BUKAN LAGI ELENA WATTSON
8
BAB 8. CARA KOTOR
9
BAB 9. ULTIMATUM
10
BAB 10. TIDAK GENTAR
11
BAB 11. SELAMAT TINGGAL
12
BAB 12. JANJI DAN AWAL BARU
13
BAB 13. PAGI YANG TAK DISANGKA
14
BAB 14. SKANDAL
15
BAB 15. BALASAN HANS
16
BAB 16. BUKAN LAWAN SEIMBANG
17
BAB 17. MURKA
18
BAB 18. BUTIK DAN PEREMPUAN MURAHAN
19
BAB 19. RACUN JESSY
20
BAB 20. MENGAMBIL ALIH
21
BAB 21. MAKAN MALAM
22
BAB 22. PERNIKAHAN
23
BAB 23. KEBENARAN DI MALAM PERTAMA
24
BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU
25
BAB 25. SUAMI MENYEBALKAN
26
BAB 26. RIUH DAN BAHAGIA
27
BAB 27. KELUARGA
28
BAB 28. TIDAK NYAMAN
29
BAB 29. TERGANGGU
30
BAB 30. LEGA
31
BAB 31. PERTENGKARAN
32
BAB 32. MURKA
33
BAB 33. PANIK
34
BAB 34. THEO TERLUKA
35
BAB 35. KONSEKUENSI
36
BAB 36. YANG PALING BERHARGA
37
BAB 37. LUKA SEORANG ANAK
38
BAB 38. TENANG DAN BADAI SETELAHNYA
39
BAB 39. PAGI SEBELUM BADAI
40
BAB 40. EKSEKUSI
41
BAB 41. BALASAN
42
BAB 42. BALASAN DARI MORELLI
43
BAB 43. AMBANG KEHANCURAN
44
BAB 44. SEMAKIN KACAU
45
BAB 45. RUNTUHNYA HARGA DIRI
46
BAB 46. KEBENARAN TAK TERDUGA
47
BAB 47. MEMBANGUNKAN MACAN TIDUR
48
BAB 48. BALASAN ELENA
49
BAB 49. ULAH SENDIRI
50
BAB 50. LEGA DAN PUAS
51
BAB 51. KACAU
52
BAB 52. BERANTAKAN
53
BAB 53. HILANGNYA KETENANGAN
54
BAB 54. RUNTUH
55
BAB 55. KEGELISAHAN THEO
56
BAB 56. KABAR YANG BARU TERDENGAR
57
BAB 57. LELAH DAN MANJA
58
BAB 58. DAMAI
59
BAB 59. ELENA DAN KOMBINASI ANEH
60
BAB 60. DRAMATISNYA HANS
61
BAB 61. CURIGA
62
BAB 62. PANIK
63
BAB 63. DARURAT
64
BAB 64. OPERASI DARURAT
65
BAB 65. KABAR BAIK DAN BURUK
66
BAB 66. HARU
67
BAB 67. KEKHAWATIRAN
68
BAB 68. OVERPROTECTIVE
69
BAB 69. SUKA CITA
70
BAB 70. SUKA CITA LAINNYA
71
BAB 71. MENGADU
72
BAB 72. KEGEMBIRAAN KELUARGA
73
BAB 73. PETIR DISIANG BOLONG
74
BAB 74. RUNTUH
75
BAB 75. HANCUR
76
BAB 76. LUKA KARENA KESALAHAN SENDIRI
77
BAB 77. KEHANCURAN DUA INSAN
78
BAB 78. TAK BERSISA
79
BAB 79. AKHIR RAVEN DAN JESSY
80
BAB 80. AWAL BARU RAVEN
81
BAB 81. WAKTU YANG INDAH
82
BAB 82. BERTEMU KEMBALI
83
BAB 83. MOVE ON
84
BAB 84. KEPANIKAN YANG DITUNGGU
85
BAB 85. KONTRAKSI
86
BAB 86. PERSALINAN
87
BAB 87. THEO BERTEMU ADIK-ADIKNYA
88
BAB 88. SEMPURNA
89
BAB 89. KEBERSAMAAN
90
BAB 90. RAMAI
91
BAB 91. RIUH KELUARGA
92
SEQUEL THEODORE LAUNCHING!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!