...****************...
Semua orang sudah berkumpul, menunggu kedatangan Kim untuk pemotretan penting hari itu. Di tengah ruangan, Mora mondar-mandir dengan wajah kesal, tangannya terlipat di dada, bibirnya terus menggerutu tanpa peduli siapa pun yang mendengar.
“Kenapa dia selalu bikin aku kesal dan pusing setiap hari? Kim… kenapa lama sekali? Sudah kubilang jangan telat. Ini pemotretan penting!”
Beberapa orang hanya saling melirik, lalu mulai berbisik-bisik di belakang.
“Biasa… artis papan atas. Suka seenaknya,” ujar seseorang yang berdiri di samping Mora dengan nada sinis. “Nggak kayak kita yang harus selalu tepat waktu.”
Mora tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya mendelik tajam ke arah mereka yang terus membicarakan Kim. Ia memang kesal, tapi bukan berarti ia suka orang lain ikut menjelek-jelekkan talentnya.
Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil mewah memecah suasana. Sebuah Lamborghini merah berhenti tepat di depan lokasi pemotretan. Semua mata langsung tertuju ke arah pintu mobil yang perlahan terbuka.
Kim keluar dengan langkah tenang. Senyum tipis terpasang di wajahnya senyum yang terlihat sempurna, namun terasa begitu palsu bagi siapa pun yang cukup peka untuk menyadarinya
Mora menghela napas panjang. Ia memang dikenal blak-blakan. Apa pun yang ia rasakan, itulah yang akan keluar dari mulutnya meski terkadang terdengar tajam dan menyakitkan.
Dan hari ini, sepertinya tidak akan berbeda.
“Kamu tahu berapa kali pagi ini aku menghubungimu? Sudah kubilang kamu harus tidur cepat agar jadwalmu tidak berantakan!”
Mora berteriak kesal. Hanya dia yang berani memarahi Kim di depan semua orang. Meski begitu, Kim tidak pernah benar-benar menggubris omelan Mora.
Mora mengikutinya.
“Kenapa matamu seperti zombie? Apa kamu tidak tidur lagi semalam?”
Kali ini suaranya merendah, hanya terdengar di dalam ruang ganti
{Sekadar informasi, Mora adalah laki-laki. Meski kepribadiannya lembut dan sering dianggap seperti wanita, ia adalah orang yang paling tulus mendampingi Kim dalam keadaan apa pun}.
“Aku tidak bisa tidur. Kamu tahu aku selalu kesulitan untuk tidur,” ucap Kim dengan suara berat dan lelah.
“Baiklah. Nanti aku minta obat pada dokter pribadimu supaya kamu bisa tidur siang ini. Aku akan menghubunginya saat kamu pemotretan. Untuk sekarang, biar aku samarkan garis hitam di bawah matamu dengan concealer. Semoga ini membantu.”
Kim duduk di kursi rias dan menutup matanya sejenak. Ia menghela napas panjang… lalu, tanpa sadar, tertidur dalam posisi duduk.
Wajahnya masih dalam proses riasan.
Dan seperti biasa, hanya Mora yang boleh sedekat itu dengannya.
Pemotretan berjalan lancar. Setelah semuanya selesai, Kim segera pergi untuk mengambil resep dokter.
Dengan mobil merah menyala miliknya, ia melaju di jalanan yang lengang. Kecepatan mobilnya meningkat, membelah sunyi malam. Untuk sesaat, ia mencoba melupakan kepenatan yang menumpuk di dadanya juga rasa lelah yang membuat kepalanya terasa berat dan berdenyut.
Angin malam yang menerpa kaca mobil seolah menjadi satu-satunya teman yang mengerti kelelahan itu. Namun, semakin jauh ia melaju, semakin jelas bahwa ia tidak sedang melarikan diri dari jalanan yang sepi melainkan dari dirinya sendiri.
Mobil yang melaju kencang itu tiba-tiba terhenti. Sebuah motor hitam terparkir tepat di tengah jalan, menghalangi laju Kim.
“Sedang apa dia? Kenapa ada orang parkir motor di tengah jalan seperti ini?” gumam Kim kesal.
Ia turun dari mobil, berniat memindahkan motor tersebut sebelum benar-benar kehilangan kesabaran. Namun belum sempat menyentuhnya, seorang wanita datang tergesa-gesa. Ia mengenakan pakaian khas wartawan, dengan kamera menggantung di lehernya.
“Hei! Apa yang kamu lakukan pada sepeda motorku?” teriak wanita itu, wajahnya memerah karena marah sekaligus panik.
Kim menoleh tajam.
“Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu parkir sembarangan di tengah jalan? Menghalangi orang yang mau lewat. Sudah untung aku tidak menabrak motor bututmu ini.”
Wanita itu terdiam sejenak, menahan kesal.
Namanya Vio. Seorang wartawan magang di stasiun televisi BMC TV wanita penuh semangat dan percaya diri, meski terkadang ceroboh dalam keadaan terdesak.
“Tunggu… motorku mogok,” ucap Vio lebih pelan, nada suaranya berubah memohon. “Apa kamu bisa memberiku tumpangan? Setidaknya sampai ke depan. Aku harus segera ke kantor sebelum benar-benar kehilangan pekerjaanku.”
Dengan wajah memelas dan tatapan puppy eyes andalannya cara yang selalu berhasil ia gunakan untuk membujuk kakaknya Vio menatap Kim tanpa berkedip.
Namun Kim tetap tak bergeming.
“Tidak mau,” jawabnya dingin. “Itu bukan urusanku. Lagipula, aku juga sedang banyak urusan.”
Nada suaranya datar, hampir tanpa celah untuk dibantah. Ia berbalik, seolah tak ingin terlibat lebih jauh dalam masalah yang jelas bukan tanggung jawabnya.
Vio menggigit bibirnya pelan. Ia tahu tatapan itu biasanya ampuh. Tapi kali ini, pria di hadapannya sama sekali tidak terpengaruh.
Kim akhirnya pergi, meninggalkan Vio yang mendorong motor matic hitamnya sendirian di jalan yang sepi dan lengang.
Suara mesin mobilnya perlahan menjauh, sementara langkah Vio terdengar berat di balik sunyi malam. Lampu jalan yang redup membuat bayangannya tampak kecil dan rapuh.
Meski begitu, di dalam hatinya, Kim tidak sepenuhnya tenang. Ada rasa kasihan yang diam-diam menyusup. Bagaimanapun juga, Vio hanyalah seorang wanita yang terjebak di jalanan sepi tempat yang rawan dan tak selalu ramah pada siapa pun.
Tangannya menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan urusannya.
Namun entah mengapa, bayangan Vio yang mendorong motor sendirian terus mengusik pikirannya.
Beberapa meter dari tempat itu, Kim menghela napas panjang. Hatinya terasa tidak tenang. Tanpa banyak berpikir lagi, ia memutar kemudi dan kembali.
Mobil merahnya berhenti tepat di samping Vio yang masih mendorong motor dengan napas tersengal.
“Masuk,” ucap Kim singkat, jendela mobilnya terbuka sedikit. “Biar motormu nanti dibawa bengkel. Lain kali, kalau pergi jangan pakai motor tua yang malah menyusahkan orang.”
Nada suaranya tetap dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi.
Vio terdiam sejenak, lalu wajahnya berubah lega. “Serius? Terima kasih!” katanya cepat, hampir tak percaya.
Ia tidak tahu siapa pria yang kini membukakan pintu untuknya. Wajah Kim tertutup masker dan kacamata hitam, membuatnya sama sekali tidak bisa dikenali padahal ia adalah artis yang sedang naik daun dan sering muncul di layar televisi.
Tanpa banyak tanya, Vio segera masuk dan duduk di kursi sebelah Kim. Hatinya lega, sama sekali tidak menyadari siapa sebenarnya pria yang kini berada tepat di sampingnya.
Mobil itu pun kembali melaju, membelah sunyi malam yang menyimpan awal dari pertemuan tak terduga mereka.
Bersambung 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
MARDONI
Ini seru banget dari awal sampai akhir! Mora yang mondar-mandir nunggu Kim itu kerasa banget kesalnya, tapi tetap kelihatan peduli, apalagi pas dia satu-satunya yang berani marahin Kim dan nutupin mata zombienya pake concealer, itu perhatian banget 😭 Kim juga keliatan capek dan rapuh di balik image artis papan atasnya. Terus pas adegan mobil Lamborghini merahnya ngebut lalu ketemu Vio di tengah jalan, langsung berubah vibes jadi kayak awal takdir yang nggak disengaja! Kim yang awalnya dingin tapi akhirnya balik lagi jemput Vio itu bikin senyum tipis, apalagi Vio masih nggak tau siapa yang nolongin dia. Chemistry-nya mulai kebangun dan bikin penasaran banget kelanjutannya 🚗✨
2026-02-18
2
SarSari_
Suka banget tipe cowok kayak gini. Luarnya jutek, dalemnya perhatian. Emang bnyak gengsi nih sih Kim...Apalagi Kim....Taehyung🤗
2026-02-25
1
David ☚⍢⃝☚ 💯💤
mata zombie? gimana bentukan nya kira-kira ya? 🗿 kebanyakan soalnya pasti pake kata "mata panda"
2026-02-20
1