3 SIAPA KAMU SEBENARNYA?

Cuaca masih sangat terik meski hari telah beranjak sore. Matahari bersinar begitu cerah di langit biru yang jernih, seindah lukisan dengan hamparan warna yang memanjakan mata. Di tengah ramainya jalanan kota, Kim melaju kencang membelah arus kendaraan.

Kim melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi angka di speedometer hampir menyentuh 350 km/jam. Jarum itu sempat bertahan di 325 km/jam, membuat Vio menahan napas. Rasa takut perlahan menyergapnya saat pemandangan di luar jendela berubah menjadi garis-garis kabur.

“Tuan apa kamu sudah bosan hidup? Aku belum mau mati! Kumohon… bisa pelankan mobilmu?”

“Turun. Aku masih ada urusan. Kamu bisa pesan taksi online.”

Kim berkata datar sambil membuka pintu mobil, seolah tidak peduli pada ketakutan yang masih tergambar di wajah Vio.

“Baiklah, Tuan. Siapapun kamu… terima kasih sudah memberiku tumpangan. Maaf kalau aku merepotkanmu. Lagi pula, aku hampir mati ketakutan. Kamu mengemudi seperti ingin membawaku ke dunia lain.”

Ucap Vio sambil merapikan rambut serta bajunya yang sedikit berantakan.

Brakkk!

Suara pintu mobil ditutup dengan keras, menggema di tengah jalan yang mulai lengang.

“Dasar wanita tidak tahu terima kasih.”

Kim melajukan mobilnya kembali dengan wajah kesal, rahangnya mengeras menahan emosi.

Di tengah udara yang masih terasa panas, Vio merogoh tasnya, mencari ponsel untuk memesan taksi online. Namun seketika wajahnya memucat. Tangannya terhenti, napasnya tercekat.

Ponselnya tidak ada.

Baru saat itu ia tersadar handphone-nya tertinggal di dalam mobil Kim, yang kini sudah melaju entah ke mana.

“Ya Tuhan… bagaimana bisa aku seceroboh ini? Lalu bagaimana caraku pergi dari sini? Aku bahkan tidak membawa uang tunai…”

...----------------...

klinik dokter Rio

Kim, yang belum menyadari bahwa ponsel Vio tertinggal di mobilnya, telah tiba di Klinik Dokter Rio tempat dokter pribadinya praktik.

Rio adalah seorang dokter muda yang bisa dibilang sangat andal dalam menangani pasien-pasiennya. Ia dikenal tenang, profesional, dan jarang berbicara jika tidak perlu.

Rio adalah kakak dari Vio. Keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda. Vio cerewet, tidak sabaran, ceroboh, dan sulit diam. Sementara Rio jauh lebih santai, teratur, dan cenderung pendiam.

Ia adalah seorang Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiater (dr. SpKJ) yang menangani kesehatan mental, gangguan kejiwaan, serta masalah emosional secara medis. Ia mendiagnosis pasien, memberikan terapi, dan meresepkan obat untuk gangguan mental berat maupun kondisi dengan gejala fisik, seperti yang dialami Kim.

“Selamat sore, Dok. Saya mau mengambil resep obat yang sudah dipesan Mora. Mungkin sebaiknya dosisnya dinaikkan saja… supaya saya bisa tidur lebih nyenyak malam ini.”

“Kamu sudah mengonsumsi obat ini selama dua tahun terakhir. Bukannya dosisnya berkurang, kamu justru ingin menambahnya. Lebih baik kamu mencoba cara lain untuk mengurangi kecemasanmu.”

Rio menatap Kim dengan serius

“Aku khawatir dengan efek samping yang bisa muncul. Sejujurnya, dari yang kulihat, obat ini tidak banyak membantu. Kamu butuh seseorang, Kim.”

Dengan nada tegas, Kim menolak saran yang hendak diberikan Dokter Rio. Ia menggeleng pelan, lalu menghela napas panjang, seolah beban di dadanya semakin menyesakkan.

Seraya menatap kosong ke depan, ia berkata

“Aku lelah… semua cara sudah kulakukan, tapi tetap tidak ada hasilnya, Dok. Berikan saja obatnya. Aku harus segera pulang.”

Rio tidak mampu lagi menahan Kim. Di hadapannya, ia tidak melihat sosok pria dingin dan tegas seperti biasanya melainkan seseorang yang rapuh, yang diam-diam sedang berjuang sendirian.

Seseorang yang sangat membutuhkan bantuan untuk keluar dari trauma masa lalunya.

“Ini… kalau terjadi apa-apa, jangan lupa hubungi aku, ya.”,

Ucap Rio lembut sambil menyerahkan obat yang telah dibungkus rapi dalam tas kecil berwarna putih.

Saat Kim kembali ke dalam mobil dan meletakkan obat di kursi sampingnya, pandangannya tertuju pada sebuah ponsel berwarna hitam. Di ujungnya tergantung gantungan berbentuk hati berwarna ungu.

Kim terdiam sejenak.

Baru saat itu ia menyadari—ponsel itu bukan miliknya.

“Apa jangan-jangan ini ponsel wanita tadi? Ya sudahlah… aku tidak peduli. Siapa suruh ceroboh.”

Kim meletakkan ponsel milik Vio kembali di kursi sampingnya. Tak lama kemudian, layar ponsel itu menyala

panggilan masuk.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Suara deringnya memenuhi ruang mobil.

Namun Kim sama sekali tidak terganggu. Ia mengabaikan panggilan yang terus masuk dari ponsel Vio dan tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seolah suara itu tidak berarti apa-apa.

Sesampainya di apartemen, Kim memarkir mobilnya dengan tenang.

Apartemen itu memiliki sistem keamanan berlapis pintu dengan sandi ganda, CCTV di depan serta di setiap sudut lorong. Meski tanpa pengawal pribadi, selama ini tempat tinggal Kim masih terbilang aman dari sasaeng yang kerap menguntit kehidupan pribadinya.

Kim melangkah masuk tanpa ekspresi, membawa tas kecil berisi obat di tangannya.

...----------------...

Vio memaksakan diri berjalan hingga akhirnya tiba di kantor. Wajahnya terlihat kacau, rambutnya berantakan tertiup angin, dan napasnya terputus-putus karena kelelahan.

Langkahnya goyah, namun ia tetap berusaha berdiri tegak, menahan lelah dan panik yang sejak tadi menghantuinya.

Langkahnya terasa berat, namun ia tetap memaksa diri untuk masuk, berusaha menyembunyikan kepanikan yang masih bergemuruh di dadanya.

“Sial sekali hidupku. Setelah motorku mogok, ponselku tertinggal entah di mobil siapa aku bahkan tidak tahu. Sekarang aku harus jalan kaki ke kantor sejauh ini. Kalau ada lomba maraton, mungkin aku sudah jadi juaranya.”

Dari kejauhan, Feby melihat Vio yang duduk di lantai sambil memegangi kakinya yang diselonjorkan ke depan. Tanpa berpikir panjang, ia segera menghampiri.

“Kamu kenapa baru sampai? Meeting tadi kamu tidak hadir. Kamu tahu, Pak Wisnu mencarimu dengan nada tinggi delapan oktaf, lho!”

Vio mengerang pelan.

“Kalau saja motorku tidak mogok dan ponselku tidak hilang, semua ini tidak akan terjadi, Feby.”

“Motormu mogok itu sih bukan hal aneh,” balas Feby. “Tapi ponselmu hilang? Memangnya hilang di mana?”

“Kalau aku tahu, aku tidak akan sebingung ini. Aku bahkan tidak tahu dia siapa…”

Jawab Vio dengan wajah lelah, seperti baru saja menyelesaikan maraton di sore hari.

 

Bersambung💜

Terpopuler

Comments

Bragi's Poem

Bragi's Poem

si vio TMI banget yak 😆

2026-03-25

1

MARDONI

MARDONI

Kim ngegas mobil sampai 325 km/jam ini rasanya jantung aku mau copot 😱 Vio sampai ketakutan banget, aku juga ikutan deg-degan wkwk 😆 Terus pas handphonenya tertinggal, duh kasihan Vio, rasanya pengen teriak ke Kim biar balik 😭 Apalagi interaksi Kim sama Rio, aku bisa ngerasain gimana rapuhnya Kim tapi tetap keras kepala, bikin gemes tapi juga simpati banget

2026-02-19

1

Jing_Jing22

Jing_Jing22

secara tidak langsung malah mendekatkan mereka kembali melalui ponsel yang tertinggal itu.

2026-02-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!