Bab Tiga

Tanpa menunggu jawaban Samudera, Kirana langsung meraih lengan jaket pria itu. “Kita berangkat sekarang!" ajaknya dengan suara datar.

Sebelum Sam sempat memprotes, Kirana sudah melangkah cepat menuju motor hitamnya yang masih terparkir miring di pinggir jalan. Ia menggeser helm cadangan di gantungan motor, lalu tanpa rasa takut, ragu, atau mikir dua kali, langsung naik dan duduk di jok belakang.

Samudera membeku. “Mbak … yang bener aja .…”

Kirana menatapnya dari balik helm yang baru saja ia pakai. “Aku bilang aku ikut. Kalau kamu nolak, ingat perjanjian kita barusan.”

Sam mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, frustasi. “Astagaaaa Mbak, saya mau balapan, bukan ojek.”

“Terserah. Malam ini aku nggak mau sendirian.” Nada Kirana terdengar lelah, tapi keras. Dan itu cukup untuk membuat Sam terdiam.

Ia akhirnya naik ke motor, menyalakan mesin, lalu menatap ke depan. “Pegangan yang bener.”

Kirana otomatis memegang sisi jok. Sam meliriknya dari spion dan mendecak. “Bukan begitu. Kamu bisa jatuh. Pegang aku.”

Kirana menghela napas, tapi tetap menurut. Tangannya memegang jaket Sam, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menjaga keseimbangan.

Sam mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menarik gas. Motor melesat menembus jalanan malam. Angin menerpa wajah Kirana dari celah helm, dan selama lima menit perjalanan, ia baru sadar kalau dia sudah tak merasakan sesak seperti sore tadi lagi.

Lokasi balap liar itu terletak di ujung kota, sebuah lahan kosong yang disulap jadi arena. Begitu mereka tiba, deru mesin dan sorak penonton menyambut seperti badai.

Remaja-remaja laki-laki berkerumun. Lampu-lampu mobil menerangi jalan lurus sepanjang beberapa ratus meter. Musik elektronik menghentak, bercampur bau asap knalpot dan kopi instan.

Begitu motor berhenti, puluhan pasang mata langsung menoleh. Bukan ke Samudera tapi ke Kirana.

Karena semua orang tahuz Samudera Genta tak pernah bawa cewek. Dia begitu dingin dengan lawan jenis, entah alasan apa dibalik semua itu. Tak pernah sekalipun dia mengenali wanitanya.

“Wah, Sam!” salah satu pemuda tinggi bersweater abu-abu tertawa lebar. “Sejak kapan bawa penumpang? Gila, nggak kebayang gue liat lo kayak begini!”

Temannya yang lain bersiul. “Apa jangan-jangan ini alasan lo telat?”

Sam mengabaikan komentar itu dan justru menoleh ke arah Kirana. “Turun!”

Nada suaranya pendek, seperti sedang menahan sesuatu, entah malu, jengkel, atau bingung.

Kirana turun dari motor tanpa ekspresi. Ia merasa puluhan mata menilainya, tapi ia tidak peduli. Malam ini hidupnya sudah berantakan, penilaian orang-orang ini bahkan tidak ada di level yang layak ia pikirkan.

“Siapa tuh, Sam?” tanya pemuda lain.

“Bukan urusan kalian,” jawab Sam datar.

Sebelum pertanyaan lanjutan muncul, seorang panitia menghampiri dengan wajah kesal. “Sam! Satu menit lagi lo telat, gue diskualifikasi! Telat banget!”

“Maaf, macet,” jawab Sam cepat.

“Macet apaan jam segini?” panitia itu cemberut.

Sam menoleh ke Kirana sebentar, lalu kembali ke panitia. “Nggak penting, kan? Yang penting gue dateng.”

Panitia itu menggerutu, tapi akhirnya mengangguk. “Cepet siap-siap. Lawan lo udah nunggu.”

Sam langsung melepas jaket dan helm, menyisakan kaos hitam yang menempel di tubuh. Beberapa gadis langsung bersorak kecil, seolah menunggu momen itu.

Kirana duduk di bangku panjang dekat arena, mengamati dari jauh. Sesuatu terasa aneh melihat bagaimana Sam berjalan penuh percaya diri, tapi tidak sombong. Tidak seperti kebanyakan pembalap liar yang suka pamer. Ia hanya fokus ke arena.

Ketika mesin motor Sam meraung, bulu kuduk Kirana berdiri. Suara itu menggetarkan udara.

Sam berada di garis start. Lawannya, pria berjaket merah, memasang ekspresi menantang. Hitungan mundur dimulai.

“Tiga!”

Kirana menarik napas mendengar ucapan itu.

“Dua!”

Ia bahkan tidak sadar sedang menggertakkan gigi.

“Satu—GO!” Dua motor melesat seperti peluru.

Deru knalpot memecah malam. Penonton berteriak histeris. Lampu-lampu mobil memantul di aspal, dan tubuh Kirana otomatis condong ke depan, matanya tak berkedip.

Sam memulai sedikit lambat. Kirana merasa jantungnya turun ke perut. Terasa mual.

Namun, detik berikutnya Sam mulai menyusul. Caranya bermanuver begitu rapi, begitu halus, seolah tubuhnya menyatu dengan motor. Lawannya mencoba menahan, tapi Sam justru meninggalkannya.

Dalam hitungan detik, garis finish tercapai. Sorak kemenangan meledak.

“SAM MENANG! WOIII SAM MENAAAANG!”

Kirana menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan. Hatinya kacau. Bukan karena balapannya, tapi karena sesuatu yang baru ia sadari, Samudera bukan sekadar anak muda urakan yang ngebut nggak pakai SIM.

Dia punya bakat. Dan keberanian. Dan entah apa lagi.

Sam turun dari motor, disambut teman-temannya yang langsung berpelukan, menepuk bahu, dan memuji. Namun anehnya, Sam hanya tersenyum tipis, mengangguk, menerima semua ucapan selamat itu tanpa keinginan untuk tebar pesona. Padahal beberapa gadis langsung berkerumun.

“Sam, minum dulu nih!”

“Sam! Selamat ya!”

“Sam mau foto bareng nggak?”

Sam hanya menggeleng halus. “Nanti. Gue ada urusan.” Dan langkahnya langsung menuju Kirana.

Kirana terpaku saat pria itu berdiri di depannya. Peluh masih menetes di pelipis Sam, napasnya masih tersengal ringan. Tapi tatapannya tajam dan fokus, seolah tidak peduli pada kerumunan di belakangnya.

“Ayo,” katanya sambil meraih helmnya. “Aku anter kamu pulang.” Sepertinya Samudera sudah mulai terbiasa hingga memakai kata aku bukan saya lagi.

Kirana berdiri pelan. “Aku nggak mau pulang.”

Sam berkedip. “Apa?”

“Aku … nggak mau pulang,” ulang Kirana, kali ini lebih lirih.

Sam memperhatikannya. Lebih lama dari sebelumnya. Sorot matanya, untuk pertama kalinya malam itu, tidak galak atau tertekan.

Ia tampak bingung. Dan sedikit khawatir.

“Mbak Kirana,” katanya pelan, menyebut namanya untuk pertama kali. “Malam-malam begini… kamu mau ke mana?”

Kirana menggeleng, merasa dadanya kembali berat. “Aku nggak tahu. Ke mana aja. Aku cuma nggak mau pulang.”

Sam menelan ludah, jelas tidak siap menghadapi situasi ini. “Maksudnya … kamu mau nginep di mana?”

“Di mana aja, terserah kamu.”

Sam membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat Samudera Genta yang ramah masalah, nekat, dan suka balapan itu sekarang benar-benar tidak tahu harus apa.

“Hah …?” itu satu-satunya respon yang bisa keluar.

Lampu-lampu mobil, suara penonton, dan dentuman musik masih bergema di belakang mereka. Tapi malam itu, semuanya seperti menghilang. Terasa sunyi.

Samudera tampak masih kebingungan. Dia tak tahu harus membawa Kirana kemana malam ini. Membawa pulang ke rumah itu tak mungkin, apa kata orang tuanya.

"Merepotkan!" gumam Samudera. Kirana mendengarnya, tapi pura-pura tak mengerti. Yang terpenting dia tak berada di rumah malam ini. Di rumah dia akan merasakan sesak kembali.

Terpopuler

Comments

Eka ELissa

Eka ELissa

jodoh mu Kirana...GK papa lah...yg aki2, dpt Bronis aj byk ...kmu mlhn dpt brondong...🤣🤣🤣🤭

2025-11-28

2

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

ternyata sam pemikirannya dewasa jg ya, gpplah dpt brondong spa lg klu tajir😁

2025-11-28

1

Ida Nur Hidayati

Ida Nur Hidayati

gak papa bawa pulang asal berterus terang pada orang tuamu Sam

2025-11-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Dua Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Empat Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Dua Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Empat Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!