Bab Empat

Samudera akhirnya berhenti tepat di depan sebuah hotel kecil yang terlihat bersih dan cukup sepi. Bukan hotel mewah, tapi jelas bukan tempat murahan juga. Lampunya hangat, pintunya otomatis, dan resepsionisnya tampak mengantuk sambil memainkan pulpen.

Kirana menatap bangunan itu dengan dahi berkerut. “Hotel?” tanyanya pelan.

Sam mendengus sambil melepas helm. “Masa mau tidur di lapangan parkir? Tadi bilangnya ikut aja terserah aku.”

Kirana menelan ludah. Oke, dia memang bilang begitu. Tapi dia tidak benar-benar berpikir sejauh ini.

“Ya udah,” gumam Kirana akhirnya.

Di dalam lobi, Sam langsung berjalan ke resepsionis. “Satu kamar, Mbak.”

Resepsionis itu langsung mengangkat alis saat matanya berpindah ke Kirana. Mungkin sedang menebak-nebak drama apa yang terjadi di antara mereka.

Kirana memelototi Sam. “Satu kamar?”

“Lah, mau dua? Sayang buang-buang uang aja, Mbak,” ucap Samudera ketus. “Udah ikut, jangan banyak protes.”

“Sam ....”

“Terserah! Mau ikut atau tidur di lobi?" tanya Sam sambil menerima kunci kamar.

Lift menuju lantai tiga terasa terlalu sunyi. Hanya suara mesin lift dan napas keduanya yang terdengar.

Saat pintu kamar terbuka, Kirana berjalan masuk duluan. Ruangannya tidak besar, tapi bersih. Satu ranjang queen bed, satu sofa panjang di samping jendela, TV, meja kecil, dan aroma lemon dari pengharum ruangan.

Kirana berbalik. “Sam ...."

Tapi Sam malah melempar jaketnya ke kursi dan langsung menjatuhkan diri ke ranjang, menguap panjang.

Wajah Kirana langsung memerah. “Hei! Kenapa kamu duluan yang tidur di situ?!”

Sam membuka satu mata. “Lah, mau lomba siapa yang naik kasur duluan?”

“Sam!”

“Astaga, Mbak … tenang. Aku cuma rebahan. Belum mati kok.”

Kirana mendecak, tapi pipinya panas karena kesal campur malu. Ia menatap ranjang itu, lalu menatap sofa. Sofa itu panjang, tapi bukan yang nyaman-nyaman banget. Yang kalau ditiduri semalaman bisa bangun dengan punggung patah lima titik.

Sam menatapnya sebentar. “Tidur aja di kasur. Aku di sofa.”

“Kenapa nggak dari tadi ngomong gitu?”

“Soalnya seru liat Mbak panik.”

Kirana langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Sam. “Kamu tuh ya ....”

Sam menangkap bantal itu dengan mudah dan tersenyum lebar. “Akhirnya marah. Kirana balik ke mode normal.”

“Aku nggak marah, Samudera!”

“Ya, ya .…” Sam duduk dan menepuk bantal. “Udah, tidur. Malem makin larut.”

Kirana berdiri kaku. “Tapi sebelum itu… aku kasih tau dulu.”

Sam menatapnya santai. “Apa?”

“Awás,” kata Kirana sambil menunjuk dirinya sendiri, “kalau kamu berani sentuh tubuh aku. Aku teriak satu lantai.”

Sam mengerjapkan mata. Lalu dia menunjuk Kirana balik. “Mbak … nggak akan.”

Nada itu sangat santai. Sangat percaya diri. Dan agak menjengkelkan.

“Aku nggak tertarik sama cewek kurus dan dada rata kayak kamu.”

Kirana terpaku. Mulutnya sampai terbuka.

Lalu menutup. Lalu terbuka lagi.

“A… APA?!” suaranya meninggi satu oktaf.

Sam menghela napas dramatis, seolah masalah dunia ini sangat berat. “Ya mau gimana, Mbak. Kalo disuruh nyentuh juga … duh. Males. Kayak megang papan triplek.”

“Samudera GENTAAA!”

Kirana langsung melempar bantal kedua. Kali ini bantalnya menghantam muka Sam tepat sasaran.

Sam tertawa sampai condong ke belakang. “Ya ampun, lucu banget.”

“Kamu itu ya ....”

“Udah, udah. Sini bantalnya. aku mau tidur?"

Dengan santai Sam mengambil bantalnya, berjalan ke sofa, dan meletakkan bantal itu.

Namun sebelum dia merebahkan tubuh, dia menunjuk ke Kirana lagi.

“Sama ya. Jangan sentuh aku juga.”

“HEH?!”

Sam mengelus dadanya sendiri. “Takut kenapa-napa. Aku kan brondong menggoda. Mbak yang minta dikawinin tadi juga kan? Takutnya kesengsem.”

Kirana berdiri sambil menunjuk dirinya sendiri dengan wajah syok. “Maksa minta dikawinin? Itu karena ....”

“Alasan, alasan,” Sam memotong sambil rebahan. “Semua cewek yang jatuh cinta sama aku juga pake alasan.”

“Hei! Aku nggak jatuh cinta sama kamu!”

Sam memejamkan mata. “Iya, iya. Makanya jangan curi-curi peluk aku pas aku tidur nanti.”

“Sam! Aku sumpah ....”

Tapi, Sam sudah pura-pura mendengkur keras-keras.Kirana rasanya ingin melempar sandal. Atau remote TV. Atau dirinya sendiri.

Namun menyerah juga akhirnya. Ia naik ke kasur, menarik selimut, dan menghela napas panjang. Kamar menjadi hening. Hanya suara AC yang berdengung.

“Sam?” panggil Kirana pelan.

“Hm?” jawab Sam tanpa membuka mata.

“Makasih.”

Sam terdiam sesaat. Lalu, masih dengan mata tertutup, dia menjawab lirih, “Iya, Mbak.” Dan ia rasa itu cukup.

Pagi harinya Samudera bangun duluan. Entah jam berapa, tapi sinar matahari sudah masuk dari celah tirai. Kirana masih tidur, tubuhnya meringkuk seperti kucing, rambutnya acak-acakan tapi terlihat damai.

Samudera tidak sengaja tersenyum kecil. “Nggak keliatan menyebalkan kalau lagi tidur,” gumamnya.

Setelah mandi cepat dan berpakaian, ia memesan sarapan hotel. Kirana baru bangun ketika suara pintu diketuk.

“Sam?” Kirana mengucek mata, napasnya masih berat. “Itu makanan?”

“Iya. Bangun. Sarapan dulu baru pulang.”

Kirana duduk sambil merapikan rambutnya yang super kusut. “Kamu pesen dua ya?”

“Iyalah. Satu buat aku, satu buat Mbak. Aku nggak mau makan bekas orang.”

“Hei!” Kirana memukul bahunya pelan. “Bisa nggak omongan kamu tuh sekali aja nggak nyebelin?”

“Nanti aku coba kalo aku udah mati.”

Kirana mendengus. Tapi dia memaka sarapan itu hingga ludes. Samudera ikut makan sambil menonton Kirana dengan cara yang membuat gadis itu risih.

“Apa?” tanya Kirana akhirnya.

“Tumben nggak bawel.”

“Kamu yang bawel.”

“Setidaknya aku cute kalau bawel.”

Kirana spontan hampir tersedak roti. Setelah sarapan selesai, Samudera merapikan barang-barang dan memakai helm.

“Ayo, pulang,” ajak Samudera.

Dan perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Bukan canggung, tapi lebih ringan daripada sebelumnya.

Beberapa saat kemudian mereka sampai. Motor berhenti di halaman rumah cukup besar bergaya modern. Rumah itu tampak tenang, tapi Kirana merasakan dadanya langsung sesak hanya dengan memandang pintunya.

Samudera melepas helm dan menyerahkannya pada Kirana. “aku cuma antar sampai sini. Masuknya urusan lo.”

Kirana mengangguk pelan. “Makasih ya, Sam.”

“Hm.”

Ia turun dari motor. Kakinya baru menyentuh lantai garasi ketika pintu rumah terbuka keras.

Seorang pria paruh baya dengan wajah dingin berdiri di sana. Papanya Kirana. Napas gadis itu langsung tercekat.

Papanya menatap Kirana dari ujung kepala sampai kaki. Matanya tajam, penuh penilaian, penuh sesuatu yang membuat dadanya merasa sesak.

“Dari mana kamu,” suara Papa terdengar berat dan menggema, “Semalaman nggak pulang?”

Kirana menelan ludah. “Pa … aku ....”

“Apa yang kamu lakukan di luar sana? Mau jadi apa kamu ini?!” bentaknya lantang. “Lihat Tissa! Adikmu itu nggak kayak kamu!”

Kirana membeku. Jantungnya berdegup terlalu keras. Tenggorokannya kering. Badannya gemetar.

Samudera yang masih di motor perlahan menoleh, mendengar suara bentakan itu. Ekspresinya berubah. Tidak lagi santai. Tidak lagi cuek. Matanya mengeras.

Kirana hanya berdiri, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata papanya menusuk terlalu dalam.

Dan tepat saat ia menarik napas yang terasa seperti batu di dada, menghimpit hingga membuat sesak, Papanya melangkah mendekat.

“Kamu jawab, Kirana!”

Udara terasa semakin tipis. Samudera masih di motor. Tidak bergerak. Tapi tatapannya tajam menembus. Rasanya ingin membela gadis itu. Entah mengapa dia tak bisa terima melihat Kirana diperlakukan begitu, padahal mereka baru saja kenal.

Terpopuler

Comments

Eka ELissa

Eka ELissa

mknya samudra kmu hrus syng ma kiran....ksian tau di rumh sndiri aj brasa di neraka...
pling Ade tiri nya itu cntik klie rbut tunangan kiran....😡😡🫣

2025-11-28

2

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

aku yakin Sir Isaac yg anda puji2 dan bela tidak lebih baik, dr Kirana aku rasa dia itu udah ga perawan lg dan aku jg yakin pergaulannya lebih bebas dr kirana

2025-11-28

1

Ari Atik

Ari Atik

lucu juga samudera...
😊😊

ayah,ingat dia anakmu lo,janganlah kau beda2kn dg anak tirimu.
jangan sampai kau menyesal akhirnya.
jadilah ayah yg bijak....

2025-11-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Dua Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Empat Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Dua Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Empat Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!