Bab Lima

"Apa kamu menjual dirimu hingga pulang pagi?" tanya Papa dengan suara lantang. Hal itu bisa didengar Samudera.

"Pa, aku tak mungkin melakukan itu," jawab Kirana pelan. Dadanya sudah terasa sangat sesak.

"Lalu apa yang kau lakukan diluar sana hingga tak pulang semalaman?"

"Pa, aku hanya pergi untuk menenangkan pikiran!"

"Banyak alasan!"

Mama dan adik tirinya Tissa tampak tersenyum melihat papa memarahi Kirana.

Samudera akhirnya turun dari motor. Gerakannya pelan, tapi tegas. Helm masih di tangannya, tapi sikapnya berubah total, tidak ada lagi candaan, tidak ada lagi senyum menggoda. Yang ada hanya mata gelap yang jelas-jelas tidak suka dengan apa yang ia lihat dan dengar.

Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat Kirana yang melihatnya semakin gelisah.

“Pak,” suara Samudera datar, tapi dingin. “Kenapa memarahi Kirana kayak gitu?”

Papa Kirana langsung menoleh tajam. “Apa?”

Samudera mengangkat dagu sedikit, tidak gentar sedikit pun. “Apa Bapak nggak tau kalau dia hampir ketabrak semalam? Dia lari karena stres, bukan karena mau macam-macam. Seharusnya ditanya baik-baik, bukan dibentak kayak penjahat.”

Kirana menahan napas. Papa menatap Samudera dengan pandangan menusuk. Pandangan yang cukup untuk membuat banyak orang ciut. Tapi Samudera tidak bergerak.

“Siapa kau?” suara Papa merendah, agak dingin. “Jangan ikut campur urusan keluarga kami!”

Samudera tidak mundur. Bahkan satu sentimeter pun tidak. Ia menarik napas, lalu berkata tenang, “Saya calon suami Kirana.”

Kirana membelalak. “Samudera ....”

Papa langsung melotot dengan amarah yang meledak-ledak. “APA?!”

Samudera masih tak goyah. “Iya, Pak. Saya calon suaminya.”

“Kurang ajar!” Papa melangkah cepat, tangan terangkat tinggi, jelas niatnya: menampar Samudera.

Refleks, Kirana melompat maju. “Pa, jangan!”

Suara tamparan keras menggema di halaman. Pipinya langsung panas, perih, matanya memanas. Bukan karena sakit fisik, tapi karena sakit hati yang menjerit.

Sam terpaku sesaat. Sesuatu di matanya berubah seperti api.

Pelan, rahangnya pun mengeras. “Astaga …,” desisnya rendah, “Dasar orang tua nggak punya perasaan.”

Papa Kirana memicingkan mata. “Apa kau bilang?!”

“Harusnya Bapak itu ngasih dia ketenangan, bukan malah bikin tambah hancur,” ucap Sam, suaranya tetap terkontrol tapi tajam. “Dia udah cukup sedih karena ditinggal pria be'jat yang membatalkan pernikahan.”

Papa menunjuk Samudera, jari itu nyaris menempel di wajahnya. “Jaga mulutmu! Kau tidak kenal Irfan!”

Samudera menyeringai miring, dan sinis. “Kenal atau nggak, cowok yang ninggalin calon istrinya hanya beberapa hari sebelum pernikahan itu adalah pecundang, breng'sek dan be'jat!"

“Cukup!” suara Papa keras. “Pantas Irfan meninggalkan Kirana dan memilih Tissa! Lihat kelakuannya! Baru sehari putus sudah bersama pria lain!”

Kirana seperti ditusuk kata-kata itu. “Pa … jangan bawa-bawa Samudera."

Tapi Papa terus bicara. “Kamu ini memalukan! Apa kamu juga bermalam dengan dia?!”

Hening. Napas Kirana tercekat. Samudera menjawab tanpa ragu, “Iya.”

Kirana hampir jatuh saking kagetnya. “Sam!!!”

Papa tampak seperti mau meledak. Wajahnya merah, urat di lehernya terlihat, dan tatapannya penuh jijik bercampur marah. “Kurang ajar kau!”

Tangan Papa kembali terangkat, lebih tinggi dan lebih kuat dari sebelumnya. Kirana mencoba menghalangi lagi, tapi kali ini Samudera bergerak lebih cepat.

“Udah.” Sam menarik Kirana ke dalam pelukannya dengan satu tangan, tangan lainnya menangkap pergelangan Papa sebelum tamparan itu mendarat. Genggamannya keras. Sangat keras.

Cengkeraman dua pria itu bertabrakan.

"Lepaskan saya!” teriak Papa Kirana.

“Bapak yang berhenti,” kata Samudera tajam.

Kirana terjepit di antara mereka, tubuhnya bergetar. “Sam … tolong jangan ribut! Jangan gini.”

Namun Papa tambah marah. “Kalian berdua memalukan! Tidak tahu malu! Dasar anak ....”

“Cukup, Pa!” Kirana akhirnya bersuara keras, lebih keras dari biasanya. Suaranya bergetar, tapi keluar juga. “Cukup! Jangan hina aku lagi!”

Papa justru menatap Kirana seperti melihat sesuatu yang makin merendahkan. “Kamu sudah menghina dirimu sendiri! Anak tak tahu diri!”

Samudera bergerak sedikit agar Kirana ada di belakangnya, seperti perisai. “Pak, kalau Bapak ngomong sembarangan lagi, saya ....”

“Samudera!” Kirana memegang lengan Samudera kuat-kuat, suaranya memohon. “Jangan! Tolong … jangan tambah memperkeruh keadaan ….”

Tapi Papa tidak berhenti memaki. Kata-kata pedas, hinaan, tuduhan, semua keluar tanpa ampun. Sam semakin terlihat kehilangan kesabaran. Matanya gelap, rahangnya keras, dadanya naik-turun.

“Mbak Kirana,” katanya, tanpa menoleh, “Aku sumpah … kalo dia hina kamu lagi ....”

“Samudera!” Kirana menarik lengannya semakin kuat, hampir seperti memohon nyawanya sendiri. “Please ...! Pergilah. Aku bisa … aku bisa atasi ini. Ini bukan pertama kali aku dihina. Lebih dari ini sudah biasa aku terima."

“Kagak bisa,” desis Sam. “Dia nyakitin kamu.”

“Aku bisa, Sam ….” Kirana menunduk, air matanya mulai jatuh. “Kalau kamu di sini. Papa makin marah. Tolong … tolong banget pergilah dulu.”

Samudera menatap Kirana, benar-benar menatap. Matanya penuh amarah. Penuh proteksi. Penuh sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan semalam, yaitu kepedulian. Dia merasa ingin melindungi gadis itu.

Papa masih memaki di belakang mereka. Tapi suara itu makin jauh bagi Kirana. Yang ia lihat hanya Samudera. Yang sedang menelan sesuatu di dalam dirinya.

Amarah. Insting untuk melindungi. Dan rasa enggan pergi.

“Mbak Kirana.” Suara Samudera rendah, hampir serak. “Aku nggak suka ninggalin kamu kayak begini.”

“Aku mohon.” Kirana menggenggam jaket Samudera. “Biar aku yang hadapi. Aku janji aku bisa. Bagaimana pun dia Papa kandungku, tak akan melakukan sesuatu di luar batas."

Hening beberapa detik. Sangat hening, kecuali napas berat Samudera dan suara Papa yang masih berseru-seru.

Akhirnya Samudera mengangguk. Dia tak tega melihat Kirana memohon. Dia saja yang sering membuat masalah, tak pernah diperlakukan begini sama kedua orang tuanya.

Dia berbalik ke motor. Langkahnya berat. Sangat berat, seolah melawan semua naluri yang ada.

Tapi sebelum benar-benar jauh, Samudera berkata tanpa menoleh, suaranya dingin dan tajam seperti pisau:

“Kalau kamu kenapa-napa, jangan lupa hubungi aku segera, Mbak!”

Dan ia menaiki motornya. Helm dipasang. Kunci diputar. Mesinnya menyala.

Papa masih mengomel. Kirana berdiri dengan pipi merah, tangan bergetar, hati berantakan.

Samudera menatap Kirana sekali lagi, sekilas saja dari balik helm. Tatapan yang sulit dibaca. Marah? Cemas? Bingung? Semua menyatu.

Lalu Samudera menarik gas. Motor itu melaju keluar gerbang. Meninggalkan Kirana. Meninggalkan Papa yang masih terbakar amarah.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

ya ALLAH tega bgt bpknya kirana menghina anaknya, dia lebih percaya sm hasutan istri dan anak tirinya dari pd anak kandungnya, mudah2an km nyesel nantinya dan jgn minta tolong sm kirana

2025-11-29

0

🌷Vnyjkb🌷

🌷Vnyjkb🌷

iihhh laknatttt benerr muluttttmu pakk, bknnya km memghadirkan ibu tiri berati Kamu yg Murahan!!! tegaaa amatt tu mulut sm anak gadis, anak kandung,, waahhhh laknat amat!!!

2025-11-29

0

Eka ELissa

Eka ELissa

stlah kmu prgi BP kmu itu bkln mnyesal Kiran udh prcaya gundik ma ank tiri durjana itu😡😡😡

2025-11-29

2

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Dua Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Empat Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Dua Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Empat Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!