Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Bab Satu

“Ada yang mau Papa dan Mama bicarakan.”

Suara Papa terdengar berat, memotong keheningan sore di ruang keluarga yang biasanya hangat. Tapi hari ini terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih sunyi.

Kirana menoleh pelan, meletakkan bunga-bunga yang sedang ia rangkai untuk buket pernikahannya. Seharusnya hari ini ia melakukan final check ke gedung resepsi dan bertemu dekorator. Seharusnya ia sedang sibuk memastikan semuanya sempurna untuk hari bahagianya dengan Irfan.

Tapi tatapan Papa dan Mama tirinya tidak biasa. Ada yang berbeda.

Perempuan itu, Ria, mama tirinya, biasanya hanya muncul untuk mengkritik, membandingkan, atau mengomel. Namun, sore ini ia duduk lebih dekat, menggenggam tangan Kirana seakan hendak memberi kabar penting.

“Kirana, kamu tenang dulu,” ucap Mama tiri dengan suara yang entah kenapa terasa dibuat-buat lembut.

Hal itu justru membuat alis Kirana terangkat. Merasa curiga dengan situasi saat ini.

“Kenapa? Ada apa sih?” Kirana berusaha tertawa kecil. “Dari tadi Papa dan Mama gelisah banget. Jangan bilang vendor dekor batal lagi, Ma? Atau katering?”

Papa menghela napas panjang, terlalu panjang untuk hal-hal sepele.

“Ini tentang Irfan,” potong Papa pelan.

Tawa Kirana langsung berhenti. Jantungnya memukul dada. Tangannya yang tadi merangkai bunga kini diam, kaku.

“Loh … kenapa dengan Irfan, Pa?” Suaranya Kirana melemah tanpa ia sadari. “Ada apa dengan Irfan, Pa?”

Mama tiri menatapnya dengan sorot mata aneh, seperti seseorang yang sedang bersiap mengatakan hal buruk, tetapi ingin dipuji karena bersikap lembut.

“Kirana .…” Ia meremas tangan Kirana lebih kuat. “Kamu harus siap, ya.”

Kirana menelan ludah, merasakan firasat buruk merayap hingga ke tulang. “Maksud Mama?”

Papa menunduk. “Papa dan Mama sudah bicara dengan keluarga Irfan.”

Jantung Kirana semakin cepat. “Bicara apa?” tanya Kirana dengan suara lirih.

Papa bertukar pandang dengan Mama tiri, sebelum akhirnya berkata pelan, bahkan terlalu pelan, hampir seperti berharap Kirana tidak mendengar.

“Irfan … Irfan memilih Tissa yang menjadi pendamping hidupnya.”

Waktu seakan berhenti. Kirana menatap Papa tanpa berkedip. “Maaf, Pa. Apa tadi Papa ucapkan? Irfan memilih Tissa?"

Mama tiri mengangguk pelan seolah-olah sedang menyampaikan berita sedih padahal sorot matanya seperti ada kepuasan yang ia sembunyikan.

“Iya, Nak. Irfan memilih Tissa.” Kali ini ibu tirinya yang menjawab.

“Tissa .…” Kirana mengulang perlahan.

Adik tirinya. Gadis yang lebih cantik, lebih manja, dan selalu diperlakukan seperti putri emas di rumah ini. Gadis yang selalu dibandingkan dengan Kirana. Gadis yang bisa mendapatkan apa pun tanpa usaha.

Dan sekarang … Irfan? Pria yang Kirana harap akan menjadi rumahnya, tempatnya bersandar, juga lebih memilih Tissa.

“Irfan … memilih Tissa?” suara Kirana pecah.

Mama tiri pura-pura menatap iba. “Maafkan Mama, Kirana. Mama tahu kamu pasti shock. Tapi Irfan memang mencintai Tissa sejak awal.”

Kirana terkesiap seolah ditusuk. “Sejak awal?” ulangnya pelan, nyaris tidak percaya.

Papa mengangguk pelan. “Mereka suka satu sama lain, tapi menyembunyikannya. Dan saat itu keluarga Irfan merasa hubungan mereka tidak tepat. Lalu Irfan bertemu kamu.”

Kirana tertawa. Tapi tawa yang hancur. Bukan tawa. Lebih tepatnya suara tercekik.

“Jadi aku ini … apa? Cadangan? Pengalihan?” tanya Kirana dengan suara getir.

Mama tiri mengelus bahu Kirana, gerakan yang aneh karena biasanya sentuhan darinya hanya muncul untuk menegur.

“Nak, mau bagaimana lagi? Tissa itu adikmu. Dia lebih lembut, lebih cocok dengan Irfan. Dan … ya, kamu tahu sendiri, Tissa dari dulu dekat dengan keluarga Irfan.”

Kirana menatap perempuan itu. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menohok lebih dalam.

'Dia lebih lembut. Dia lebih cocok dengan Irfan. Dia lebih dekat dengan keluarga Irfan.'

Kirana tahu, mama tirinya itu tidak pernah benar-benar menyukai Kirana. Kehadiran Kirana seperti duri dalam rumah ini. Tapi tetap ia tidak menyangka akan sejauh ini.

“Jadi apa yang dia lakukan sama aku selama ini adalah sebuah kebohongan?” Suaranya bergetar, namun senyumnya tetap terpasang. Senyum kecil yang pecah dari dalam.

Papa menunduk, tampak bersalah. “Maafkan Papa, Nak. Irfan tidak berani jujur. Tapi sekarang mereka ingin bersatu. Dan keluarga Irfan meminta izin baik-baik.”

“Mereka minta izin .…” Kirana tertawa tanpa nada. “Dan Papa menyetujuinya?”

Mama tiri menatap dengan raut yang dibuat sedih. “Nak … lebih baik kamu merelakan. Tissa dan Irfan, karena mereka saling mencintai. Kalau mereka menikah, itu yang terbaik untuk semuanya.”

"Untuk semuanya? Untuk siapa? Karena jelas bukan untuk Kirana." Pertanyaan itu hanya dia keluarkan dalam hati.

Kirana menarik napas panjang, mungkin ini adalah napas paling berat yang pernah ia hembuskan.

“Jadi rencana pernikahan aku dibatalkan?” Kirana bertanya, suaranya tenang tapi matanya mulai merah.

Papa mengangguk kecil. “Iya, Nak.”

Mama tiri menimpali cepat, “Kami tahu ini berat. Tapi kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa menerima kenyataan ini.”

Kirana termenung sebentar. Diam. Hening. Lalu ia berdiri perlahan.

Wajahnya tenang. Bibirnya tersenyum lembut. Tapi matanya terlihat mati dan kosong, getir, seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang tak akan kembali.

“Oke,” ucap Kirana akhirnya. Satu kata yang membuat Papa dan Mama tiri terdiam.

“Kirana?” Papa memanggil, ragu.

Kirana tersenyum. Senyum paling rapuh, paling palsu, paling menyedihkan.

“Aku rela,” ujar Kirana lagi.

Mama tiri terlihat lega, terlalu lega untuk seseorang yang seolah peduli.

Kirana melanjutkan, “Aku relain Irfan buat Tissa. Serius. Nggak apa-apa kok.”

“Nak ....”

“Aku malah senang tahu sekarang. Coba bayangin kalau aku baru tahu setelah nikah? Setelah aku jadi istri dia? Setelah dia selingkuh di belakang aku sama adik aku sendiri?” Ia tertawa pendek. “Lebih parah, kan?”

Papa menunduk dalam. Mama tiri berpura-pura menyeka mata, meski Kirana tahu tidak ada air mata di sana.

“Nak … kamu istirahat dulu, ya.” Papa memohon lirih.

Kirana mengangguk. Ia melangkah pergi dengan langkah pelan, stabil, seolah semua baik-baik saja. Tapi setiap langkahnya terasa seperti menginjak pecahan kaca.

Sampai tiba di depan pintu kamar. Tangannya gemetar saat memutar kenop. Ia menutup pintu pelan.

Dan begitu kunci diputar, semua kekuatan yang ia tahan runtuh seketika. Napasnya pecah. Tubuhnya melorot ke lantai.Tangannya menutupi wajah. Dan tangis itu, tangis yang ia tahan akhirnya pecah.

Tangis keras.Tangis yang patah hati. Tangis dikhianati.

“Kenapa selalu aku yang harus mengalah …?” Suaranya parau di antara isak. Hanya dinding kamarnya yang menjadi saksi.

Tidak ada pelukan.Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak ada yang peduli.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengenal Irfan, Kirana menangis hingga seluruh tubuhnya gemetar. Menangis karena dijadikan cadangan.

Menangis karena adik tirinya mendapatkan segalanya lagi. Menangis karena orang tuanya meminta ia mengalah lagi.

Dan dalam kamar yang gelap itu, Kirana memeluk lututnya erat-erat, membiarkan seluruh kesedihan yang ia sembunyikan hancur perlahan, tapi mematikan.

Terpopuler

Comments

Tamirah

Tamirah

Selalu label ibu tiri dikenang sebagai ibu yg jahat dan kejam Dan sekali selaku seorang ayah Akan Menuruti apa kata istri barunya.Bagi suami di mengalah untuk kepentingan dirinya nya karena untuk menumpahkan hasrat biologis nya.tapi bagi anak sambung nya menjadi Mala petaka.
padahal tidak semua ibu tiri itu jahat.

2026-06-05

0

Dewi kunti

Dewi kunti

kamu sama authornya mau dipertemukan sm yg lebih ganteng lbh kaya ,pokoke lbh segala2 nya,tenang aj authornya gak tegaan🙈🙈🙈🙈

2025-11-27

1

Ida Nur Hidayati

Ida Nur Hidayati

awal baca sudah mewek Mama Reni.
semoga Kirana mendapat jodoh yg terbaik

2025-11-27

2

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Dua Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Empat Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Karya Baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Dua Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Empat Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!