2. Cinta Pertama Reza

Setelah menikah, Dhita sempat menganggur, karena memang belum mau disibukkan dengan pekerjaan. Namun di bulan ketiga, dia diterima di sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang ekspor impor. Karena pekerjaannya dinilai baik oleh atasan, dia bisa dengan mudah memiliki jabatan strategis di kantor. Hal inilah membuat pundi-pundi uang mereka bertambah terus. Apalagi dia merupakan affiliator andal.

Di tahun pertama pernikahan, mereka sudah memiliki rumah sendiri, rumah impian yang dibeli berdua. Mereka meninggalkan rumah lama Reza yang mungil, dan pindah ke rumah baru. Dhita juga sudah memiliki kendaraan sendiri, sehingga tidak perlu bergantung ke Reza. Di waktu senggang, mereka selalu mengunjungi tempat-tempat romantis berdua. Menonton pertandingan bola di Eropa juga pernah mereka lakukan.

Mereka merasakan indahnya mahligai rumah tangga sampai usia pernikahan ketiga. Karena memasuki tahun keempat, Bu Lastri_ibu mertua Dhita mulai mempertanyakan kesuburan rahimnya. Ada saja yang dipermasalahkan itu. Terlalu sibuk lah dengan pekerjaan, terlalu capek lah, atau kurang asupan nutrisi makanan.

"Dhit, kamu udah ngisi belum sih?” Bu Lastri mulai menginterogasiku saat mereka berkunjung ke rumahnya di awal bulan.

"Belum Bu.” Jawab Dhita sambil tersenyum.

"Periksa dong ke dokter, siapa tahu rahimmu kenapa-kenapa?”

"Iya Bu, nanti kalau ada waktu kami akan memeriksakan diri ke dokter.”

"Luangkan waktu, bukan kalau ada waktu!”

"Iya Bu. Soalnya susah meluangkan waktu bareng-bareng. Kadang saya ada luang, Mas Reza yang gak ada, begitu juga sebaliknya.”

"Gak usah sama Reza, dia sehat. Kami turunan orang yang banyak anak. Kamu aja tuh yang periksa. Kamu kan ada turunan mandul, nah itu tantemu, sampai usia lanjut gak memiliki anak, iya kan?” Bu Lastri berkata menyakitkan.

Dhita kaget mendengar kalimat tersebut. Dia melirik ke arah Reza yang duduk di sampingnya. Maksudnya meminta dukungan kalau periksa ke dokter itu harus berdua, bukan hanya dia saja. Karena menurutnya, belum tentu dia yang bermasalah dalam hal ini, bisa jadi Reza sendiri. Namun di luar dugaan, Reza malah pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan ibunya, dan dia malah membahas masalah kerjaan.

Sebenarnya mereka tidak menunda-nunda memiliki momongan, namun kalau Allah belum memberikan kepercayaan kepada mereka, mau apalagi? Berdoa setiap saat, berusaha juga sudah mereka lakukan walaupun belum optimal. Selalu mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi dan minum jamu yang katanya bisa menambah kesuburan.

Biasanya berkunjung ke rumah mertuanya merupakan moment yang sangat menyenangkan bagi Dhita. Tiap bulan selalu ditunggu. Namun sejak saat itu, justru dia malas untuk berkunjung ke sana. Karena selalu saja Bu Lastri mengungkit-ungkit masalah anak. Mending kalau bahasanya halus, ini seringkali kasar dan menyakitkan.

"Kalau kamu gak mau periksa ke dokter dan bertahan dengan keputusanmu itu, Reza bisa mencari wanita lain. Laki-laki kan punya hak untuk beristri lebih dari satu.” lagi-lagi pada kunjungan bulan berikutnya Bu Lastri berkata yang membuat telinga dan hati panas.

"Bukan gak mau, Bu. Saya siap kapan saja periksa. Masalahnya di Mas Reza, dia yang menolak terus. Ada aja alasannya.” Dhita mulai berani membela diri.

"Kan ibu sudah Bilang, gak usah sama Reza. Dia itu sehat, keturunan banyak anak. Gak mungkin dia bermasalah.”

"Tapi gak bisa gitu Bu. Kita belum tahu kan masalahnya di siapa? Maka jalan satu-satunya ya periksa ke dokter. Tapi harus dua-duanya, bukan hanya aku aja.” Dhita bertahan dengan pendiriannya.

"Ah kamu alasan aja, ngulur-ulur waktu.” Bu Lastri melangkah ke kamar dengan jengkel. Dia mengomel panjang pendek.

***

Dan bencana itu benar-benar terjadi dua bulan setelah kunjungan terakhir. Sore itu Dhita pulang agak cepat, karena setelah tugas luar ke klien, dia tidak kembali lagi ke kantor. Saat sedang merebahkan diri sambil buka-buka medsos, Bi Asih asisten rumah tangganya mengetuk pintu.

"Masuk aja Bi, gak dikunci kok.” Dhita menjawab ketukan Bi Asih.

"Ada apa Bi?” Dhita langsung bangkit dari tidurnya saat Bi Asih sudah masuk.

"Itu Non, ada ibunya Mas Reza.”

"Ibu Mas Reza?” Dhita mengerutkan kening.

"Iya Non, sama seorang wanita cantik.”

"Wanita cantik?” kening Dhita tambah berkerut.

"Iya Non, itu yang suka pake baju seksi dan super ketat.”

"Emang sebelumnya pernah ke sini?”

Sering, kan temannya Pak Reza, pas pertamakali ke sini, pakai rok segini.” Bi Asih meletakkan tangannya di atas lutut.

"Ya sudah, Bibi bikin minum saja, saya segera menemuinya.” Dita berkata sambil menyambar kembali kerudung yang baru beberapa saat dibuka.

Setelah memakai kembali kerudung dan merapikan baju yang agak kusut karena tadi sempat rebahan, dia keluar kamar. Dhita berjalan ke ruang tamu untuk menemui Bu Lastri. Terdengar suara wanita yang tertawa di sela-sela obrolan. Suara itu terdengar renyah dan manja. Mereka langsung berhenti ketika Dhita sampai di ruang tamu.

"Apa kabar, Bu?” Dhita meraih tangan Bu Lastri untuk salaman, kemudian cipika cipiki.

"Kabarku akan baik kalau mendengar kamu mengandung cucuku, Dhit.” Bu Lastri menjawab tanpa perasaan. Dhita hanya bisa menarik nafas panjang.

"O ya, kenalkan, ini Tari, teman SMAnya Reza.”

"Oooh teman Mas Reza ya?” Dhita tersenyum sambil mengulurkan tangan. Wanita itu menyambut uluran tangan Dhita. Matanya melihat dari atas sampai bawah, seperti menilai penampilannya.

"Rezanya belum pulang ya?” Tari bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dhita.

"Belum, Mas Reza biasa pulang sore. Paling cepat sebelum Adzan Maghrib.” Dhita menjelaskan.

"Tapi Tante sudah bilang kan ke Reza kalau aku mau ke sini?” Tari berkata manja ke Bu Lastri

"Sudah, mungkin masih di jalan.”

"Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya ke Mas Reza?” Dhita bertanya karena penasaran.

"Dhit, Tari ini adalah cinta pertama Reza. Reza pacaran sama Tari sejak masuk SMA sampai mereka keluar. Cinta mereka berakhir karena Tari melanjutkan kuliah ke luar negeri.” Bu Lastri diam sejenak, karena Bi Asih datang membawa minuman.

"Jadi, maksud ibu membawa Tari ke sini itu, mau merekatkan kembali tali kasih mereka yang sempat terputus.” Bu Lastri berkata enteng sekali. Sementara Dhita yang mendengarnya, merasa bagaikan ditimpa batu yang sangat besar.

"Maksud Ibu?” Dhita bertanya dengan dada turun naik, menahan emosi.

"Ya, seperti yang sering ibu bilang, kalau kamu tak memiliki anak, Reza bisa mencari wanita lain. Dia berhak memilih yang terbaik, wanita subur yang dapat memberikan keturunan. Ingat Dhit, keluarga kami harus memiliki keturunan untuk mewarisi semua kekayaan.”

"Tapi kenapa tiba-tiba Bu?, belum tentu juga saya mandul kan?”

"Gak tiba-tiba, saya sudah bicara sama Reza, dan dia setuju.”

"Apa? Mas Reza setuju untuk menikah lagi?”

"Ya. Siapa sih laki-laki yang gak tergoda dengan Tari? Selain cantik, pintar, dia juga berasal dari keluarga yang kaya. Apalagi diantara mereka pernah punya cerita, gampang sekali menumbuhkan benih-benih cinta itu. Iya kan Tari?” ibunya Reza melirik ke arah Tari.

"Iya Tan, pastinya. Lagian kita tak pernah ada bahasa putus lho, kita terpisah karena keadaan.” Tari berkata manja.

"Tapi Mbak Tari harus sadar, Mas Reza sekarang bukan Mas Reza dulu, dia sudah memiliki istri." Dhita berkata sambil menatapnya tajam.

"Iya tahu, aku gak apa-apa lho kalau dijadikan yang kedua oleh Reza. Yang penting kami bisa bersatu kembali.” katanya enteng.

"Tuh Dhit, Tari juga menerima dijadikan yang kedua, tinggal kamu yang harus legowo.”

"Mana ada wanita yang legowo cintanya dibagi Bu?” Dhita berkata ketus.

"Ya harus legowo lah, kamu itu gak sadar diri dengan kekuranganmu kalo kamu gak legowo.” Bu Lastri menjawab menyakitkan.

"Emang kekuranganku apa Bu? Walaupun aku wanita karier, tapi aku tidak pernah lupa akan kewajiban berbakti pada suami. Suami selalu aku ladeni dengan baik. Sebelum pergi ke kantor aku selalu membuatkan kopi dan sarapan, begitu juga pulang kerja, aku selalu berusaha menyiapkan semua keperluan Mas Reza. Bahkan aku terjun langsung ke dapur untuk membuat makan malam.”

"Kamu masih nanya kekuranganmu apa? Kamu mandul Dhit, tidak bisa memberikan keturunan pada Reza, penerus keluarga kami.”

"Ibu sudah memvonis aku mandul, sementara aku belum pernah ke dokter untuk diperiksa keadaan rahimku bagaimana?”

"Udahlah Dhit terima aja takdirmu itu yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Reza.” Tetiba Tari ikut nimbrung.

"Nah itu yang betul.” Bu Lastri berkata dengan semangat, dia menatap Tari penuh rasa sayang

Episodes
1 1. Hari Bersejarah
2 2. Cinta Pertama Reza
3 3. Pengakuan
4 04. Anggita
5 5. Kedatangan Mama dan Papa
6 6. Rencana Lamaran
7 7. Tari Pamer Kehamilan
8 8. Permintaan Reza
9 9. Rencana Dhita
10 10. Melihat Ruko
11 11. Sepakat Berbohong
12 12. Gosip
13 13. Jebakan Keluarga Tari
14 14. Menyusun Rencana Hidup
15 15. Lamunan Tari
16 16. Lamaran
17 17. Jackson
18 18. Persekongkolan
19 19. Grand Opening
20 20. Menikah
21 21. Bulan Madu
22 22. Kegundahan Pak Kusuma
23 23. Prasangka Keji
24 24. Motivasi Teman
25 25. Menghubungi Direktur Keuangan
26 26. Interogasi Tari
27 27. Sekutu Tari
28 28. Fitnah
29 29. Event Pertama Dhita
30 30. Ibu Mertua
31 31. Tari Tidak Pulang
32 32. Kebohongan Yang Nyaris Sempurna
33 33. Ketahuan Rendy
34 34. Rencana Ke Bandung
35 35. Surprise
36 36. Bertemu Mantan Suami
37 37. Pelanggan Baru
38 38. Pencarian Rumah Baru
39 39. Lingkaran yang Berputar
40 40. Danendra
41 41. Firasat Buruk
42 42. Ambisi Tari
43 43. Katanya Gak Kenal Jackson?
44 44. Akhirnya Jackson Membuka Rahasia
45 45. Luka Itu Masih Ada
46 46. Ketemu Bu Aisyah
47 47. Ketakutan Tari
48 48. Menyusun Rencana
49 49. Rencana Eksekusi
50 50. Siasat Bu Aisyah
51 51. Ke Bandung
52 52. Telepon Di Pagi Hari
53 53. Ulang Tahun Alea
54 54. Sebelum Semuanya Terbongkar
55 55. Harapan Yang Masih Tersisa
56 56. Dibalik Goresan Pena
57 57. Nama yang Sama
58 58. Belum Saatnya Mengumumkan
59 59. Telepon yang Mengubah Suasana
60 60. Tetangga Seberang Rumah
61 61. Permainan Akhir Tari
62 62. Antara Dhita dan Rossa
63 63. Jawaban Untuk Alea
64 64. Michella Merajuk
65 65. Senyum yang Kembali Pulang
66 66. Restu dari Rossa
67 67. Peringatan yang Diabaikan
68 68. Saat Kepercayaan Dikhianati
69 69. Ketika Alea Memilih Dhita
70 70. Tak Harus Hari Ini
71 71. Surat Dari Pengadilan
72 72. Dilarang Masuk Ke Rumah Sendiri
73 73. Masih Mencari Jawaban
74 74. Dibalik Sebuah Tanda Tangan
75 75. Perjalanan yang Mengusik Kenangan
76 76. Luka yang Tak Pernah Diduga
77 77. Hakim di Mata Keluarga
78 78. Saat Hati Mulai Terusik
79 79. Gerak Cepat Sang CEO
80 80. Restu di Malam Itu
81 81. Harapan yang Kandas
82 82. Akhirnya Dilamar Hakim
83 83. Petunjuk dari Seorang Sahabat
84 84. Jejak yang Nyaris Hilang
85 85. Di Depan Pintu Ruang Rawat Inap
86 86. Terungkapnya Sebuah Kebenaran
87 87. Dendam yang Akhirnya Terungkap
88 88. Air Mata Penyesalan
89 89. Siapa yang Membawa Petaka?
90 90. Apakah Ini Hukuman Tuhan?
91 91. Menikah dengan CEO
92 92. E P I L O G
Episodes

Updated 92 Episodes

1
1. Hari Bersejarah
2
2. Cinta Pertama Reza
3
3. Pengakuan
4
04. Anggita
5
5. Kedatangan Mama dan Papa
6
6. Rencana Lamaran
7
7. Tari Pamer Kehamilan
8
8. Permintaan Reza
9
9. Rencana Dhita
10
10. Melihat Ruko
11
11. Sepakat Berbohong
12
12. Gosip
13
13. Jebakan Keluarga Tari
14
14. Menyusun Rencana Hidup
15
15. Lamunan Tari
16
16. Lamaran
17
17. Jackson
18
18. Persekongkolan
19
19. Grand Opening
20
20. Menikah
21
21. Bulan Madu
22
22. Kegundahan Pak Kusuma
23
23. Prasangka Keji
24
24. Motivasi Teman
25
25. Menghubungi Direktur Keuangan
26
26. Interogasi Tari
27
27. Sekutu Tari
28
28. Fitnah
29
29. Event Pertama Dhita
30
30. Ibu Mertua
31
31. Tari Tidak Pulang
32
32. Kebohongan Yang Nyaris Sempurna
33
33. Ketahuan Rendy
34
34. Rencana Ke Bandung
35
35. Surprise
36
36. Bertemu Mantan Suami
37
37. Pelanggan Baru
38
38. Pencarian Rumah Baru
39
39. Lingkaran yang Berputar
40
40. Danendra
41
41. Firasat Buruk
42
42. Ambisi Tari
43
43. Katanya Gak Kenal Jackson?
44
44. Akhirnya Jackson Membuka Rahasia
45
45. Luka Itu Masih Ada
46
46. Ketemu Bu Aisyah
47
47. Ketakutan Tari
48
48. Menyusun Rencana
49
49. Rencana Eksekusi
50
50. Siasat Bu Aisyah
51
51. Ke Bandung
52
52. Telepon Di Pagi Hari
53
53. Ulang Tahun Alea
54
54. Sebelum Semuanya Terbongkar
55
55. Harapan Yang Masih Tersisa
56
56. Dibalik Goresan Pena
57
57. Nama yang Sama
58
58. Belum Saatnya Mengumumkan
59
59. Telepon yang Mengubah Suasana
60
60. Tetangga Seberang Rumah
61
61. Permainan Akhir Tari
62
62. Antara Dhita dan Rossa
63
63. Jawaban Untuk Alea
64
64. Michella Merajuk
65
65. Senyum yang Kembali Pulang
66
66. Restu dari Rossa
67
67. Peringatan yang Diabaikan
68
68. Saat Kepercayaan Dikhianati
69
69. Ketika Alea Memilih Dhita
70
70. Tak Harus Hari Ini
71
71. Surat Dari Pengadilan
72
72. Dilarang Masuk Ke Rumah Sendiri
73
73. Masih Mencari Jawaban
74
74. Dibalik Sebuah Tanda Tangan
75
75. Perjalanan yang Mengusik Kenangan
76
76. Luka yang Tak Pernah Diduga
77
77. Hakim di Mata Keluarga
78
78. Saat Hati Mulai Terusik
79
79. Gerak Cepat Sang CEO
80
80. Restu di Malam Itu
81
81. Harapan yang Kandas
82
82. Akhirnya Dilamar Hakim
83
83. Petunjuk dari Seorang Sahabat
84
84. Jejak yang Nyaris Hilang
85
85. Di Depan Pintu Ruang Rawat Inap
86
86. Terungkapnya Sebuah Kebenaran
87
87. Dendam yang Akhirnya Terungkap
88
88. Air Mata Penyesalan
89
89. Siapa yang Membawa Petaka?
90
90. Apakah Ini Hukuman Tuhan?
91
91. Menikah dengan CEO
92
92. E P I L O G

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!