Besoknya, Dhita baru bangun pukul 08.30. Selain karena tidak sedang shalat, Dhita juga tidur terlalu larut, sehingga alarm yang biasanya bunyi sebelum Shubuh terlewatkan begitu saja. Untung weekend sehingga dia tidak perlu berangkat ke kantor.
Setelah mandi Dhita mengecek gawainya, ternyata ada beberapa panggilan yang datangnya dari Anggi, sahabatnya waktu kuliah. Dhita mengerutkan kening, tak biasanya Anggi menelepon di pagi buta. Karena penasaran, Dhita menelepon balik Anggi. Namun sayang, Anggi tidak mengangkat teleponnya. Dhita mencoba lagi meneleponnya, namun tetap tidak diangkat.
Dhita tengah menikmati sarapannya ketika tiba-tiba Anggi sudah berdiri di hadapannya. Mukanya kusut dan rambut sedikit berantakan. Dia juga masih mengenakan baju tidur setelan longgar. Dia hanya tersenyum melihat sahabatnya yang terkejut karena kedatangannya.
"Anggiiiiii, Ya Allah. Kamu datang tepat waktu.” Dhita berdiri dan memeluk sahabatnya.
"Aku lagi butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahku.” Dhita melanjutkan. Air matanya langsung menganak sungai.
"Dari tadi aku menghubungimu Dhit.”
"Maafkan aku, tadi tidurku begitu pulas, hingga tak terdengar dering telepon. Sekarang kamu sarapan dulu aja. Aku yakin kamu belum sarapan kan?”
"Ya emang belum Dhit.”
"Ya sudah, sekarang sarapan dulu, lalu mandi, dan ganti pakaianmu. Itu kan baju tidur.”
"Baiklah.” Anggi tertawa sambil melihat penampilan dirinya yang acak-acakan.
Anggi dan Dhita sarapan bersama tanpa banyak kata. Pikiran mereka dipenuhi hal-hal yang ingin disampaikan satu sama lain.
"Aku mengambil baju dulu di mobil ya Dhit.” Anggi berkata setelah sarapan mereka selesai.
"Iya.” Dhita mengangguk, dia menatap sendu sahabatnya yang beranjak keluar.
***
"Dhit, pernikahanmu bermasalah ya?”
"Dari mana kamu tahu Nggi?”
"Sebenarnya hari ini aku lagi ada acara kantor di puncak, outbond gitu. Tapi tadi pagi aku melihat suamimu masuk ke dalam villa dengan seorang perempuan seksi. Mereka bergandengan tangan dengan mesra, sesekali berpelukan tanpa risi. Makanya aku berkali-kali menghubungi kamu.”
"Iya Nggi, pernikahanku akan segera berakhir, aku akan menggugat cerai.”
"Dari kapan Reza selingkuh begitu Dhit? Setahuku hubungan kalian selama ini baik-baik saja. Bahkan kan minggu lalu kita double date.”
"Itulah bodohnya aku Nggi. Aku terlalu percaya Mas Reza, sehingga aku sama sekali gak mengendus perselingkuhan itu. Padahal kata Bi Asih, itu sudah berlangsung lama.”
"Bi Asih tahu?”
"Ya, tapi dia tidak berani melaporkannya padaku, karena Mas Reza mengancamnya.”
"Bi Asih tahu dari mana?”
"Beberapa kali Mas Reza mengajak perempuan itu menginap di rumah ini, bahkan tidur di kamarku, Nggi.”
"What? Seriusan kamu, Dhit?”
"Ya, Bi Asih mengatakannya semalam, dan aku percaya dia.”
"O my God.” Anggi menepuk jidatnya.
"Tapi kenapa Mas Reza melakukan itu padamu Dhit? Kurang apa kamu? Cantik, pintar, punya jabatan tinggi di kantor? Affiliator andal. Mau nyari apa lagi?”
"Ya mungkin aku kalah seksi sama si Tari itu.”
"Namanya Tari?”
"Yup, dan dia adalah mantan terindah Mas Reza. Mereka teman SMA.”
"Pantesan gampang sekali Mas Reza jatuh ke dalam pelukan wanita model gitu, ternyata CLBK.”
"Orangtuamu sudah tahu Dhit?”
"Belum, aku belum berani mengatakannya. Paling lusa aku mau cuti dan pulang ke Bandung. Aku tidak mau bicara lewat telepon.”
"Ya sebaiknya segera kasih tahu mereka Dhit, jangan sampai Mas Reza yang ngasih tahu duluan, khawatirnya dia memutarbalikkan fakta. Dia yang bersalah, eeh malah menuduh kamu yang bermasalah, karena menggugat cerai duluan.”
"O iya ya, aku kok gak kepikiran sampai sana.”
"Kalau mertuamu gimana Dhit?”
"Sebenarnya ibu mertuaku itulah biang keroknya Nggi.”
"Maksudnya?”
"Aku kan dulu pernah cerita, bahwa ibu mertua sudah benar-benar ingin memiliki cucu dari anak sulungnya. Makanya dia selalu mendesak agar aku diperiksa ke dokter, khawatirnya rahimku ada masalah. Aku sih mau-mau saja memeriksakan diri ke dokter, tapi harus sama Mas Reza. Kan kalau dua-duanya adil, siapa sebenarnya yang bermasalah? Namun ternyata Mas Reza selalu menolak, dia tidak pernah merespon kalau aku ajak periksa. Dan ibu mertuaku pun mendukung keputusan Mas Reza, karena menurutnya mereka berasal dari keluarga yang subur. Tidak ada dalam keluarganya yang tidak memiliki anak, sementara di keluargaku kan ada, Tante Ira.”
"Terus?” Anggi bertanya tak sabar.
"Puncaknya, kantor Mas Reza dan Si Tari itu ternyata ada kerjasama, bertemulah mereka. Sudah bisa kamu tebak cerita selanjutnya kan?. Nah, kemarin tetiba ibu mengajak Tari ke sini dan mengenalkannya padaku sebagai mantan terindah Mas Reza. Dan dia tanpa sungkan mengatakan bahwa Tari akan menjadi istri kedua Mas Reza. Semuanya dia lakukan demi keturunan, yang katanya gak akan bisa didapatkan dari aku yang mandul. ”
"Kurang ajar sekali itu ibunya Si Reza. Seenaknya aja ngasih vonis mandul, padahal belum tentu juga kamu yang bermasalah, bisa jadi Si Reza sendiri. Atau diantara kalian gak ada masalah, hanya Allah saja yang belum ngasih kepercayaan pada kalian.”
"Nah itu dia Nggi, aku sudah menyampaikan hal tersebut, tapi tetap tidak masuk.”
"Ya sudah, sekarang kamu ikut aku!” Anggi berkata sambil berdiri.
"Ke mana?”
"Ke rumah sakit.”
"Untuk?”
"Periksa, kalau sebenarnya kamu tidak ada masalah.”
"Tapi untuk apa Nggi? Toh kalaupun aku gak ada masalah, perceraian akan tetap terjadi.”
"Tapi setidaknya dia tidak akan menghinamu kalau kamu mandul.”
"Gak apa-apa Nggi, biarkan saja semua berjalan seperti ini. Aku serahkan saja semuanya pada Allah, biarkan Dia yang membalasnya.”
"Kamu yakin Dhit?”
"Ya aku yakin.”
"Ya kalau keputusanmu seperti itu, aku bisa apa?”
"Makasih atas perhatiannya ya Nggi, kamu memang sahabatku yang selalu mengerti aku. Selalu ada saat kubutuhkan.”
"Ya sama-sama.”
"By the way, kamu bilang kan lagi outbond, terus kok bisa ke sini?”
"Ya bisa lah, aku bilang ada hal sangat urgent yang harus aku selesaikan, jadinya bos mengizinkan. Sekarang aku mau kembali ke sana, karena acaranya sampai besok pagi. Aku tenang kalau keadaanmu baik-baik saja”
"Jangan khawatir Nggi, aku gak apa-apa, walaupun kuakui hati ini sakit banget dikhianati Mas Reza.”
"Ya sudah, kalau gitu aku kembali ke puncak ya, kamu jaga diri baik-baik. Laki-laki seperti Si Reza memang tidak pantas dipertahankan.”
"Iya Nggi.”
"Kamu harusnya bersyukur, kejadian ini menimpamu saat kamu masih belum dikasih momongan, coba kalau sudah, kamu pasti akan berat hati meninggalkan Si Reza itu. Pokoknya, sekarang kamu fokus dengan perceraian kamu. Nanti aku akan hubungkan kamu dengan pengacara temanku untuk mengurusnya. Kamu belum ada pengacara kan?”
"Belum.”
"Ya sudah, kalau belum dengan temanku aja. Nanti setelah aku menghubunginya dan dia siap jadi pengacaramu, aku kasihkan nomor kontak kamu, ok?.
"Ok, makasih ya Nggi. Makasih banget atas semua bantuanmu.”
"Iya sama-sama, Dhit.”
"Aku kembali lagi ke Puncak ya.”
"Ya Nggi, hati-hati ya!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments