BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar

#

Dewanga duduk di emperan sebuah warung tutup, memandangi gerimis yang masih membasahi jalanan. Tubuhnya basah kuyup, tapi ia tidak peduli. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah foto lusuh yang terlipat—foto keluarganya saat ia masih kecil.

Ayah, Ibu, dirinya yang masih bocah, dan Agung yang lebih muda.

Air mata kembali mengalir saat jari-jarinya menelusuri wajah ayahnya dalam foto itu.

***

**5 tahun yang lalu. Dewanga kelas 9 SMP.**

"Dewa! Dewa, ayo bangun! Bantu Ibu masak dulu sebelum sekolah!"

Suara itu membangunkan Dewanga dari tidur singkatnya. Ia mengucek mata, melirik jam dinding—pukul 03.30 dini hari.

Ia bangun dengan cepat, keluar dari kamar kecil yang ia bagi dengan Agung. Adiknya yang duduk di kelas 3 SD masih terlelap pulas.

Di dapur sempit, Rini sudah sibuk memotong sayuran. Di sampingnya, Pak Sentanu—ayah Dewanga—terbatuk-batuk keras sambil mengangkat panci besar berisi air untuk memasak nasi.

"Yah, istirahat dulu. Biar Dewa yang angkat," kata Dewanga cepat, mengambil alih panci dari tangan ayahnya.

"Gak apa-apa, Nak. Ayah masih kuat," jawab Pak Sentanu dengan suara serak, lalu terbatuk lagi—lebih keras, lebih lama.

Dewanga menatap ayahnya dengan dada sesak. Wajah Pak Sentanu yang dulunya tampan dan segar kini kurus kering. Tulang pipinya menonjol. Matanya cekung. Kulitnya pucat keabu-abuan.

Sudah delapan tahun.

Delapan tahun ayahnya menderita penyakit yang tidak pernah jelas apa namanya. Dokter puskesmas bilang paru-parunya bermasalah, ada yang bilang liver, ada yang bilang jantung lemah. Mereka tidak punya uang untuk periksa ke rumah sakit besar.

Yang pasti, setiap hari Pak Sentanu semakin kurus. Setiap hari batuknya semakin parah.

Tapi setiap hari, ia tetap bekerja.

***

Pukul 04.30 pagi, warung nasi sederhana mereka sudah siap.

Sebuah gerobak kayu beroda dengan terpal plastik sebagai atap. Nasi putih, sayur lodeh, tempe goreng, tahu goreng, telur dadar—menu sederhana untuk pekerja kasar yang mulai berangkat kerja pagi buta.

Pak Sentanu mendorong gerobak itu sendiri menuju emperan jalan raya, sekitar 500 meter dari rumah mereka. Dewanga membantu mendorong dari belakang, melihat punggung ayahnya yang membungkuk, tangannya yang gemetar memegang gagang gerobak.

"Yah, biar Dewa yang dorong," kata Dewanga, suaranya bergetar.

"Gak usah. Kamu sekolah. Belajar yang bener. Ayah gak papa."

"Tapi Ayah—"

"Dewa." Pak Sentanu berhenti sejenak, menoleh pada anaknya dengan tatapan lembut tapi tegas. "Ayah masih bisa. Selama Ayah masih bisa, Ayah akan kerja. Demi kamu dan Agung. Biar kalian bisa sekolah. Biar kalian gak kayak Ayah."

Dewanga menunduk, menahan tangis.

Mereka sampai di emperan jalan raya. Langit masih gelap. Lampu jalan menerangi samar-samar.

Pak Sentanu mulai menyiapkan warung. Memasang terpal, menata piring-piring, menyalakan kompor gas kecil untuk menghangatkan makanan.

"Dewa, pulang sana. Sekolah jam 7 kan? Berangkat jam 6. Tidur lagi satu jam."

"Gak apa-apa, Yah. Dewa gak ngantuk."

"Bohong. Matamu udah merah. Pulang. Ayah bisa sendiri."

Dewanga tahu ia tidak boleh membantah. Ia mengangguk pelan, lalu berlari kembali ke rumah.

Dari kejauhan, ia menoleh. Melihat sosok ayahnya duduk sendirian di depan gerobak, terbatuk-batuk, memegang dadanya yang sakit, tapi tetap menyiapkan warung dengan tangan gemetar.

***

Siang hari, setelah warung tutup sekitar pukul 10 pagi, Pak Sentanu tidak istirahat.

Ia langsung pergi bekerja sebagai kuli bangunan.

Mengangkat semen. Mengaduk cor. Memikul batu bata. Tubuhnya yang sudah kurus dan sakit tetap dipaksa bekerja.

"Pak, istirahat dulu. Bapak kelihatan pucat," kata Pak Gunawan, mandor proyek, dengan nada khawatir.

"Gak papa, Pak. Saya masih kuat. Anak-anak saya masih sekolah. Saya harus kerja," jawab Pak Sentanu sambil tersenyum lemah.

Tapi di balik senyum itu, tubuhnya gemetar. Keringatnya bercucuran bukan karena panas, tapi karena demam yang ia sembunyikan.

Pak Gunawan hanya bisa menggeleng sedih. Ia tahu kondisi Pak Sentanu, tapi ia juga tahu kebanggaan seorang ayah yang tidak mau menyerah.

***

Malam hari, sekitar pukul 7 malam, Pak Sentanu kembali membuka warung nasi di emperan jalan raya yang sama.

Kali ini untuk pekerja malam, supir truk, pedagang pasar malam.

Rini menemaninya. Mereka berdua melayani pembeli dengan senyum, meski tubuh mereka sudah remuk.

Dewanga datang setelah belajar, membawa Agung. Mereka duduk di belakang gerobak, mengerjakan PR dengan lampu seadanya.

"Yah, Dewa bantuin jualan ya?" tawar Dewanga.

"Gak usah. Kamu kerjain PR. Besok ulangan kan?"

"Udah selesai, Yah."

Pak Sentanu tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Anak Ayah pinter. Ayah bangga."

Dewanga tersenyum, tapi hatinya hancur.

Ia melihat ayahnya yang terus terbatuk, memegang dada, menahan sakit, tapi tetap tersenyum pada setiap pembeli.

***

Pukul 11 malam, warung tutup.

Pak Sentanu dan Rini mendorong gerobak kembali ke rumah. Dewanga dan Agung membantu.

Sampai di rumah, Pak Sentanu langsung ambruk di kasur tipis mereka.

"Yah! Ayah kenapa?!" Dewanga panik.

"Gak papa, Dewa. Ayah cuma capek. Tidur sebentar aja."

Rini menangis dalam diam, mengompres dahi suaminya yang panas.

Pak Sentanu hanya tidur satu jam—dari pukul 11 malam hingga tengah malam.

Lalu ia bangun lagi.

Membantu Rini memasak untuk warung besok pagi.

Memotong sayuran. Menggoreng tempe. Menyiapkan bumbu.

Tubuhnya limbung. Tangannya gemetar. Keringatnya dingin.

Tapi ia tidak berhenti.

"Pak, istirahat. Biar saya yang masak sendiri," pinta Rini sambil menangis.

"Gak bisa, Bu. Kamu juga capek. Kita kerjain bareng, cepet selesai."

"Pak, kumohon..."

"Bu." Pak Sentanu menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. "Ini yang bisa Ayah lakukan buat anak-anak kita. Biar mereka sekolah. Biar mereka gak susah kayak kita. Biar mereka punya masa depan."

Rini memeluk suaminya, menangis tersedu-sedu.

Dewanga melihat dari celah pintu kamar. Ia menggigit bibir, menahan tangis, tapi air mata tetap mengalir.

***

**Pagi itu. Hari yang mengubah segalanya.**

Dewanga bangun pukul 3.30 seperti biasa.

Tapi kali ini, ayahnya tidak membangunkannya.

Ia keluar kamar, menuju dapur.

Di sana, Rini duduk di lantai, memeluk tubuh Pak Sentanu yang tergeletak lemah.

"IBU! AYAH KENAPA?!" Dewanga berteriak panik.

"Dewa... panggil tetangga... cepat... Ayah... Ayah gak bangun..." Suara Rini putus-putus di antara isak tangis.

Dewanga berlari keluar, membangunkan tetangga.

Mereka membawa Pak Sentanu ke puskesmas dengan dipapah oleh beberapa orang.

Tapi sudah terlambat.

Tubuh Pak Sentanu sudah terlalu lemah. Delapan tahun ia memaksakan diri bekerja siang malam tanpa istirahat, dengan penyakit berat yang terus menggerogoti tubuhnya.

Pukul 05.47 pagi, Pak Sentanu meninggal di ruang UGD puskesmas.

Kata-kata terakhirnya untuk Dewanga:

"Dewa... jaga adikmu... jaga Ibumu... Ayah... mohon maaf... gak bisa... kasih kalian hidup yang layak... tapi Ayah... udah... berusaha..."

Dan Pak Sentanu memejamkan mata untuk selamanya.

***

Dewanga kembali ke masa kini, masih duduk di emperan warung tutup, memegang foto ayahnya yang lusuh.

Air matanya mengalir deras.

"Ayah... maafin Dewa..." bisiknya parau. "Dewa... gak bisa bikin Ayah bangga... Dewa... masih gagal terus..."

Hujan deras mengguyur.

Dan Dewanga menangis sendirian dalam gelap—sama seperti malam ketika ayahnya meninggalkan dunia ini.

 

**[Bab 2 Selesai]**

*Dewanga membawa luka yang dalam—kehilangan sosok ayah yang bekerja hingga titik darah penghabisan. Trauma itu membentuknya menjadi seseorang yang takut gagal, yang ingin membuktikan diri, yang mencari penerimaan dengan cara apa pun. Bahkan jika itu berarti menikahi wanita yang salah.*

Terpopuler

Comments

Chanikya Fathima Endrajat

Chanikya Fathima Endrajat

umur dewangga membingungkan, ketika ingin melamar anis umurnya br 19th, ketika falshback 10th yll, dewa sdh kls 9 (SMP) tdk mungkin umurnya wkt itu 9th kan thor

2025-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Pintu yang Tertutup
2 BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3 BAB 3: Putus Sekolah
4 Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5 bab 5 secerah harapan bersama anis
6 Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7 Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8 Bab 8: Nasihat Ibu
9 Bab 9: Penolakan Kedua
10 Bab 10: Penolakan Ketiga
11 bab 11 keputusan besar
12 Bab 12: Perjuangan Awal
13 BVB 13:pertemuan di pasar malam
14 Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15 Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16 Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17 Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18 Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19 Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20 Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21 Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22 Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23 Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24 bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25 Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26 malam pertama yang tak di inginkan
27 Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28 Hari Libur yang Menyakitkan
29 Siklus Bertengkar dan Berdamai
30 kabar yang Mengubah Segalanya
31 Kelahiran yang Sederhana
32 transformasi setelah menikah
33 Tamu yang Tidak Dihargai
34 Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35 Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36 bab 37
37 bab 38
38 Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39 Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40 Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41 teman curhat
42 malam yang gelap
43 Pelarian yang Sia-Sia
44 # Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45 Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46 Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47 Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49 Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50 Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51 Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52 # Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53 Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54 # Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55 # Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56 Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57 Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58 # Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59 Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60 Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61 Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62 Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63 Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64 # Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65 # Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66 Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67 Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68 Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69 # Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70 Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71 Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72 Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73 Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74 Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75 Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76 lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77 Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78 Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79 # Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80 Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81 Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82 Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83 Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84 Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85 Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86 Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87 # Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88 # Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89 # Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90 Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91 Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92 Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93 Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94 Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95 Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96 # Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97 Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98 Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99 Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100 Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101 Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102 # Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna
Episodes

Updated 102 Episodes

1
BAB 1: Pintu yang Tertutup
2
BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3
BAB 3: Putus Sekolah
4
Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5
bab 5 secerah harapan bersama anis
6
Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7
Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8
Bab 8: Nasihat Ibu
9
Bab 9: Penolakan Kedua
10
Bab 10: Penolakan Ketiga
11
bab 11 keputusan besar
12
Bab 12: Perjuangan Awal
13
BVB 13:pertemuan di pasar malam
14
Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15
Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16
Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17
Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18
Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19
Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20
Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21
Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22
Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23
Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24
bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25
Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26
malam pertama yang tak di inginkan
27
Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28
Hari Libur yang Menyakitkan
29
Siklus Bertengkar dan Berdamai
30
kabar yang Mengubah Segalanya
31
Kelahiran yang Sederhana
32
transformasi setelah menikah
33
Tamu yang Tidak Dihargai
34
Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35
Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36
bab 37
37
bab 38
38
Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39
Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40
Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41
teman curhat
42
malam yang gelap
43
Pelarian yang Sia-Sia
44
# Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45
Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46
Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47
Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49
Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50
Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51
Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52
# Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53
Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54
# Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55
# Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56
Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57
Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58
# Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59
Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60
Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61
Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62
Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63
Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64
# Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65
# Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66
Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67
Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68
Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69
# Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70
Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71
Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72
Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73
Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74
Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75
Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76
lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77
Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78
Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79
# Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80
Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81
Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82
Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83
Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84
Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85
Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86
Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87
# Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88
# Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89
# Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90
Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91
Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92
Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93
Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94
Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95
Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96
# Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97
Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98
Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99
Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100
Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101
Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102
# Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!