Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek

#

Pagi pertama Dewanga sebagai kuli bangunan.

Matahari baru saja menyembul dari ufuk timur ketika ia tiba di proyek pembangunan ruko tiga lantai di pinggir kota. Udara masih dingin. Embun membasahi tumpukan batu bata dan semen yang berserakan.

Dewanga berdiri canggung di tengah para pekerja yang sudah sibuk mempersiapkan alat-alat mereka. Mereka semua pria dewasa—berusia tiga puluhan hingga lima puluhan. Tubuh mereka kekar, kulit mereka gelap terbakar matahari bertahun-tahun. Tangan mereka besar dan kasar.

Lalu ada Dewanga—tujuh belas tahun, kurus, pucat, dengan tangan yang masih mulus belum pernah memegang cangkul atau sekop.

Pak Gunawan menghampirinya. "Dewa, kamu ikut tim Bang Jarot dulu ya. Belajar dari dia."

Dewanga mengangguk. Ia menghampiri seorang pria bertubuh besar dengan kumis tebal yang sedang merokok sambil bersandar di tiang besi.

"Bang Jarot, ini Dewa. Anak baru. Tolong ajarin ya," kata Pak Gunawan.

Bang Jarot melirik Dewanga dari atas ke bawah, lalu mendengus. "Anak kecil gini bisa ngapain? Mending suruh pulang aja, Pak. Nanti malah jadi beban."

Dewanga menunduk, menggigit bibir dalam-dalam. Tangannya mengepal erat.

"Dia anak Pak Sentanu. Kamu inget kan? Yang kerja keras sampai meninggal?" kata Pak Gunawan pelan.

Ekspresi Bang Jarot berubah. Ia menatap Dewanga lebih lama, lalu membuang puntung rokoknya. "Oh, anak Pak Sentanu. Baiklah. Ikut gue. Tapi jangan cengeng."

"Terima kasih, Bang." Dewanga membungkuk sopan.

***

Pekerjaan dimulai.

"Angkat tuh batu bata! Bawa ke lantai dua!" Bang Jarot menunjuk tumpukan batu bata di sudut proyek.

Dewanga menghampiri tumpukan itu. Ia mengangkat sepuluh batu bata sekaligus—seperti yang dilakukan pekerja lain.

Beratnya luar biasa.

Tangannya langsung gemetar. Lututnya hampir lemas. Tapi ia memaksakan diri berjalan menuju tangga bambu yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Setiap langkah terasa seperti menyeret gunung.

Keringat langsung bercucuran meski baru lima menit bekerja.

Sampai di lantai dua, ia meletakkan batu bata dengan napas terengah-engah.

"Cepetan! Jangan lama-lama! Ini bukan piknik!" teriak Bang Jarot dari bawah.

Dewanga segera turun lagi. Mengangkat sepuluh batu bata lagi. Naik lagi.

Turun. Angkat. Naik.

Turun. Angkat. Naik.

Begitu seterusnya.

Tangannya mulai lecet. Bahunya sakit. Punggungnya pegal luar biasa.

Tapi ia tidak berani berhenti.

***

Jam sembilan pagi.

Dewanga sudah naik-turun tangga bambu lebih dari dua puluh kali. Tubuhnya limbung. Matanya berkunang-kunang.

Saat ia mengangkat batu bata untuk kesekian kalinya, kakinya tersandung anak tangga.

BRUK!

Ia jatuh. Batu bata berhamburan. Lututnya terbentur keras ke bambu.

"TOLOL! PELAN-PELAN NAPA?!" bentak salah satu pekerja dari atas.

Dewanga segera berdiri, meski lututnya berdarah. Ia mengumpulkan batu bata yang jatuh dengan tangan gemetar.

Tidak ada yang membantunya.

Mereka semua hanya menatap dengan tatapan meremehkan.

"Makanya kalau gak kuat ya gak usah kerja di sini. Main bola aja sono," ejek salah satu pekerja sambil tertawa.

Dewanga menunduk, menahan air mata.

Ia ingat wajah ibunya yang sakit. Ia ingat Agung yang masih harus sekolah. Ia ingat ayahnya yang bekerja di tempat ini dengan penyakit berat bertahun-tahun.

"Kalau Ayah bisa, aku juga harus bisa," bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengangkat batu bata lagi. Naik lagi. Tidak peduli lututnya berdarah. Tidak peduli tangannya lecet.

***

Siang hari. Waktu istirahat.

Para pekerja berkumpul di bawah pohon besar, membuka bekal masing-masing. Ada yang membawa nasi bungkus, ada yang membawa nasi kotak lengkap dengan lauk.

Dewanga duduk menyendiri di sudut, membuka tas kreseknya. Di dalamnya hanya ada sebungkus nasi putih dengan sedikit tempe goreng—sisa dari kemarin malam.

Ia makan perlahan, berusaha mengenyangkan perut yang sudah keroncongan sejak subuh.

"Wah, anak baru makannya dikit banget. Mana bisa kuat kerja?" ejek salah satu pekerja sambil tertawa.

Yang lain ikut tertawa.

Dewanga tidak menjawab. Ia terus makan, menunduk dalam-dalam, berusaha tidak mendengar.

Bang Jarot meliriknya sekilas, lalu kembali makan bekalnya sendiri. Tidak membela, tapi juga tidak ikut mengejek.

***

Sore hari. Pukul lima sore.

Pekerjaan selesai. Para pekerja mulai membereskan alat-alat.

Pak Gunawan memanggil Dewanga. "Dewa, ini upahmu hari ini." Ia menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah.

Dewanga menatap uang itu. Tangannya gemetar saat menerimanya.

Lima puluh ribu.

Untuk sepuluh jam kerja yang menghancurkan tubuhnya.

Tapi lima puluh ribu ini akan membuat ibunya bisa beli beras. Akan membuat Agung bisa jajan di sekolah. Akan membuat mereka bertahan satu hari lagi.

"Terima kasih, Pak," kata Dewanga, suaranya serak.

Pak Gunawan menepuk bahunya. "Besok datang lagi ya. Kamu kuat, Dewa. Seperti ayahmu."

Dewanga mengangguk.

Ia berbalik, berjalan gontai meninggalkan proyek.

Setiap langkah terasa berat. Seluruh tubuhnya sakit. Lututnya masih berdarah. Tangannya penuh lecet dan kapalan baru.

Tapi ia terus berjalan.

***

Dewanga sampai di rumah saat langit sudah gelap.

Rini sedang duduk di teras, menunggu. Wajahnya cemas.

"Dewa! Kamu kenapa lututmu berdarah?!" Rini panik, langsung menghampiri.

"Gak papa, Bu. Cuma jatuh dikit." Dewanga berusaha tersenyum, tapi senyumnya rapuh.

Rini memeluknya. Menangis. "Dewa... Ibu gak sanggup lihat kamu kayak gini... Kamu masih muda, Nak..."

"Ibu, Dewa baik-baik aja. Lihat." Dewanga mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya, menyerahkannya pada ibunya. "Ini buat beli beras besok. Sama lauk buat Agung."

Rini menatap uang itu. Air matanya semakin deras.

"Dewa..." Suaranya pecah. "Maafin Ibu... maafin Ibu..."

"Ibu gak salah apa-apa. Ini pilihan Dewa. Dewa harus kerja. Dewa harus kuat. Kayak Ayah."

Dewanga memeluk ibunya erat.

Dan malam itu, di dalam pelukan ibunya yang kurus dan lemah, Dewanga menangis—menangis untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan berhenti sekolah.

Menangis untuk masa mudanya yang hilang.

Menangis untuk tubuhnya yang sakit.

Menangis untuk hidupnya yang tidak pernah mudah.

Tapi esok pagi, ia akan bangun lagi. Pergi ke proyek lagi. Bekerja lagi.

Karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

**Bertahan.**

***

**[Bab 4 Selesai]**

*Dewanga memasuki dunia kerja keras yang penuh hinaan dan penderitaan fisik. Setiap hari adalah pertarungan untuk bertahan hidup. Setiap hari adalah pengorbanan demi keluarga. Dan setiap hari, sedikit demi sedikit, ia kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri—membuka jalan bagi keputusan-keputusan keliru di masa depan.*

Episodes
1 BAB 1: Pintu yang Tertutup
2 BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3 BAB 3: Putus Sekolah
4 Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5 bab 5 secerah harapan bersama anis
6 Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7 Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8 Bab 8: Nasihat Ibu
9 Bab 9: Penolakan Kedua
10 Bab 10: Penolakan Ketiga
11 bab 11 keputusan besar
12 Bab 12: Perjuangan Awal
13 BVB 13:pertemuan di pasar malam
14 Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15 Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16 Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17 Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18 Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19 Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20 Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21 Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22 Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23 Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24 bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25 Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26 malam pertama yang tak di inginkan
27 Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28 Hari Libur yang Menyakitkan
29 Siklus Bertengkar dan Berdamai
30 kabar yang Mengubah Segalanya
31 Kelahiran yang Sederhana
32 transformasi setelah menikah
33 Tamu yang Tidak Dihargai
34 Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35 Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36 bab 37
37 bab 38
38 Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39 Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40 Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41 teman curhat
42 malam yang gelap
43 Pelarian yang Sia-Sia
44 # Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45 Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46 Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47 Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49 Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50 Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51 Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52 # Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53 Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54 # Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55 # Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56 Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57 Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58 # Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59 Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60 Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61 Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62 Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63 Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64 # Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65 # Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66 Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67 Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68 Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69 # Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70 Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71 Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72 Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73 Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74 Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75 Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76 lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77 Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78 Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79 # Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80 Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81 Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82 Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83 Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84 Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85 Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86 Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87 # Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88 # Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89 # Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90 Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91 Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92 Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93 Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94 Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95 Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96 # Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97 Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98 Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99 Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100 Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101 Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102 # Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna
Episodes

Updated 102 Episodes

1
BAB 1: Pintu yang Tertutup
2
BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3
BAB 3: Putus Sekolah
4
Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5
bab 5 secerah harapan bersama anis
6
Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7
Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8
Bab 8: Nasihat Ibu
9
Bab 9: Penolakan Kedua
10
Bab 10: Penolakan Ketiga
11
bab 11 keputusan besar
12
Bab 12: Perjuangan Awal
13
BVB 13:pertemuan di pasar malam
14
Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15
Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16
Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17
Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18
Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19
Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20
Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21
Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22
Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23
Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24
bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25
Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26
malam pertama yang tak di inginkan
27
Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28
Hari Libur yang Menyakitkan
29
Siklus Bertengkar dan Berdamai
30
kabar yang Mengubah Segalanya
31
Kelahiran yang Sederhana
32
transformasi setelah menikah
33
Tamu yang Tidak Dihargai
34
Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35
Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36
bab 37
37
bab 38
38
Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39
Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40
Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41
teman curhat
42
malam yang gelap
43
Pelarian yang Sia-Sia
44
# Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45
Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46
Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47
Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49
Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50
Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51
Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52
# Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53
Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54
# Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55
# Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56
Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57
Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58
# Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59
Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60
Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61
Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62
Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63
Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64
# Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65
# Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66
Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67
Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68
Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69
# Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70
Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71
Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72
Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73
Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74
Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75
Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76
lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77
Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78
Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79
# Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80
Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81
Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82
Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83
Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84
Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85
Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86
Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87
# Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88
# Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89
# Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90
Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91
Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92
Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93
Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94
Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95
Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96
# Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97
Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98
Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99
Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100
Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101
Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102
# Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!