bab 5 secerah harapan bersama anis

# Bab 5: Secercah Harapan Bernama Anis

Tiga tahun berlalu sejak Dewanga menjadi kuli bangunan.

Kini usianya dua puluh satu tahun. Tubuhnya sudah tidak sekurus dulu—berotot karena kerja keras, kulitnya legam terbakar matahari. Wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Garis-garis lelah mulai terukir di sekitar matanya.

Tapi ada satu hal yang berubah dalam hidupnya yang keras itu.

Anis.

***

Mereka bertemu setahun yang lalu di pasar tradisional.

Saat itu Dewanga sedang membeli sayur untuk ibunya. Anis berdiri di depan lapak yang sama, sedang menawar harga tomat.

Mata mereka bertemu sekilas.

Anis tersenyum—senyum kecil yang sopan, seperti orang asing yang kebetulan berpapasan.

Tapi senyum itu cukup membuat jantung Dewanga berdebar untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.

Seminggu kemudian, mereka bertemu lagi. Di pasar yang sama. Di waktu yang hampir sama.

Kali ini Dewanga memberanikan diri menyapa. "Maaf... kita pernah ketemu kan?"

Anis menoleh, lalu tersenyum lagi. "Iya, kayaknya pernah."

"Saya Dewanga. Biasa dipanggil Dewa."

"Anis." Gadis itu mengulurkan tangan.

Dewanga menjabatnya—tangannya yang kasar dan penuh kapalan bertemu dengan tangan Anis yang lembut dan halus.

Dan sejak saat itu, mereka mulai sering bertemu.

***

Anis bekerja sebagai penjahit di rumah. Setiap pagi ia ke pasar untuk membeli bahan kain atau benang. Dewanga yang kebetulan sering belanja untuk ibunya di waktu yang sama, mulai sengaja datang lebih awal agar bisa bertemu Anis.

Obrolan mereka sederhana.

Tentang cuaca. Tentang harga sayur yang naik. Tentang kesibukan masing-masing.

Tapi obrolan sederhana itu terasa hangat. Terasa menenangkan. Terasa seperti rumah.

Sebulan kemudian, Dewanga memberanikan diri. "Anis, boleh gak... kita ngobrol lebih lama? Mungkin di warung kopi deket sini?"

Anis ragu sebentar. Tapi lalu ia mengangguk pelan. "Boleh. Tapi cuma sebentar ya."

Mereka duduk di warung kopi sederhana. Memesan teh manis masing-masing.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dewanga merasa... diterima.

Anis mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi. Tentang ayahnya yang meninggal. Tentang ibunya yang sakit. Tentang pekerjaannya sebagai kuli.

"Kamu kuat banget, Dewa," kata Anis dengan mata berkaca-kaca. "Aku gak tau apa aku bisa bertahan kayak kamu kalau jadi kamu."

Dewanga tersenyum pahit. "Aku gak kuat, Nis. Aku cuma... gak punya pilihan lain."

Anis meraih tangannya di atas meja. Genggamannya lembut tapi erat.

Dan genggaman itu terasa seperti jangkar—sesuatu yang menahan Dewanga agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.

***

Enam bulan berlalu. Hubungan mereka semakin dekat.

Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang hanya lima menit di pasar, kadang satu jam di warung kopi, kadang hanya saling melambaikan tangan dari kejauhan.

Tapi setiap momen itu berharga.

Dewanga mulai bekerja lebih semangat. Ia mulai menabung—menyisihkan lima ribu, sepuluh ribu dari upahnya untuk rencana masa depan bersama Anis.

"Suatu hari nanti, aku mau nikah sama kamu, Nis," katanya suatu malam, dengan suara gemetar.

Anis menatapnya, pipinya merona. "Dewa... kamu serius?"

"Serius. Aku akan kerja lebih keras lagi. Aku akan cari uang lebih banyak. Aku akan lamar kamu dengan cara yang benar."

Anis tersenyum—senyum yang paling indah yang pernah dilihat Dewanga.

"Aku percaya sama kamu, Dewa."

***

Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Suatu sore, Anis datang ke tempat biasa mereka bertemu dengan wajah pucat dan mata sembab.

"Dewa... aku... aku harus bilang sesuatu," katanya dengan suara gemetar.

Dewanga langsung merasa ada yang tidak beres. "Kenapa, Nis? Ada apa?"

"Orangtua aku... mereka tau tentang kita."

Dewanga menegang. "Terus?"

Anis menunduk. Air matanya mulai jatuh. "Mereka... mereka gak setuju, Dewa. Mereka bilang... bilang kamu gak punya masa depan. Kerja gak jelas. Mereka gak mau aku hidup susah."

Dada Dewanga sesak. Seperti ada yang meremas jantungnya.

"Tapi kamu... kamu gimana, Nis? Kamu mau apa?"

Anis menatapnya dengan mata penuh air mata. "Aku... aku cinta sama kamu, Dewa. Tapi aku... aku takut."

"Takut apa?"

"Takut kita gak bisa bertahan. Takut kita gak punya cukup uang. Takut kamu... takut kamu gak bisa ngasih aku kehidupan yang layak."

Kata-kata itu menusuk seperti belati.

Dewanga terdiam. Tangannya mengepal erat.

"Nis... aku janji aku akan bekerja lebih keras. Aku akan—"

"Dewa, jangan." Anis menggeleng, tangisnya pecah. "Jangan bikin janji yang kamu sendiri gak tau bisa kamu tepatin. Aku... aku gak mau kita sama-sama menderita."

Hening.

Hanya suara tangis Anis yang terdengar.

Dewanga meraih tangan gadis itu. "Nis... jangan tinggalin aku. Kamu satu-satunya yang buat aku masih percaya kalau hidup ini ada gunanya."

Anis menatapnya—mata mereka bertemu, penuh dengan cinta dan kepedihan yang sama.

"Maafin aku, Dewa... maafin aku..."

Dan malam itu, Anis berdiri dan pergi.

Meninggalkan Dewanga duduk sendirian di warung kopi, dengan tangan gemetar dan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Dewanga merasakan patah hati.

Bukan hanya kehilangan cinta.

Tapi kehilangan harapan.

**[Bab 5 Selesai]**

---

#

Episodes
1 BAB 1: Pintu yang Tertutup
2 BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3 BAB 3: Putus Sekolah
4 Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5 bab 5 secerah harapan bersama anis
6 Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7 Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8 Bab 8: Nasihat Ibu
9 Bab 9: Penolakan Kedua
10 Bab 10: Penolakan Ketiga
11 bab 11 keputusan besar
12 Bab 12: Perjuangan Awal
13 BVB 13:pertemuan di pasar malam
14 Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15 Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16 Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17 Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18 Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19 Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20 Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21 Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22 Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23 Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24 bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25 Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26 malam pertama yang tak di inginkan
27 Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28 Hari Libur yang Menyakitkan
29 Siklus Bertengkar dan Berdamai
30 kabar yang Mengubah Segalanya
31 Kelahiran yang Sederhana
32 transformasi setelah menikah
33 Tamu yang Tidak Dihargai
34 Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35 Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36 bab 37
37 bab 38
38 Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39 Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40 Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41 teman curhat
42 malam yang gelap
43 Pelarian yang Sia-Sia
44 # Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45 Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46 Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47 Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49 Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50 Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51 Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52 # Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53 Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54 # Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55 # Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56 Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57 Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58 # Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59 Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60 Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61 Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62 Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63 Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64 # Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65 # Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66 Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67 Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68 Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69 # Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70 Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71 Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72 Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73 Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74 Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75 Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76 lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77 Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78 Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79 # Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80 Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81 Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82 Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83 Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84 Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85 Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86 Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87 # Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88 # Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89 # Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90 Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91 Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92 Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93 Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94 Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95 Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96 # Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97 Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98 Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99 Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100 Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101 Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102 # Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna
Episodes

Updated 102 Episodes

1
BAB 1: Pintu yang Tertutup
2
BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3
BAB 3: Putus Sekolah
4
Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5
bab 5 secerah harapan bersama anis
6
Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7
Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8
Bab 8: Nasihat Ibu
9
Bab 9: Penolakan Kedua
10
Bab 10: Penolakan Ketiga
11
bab 11 keputusan besar
12
Bab 12: Perjuangan Awal
13
BVB 13:pertemuan di pasar malam
14
Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15
Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16
Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17
Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18
Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19
Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20
Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21
Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22
Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23
Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24
bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25
Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26
malam pertama yang tak di inginkan
27
Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28
Hari Libur yang Menyakitkan
29
Siklus Bertengkar dan Berdamai
30
kabar yang Mengubah Segalanya
31
Kelahiran yang Sederhana
32
transformasi setelah menikah
33
Tamu yang Tidak Dihargai
34
Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35
Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36
bab 37
37
bab 38
38
Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39
Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40
Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41
teman curhat
42
malam yang gelap
43
Pelarian yang Sia-Sia
44
# Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45
Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46
Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47
Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49
Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50
Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51
Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52
# Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53
Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54
# Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55
# Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56
Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57
Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58
# Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59
Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60
Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61
Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62
Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63
Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64
# Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65
# Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66
Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67
Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68
Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69
# Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70
Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71
Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72
Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73
Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74
Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75
Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76
lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77
Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78
Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79
# Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80
Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81
Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82
Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83
Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84
Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85
Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86
Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87
# Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88
# Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89
# Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90
Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91
Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92
Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93
Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94
Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95
Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96
# Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97
Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98
Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99
Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100
Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101
Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102
# Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!