Kisah Nyata - Harga Sebuah Kesetiaan

Kisah Nyata - Harga Sebuah Kesetiaan

BAB 1: Pintu yang Tertutup

Hujan gerimis membasahi jalan tanah yang becek. Dewanga berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu yang mulai lapuk. Tangannya gemetar memegang kantong plastik berisi pisang dan kue—hadiah sederhana yang ia beli dengan uang hasil kerja seminggu sebagai kuli bangunan.

Usia delapan belas tahun, tapi wajahnya sudah menampakkan garis-garis lelah. Kulitnya gelap terbakar matahari, tangannya kasar penuh kapalan. Baju koko putih yang ia kenakan adalah satu-satunya baju bagus yang ia punya—sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya agak keabuan.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu kencang. Di dalam sana, ada Anis. Gadis yang sudah ia sukai sejak setahun lalu. Gadis yang selalu tersenyum padanya saat mereka bertemu di pasar. Gadis yang membuat hatinya berdebar setiap kali melintas di pikirannya.

"Bismillah," bisiknya pelan.

Dewanga mengetuk pintu dengan ragu. Ketukan pertama terlalu pelan, hampir tak terdengar. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya—Ibu aiysah—muncul dengan wajah datar. Matanya memindai Dewanga dari atas ke bawah, dan dalam sekejap, Dewanga bisa melihat kekecewaan di sana.

"Ada perlu apa?" tanya wanita itu ketus.

"Selamat sore, Bu. Saya... saya Dewanga. Saya ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu untuk... untuk membicarakan sesuatu yang penting." Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar mantap.

Ibu Aisyah tidak menjawab. Ia hanya menatap Dewanga lebih lama, lalu memanggil ke dalam rumah, "Pak! Ada orang!"

Bapak Aisyah muncul—pria tegap dengan kumis tebal dan pandangan tajam. Ia berdiri di ambang pintu, tidak mempersilakan Dewanga masuk.

"Iya, ada apa?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah.

Dewanga menelan ludah. Tangannya semakin basah oleh keringat.

"Pak, Bu, saya datang dengan niat yang baik. Saya... saya ingin melamar Aisyah. Saya tahu saya masih muda, tapi saya serius. Saya akan bekerja keras untuk—"

"Berhenti." Bapak Anis mengangkat tangan, memotong kalimat Dewanga dengan tegas. "Kamu kerja apa?"

"Saya... saya kerja sebagai kuli bangunan, Pak. Kadang bantu-bantu di pasar juga."

"Kuli bangunan?" Bapak Aisyah mendengus, seolah mendengar lelucon yang tidak lucu. "Kamu pikir dengan kerja kayak gitu kamu bisa nafkahin anak saya? Kamu bisa kasih dia makan setiap hari? Bayar sekolah anak nanti? Beli baju layak?"

"Saya akan berusaha, Pak. Saya janji saya akan—"

"Janji?" Ibu Aisyah menyela dengan suara nyinyir. "Janji gak bisa buat kenyang, Nak. Apalagi kamu masih muda gini. Sekolah aja gak tamat, kan? Yatim lagi. Masa depan kamu apa?"

Kata-kata itu menusuk seperti pisau.

Dewanga terdiam. Bibirnya bergetar. Ia ingin membantah, ingin bilang bahwa ia punya mimpi, punya rencana. Tapi semua kata itu mentah di tenggorokan, tertahan oleh kenyataan yang keras.

"Pak, Bu, saya memang belum punya banyak sekarang. Tapi saya akan bekerja keras. Saya akan—"

"Sudah, sudah." Bapak Aisyah melangkah mundur, tangannya sudah di gagang pintu, siap menutupnya. "Anak saya sudah ada yang lamar. Orang yang punya pekerjaan tetap, rumah sendiri, masa depan jelas. Kamu masih muda, pikirin masa depan kamu sendiri dulu. Jangan mimpi yang muluk-muluk."

"Tapi Pak—"

BRAK!

Pintu ditutup tepat di hadapan wajah Dewanga.

Ia berdiri di sana, terpaku. Kantong plastik berisi pisang dan kue masih tergenggam erat di tangannya yang gemetar.

Hujan turun lebih deras.

Air mata mengalir perlahan di pipi Dewanga, bercampur dengan tetesan hujan. Ia tidak bergerak, seolah tubuhnya kehilangan kekuatan.

Dari dalam rumah, ia mendengar suara Bapak Aisyah berbicara keras—mungkin pada Anis.

"Jangan pernah dekati anak itu lagi! Dia gak ada masa depannya! Miskin, kerja gak menentu, yatim lagi! Kamu mau sengsara seumur hidup?!"

Lalu suara tangis Aisyah yang tertahan.

Dewanga menutup matanya. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang.

Perlahan, ia berbalik. Kakinya melangkah gontai menjauhi rumah itu, meninggalkan kantong plastik di depan pintu—hadiah yang tak akan pernah diterima.

Hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Di kejauhan, lampu-lampu rumah menyala hangat. Orang-orang berkumpul dengan keluarga mereka. Tertawa. Makan bersama.

Tapi Dewanga berjalan sendirian dalam gelap.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa mungkin, memang benar—ia tidak cukup untuk siapa pun.

Terpopuler

Comments

ceuceu

ceuceu

Serius kisah nyata thor?
bab awl mengsedihkan

2025-12-20

0

Rsi Anindyatama

Rsi Anindyatama

namanya anis atau aisyah.......

2025-12-20

0

Dede Bleher

Dede Bleher

sbg ibu,sayapun akan nolak!
umur segitu blm cukup mampu nikah!

2025-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Pintu yang Tertutup
2 BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3 BAB 3: Putus Sekolah
4 Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5 bab 5 secerah harapan bersama anis
6 Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7 Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8 Bab 8: Nasihat Ibu
9 Bab 9: Penolakan Kedua
10 Bab 10: Penolakan Ketiga
11 bab 11 keputusan besar
12 Bab 12: Perjuangan Awal
13 BVB 13:pertemuan di pasar malam
14 Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15 Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16 Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17 Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18 Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19 Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20 Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21 Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22 Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23 Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24 bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25 Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26 malam pertama yang tak di inginkan
27 Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28 Hari Libur yang Menyakitkan
29 Siklus Bertengkar dan Berdamai
30 kabar yang Mengubah Segalanya
31 Kelahiran yang Sederhana
32 transformasi setelah menikah
33 Tamu yang Tidak Dihargai
34 Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35 Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36 bab 37
37 bab 38
38 Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39 Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40 Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41 teman curhat
42 malam yang gelap
43 Pelarian yang Sia-Sia
44 # Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45 Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46 Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47 Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48 Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49 Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50 Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51 Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52 # Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53 Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54 # Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55 # Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56 Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57 Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58 # Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59 Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60 Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61 Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62 Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63 Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64 # Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65 # Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66 Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67 Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68 Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69 # Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70 Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71 Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72 Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73 Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74 Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75 Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76 lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77 Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78 Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79 # Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80 Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81 Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82 Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83 Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84 Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85 Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86 Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87 # Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88 # Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89 # Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90 Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91 Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92 Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93 Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94 Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95 Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96 # Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97 Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98 Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99 Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100 Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101 Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102 # Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna
Episodes

Updated 102 Episodes

1
BAB 1: Pintu yang Tertutup
2
BAB 2: Kenangan yang Tak Pernah Pudar
3
BAB 3: Putus Sekolah
4
Bab 4: Kehidupan Keras di Proyek
5
bab 5 secerah harapan bersama anis
6
Bab 6: Penolakan yang Menghancurkan
7
Bab 7: Jatuh dalam Depresi
8
Bab 8: Nasihat Ibu
9
Bab 9: Penolakan Kedua
10
Bab 10: Penolakan Ketiga
11
bab 11 keputusan besar
12
Bab 12: Perjuangan Awal
13
BVB 13:pertemuan di pasar malam
14
Bab 14: Cerita yang Manipulatif
15
Bab 15: Rasa Kasihan yang Tumbuh
16
Bab 16: Kebetulan yang Terlalu Sering
17
Bab 17: Penerimaan yang Dirindukan
18
Bab 18: Retakan Pertama yang Diabaikan
19
Bab 19: Cinta atau Kebutuhan?
20
Bab 20: Keputusan yang Terburu-buru
21
Bab 21: Firasat yang Tak Boleh Diabaikan
22
Bab 22: Restu yang Penuh Luka
23
Bab 23: Pesan Terakhir Ayah dan Luka Ibu
24
bab 24 alarm terakhir yang diabaikan
25
Bab 25: Pernikahan Tanpa Berkah
26
malam pertama yang tak di inginkan
27
Bab 27: Kemarahan Tanpa Alasan
28
Hari Libur yang Menyakitkan
29
Siklus Bertengkar dan Berdamai
30
kabar yang Mengubah Segalanya
31
Kelahiran yang Sederhana
32
transformasi setelah menikah
33
Tamu yang Tidak Dihargai
34
Bab 35: Ketika Dunia Berhenti Berputar
35
Bab 36: Rasionalisasi yang Menyakitkan
36
bab 37
37
bab 38
38
Bab 39: Pertengkaran yang Menghancurkan Segalanya
39
Bab 40: Utang dan Uang yang Dilempar
40
Bab 41: Ketika Anak Mulai Membenci
41
teman curhat
42
malam yang gelap
43
Pelarian yang Sia-Sia
44
# Bab 44: Harapan Palsu yang Menghancurkan
45
Bab 46: Curhat di Warung Kopi
46
Bab 47: Ketika Anak Mulai Malu
47
Bab 48: Cahaya Kecil di Tengah Kegelapan
48
Bab 48: Ketika Kebaikan Datang dari Tempat yang Tak Terduga
49
Bab 49): Beban yang Tak Seimbang
50
Bab 50: Ketika Pengorbanan Ibu Sirna dalam Sekejap
51
Bab 51: Ketika Keputusasaan Memaksa Melanggar Pesan Ayah
52
# Bab 52: Dingin yang Lebih Menyakitkan dari Amarah
53
Ketika Tubuh Tidak Bisa Lagi Mengikuti Tekad
54
# Bab 54: Ketika Hanya Seorang Anak yang Peduli
55
# Bab 55: Ketika Kesadaran Datang Terlambat
56
Bab 56: Kepergian yang Menghancurkan Hati
57
Bab 57: Ketika Penyesalan Datang Terlambat
58
# Bab 58: Doa Seorang Anak di Pagi Buta
59
Bab 59: Kepulangan yang Singkat
60
Bab 60: Pertemuan yang Tak Terduga
61
Bab 61: Ketika Pesan Tengah Malam Datang
62
Bab 62: Di Balik Layar Kamera
63
Bab 63: Konten yang Menghancurkan
64
# Bab 64: Sandiwara Cinta - Berbohong Demi Konten
65
# Bab 64: Dingin yang Menusuk Tulang
66
Bab 65: Ketika Dunia Menghakimi
67
Bab 66: Sarapan Pagi yang Palsu
68
Bab 67: Ketika Kebaikan Tidak Cukup
69
# Bab 68: Ketika Cinta Harus Dijual Lagi
70
Bab 69: Ketika Kebaikan Dianggap Manipulasi
71
Bab 70: Ketika Kehancuran Membuka Mata
72
Bab 71: Warisan yang Sebenarnya
73
Bab 72: Berkah HSK - Opening yang Penuh Harapan
74
Bab 73: Pencarian di Tengah Malam
75
Bab 74: Bukti di Tengah Kegelapan
76
lBab 75: Ketika Hati Seorang Ibu Hancur
77
Bab 76: Pulang dengan Luka yang Belum Sembuh
78
Bab 77: Pertengkaran Soal Uang & Sikap Eka
79
# Bab 78: Kembali Berjualan - Sambutan Hangat
80
Bab 79: Kedatangan Budi Sketsa - Viral Lagi
81
Bab 80: Stand-Up Comedy Show - Kedai Meledak
82
Bab 81: Eka Mulai Berubah - Perlahan
83
Bab 82: Perkenalan dengan Juned - Awal Malapetaka
84
Bab 83: Permintaan Resep - Pertengkaran Besar
85
Bab 84: Juned Membuka Usaha di Depan Kedai
86
Bab 85: Loyalitas yang Kembali & Tatapan yang Membingungkan
87
# Bab 86: Fitnah Keracunan & Pembelaan Eka
88
# Bab 87: Fitnah Persugihan & Garis yang Terlewati
89
# Bab 88: Pengakuan Eka & Serangan Terakhir Juned
90
Bab 89: Persidangan - Bukti yang Kuat
91
Bab 90: Di Dalam Tahanan - Siksaan yang Kejam
92
Bab 91: Sidang Kedua - Vonis Penjara
93
Bab 92: Di Kedai - Tini Berjuang Sendirian
94
Bab 93: Ramadhan - Ujian Kesetiaan
95
Bab 94: Sebelum Lebaran di Penjara & Kebebasan yang Tragis
96
# Bab 95: Penyesalan & Pengakuan Juned
97
Bab 96: Permintaan Maaf Warga & Rehabilitasi Nama Baik
98
Bab 97: Cobaan Baru - Kedai Diserang Preman
99
Bab 98: Strategi Melawan Preman dengan Kebaikan
100
Bab 99: Bang Jamal Bertobat
101
Bab 100: Ekspansi Usaha & Bantuan dari Orang Tak Terduga
102
# Bab 101 (FINAL): Pengampunan & Kebahagiaan yang Sempurna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!