Episode 4 Benar-benar Asing.

Zahra harus menerima nasibnya tidur di sofa. Karena itu kamar Naldy dan mau tidak mau dia memang harus tidur di sofa dan tidak mungkin di atas tempat tidur dan sementara sang pemilik kamar tidur di sofa.

Dengan berbaring miring dan kedua tangannya disatukan diletakkan di bawah pipinya, wajahnya terlihat sendu, tatapan mata sayu itu penuh dengan kesedihan yang benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan berubah 180 derajat.

Seharusnya malam ini dia masih berada di kamarnya, tidur dengan semua impiannya dan sekarang semua impiannya telah terkubur.

"Engkau tidak mungkin memberi ujian ini dibatas keluar kemampuan hamba, hamba percaya ya Allah, jika ada cerita indah di balik semua ini. Hamba berserah diri kepada mu, hamba yakin engkau pasti akan selalu menemani hamba," batin Zahra dengan perlahan memejamkan mata.

Apa yang bisa dia lakukan kecuali menerima dan pasrah akan takdir yang sudah digariskan kepadanya.

Siapa juga yang ingin menikah dengan laki-laki yang tidak dia cintai, berbicara tentang cinta mungkin Zahra juga tidak mungkin berpacaran, tetapi paling tidak jika ada laki-laki yang menikahinya harus saling mengenal satu sama lain.

Zahra terjebak dalam pernikahan dan belum lagi disalahkan atas apa yang terjadi. Mungkin sudah menjadi nasibnya seperti itu.

****

Malam terlewatkan dengan penuh dramatis, tidak ada hubungan tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan pasangan pengantin pada umumnya.

Naldy benar-benar laki-laki cuek, dingin dan bahkan tidak menegur Zahra, meski berada di dalam kamar yang sama tetapi keduanya seperti orang asing, ketika berpapasan tidak ada tegur sapa satu sama lain. Zahra hanya berusaha menyesuaikan dirinya di kediaman rumah suami.

Untuk pertama kali Zahra mengikuti sarapan bersama keluarga itu. Meski sudah menjadi bagian dari keluarga itu, Zahra tetap memakai cadarnya di saat dirinya sedang makan.

"Kamu tidak kesulitan makan dengan cara seperti itu?" tanya Mila menegur menantunya itu.

Zahra menjawab dengan menggelengkan kepala dan sementara Naldy tidak peduli sama sekali tetap makan di sekolahnya.

"Zahra, saya dengar kamu sedang coast di rumah sakit Citra Medika?" tanya Sastra memastikan.

"Benar, Om," jawab Zahra.

"Artinya kalian berdua sering bertemu? Naldy menjadi Dokter spesialis di rumah sakit keluarga kami," sahut Sastra.

"E ....."

"Saya tidak pernah bertemu dengannya," Naldy langsung memberi jawaban sebelum Zahra menjawab.

Zahra hanya menunduk, dia mungkin lupa jika Naldy sudah mengatakan terlebih dahulu bahwa mereka berdua adalah orang asing dan tidak saling kenal.

"Rumah sakit sangat besar, banyak Dokter coach dan bukan berarti saya pernah bertemu dengan," lanjut Naldy menjelaskan.

"Begitu," sahut Sastra dengan mengangguk-anggukkan kepala.

"Tidak pernah bertemu bagaimana, dia justru yang menjadi pembimbingku," batin Zahra sepertinya memang tidak diizinkan terlalu banyak berbicara dan setiap kali ingin berbicara selalu saja dicegah oleh Naldy.

"Karena tujuan kalian berdua ke rumah sakit yang sama, jadi berangkatlah bersama," sahut Sastra.

Mata Zahra menoleh ke arah Naldy, dia melihat bagaimana ekspresi dari suaminya itu tampak keberatan dan sudah dapat dipastikan tidak menyukainya.

"Om, Zahra kebetulan ada keperluan sebentar sebelum ke rumah sakit, Zahra berangkat sendiri saja," sahut Zahra.

"Kalau begitu biar Naldy akan mengantarkan kamu dan menunggu kamu sebentar dan kemudian kalian bisa berangkat bersama-sama ke rumah sakit," sahut Sastra.

"Aku ada operasi pagi ini jadi tidak bisa ditunda-tunda," jawab Naldy.

"Naldy, wanita yang duduk di samping kamu sekarang ada nggak istri kamu dan sudah seharusnya kamu bisa membagi waktu dan menyesuaikan diri dengan istri kamu," ucap Sastra memberi teguran kepada putranya.

"Sudahlah. Pa, untuk apa juga harus memaksa seseorang jika tidak mau. Mereka berdua sama sekali tidak punya keinginan untuk berangkat bersama dan mereka juga memiliki tujuan yang berbeda sebelum ke rumah sakit. Jadi biarkan saja mereka melaksanakan tujuan mereka, mereka juga baru menikah dan juga penyesuaian," sahut Mila.

"Tetapi penyesuaian tidak akan terjadi jika keduanya tidak mencoba," sahut Sastra.

"Pah, sudah, biarkan mereka melakukan semuanya dengan semau dan cara mereka sendiri," ucap Mila memang tidak ingin ribet.

******

Rumah sakit

Zahra terlihat begitu murung duduk di salah satu kursi dengan wajah tertumpu pada atas meja tersebut.

"Hey!" Zahra sedikit kaget dengan temannya Mutiah yang sudah duduk di depannya dan memperhatikan ekspresi wajah wanita bercadar itu dari tatapan matanya.

"Aku melihat temanku ini tidak baik-baik saja? Ada apa? Apa ada sesuatu hal besar yang mengganggu kamu dan membuat mood kamu berantakan?" tanya Muthia.

"Aku kurang enak badan saja," jawab Zahra.

"Kalau memang kurang enak sebaiknya istirahat dan jangan dipaksakan," ucap Muthia.

"Bagaimana mungkin aku bersantai-santai dan sementara banyak hal yang harus kita kerjakan," ucap Zahra.

"Benar, 15 menit lagi, kita juga akan kembali diuji Dokter Naldy," sahut Muthia.

"Ya sudah sebaiknya kita langsung saja ke ruang operasi, lebih baik kita datang di awal daripada telat satu detik saja dan nanti akan mendapat masalah," ucap Zahra sangat mengetahui bagaimana Dokter penguji mereka yang tak lain adalah suaminya sendiri.

Tetapi karena sudah ada kesepakatan di antara mereka berdua untuk tidak saling memberitahu satu sama lain mengenai pernikahan keduanya secara mendadak dan tidak mungkin Zahra mengungkapkan hal itu kepada temannya.

"Baiklah, ayo!" Muthia menganggukkan kepala dengan setuju dan keduanya meninggalkan tempat tersebut menuju ruang operasi.

Di ruang operasi sudah ada beberapa dokter coast lainnya.

Zahra berada di sana sejak tadi menundukkan kepala dan tidak ingin dekat-dekat dengan Naldy yang saat ini memberi arahan kepada mereka semua dengan suaranya yang terdengar begitu sangat dingin dan pembawaan wajahnya juga sangat menakutkan.

Meski suaminya itu begitu tampan tetapi tetap saja orang-orang jika dekat dengannya seolah-olah nyawa mereka sedang di ujung.

"Kalian perhatikan baik-baik! Saya meminta kalian untuk mengidentifikasi permasalahan apa yang terdapat pada paru-paru pasien. Ingat jangan menjawab sembarangan dan jawab dengan benar-benar sesuai dengan medis yang kalian ketahui!" tegas Naldy.

"Baik Dokter," sahut semuanya dengan menganggukkan kepala dan kemudian mereka mengelilingi tempat tidur pasien dengan pasien yang tidak sadarkan diri berada di sana.

Pasien memang akan melakukan operasi, dan sebelum itu Naldy akan menguji terlebih dahulu anak-anak didiknya itu.

"Zahra hati-hati!" Naldy melihat ke arah salah satu calon Dokter yang terlihat mencegah Zahra saat ingin melakukan sesuatu.

"Kalau kamu menyentuh bagian itu bisa fatal akibatnya, sebelah sini!" pria tersebut bahkan mengajak Zahra untuk berdiri di sisinya agar mereka mendapatkan identifikasi mereka yang lebih baik.

"Saya tidak menyuruh untuk diskusi, jadi pikirkan baik-baik dan bukan banyak cerita," tegur Naldy.

Bagi Naldy setiap apapun yang dilakukan istrinya pasti akan salah menurutnya, sama halnya dengan hari ini, lihatlah bagaimana Naldy langsung merasa sakit mata ketika melihat Zahra.

Padahal istrinya itu tidak melakukan apapun dan hanya rekannya saja memberi teguran dan masukan kepadanya.

"Waktunya sudah selesai. Kalian catat semua hasil analisis kalian dan setelah itu berikan kepada saya, ingat ini secara mandiri dan bukan diskusi!" tegas Naldy.

"Baik Dokter," jawab semuanya dengan serentak.

"Keluar!" titah Naldy membuat mereka semua menundukkan kepala dan langsung pergi.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Ririn Nursisminingsih

Ririn Nursisminingsih

sombong banget kmu dokter naldy semoga bucjn kmu...

2026-03-05

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kekacauan
2 Episode 2 Harus Menjadi Korban
3 Episode 3 Tidak Di Terima
4 Episode 4 Benar-benar Asing.
5 Episode 5 Protes
6 Episode 6 Dia Kembali
7 Episode 7 Tetap Di Salahkan
8 Episode 8 Rencana Poligami
9 Episode 9 Melepas Cadar
10 Episode 10 Memang Harus Melawan.
11 Episode 11 Melawan Zahra
12 Episode 12 Sama-sama Keras
13 Episode 13 Cara Menghadapi Suami
14 Episode 14 Gebrakan Zahra
15 Episode 15 Naldy Merajalela
16 Episode 16 Malam Menyedihkan
17 Episode 17 Sudah Menjadi Takdir
18 Episode 18 Mulai Merasa
19 Episode 19
20 Episode 20 Keputusan
21 Episode 21 Gebrakan Mengejutkan
22 Episode 22 Penegasan
23 Episode 23 Ceramah
24 Episode 24 Apa Ini Cemburu.
25 Episode 25 Sindiran Keras
26 Episode 26 Saling Bertengkar
27 Episode 27 Pembelaan
28 Episode 28 Protes
29 Episode 29 Jawaban Yang Pas.
30 Episode 30 Kekecewaan Seorang Anak
31 Episode 31 Kepanasan.
32 Episode 32 Hati Luluh
33 Episode 33 Banyak Moment
34 Episode 34 Kesepakatan Bersama
35 Episode 35 Pagi Kejutan
36 Episode 36 Merasa Tidak Nyaman.
37 Episode 37 Kebaikan
38 Episode 38 Ranjang Bersama
39 Episode 39 Benar-benar peduli.
40 Episode 40 Canggung.
41 Episode 41 Penegasan Naldy.
42 Episode 42 Memberi Perhatian
43 Episode 43 Pembelaan
44 Episode 44 Candaan
45 Episode 45 Tingkah Suami.
46 Episode Mulai Melawan.
47 Episode 46 Semakin Dekat.
48 Episode 48 Harus Tegas
49 Episode 49 Panik
50 Episode 50 Insiden.
51 Episode 51 Perlakuan Jahat.
52 Episode 52 Penyesalan.
53 Episode 53 Selalu Ada
54 Episode 54 Dia Memberi Pernyataan.
55 Episode 55 Pilihan.
56 Episode 56 Makin Gemes.
57 Episode 57 Suami Panik
58 Episode 58 Apa Memang Mengalah.
59 Episode 59 Pengakuan.
60 Episode 60 Kebahagiaan Pasangan Suami Istri.
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63 Penegasan.
64 Episode 64 Obrolan
65 Episode 65 Rasa Khawatir
66 Episode 66 Romantis
67 Episode 67 Perjuangan Seorang Ibu
68 Episode 68 Cucu Pemberi Kebahagiaan.
69 Episode 69 Menjadi Ibu.
70 Episode 70 Suami Yang Selalu Ada
71 Episode 71 Waktu Bersama.
72 Episode 72 Deg
73 Episode 73 Ini Sulit
74 Episode 74 Rasa Sakit.
75 Episode 75 Keputusan Berat
76 Episode 76 Ancaman
77 Episode 77 Pilihan
78 Episode 78 Penyesalan
79 Episode 78
80 Episode 80 Memulai
81 Episode 81 Setelah
82 Episode 82 Hampir Saja
83 Episode 83 Tidak Mendapatkan Apa-apa
84 Episode 84 Peringatan
85 Episode 85 Bertemu
86 Episode 85 Tidak Bisa Mengelak.
87 Episode 87 Pembicaraan
88 Episode 88 Mengetahui
89 Episode 89 Penegasan
90 Episode 90 Penegasan.
91 Episode 91 Istri Galak.
92 Episode 92 Keputusan.
93 Episode 93 Tidak Menangani
94 Episode 94 Panik.
95 Episode 95 Menolak
96 Episode 96
97 Episode 97 Ternyata.
98 Episode 98
99 Episode 90
100 Episode 100
101 Episode 101 Tammat
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Episode 1 Kekacauan
2
Episode 2 Harus Menjadi Korban
3
Episode 3 Tidak Di Terima
4
Episode 4 Benar-benar Asing.
5
Episode 5 Protes
6
Episode 6 Dia Kembali
7
Episode 7 Tetap Di Salahkan
8
Episode 8 Rencana Poligami
9
Episode 9 Melepas Cadar
10
Episode 10 Memang Harus Melawan.
11
Episode 11 Melawan Zahra
12
Episode 12 Sama-sama Keras
13
Episode 13 Cara Menghadapi Suami
14
Episode 14 Gebrakan Zahra
15
Episode 15 Naldy Merajalela
16
Episode 16 Malam Menyedihkan
17
Episode 17 Sudah Menjadi Takdir
18
Episode 18 Mulai Merasa
19
Episode 19
20
Episode 20 Keputusan
21
Episode 21 Gebrakan Mengejutkan
22
Episode 22 Penegasan
23
Episode 23 Ceramah
24
Episode 24 Apa Ini Cemburu.
25
Episode 25 Sindiran Keras
26
Episode 26 Saling Bertengkar
27
Episode 27 Pembelaan
28
Episode 28 Protes
29
Episode 29 Jawaban Yang Pas.
30
Episode 30 Kekecewaan Seorang Anak
31
Episode 31 Kepanasan.
32
Episode 32 Hati Luluh
33
Episode 33 Banyak Moment
34
Episode 34 Kesepakatan Bersama
35
Episode 35 Pagi Kejutan
36
Episode 36 Merasa Tidak Nyaman.
37
Episode 37 Kebaikan
38
Episode 38 Ranjang Bersama
39
Episode 39 Benar-benar peduli.
40
Episode 40 Canggung.
41
Episode 41 Penegasan Naldy.
42
Episode 42 Memberi Perhatian
43
Episode 43 Pembelaan
44
Episode 44 Candaan
45
Episode 45 Tingkah Suami.
46
Episode Mulai Melawan.
47
Episode 46 Semakin Dekat.
48
Episode 48 Harus Tegas
49
Episode 49 Panik
50
Episode 50 Insiden.
51
Episode 51 Perlakuan Jahat.
52
Episode 52 Penyesalan.
53
Episode 53 Selalu Ada
54
Episode 54 Dia Memberi Pernyataan.
55
Episode 55 Pilihan.
56
Episode 56 Makin Gemes.
57
Episode 57 Suami Panik
58
Episode 58 Apa Memang Mengalah.
59
Episode 59 Pengakuan.
60
Episode 60 Kebahagiaan Pasangan Suami Istri.
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63 Penegasan.
64
Episode 64 Obrolan
65
Episode 65 Rasa Khawatir
66
Episode 66 Romantis
67
Episode 67 Perjuangan Seorang Ibu
68
Episode 68 Cucu Pemberi Kebahagiaan.
69
Episode 69 Menjadi Ibu.
70
Episode 70 Suami Yang Selalu Ada
71
Episode 71 Waktu Bersama.
72
Episode 72 Deg
73
Episode 73 Ini Sulit
74
Episode 74 Rasa Sakit.
75
Episode 75 Keputusan Berat
76
Episode 76 Ancaman
77
Episode 77 Pilihan
78
Episode 78 Penyesalan
79
Episode 78
80
Episode 80 Memulai
81
Episode 81 Setelah
82
Episode 82 Hampir Saja
83
Episode 83 Tidak Mendapatkan Apa-apa
84
Episode 84 Peringatan
85
Episode 85 Bertemu
86
Episode 85 Tidak Bisa Mengelak.
87
Episode 87 Pembicaraan
88
Episode 88 Mengetahui
89
Episode 89 Penegasan
90
Episode 90 Penegasan.
91
Episode 91 Istri Galak.
92
Episode 92 Keputusan.
93
Episode 93 Tidak Menangani
94
Episode 94 Panik.
95
Episode 95 Menolak
96
Episode 96
97
Episode 97 Ternyata.
98
Episode 98
99
Episode 90
100
Episode 100
101
Episode 101 Tammat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!