Episode 5 Protes

"Huhhh, kenapa sih kita sebagai mahasiswa kedokteran sangat tidak beruntung mendapatkan pemimpin seperti itu, selalu berbicara ketus dan ada saja salahnya," protes Muthia terlihat begitu kesal saat mereka semua keluar dari ruang operasi.

"Andai saja tim penguji kita adalah Dokter Ilham, pasti semuanya tidak akan seperti ini," lanjut Muthia.

"Aku juga tidak mengerti mengapa dia semakin galak, sebelum aku menjadi istrinya padahal dia terlihat biasa-biasa saja dan sekarang seolah-olah terus saja aku yang di pojokkan, padahal aku tidak melakukan apa-apa dan seenaknya menegurku," batin Zahra juga menyadari jika suaminya terlalu berlebihan.

"Sudahlah, kita itu adalah calon dokter dan memang mental fisik dan semuanya harus diuji secara matang-matang dan semua ini juga demi kebaikan kita. Dokter tidak akan memberi penilaian tinggi jika apa yang kita kerjakan tidak baik, itu sebaliknya dia juga tidak akan memberikan penilaian rendah jika apa yang kita kerjakan sudah baik. Kita berada di rumah sakit ini untuk belajar dan sebaiknya kita mengikuti aturan yang ada," ucap Ferdi secara bijak.

"Ya sudah sekarang sebaiknya kita siapkan hasil analisis untuk Dokter Naldy. Aku tidak ingin mendapatkan masalah jika sampai terlambat memberikan," sahut Muthia.

"Bagaimana hasil analisis kamu, apa hasilnya?" tahta Ferdi.

"Eits, sudah diberitahu terlebih dahulu tidak ada diskusi dan tidak saling memberitahu satu sama lain, ini benar-benar tugas mandiri!" tegas Muthia.

"Siapa juga yang ingin contekan aku juga tahu jawaban apa yang harus aku berikan," sahut Ferdi.

Sementara Zahra tidak menanggapi kedua temannya itu yang sedang bercanda.

****

Sudah menjadi giliran Zahra memasuki ruangan Dokter Naldy untuk memberikan laporan hasil medis yang baru saja mereka lakukan. Zahra terlihat deg-degan yang sejak tadi berdiri di hadapan suaminya itu yang memeriksa hasil laporannya. Naldy tampak tidak ikhlas memeriksa hasil laporan tersebut dan tiba-tiba saja meletakkan dokumen tersebut cukup kasar di atas meja.

"Kamu niat menjadi Dokter apa tidak?" tanya Naldy.

"Memang kenapa?" Zahra bertanya kembali.

"Kamu masih bertanya? Jawabannya hasil analisis kamu semua salah, tidak ada satupun yang benar tidak seperti teman-teman kamu memberi jawaban yang benar. Jika kamu tidak niat untuk menjadi Dokter, maka berhenti saja dan percuma juga rumah sakit ini memberikan kesempatan kepada orang yang tidak mau belajar!" tegas Naldy.

"Salah, masa iya," batin Zahra tampak begitu sangat tidak yakin.

"Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana mungkin kamu bisa lulus dan sekarang menjadi dokter coast di rumah sakit," Naldy geleng-geleng kepala yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi.

"Jika kamu melakukan satu kesalahan lagi, saya sendiri yang akan meminta kepada tim rumah sakit untuk mengeluarkan kamu. Kamu dengar Zahra jangan mentang-mentang rumah sakit ini adalah milik orang tua saya dan saya tidak berani melakukan itu kepada kamu!" tegas Naldy.

Zahra hanya diam saja ketika mendapat ancaman yang cukup mengerikan, padahal itu hanya masalah sepele dan bukankah dalam pembelajaran juga pasti ada yang salah, tetapi sudah diancam-ancam sangat berlebihan.

"Keluar kamu!" titah Naldy.

Zahra langsung berbalik badan.

"Kamu akan meninggalkan dokumen tidak penting ini di atas meja saya dan hanya mengotori meja saya?"langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa hasil analisis yang dia bawa ternyata masih tertinggal.

Zahra tidak mengatakan apapun dan langsung mengambilnya.

"Huhhh, kenapa Mama punya pikiran untuk menikahkanku dengan dia. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar lepas dari pernikahan ini, aku benar-benar bisa gila!" umpat Naldy dengan kesabarannya yang kerap kali diuji.

Zahra bukan orang yang terima begitu saja ketika hasil yang dia kerjakan dikatakan salah tanpa ada alasan atau penjelasan. Zahra langsung membandingkan hasil analisisnya bersama dengan kedua teman.

"Ada apa Zahra? Apa ada yang salah?" tanya Muthia heran melihat bagaimana Zahra begitu serius sekali.

Zahra tidak menjawab sama sekali yang membuat Muthia dan Ferdi saling melihat satu sama lain kebingungan dengan teman mereka.

Zahra tiba-tiba saja melihat salah satu Dokter muda dan Zahra buru-buru melangkah menghampiri Dokter tersebut membuat Muthia dan Ferdi semakin bingung.

"Ada apa sebenarnya dengannya?" tanya Muthia.

"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Ferdy.

"Dokter Ilham!" panggil Zahra membuat Dokter tersebut menghentikan langkahnya.

"Ada apa Zahra?" tanya Ilham.

"Maaf Dokter, jika saya sudah mengganggu aktifitas Dokter. Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan dan maaf jika saya merepotkan," ucap Zahra merasa begitu sangat tidak enak.

"Kamu katakan saja ada apa?" tanya Ilham.

"Dokter, saya mohon untuk diperiksa, di bagian mana yang salah," Zahra ternyata menunjukkan laporan analisis yang baru saja dia lakukan.

Ilham sepertinya tidak keberatan dan langsung mengambil dokumen tersebut dengan memeriksa secara teliti.

"Kamu menganalisis sendiri?" tanya Ilham.

"Benar, pada salah satu pasien yang akan menjalankan operasi dan saya mencoba untuk memeriksa di bagian paru-parunya," jawab Zahra sedikit gugup dan terus memperhatikan ekspresi dari Dokter tersebut.

"Kamu hebat bisa menyelesaikan analisis dengan baik," ucap Ilham membuat Zahra mengerutkan dahi.

"Maksud Dokter?" tanya Zahra.

"Ini sudah benar Zahra, Saya sedikit tambahkan penjelasan dari analisis kamu dan sudah saya tandai. Kamu terus berjuang agar tetap lulus, rumah sakit ini membutuhkan dokter muda yang memiliki kualitas seperti kamu," ucap Ilham.

Zahra bukannya senang mendapat pujian dan justru kebingungan.

"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu, nanti jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, kamu bisa langsung beritahu saya, saya suka dengan mahasiswa yang ingin mau belajar dan tidak malu untuk bertanya," ucap Ilham.

"Saya tinggal ya," Dokter Ilham langsung pergi meninggalkan Zahra masih dalam kebingungan.

"Tidak ada yang salah, lalu kenapa dia mengatakan bahwa hasil analisisku tidak ada yang benar dan sementara dokter Ilham mengatakan semuanya benar. Ada apa ini? Apa karena dia membenciku jadi membawa masalah ini dalam pekerjaan? tidak profesional?"

Zahra cukup kecewa dengan tindakan Naldy. Naldy benar-benar tidak profesional yang asal-asalan memberikan jawaban kepadanya, untung saja Zahra anaknya pintar dan tidak terima begitu saja yang ingin memastikan.

****

Zahra baru saja pulang ke rumah suaminya dengan masukin kamar, ternyata Naldy sudah ada di sana yang duduk di sofa dengan membaca buku.

Zahra menarik nafas panjang dengan membuang perlahan kedepan dan kemudian mempercepat langkahnya menghampiri Naldy dengan meletakkan dokumen tersebut di atas membuat Naldy mengangkat kepalanya saat cara meletakkan tersebut cukup kasar.

"Apa-apaan kamu?" tanya Naldy.

"Saya yang harus bertanya apa semua ini?" Tanya Zahra.

"Apa maksud kamu?" Naldy bertanya kembali.

"Mengapa mengatakan hasil analisis saya salah dan sementara tidak ada satupun yang salah. Kamu bahkan memberi jawaban begitu saja tanpa menjelaskan di mana letak kesalahannya," ucap Zahra.

Ternyata dia tidak bisa diam seperti itu, ketika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan lebih baik ditanyakan.

"Jangan sok pintar, saya sudah menjadi Dokter cukup lama dalam bidang ahli bedah dan saya tahu apa kesalahan kamu!" tegas Naldy .

"Pengalaman kamu yang lama ternyata tidak menjamin apa-apa," ucap Zahra membuat Naldy mengerutkan dahi.

Kata-kata Zahra mungkin terdengar biasa saja, tetapi bagi Naldy kata-kata seperti itu sangat tidak cocok dikeluarkan dari mulut wanita yang menurutnya sudah menghancurkan hidupnya.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Diana Dwiari

Diana Dwiari

good Zahra,jgn mau ditindas

2026-02-01

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kekacauan
2 Episode 2 Harus Menjadi Korban
3 Episode 3 Tidak Di Terima
4 Episode 4 Benar-benar Asing.
5 Episode 5 Protes
6 Episode 6 Dia Kembali
7 Episode 7 Tetap Di Salahkan
8 Episode 8 Rencana Poligami
9 Episode 9 Melepas Cadar
10 Episode 10 Memang Harus Melawan.
11 Episode 11 Melawan Zahra
12 Episode 12 Sama-sama Keras
13 Episode 13 Cara Menghadapi Suami
14 Episode 14 Gebrakan Zahra
15 Episode 15 Naldy Merajalela
16 Episode 16 Malam Menyedihkan
17 Episode 17 Sudah Menjadi Takdir
18 Episode 18 Mulai Merasa
19 Episode 19
20 Episode 20 Keputusan
21 Episode 21 Gebrakan Mengejutkan
22 Episode 22 Penegasan
23 Episode 23 Ceramah
24 Episode 24 Apa Ini Cemburu.
25 Episode 25 Sindiran Keras
26 Episode 26 Saling Bertengkar
27 Episode 27 Pembelaan
28 Episode 28 Protes
29 Episode 29 Jawaban Yang Pas.
30 Episode 30 Kekecewaan Seorang Anak
31 Episode 31 Kepanasan.
32 Episode 32 Hati Luluh
33 Episode 33 Banyak Moment
34 Episode 34 Kesepakatan Bersama
35 Episode 35 Pagi Kejutan
36 Episode 36 Merasa Tidak Nyaman.
37 Episode 37 Kebaikan
38 Episode 38 Ranjang Bersama
39 Episode 39 Benar-benar peduli.
40 Episode 40 Canggung.
41 Episode 41 Penegasan Naldy.
42 Episode 42 Memberi Perhatian
43 Episode 43 Pembelaan
44 Episode 44 Candaan
45 Episode 45 Tingkah Suami.
46 Episode Mulai Melawan.
47 Episode 46 Semakin Dekat.
48 Episode 48 Harus Tegas
49 Episode 49 Panik
50 Episode 50 Insiden.
51 Episode 51 Perlakuan Jahat.
52 Episode 52 Penyesalan.
53 Episode 53 Selalu Ada
54 Episode 54 Dia Memberi Pernyataan.
55 Episode 55 Pilihan.
56 Episode 56 Makin Gemes.
57 Episode 57 Suami Panik
58 Episode 58 Apa Memang Mengalah.
59 Episode 59 Pengakuan.
60 Episode 60 Kebahagiaan Pasangan Suami Istri.
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63 Penegasan.
64 Episode 64 Obrolan
65 Episode 65 Rasa Khawatir
66 Episode 66 Romantis
67 Episode 67 Perjuangan Seorang Ibu
68 Episode 68 Cucu Pemberi Kebahagiaan.
69 Episode 69 Menjadi Ibu.
70 Episode 70 Suami Yang Selalu Ada
71 Episode 71 Waktu Bersama.
72 Episode 72 Deg
73 Episode 73 Ini Sulit
74 Episode 74 Rasa Sakit.
75 Episode 75 Keputusan Berat
76 Episode 76 Ancaman
77 Episode 77 Pilihan
78 Episode 78 Penyesalan
79 Episode 78
80 Episode 80 Memulai
81 Episode 81 Setelah
82 Episode 82 Hampir Saja
83 Episode 83 Tidak Mendapatkan Apa-apa
84 Episode 84 Peringatan
85 Episode 85 Bertemu
86 Episode 85 Tidak Bisa Mengelak.
87 Episode 87 Pembicaraan
88 Episode 88 Mengetahui
89 Episode 89 Penegasan
90 Episode 90 Penegasan.
91 Episode 91 Istri Galak.
92 Episode 92 Keputusan.
93 Episode 93 Tidak Menangani
94 Episode 94 Panik.
95 Episode 95 Menolak
96 Episode 96
97 Episode 97 Ternyata.
98 Episode 98
99 Episode 90
100 Episode 100
101 Episode 101 Tammat
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Episode 1 Kekacauan
2
Episode 2 Harus Menjadi Korban
3
Episode 3 Tidak Di Terima
4
Episode 4 Benar-benar Asing.
5
Episode 5 Protes
6
Episode 6 Dia Kembali
7
Episode 7 Tetap Di Salahkan
8
Episode 8 Rencana Poligami
9
Episode 9 Melepas Cadar
10
Episode 10 Memang Harus Melawan.
11
Episode 11 Melawan Zahra
12
Episode 12 Sama-sama Keras
13
Episode 13 Cara Menghadapi Suami
14
Episode 14 Gebrakan Zahra
15
Episode 15 Naldy Merajalela
16
Episode 16 Malam Menyedihkan
17
Episode 17 Sudah Menjadi Takdir
18
Episode 18 Mulai Merasa
19
Episode 19
20
Episode 20 Keputusan
21
Episode 21 Gebrakan Mengejutkan
22
Episode 22 Penegasan
23
Episode 23 Ceramah
24
Episode 24 Apa Ini Cemburu.
25
Episode 25 Sindiran Keras
26
Episode 26 Saling Bertengkar
27
Episode 27 Pembelaan
28
Episode 28 Protes
29
Episode 29 Jawaban Yang Pas.
30
Episode 30 Kekecewaan Seorang Anak
31
Episode 31 Kepanasan.
32
Episode 32 Hati Luluh
33
Episode 33 Banyak Moment
34
Episode 34 Kesepakatan Bersama
35
Episode 35 Pagi Kejutan
36
Episode 36 Merasa Tidak Nyaman.
37
Episode 37 Kebaikan
38
Episode 38 Ranjang Bersama
39
Episode 39 Benar-benar peduli.
40
Episode 40 Canggung.
41
Episode 41 Penegasan Naldy.
42
Episode 42 Memberi Perhatian
43
Episode 43 Pembelaan
44
Episode 44 Candaan
45
Episode 45 Tingkah Suami.
46
Episode Mulai Melawan.
47
Episode 46 Semakin Dekat.
48
Episode 48 Harus Tegas
49
Episode 49 Panik
50
Episode 50 Insiden.
51
Episode 51 Perlakuan Jahat.
52
Episode 52 Penyesalan.
53
Episode 53 Selalu Ada
54
Episode 54 Dia Memberi Pernyataan.
55
Episode 55 Pilihan.
56
Episode 56 Makin Gemes.
57
Episode 57 Suami Panik
58
Episode 58 Apa Memang Mengalah.
59
Episode 59 Pengakuan.
60
Episode 60 Kebahagiaan Pasangan Suami Istri.
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63 Penegasan.
64
Episode 64 Obrolan
65
Episode 65 Rasa Khawatir
66
Episode 66 Romantis
67
Episode 67 Perjuangan Seorang Ibu
68
Episode 68 Cucu Pemberi Kebahagiaan.
69
Episode 69 Menjadi Ibu.
70
Episode 70 Suami Yang Selalu Ada
71
Episode 71 Waktu Bersama.
72
Episode 72 Deg
73
Episode 73 Ini Sulit
74
Episode 74 Rasa Sakit.
75
Episode 75 Keputusan Berat
76
Episode 76 Ancaman
77
Episode 77 Pilihan
78
Episode 78 Penyesalan
79
Episode 78
80
Episode 80 Memulai
81
Episode 81 Setelah
82
Episode 82 Hampir Saja
83
Episode 83 Tidak Mendapatkan Apa-apa
84
Episode 84 Peringatan
85
Episode 85 Bertemu
86
Episode 85 Tidak Bisa Mengelak.
87
Episode 87 Pembicaraan
88
Episode 88 Mengetahui
89
Episode 89 Penegasan
90
Episode 90 Penegasan.
91
Episode 91 Istri Galak.
92
Episode 92 Keputusan.
93
Episode 93 Tidak Menangani
94
Episode 94 Panik.
95
Episode 95 Menolak
96
Episode 96
97
Episode 97 Ternyata.
98
Episode 98
99
Episode 90
100
Episode 100
101
Episode 101 Tammat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!