The Petals Bride

The Petals Bride

Terlambat ke Sekolah

^^^SEASON I^^^

Senin, hari yang sangat Ziyara benci, ia sangat malas dengan upacara bendera. Dengan malas ia pun bangun dan menuju kamar mandi yang berada di area dapur rumahnya, ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai menyirami badannya dengan air yang terasa sangat sejuk pagi itu.

Tak sampai 10 menit Ziyara pun selesai dan segera memakai seragam putih abu-abunya kemudian langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Di perjalan menuju halte, tiba tiba ia teringat jika HPnya tertinggal dan ia harus kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya. Alhasil dia ketinggalan angkot dan berujung terkena hukuman karena terlambat.

“Kenapa terlambat?” Suara dingin menginterupsi telinga Ziyara.

Ziyara hanya diam dan menundukkan kepalanya, tapi sekali lagi suara dingin itu menyapa telinganya dengan sedikit bentakan. “Gak punya telinga kamu? Saya di depan kamu, bukan di bawah kaki kamu!"

Perlahan Ziyara mengangkat kepalanya dan langsung menatap mata guru yang membentaknya tadi. Mata mereka saling beradu tatap, dan jangan katakan bagaimana jantung gurunya itu.

“Ma—maaf Pak Evan, saya telat karena nungguin angkot,” jawab Ziyara yang sudah berlinangan air mata.

Ingin sekali rasanya Evan mendekap tubuh gadis yang sudah ia cap sendiri sebagai gadisnya ini, mengusap air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Tapi ia harus menahannya dulu, nanti baru ia akan beraksi.

Evan memutuskan tatapannya pada Ziyara dan menyuruh muridnya untuk membersihkan halaman yang berada di belakang gudang. Ziyara yang tak terima pun memberanikan dirinya untuk protes.

“Yang lain bersihin halaman yang di depan sekolah, kok saya bersihin yang di belakang gudang, Pak?”

“Kenapa? Kok kamu yang ngatur?” gas si Evan.

“Saya takut Pak, di sana sepi, enggak ada orang yang pernah ke sana,” cicit Ziyara.

Memang ini tujuan Evan, ingin berduaan dengan gadisnya.

“Saya yang awasi kamu, sekarang ambil peralatannya dan langsung ke halaman belakang gudang, jangan banyak alasan,” titah Evan.

Ziyara segera pergi dari hadapan Evan dengan menghentak-hentakkan kakinya dan mulut yang komat-kamit.

Evan semakin gemas melihat tingkah Ziyara yang sangat lucu di matanya.

“Akhirnya, bisa berduaan juga sama kamu,” Evan membatin kegirangan dan memegang area pahanya yang entah kenapa selalu berdenyut jika melihat atau berada di dekat Ziyara.

Sudah 15 menit Ziyara asik menyapu dedaunan kering dengan perasaan takut, karena gudangnya terletak jauh di belakang area sekolah, mulutnya sibuk memaki Evan yang tak kunjung datang.

Karena terlalu asik memaki sang guru sambil menyapu sampah, ia sampai tak sadar jika di depannya terdapat lubang dan akhirnya kakinya pun terperosok ke dalam lubang itu.

“Ahhh ... shhh ... aduuh sakit banget!!”  Ziyara mengaduh kesakitan sambil mengangkat keluar kakinya dari lubang dengan suara isakan yang keluar dari mulutnya.

Evan yang baru datang dengan membawa minuman dingin pun terkejut melihat Ziyara yang terduduk dengan kaki lecet dan bengkak sambil menangis.

“Hey, kamu kenapa?” Tanya Evan khawatir.

“Bapak ke mana aja sih, katanya mau nemenin saya, saya dari tadi nungguin karena takut sampe-sampe kaki saya masuk ke lubang!” jawab Ziyara sesenggukan.

Evan yang tak tahan pun langsung mendekap tubuh Ziyara yang bergetar karena menangis, ia mengusap-usap punggung gadisnya dan mengecup pucuk kepala Ziyara.

“Maaf ya, saya tadi di panggil sama kepala sekolah sebentar, terus beliin kamu minuman.”

Ziyara masih menangis dalam pelukan Evan, Evan pun semakin mengeratkan pelukannya pada Ziyara. “Udah ya, saya minta maaf.”

Ziyara langsung melepaskan dirinya dari pelukan Evan.

“Ma-maaf, Pak.”

“Maaf kenapa? Hm?” tanya Evan sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Ziyara.

“Udah, Pak, nanti ada yang lihat.”

“kalau enggak ada yang lihat?”

“Hah?”

CUPPPPHHH!!!!

“Manis,” kata Evan sambil menjilat bibirnya sendiri.

Ziyara yang terkejut mendapati perlakuan Evan itu pun langsung ingin berdiri dan pergi dari sana, tapi ia melupakan kakinya yang sedang sakit.

“Awhhh.”

“Kamu ngapain tiba tiba berdiri? Udah tau kakinya sakit,” ujar Evan.

“Awas, enggak usah pegang-pegang!” marah Ziyara.

Evan tak mendengarkan Ziyara, ia tetap memegang pergelangan Ziyara.

“Kamu kenapa?”

“Bapak yang kenapa?”

“Loh, kok saya? Saya kenapa?”

“KENAPA BAPAK CIUM SAYA?” teriak Ziyara.

Ziyara semakin memberontak saat Evan memegang tangannya dan ingin memeluknya lagi.

“Hey, tenang Ziya,” tutur Evan mencoba menenangkan Ziyara sambil memeluk tubuhnya.

“Bapak jahat!” ucap Ziyara dengan tangan memukul dada Evan.

“Iya saya jahat, maaf lagi, ya.”

“Gak mau maafin, saya mau ke kelas.”

Evan melepaskan pelukannya pada Ziyara dan menangkup wajah Ziyara.

“Masih mau ke kelas dengan muka berantakan gini? Mata sembab, hidung merah, kaki juga luka sama bengkak, hm?” tanya Evan.

“Ini semua kan gara gara bapak, bapak bentak saya tadi pagi, terus biarin saya sendirian bersihin halaman gudang, kaki saya masuk ke lubang juga gara gara bapak, terus tadi bapak malah cium-cium saya!” omel Ziyara.

Evan tersenyum melihat Ziyara mengomel, tangannya terangkat untuk mencubit pipi chubby Ziyara.

“Kenapa gemes gini kalau ngomel?”

“Bapak ih, enggak usah pegang-pegang saya terus!"

“Ya, udah.”

Evan pergi meninggalkan Ziyara sendirian lagi di sana, baru beberapa langkah, ia mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut gadisnya.

Evan berbalik lagi menuju ke arah Ziyara.

“Hiks ... Hiks!”

Ziyara menangis dengan wajah tertutup telapak tangan, tanpa aba-aba Evan langsung mengendong Ziyara ala bridal style.

“Aaaa! Bapak, kenapa saya di gendong? Turunin ih, nanti dilihatin orang Pak.”

“Diem Ziya, atau saya cium lagi bibir kamu yang manis itu.”

Ziyara langsung terdiam dan kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia takut menjadi bahan omongan semua murid dan guru-guru karena sekarang dia berada dalam gendongan guru paling hot di sekolah ini, tapi ia tidak mendengar apa pun , kenapa sunyi sekali batinnya.

Ternyata semua orang sedang melakukan proses belajar mengajar, tidak ada satu pun yang berada di luar kelas. Hanya beberapa menit saja tiba tiba tubuhnya seperti melayang dan merasakan seperti berbaring di atas kasur. Ziyara membuka matanya dan benar saja, ia memang berbaring di atas kasur yang berada di UKS.

“Enggak usah ngomong, enggak usah banyak nanya, saya obatin dulu kaki kamu.”

Ziyara hanya menurut, ia memperhatikan berapa telatennya Evan mengobati lukanya.

“Shh ... pelan, Pak, sakit kalau di pencet gitu!”

“Iyaa, Ziya.”

“Pak?”

“Pak?”

“Bapak?” panggil Ziyara lagi sedikit keras.

“Apa Ziyaaaa?”

“Bapak kenapa manggil nama saya Ziya?” tanya Ziyara.

“Kan mulut saya, suka suka saya lah, kenapa emangnya? Enggak suka di panggil Ziya? Atau mau di panggil Sayang?”

“Ih, apaan sih Bapak, enggak ada yang manggil saya Ziya kecuali bapak.”

PLUK!!!

Evan menyentil jidat Ziyara.

“Aduh, sakit tau Pak, bapak kenapa, sih?” tanya Ziyara.

Evan mendekatkan mulutnya ke telinga Ziyara dan membisikkan sesuatu.

“Saya suka sama kamu, Ziya.”

“Saya enggak bercanda,” sambung Evan.

Ziyara mendorong tubuh Evan dan menatap lekat wajah gurunya itu.

“Bapak gila, ya?”

“Tergila gila sama kamu!” jawab Evan dengan entengnya.

“Bapak udah punya istri kalau bapak lupa.”

“Saya enggak lupa, Ziya.”

Ziyara memiringkan badannya ke arah tembok dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Keluar Pak, saya mau istirahat. Makasih udah nolongin saya!” ucap Ziyara.

Evan mengusap rambut Ziyara dan mengecup pucuk kepalanya.

“I love you,” ucap Evan dan langsung pergi meninggalkan Ziyara.

Terpopuler

Comments

$u$!

$u$!

ihhh kok kayak guruku waktu smk guru olahraga sama muridnya sendiri alhasil dinikahin juga karena hamidun 🙈🙈🙈🙈

2025-12-11

1

lihat semua
Episodes
1 Terlambat ke Sekolah
2 Apartemen Pak Evan
3 Istirahat Sejenak
4 Kesetiaan Seorang Istri
5 Jangan Lari, Ziyara!
6 Awal Permulaan
7 I Love You
8 Jam Istirahat
9 Cemburu Buta
10 Aku Hamil, Mas!
11 Lebih Baik Aku Pergi
12 Jangan Pergi Lagi, Ziyara!
13 Kembali Belajar
14 Aku Pulang!
15 Ziyara Hamil
16 Hamil Muda
17 Menjemput Sabina
18 Kamu Pasti Kuat, Sabina!
19 Mati Satu Tumbuh Seribu
20 Mari Bercerai, Sabina!
21 Selamat Tinggal, Sabina!
22 Tetangga Baru
23 Aku Juga Pernah Jadi Istrimu!
24 Sembilan Bulan
25 Gantengnya Anak Papa!
26 Mati Lampu
27 Rumah Sabina
28 Karma
29 Bu Guru Selena
30 Menginap di Rumah Oma
31 Halaman Rumah
32 Mama Mertua
33 Bill si Anak Nakal
34 Suami Baru Sabina
35 Main Basket
36 Elisabeth Lapar, Pi!
37 Anak Tetangga
38 Berdamai
39 Rujak
40 Adik Baru
41 Jangan Pisahkan Aku, Mas!
42 Bill & Elisabeth
43 Pembantu Baru
44 Balas Dendam
45 Penyesalan
46 Jangan Pergi Lagi, Ziya!
47 Jangan Marah, Mom!
48 Puasa Dulu
49 Sabar Dong, Mas!
50 Bill Takut, Ma!
51 Kejutan dari Bill
52 Daring
53 Melepas Rindu
54 Tak Tergantikan
55 Saudara Sepupu Evan
56 Titip Anak Kita, Ma!
57 Dari Bill untuk Mommy
58 Mobil & Perhiasan
59 Undangan Reoni SMA
60 Sannu Sang Ketua Osis
61 Hukuman untuk Ziyara
62 Cemburu Buta Evan
63 Coco Melon
64 Bolehkah Bill Pergi, Mom?
65 Kunjungan Ratu Elisabeth
66 Maafkan Aku Elisabeth
67 Cinta Lama Bersemi di Kamar
68 Salah Bill, Salah!
69 Maafkan Mommy, Nak!
70 Sekedar Rekan Bisnis
71 Anak Kembar
72 Buah Jambu
73 Kepulangan Bill
74 Selesai
75 PENGUMUMAN
76 Pengantin Baru
77 Cepatlah Punya Momongan!
78 Konsultasi Dokter Bobboy
79 Memiliki Keturunan
80 Sosok Misterius
81 Pertemuan di Kantin
82 Menyambut Pagi
83 Terapi Alternatif
84 Abah Zulkifli
85 Garis Keturunan
86 Ritual
87 Pangeran Kedua
88 Daddy Evan
89 Aril Sang Jelita
90 Welcome, Bill!
91 Buka Pintunya
92 Bang Bill Tercinta
93 Pembantu Baru Bill
94 Bi Inul Pulang!
95 Konsultasi Dr. Bobboy II
96 Bukan Dokter Kandungan
97 Teman Kuliah
98 Ayo Gas, Ayo Gas!
99 Tukang Sayur
100 Gelora Pak Usman
101 Selamat Jalan, Mama!
102 Najjah
103 Tuhan Maha Mengetahui
104 Ayo Pergi, Najjah!
105 4 Bulan Lamanya
106 Hukuman untuk Pengintip
107 Sebelum Masak
108 Bill & Najjah
109 Gagahnya Daddy
110 Menantu Terbaik
111 Kehamilan Najjah
112 Test Pack
113 Help Me, Daddy!
114 Kepergok Bik Sawitun
115 155 Cm
116 Pijat Panggilan
117 Segelas Air
118 Kang Sumirno
119 Pak Tua
120 Menjengguknya
121 Taufan
122 Selamat Datang Suamiku
123 Jepit & Sakit
124 Pecah Ketuban
125 Pernikahan
126 Malam Pertama Daddy
127 Pengintip
128 Di Seberang Pulau
129 Berita Kematian
130 Bill Kecelakaan
131 Malam Temaram
132 Kematian Bill
133 7 Hari
134 Belum Genap 40 Hari
135 Cesar
136 Kembali ke Rumah
137 Taufan & Ellisabeth
138 Mertua Durjana
139 Maafkan Anak Daddy
140 Mang Sumanto
141 Jam Terbang
142 Istri Baru Evan
143 Malam Ritual
144 Guru Pak Guru
145 Guru Tercinta
146 Pelumas Alami
147 T A M A T
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Terlambat ke Sekolah
2
Apartemen Pak Evan
3
Istirahat Sejenak
4
Kesetiaan Seorang Istri
5
Jangan Lari, Ziyara!
6
Awal Permulaan
7
I Love You
8
Jam Istirahat
9
Cemburu Buta
10
Aku Hamil, Mas!
11
Lebih Baik Aku Pergi
12
Jangan Pergi Lagi, Ziyara!
13
Kembali Belajar
14
Aku Pulang!
15
Ziyara Hamil
16
Hamil Muda
17
Menjemput Sabina
18
Kamu Pasti Kuat, Sabina!
19
Mati Satu Tumbuh Seribu
20
Mari Bercerai, Sabina!
21
Selamat Tinggal, Sabina!
22
Tetangga Baru
23
Aku Juga Pernah Jadi Istrimu!
24
Sembilan Bulan
25
Gantengnya Anak Papa!
26
Mati Lampu
27
Rumah Sabina
28
Karma
29
Bu Guru Selena
30
Menginap di Rumah Oma
31
Halaman Rumah
32
Mama Mertua
33
Bill si Anak Nakal
34
Suami Baru Sabina
35
Main Basket
36
Elisabeth Lapar, Pi!
37
Anak Tetangga
38
Berdamai
39
Rujak
40
Adik Baru
41
Jangan Pisahkan Aku, Mas!
42
Bill & Elisabeth
43
Pembantu Baru
44
Balas Dendam
45
Penyesalan
46
Jangan Pergi Lagi, Ziya!
47
Jangan Marah, Mom!
48
Puasa Dulu
49
Sabar Dong, Mas!
50
Bill Takut, Ma!
51
Kejutan dari Bill
52
Daring
53
Melepas Rindu
54
Tak Tergantikan
55
Saudara Sepupu Evan
56
Titip Anak Kita, Ma!
57
Dari Bill untuk Mommy
58
Mobil & Perhiasan
59
Undangan Reoni SMA
60
Sannu Sang Ketua Osis
61
Hukuman untuk Ziyara
62
Cemburu Buta Evan
63
Coco Melon
64
Bolehkah Bill Pergi, Mom?
65
Kunjungan Ratu Elisabeth
66
Maafkan Aku Elisabeth
67
Cinta Lama Bersemi di Kamar
68
Salah Bill, Salah!
69
Maafkan Mommy, Nak!
70
Sekedar Rekan Bisnis
71
Anak Kembar
72
Buah Jambu
73
Kepulangan Bill
74
Selesai
75
PENGUMUMAN
76
Pengantin Baru
77
Cepatlah Punya Momongan!
78
Konsultasi Dokter Bobboy
79
Memiliki Keturunan
80
Sosok Misterius
81
Pertemuan di Kantin
82
Menyambut Pagi
83
Terapi Alternatif
84
Abah Zulkifli
85
Garis Keturunan
86
Ritual
87
Pangeran Kedua
88
Daddy Evan
89
Aril Sang Jelita
90
Welcome, Bill!
91
Buka Pintunya
92
Bang Bill Tercinta
93
Pembantu Baru Bill
94
Bi Inul Pulang!
95
Konsultasi Dr. Bobboy II
96
Bukan Dokter Kandungan
97
Teman Kuliah
98
Ayo Gas, Ayo Gas!
99
Tukang Sayur
100
Gelora Pak Usman
101
Selamat Jalan, Mama!
102
Najjah
103
Tuhan Maha Mengetahui
104
Ayo Pergi, Najjah!
105
4 Bulan Lamanya
106
Hukuman untuk Pengintip
107
Sebelum Masak
108
Bill & Najjah
109
Gagahnya Daddy
110
Menantu Terbaik
111
Kehamilan Najjah
112
Test Pack
113
Help Me, Daddy!
114
Kepergok Bik Sawitun
115
155 Cm
116
Pijat Panggilan
117
Segelas Air
118
Kang Sumirno
119
Pak Tua
120
Menjengguknya
121
Taufan
122
Selamat Datang Suamiku
123
Jepit & Sakit
124
Pecah Ketuban
125
Pernikahan
126
Malam Pertama Daddy
127
Pengintip
128
Di Seberang Pulau
129
Berita Kematian
130
Bill Kecelakaan
131
Malam Temaram
132
Kematian Bill
133
7 Hari
134
Belum Genap 40 Hari
135
Cesar
136
Kembali ke Rumah
137
Taufan & Ellisabeth
138
Mertua Durjana
139
Maafkan Anak Daddy
140
Mang Sumanto
141
Jam Terbang
142
Istri Baru Evan
143
Malam Ritual
144
Guru Pak Guru
145
Guru Tercinta
146
Pelumas Alami
147
T A M A T

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!