Malam ini ada begitu banyak tamu yang datang untuk menghadiri acara amal. Sebagian besar adalah kolega bisnis yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik Gavin, beberapa lagi berasal dari kalangan politisi dan juga selebritas. Sisanya adalah para pengusaha ternama yang suka melakukan kegiatan positif yang berkaitan dengan donasi amal.
Malam amal ini adalah acara tahunan yang selalu diadakan oleh perusahaan Gavin, Natama Group.
Nantinya akan ada beberapa barang yang akan dilelang. Hasil dari pelelangan akan disumbangkan kepada yayasan-yayasan amal.
Evelyn terlihat menggandeng tangan Gavin ketika turun dari mobil. Tentu saja malam ini ia harus berperan sebagai seorang istri yang baik demi menjaga citra suaminya dimata publik.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Adhitama. Anda terlihat sangat memukau malam ini." sapa seorang pria sembari mencium punggung tangan Evelyn sebagai bentuk kesopanan.
"Terima kasih, Tuan Rudi. Anda terlalu memuji saya. Saya mungkin akan besar kepala." ucap Evelyn beramah-tamah sambil menyenderkan kepalanya di lengan suaminya.
Rudi seketika menatap Gavin yang tampak masam. Terlihat jelas rasa ketidaksukaan di wajahnya.
"Maafkan, Tuan!" ia tampak terkekeh kecil. "Anda tidak mungkin cemburu pada saya, kan?" tanyanya dengan perasaan was-was.
Wajahnya yang mulai memunculkan tanda-tanda penuaan seketika tampak pucat pasi. Seakan aliran darah ke otaknya terhenti seketika.
Pria berusia lima puluh tahunan itu adalah direktur keuangan di perusahaannya. Ia menatap wajah Gavin yang kini menatapnya tajam. Seolah ingin membelahnya menjadi dua bagian.
"Hmm.." ia hanya berdehem untuk menjawab pertanyaannya.
Pria paruh baya itu tampak sedikit lega. Dan buru-buru berpamitan pada mereka.
Setelah kepergian pria itu, Evelyn tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan. Tatapan mata suaminya yang setajam pisau memang bisa membuat orang-orang yang melihatnya berlari ketakutan. Kecuali dirinya sendiri.
"Apa kau tidak bisa menarik sudut bibir mu itu sedikit, suamiku? Pria tua itu mungkin memiliki jantung yang lemah. Jika kau menatapnya seperti itu, ia mungkin bisa terkena serangan jantung mendadak."ucapnya dengan nada bercanda.
Gavin meliriknya tajam. Pria itu memang tidak mempunyai selera humor sedikitpun. Wajahnya selalu sinis seakan-akan semua orang di dunia ini adalah musuhnya.
Bahkan Evelyn sendiri tak pernah melihat senyuman di bibirnya suaminya itu. Evelyn jadi bertanya-tanya, apa mungkin sewaktu lahir ia juga tidak menangis.
Evelyn dan suami "dingin" nya itu, duduk di kursi paling depan bersama beberapa kolega penting lainnya. Semua orang tampak menaruh hormat padanya. Beberapa dari mereka tentu saja menginginkan sebuah "keuntungan" dari Gavin dengan mengikuti acara amal ini. Keuntungan yang bisa membuat bisnis mereka menjadi lancar.
Evelyn terkadang juga bertanya-tanya mengenai bisnis suaminya. Tetapi jangkauan otaknya tidak seluas itu sehingga bisa memahami inti dari bisnis yang dijalankan oleh Gavin.
Yang terpenting baginya hanyalah uang. Selama Gavin memberikannya uang, maka yang lainnya tidaklah penting.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Acara malam itu berlangsung lancar. Tetapi membuat rahang Evelyn seketika menjadi kaku. Ia tak berhenti menebar senyumannya sedari tadi. Menunjukkan keramah-tamahan pada semua orang yang menyapanya.
Menjadi istri konglomerat ternyata tidaklah mudah. Namun itu sebanding dengan harga yang kau dapatkan.
Kini Gavin tengah berbincang dengan beberapa koleganya. Sementara Evelyn tampak berbaur dengan para istri.
Evelyn memang sudah biasa berkumpul dengan mereka karena ia mengikuti acara arisan yang mereka adakan setiap satu bulan sekali.
Kepribadian Evelyn yang extrovert, membuatnya mampu untuk beradaptasi dengan orang-orang baru dengan cepat. Bahkan keberadaannya selalu dinantikan dimana-mana. Mempererat banyak relasi sebelum berpisah juga tidak ada ruginya, bukan.
Ia mungkin bisa memanfaatkan mereka suatu hari nanti. Mungkin untuk memulai bisnisnya sendiri. Karena beberapa dari mereka juga adalah seorang pembisnis.
"Maaf karena saya tidak bisa hadir di acara kemarin, Nyonya Rita. Anak saya mendadak harus di rawat di rumah sakit. Saya sangat panik, sehingga tidak sempat memberi kabar." jelas wanita yang memakai gaun biru coral itu dengan raut wajah bersalah.
"Tidak apa-apa, Nyonya Cintya. Saya paham sekali. Saya juga seorang ibu, jadi saya tahu pasti bagaimana kalutnya ketika anak kita sakit." ucap wanita bernama Rita itu.
Yang lain tampak mengangguk membenarkan ucapan Rita.
Evelyn tampak jengah di tengah pembahasan antusias mereka. Dari semua wanita yang ada, hanya Evelyn yang tidak mempunyai anak.
Untuk seorang ibu, pembicaraan tentang tumbuh kembang anak-anak mereka pasti menjadi topik pembicaraan paling utama. Kedua, tentu saja tentang rumor-rumor panas yang terjadi di sekelilingnya.
"Ah, maafkan kami Nyonya Evelyn. Kami terlalu antusias jika membicarakan perihal anak-anak kami." pinta Rita ketika sadar jika mereka melupakan Evelyn karena larut dalam pembicaraan mereka.
"Astaga! Saya juga minta maaf, Nyonya." pinta Cintya diikuti dengan wanita-wanita lainnya yang tak mau kalah.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti." Evelyn tampak memaksakan senyumnya sekali lagi.
"Maaf sebelumnya, apakah kau sudah ada tanda-tanda kehamilan?" tanya seorang wanita pada Evelyn.
Pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakan berulang-ulang padanya. Ia bahkan sudah terlihat jenuh mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak bisa menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu pada semua orang. Demi citra suaminya.
"Kenapa kau menanyakan hal yang sangat sensitif seperti itu, Nyonya Sandra? Itu tidak etis untuk ditanyakan kepada seseorang." Rita terdengar kesal.
Sandra berubah panik ketika menyadari kesalahannya. Mulutnya yang sering kelepasan bicara memang selalu membuatnya kesulitan. Apalagi mengingat jika suaminya masih mempunyai sisa cicilan pinjaman uang dari Gavin. Jika Evelyn tersinggung itu akan berdampak kepada perusahaan yang dimiliki oleh suaminya.
"Tidak apa-apa, Nyonya Rita. Mungkin Nyonya Sandra hanya mencemaskan keadaan saya saja." lagi-lagi Evelyn tampak tersenyum ramah pada mereka.
"Tuan Gavin pasti sangat sibuk. Mungkin kalian berdua bisa mulai merencanakan bulan madu kedua." saran Cintya.
"Iya, aku akan membicarakannya dengan suamiku nanti." ia tertawa masam.
Hah! Sungguh melelahkan! Bagaimana aku bisa hamil, jika Gavin tidak pernah sekalipun menyentuhku. Batinnya menggerutu.
Mereka lalu melanjutkan pembicaraan ke topik pembahasan yang lain. Namun di sela-sela pembicaraan mereka, tiba-tiba saja Evelyn merasakan sakit di kepalanya.
"Arghhh.." ia mendesah kesakitan sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat.
"Astaga! Apa kepalamu sakit, Nyonya?" tanya Cintya cemas.
"Iya." jawab Evelyn.
"Apa perlu ku panggilkan Tuan Gavin?" timpal Rita memberikan saran.
"Hmm... Tidak perlu, Nyonya. Ku rasa aku hanya kurang tidur." cegah Evelyn berusaha menenangkan suasana yang tiba-tiba menjadi kalut.
"Apa tidak sebaiknya anda pulang saja dan beristirahat? Acaranya juga akan segera berakhir." Rita memberikan saran.
"Hmm... Aku rasa—" kalimatnya seketika terhenti.
Pandangannya seketika menjadi kabur, tubuhnya terasa lemas. Ia tampak terhuyung ke belakang, namun dengan cepat seseorang merengkuh pinggangnya—menahannya agar tak jatuh ke lantai.
Samar-samar ia melihat sosok familiar yang dikenalnya.
Gavin.
Pria itu mengangkat tubuhnya. Evelyn sontak terkejut melihat tindakan impulsif yang dilakukan oleh Gavin.
"Apa kau sakit?" Gavin bertanya dengan nada cemas — tetapi raut wajahnya tetap terlihat datar tanpa ekspresi
Sungguh! Kau sama sekali tidak pandai berakting. Keluh Evelyn dalam hati sambil memutar bola matanya kesal.
"Kepala ku tiba-tiba terasa sakit." Evelyn tetap menjawab pertanyaannya. Sesekali ia tampak memijat pelipisnya yang terasa berat.
"Kalau begitu sebaiknya kita pulang agar kau bisa beristirahat." Ucapnya tiba-tiba melembut—membuat orang-orang disekelilingnya menatapnya dengan pandangan iri dan kagum.
Gavin lalu membawa Evelyn pergi dari sana. Seketika semua tatapan para tamu yang hadir tertuju pada mereka.
Aroma Musk yang menyeruak dari tubuh Gavin, begitu menusuk di indra penciumannya, membuat perutnya kembali merasa mual. Padahal sebelumnya, ia sangat menyukai aroma tersebut, karena mengingatkannnya pada seseorang.
"Kenapa aroma tubuhmu begitu menyengat? Apa kau mandi dengan sebotol parfum?" Evelyn mencibirnya secara terang-terangan.
Namun Gavin hanya menanggapi cibiran itu dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
"Astaga! Aku hanya bercanda." sanggah Evelyn dengan cepat.
Gavin seketika menautkan kedua alisnya. Menatap Evelyn dengan pandangan yang cukup intens.
"Kenapa menatapku begitu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Evelyn kebingungan.
"Apa akhir-akhir ini nafsu makanmu bertambah?" tanya Gavin.
"Hah! Tidak. Kenapa kau bertanya begitu?" wanita itu tampak terkejut keheranan mendengarnya.
"Tubuhmu berat juga." Cibir Gavin dengan sengaja. Mungkin ingin membalas perkataan Evelyn tadi.
"Apa???" Evelyn seketika membulatkan kedua matanya karena merasa tidak terima dengan perkataannya.
Billy yang sudah standby sejak tadi di samping pintu, segera membuka pintu mobil itu ketika melihat kedatangan sepasang suami-istri itu.
Gavin mendudukkan Evelyn di kursi penumpang. Ia bahkan tak perduli dengan raut wajah istrinya yang tampak kesal.
"Aargghhh!!" pekik Gavin mengaduh kesakitan karena Evelyn tiba-tiba menggigit telinga kirinya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau pikir dirimu itu serangga?" Gavin tampak menggerutu sambil mengusap-usap telinganya yang terasa nyeri.
Untuk pertama kalinya, Evelyn bisa melihat ekspresi kemarahan di wajah dingin suaminya. Ia lalu tertawa keras.
"Astaga! Telingamu memerah. Apa mungkin telingamu itu sangat sensitif?" Goda wanita itu menunjuk telinganya.
"Diamlah! Atau kau akan pulang seorang diri malam ini." ancam pria itu.
Evelyn berhenti tertawa. Tetapi tidak berhenti sepenuhnya. Karena kini wajahnya tampak memerah karena berusaha keras menahan tawanya.
Gavin lalu masuk ke mobil. Dan Billy segera melajukan mobilnya menuju apartemen Evelyn.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
MARDONI
Jelas di tekanan batin Evelyn 😭✨ Di luar dia tampil sempurna sebagai istri Gavin, senyum manis, elegan, pandai bergaul sama Nyonya Rita, Cintya, bahkan menghadapi pertanyaan sensitif dari Sandra dengan tenang tapi di dalam hatinya kosong banget. Kalimat batinnya soal nggak mungkin hamil karena Gavin nggak pernah menyentuhnya itu nusuk parah 💔
2026-02-19
0
𑣲𝐿𝓎𝓇𝒶ᴇɴɪɢᴍᴀ
bener evelyn, 1 uang, 2 uang, 3 dan seterusnya ung aja awoskakkaka. katanya uang ga bisa beli kebahagiaan. itu karena uangnya tidak cukup🤣
2026-02-24
0
@dadan_kusuma89
Wahai, Pria! Soal Cemburu atau tidak cemburu itu bukan menjadi tolak ukur untuk yang anda lakukan tadi, yakni mencium tangan istri orang. Bukan berarti kalau suaminya tidak cemburu, itu menjadikan yang anda lakukan dianggap pantas.
2026-02-04
0