Between Love And Lies
"Ambilkan gaun hitamku yang baru saja datang dari Paris dua hari lalu. Aku akan memakainya di acara amal malam ini." Perintah seorang wanita cantik berambut panjang itu dengan arogan kepada pelayan wanitanya.
"Maaf, Nyonya! Tapi.... apa gaun itu tidak terlalu terbuka untuk acara formal seperti ini? Tuan mungkin akan marah jika anda tetap bersikeras untuk mengenakannya." Ucap seorang kepala pelayan wanita mengingatkan dirinya walau dengan penuh keraguan.
Wanita yang dipanggil dengan sebutan "Nyonya" itu lalu tersenyum sinis kearahnya. "Justru itu tujuanku. Jika dia marah, itu malah bagus. Setidaknya aku tahu bahwa suamiku tercinta masih memperhatikan istrinya yang malang ini. Bukankah begitu, Bibi Almira?" Tanyanya dengan nada penuh sindiran kearah kepala pelayan wanita yang ia panggil dengan nama Almira itu.
Bibi Almira hanya tertunduk diam dan tidak berani membantah lagi.
Pelayan tersebut membawakan gaun yang dimaksud kehadapan Evelyn yang sedang duduk di atas ranjangnya. Gaun malam berbahan satin hitam itu memiliki belahan tinggi di paha—menambah kesan dramatis dan sensual saat melangkah.
Bibi Almira terlihat cemas, melihat sikapnya hari ini. Namun ia tak bisa mencegahnya berbuat sesuka hati. Ia tahu betul bagaimana sikap wanita yang dibesarkan sendiri olehnya sejak masih bayi itu, keras kepala dan semaunya sendiri. Seakan segalanya harus berjalan sesuai dengan keinginannya.
Evelyn Valencia Ariesandy, nama wanita itu. Ia memiliki kecantikan yang membuat banyak wanita menjadi iri, kulit putih mulus, dan bentuk tubuh ideal yang cocok mengenakan gaun apapun.
Dua tahun yang lalu, karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga, ia akhirnya menikah dengan seorang pengusaha ternama bernama Gavin Rafael Adhitama.
Presiden direktur dari perusahaan Natama group yang berpengaruh di Asia. Namun, tentu saja pernikahan itu bukanlah pernikahan yang harmonis. Karena tidak ada sedikitpun rasa cinta diantara keduanya.
Pernikahan ini murni terjadi karena perjodohan. Baik Evelyn maupun Gavin tentu punya kepentingan sendiri hingga akhirnya setuju untuk melakukan pernikahan yang hanya akan berlangsung selama tiga tahun saja.
Tentu saja mereka berdua tidak melibatkan pihak luar yaitu kedua keluarga besar, ketika membuat perjanjian pranikah beberapa hari sebelum pernikahan mereka berlangsung. Hal itu mungkin akan merusak semua rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh keduanya.
Ada beberapa poin penting yang mereka cantumkan dalam perjanjian pranikah tersebut.
Pertama, tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing pihak.
Kedua, kedua belah pihak bebas berhubungan dengan siapapun yang mereka kehendaki. Tetapi tentu saja ada syarat khusus yang diajukan oleh Gavin untuk poin ini, yaitu Evelyn tidak boleh sampai hamil dan merusak nama baik Gavin sebagai suaminya. Untuk hal tersebut, Evelyn harus pandai-pandai mencari celah agar tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang kebiasaannya yang suka berpesta bersama teman-temannya di klub malam.
Ketiga, poin terakhir—mereka berdua sepakat untuk membagi beberapa harta setelah bercerai nanti, termasuk pembagian beberapa persen saham di perusahaan Gavin untuk Evelyn sebagai kompensasi setelah resmi bercerai darinya.
Itu bukanlah nominal uang yang sedikit. Mungkin cukup untuk menghidupi dirinya hingga tua nanti. Ia tidak akan kekurangan uang selama hidupnya, bahkan hingga ia memiliki keturunan nantinya.
Karena kesepakatan yang menguntungkan tersebut, Evelyn akhirnya setuju untuk menikah dengan Gavin. Sementara Gavin membutuhkan seorang istri untuk membentengi dirinya sendiri dari gangguan wanita-wanita tak tahu malu yang selalu mengejarnya.
Gavin hanya berkunjung setiap enam bulan sekali ke apartemennya. Itu pun hanya untuk menghadiri acara khusus seperti acara amal yang mereka adakan. Selebihnya keduanya larut dalam kesibukannya masing-masing di tempat terpisah. Gavin tinggal di rumahnya sendiri.
Hari ini Gavin akan kembali untuk menghadiri pesta amal. Ini adalah pesta terakhir yang akan mereka hadiri bersama-sama. Setelah itu, mereka akan segera bercerai enam bulan kemudian.
Evelyn ingin membuat sedikit perubahan untuk merayakannya. Dengan memakai pakaian yang sesuai dengan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ada lagi Evelyn yang sopan dan elegan. Yang ada hanyalah Evelyn yang glamor dan juga seksi.
"Kemarikan gaun itu!" perintahnya kepada pelayan.
"Baik, Nyonya!" ucap pelayan tersebut dengan patuh.
Bibi Almira tampak was-was melihatnya. "Apa anda yakin akan mengenakan gaun itu, Nyonya?" tanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, Bibi! Aku sangat yakin." Evelyn tampak yakin dengan ucapannya.
Evelyn beranjak dari ranjangnya, berdiri di depan sebuah cermin panjang yang berdiri tegak di kamarnya. Menampilkan pantulan seluruh tubuhnya dengan gaun tersebut — penuh percaya diri.
Gaun ini memang cukup terbuka, tapi apa salahnya? Selama dua tahun ini aku selalu menjadi istri "sempurna" untuk Gavin. Malam ini aku ingin ia melihatku sebagai Evelyn—bukan lagi istri sang Presdir ternama.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Ketika para perias sedang mendandani dirinya, Evelyn tiba-tiba merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. Sesuatu yang sepertinya memaksa untuk keluar. Namun ia terlihat berusaha untuk menahannya.
Kenapa perutku tiba-tiba terasa mual? Apa pengaruh alkohol itu masih ada? Batinnya seketika bertanya-tanya.
Ia teringat jika semalaman ia berpesta bersama teman-temannya di klub malam hingga pagi hari. Ia bahkan pulang ke apartemen dalam keadaan tak sadarkan diri karena mabuk berat. Ia dijemput oleh bibi Almira dan juga supirnya.
Untung saja acara amal tersebut diadakan pada sore harinya. Sehingga ia masih sempat untuk istirahat. Namun sepertinya ia belum sepenuhnya pulih karena tiba-tiba saja perutnya terasa mual sekali.
"Hmm.. Sebentar!" ia tampak menahan mulutnya dan segera berlari ke dalam kamar mandi.
Bibi Almira tampak cemas dan segera menyusulnya ke dalam kamar mandi untuk melihat bagaimana kondisinya.
"Nyonya! Apa kau baik-baik saja?" ia tampak cemas lalu berlari keluar untuk mengambil segelas air minum untuknya.
Hoekk... hoekk... hoekk ....
Ia terus saja muntah. Rasanya begitu melelahkan. Seakan energi tubuhnya seketika terkuras. Akhirnya ia berhenti muntah.
Bibi Almira muncul dengan segelas air hangat. Ia lalu meminumkannya pada Evelyn.
"Cukup, Bi!" pintanya pada wanita paruh baya itu.
"Anda sudah merasa lebih baik, Nyonya?" ia tampak cemas.
"Iya." jawabnya.
"Apa anda ingin beristirahat sejenak? Kita masih punya waktu satu jam untuk beristirahat." Bibi Almira memberi penawaran padanya.
Evelyn tampak berpikir sejenak. "Hmm... Baiklah! Aku akan tidur sebentar." ia menyetujuinya.
Bibi Almira merangkul pundaknya dan memapahnya hingga ke atas ranjang. Evelyn merebahkan tubuhnya sejenak. Bibi Almira menutupi tubuhnya dengan selimut.
Wanita itu benar-benar mencemaskannya. Iya, sejak Evelyn kecil — wanita itulah yang merawatnya hingga ia dewasa. Ia adalah pengasuhnya. Bibi Almira di bawa ke sini untuk membantu Evelyn. Ia sudah menganggap Evelyn seperti putrinya sendiri.
Dan hanya bibi Almira, satu-satunya orang yang tahu jika pernikahannya ini adalah pernikahan kontrak. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat sesuai dengan permintaan Evelyn.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Evelyn sudah tampak cantik dengan gaun hitamnya yang nampak seksi. Ia mungkin saja akan menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Tentu saja selain suaminya.
Ia tampak duduk manis di atas sofa ruang tengah sembari menunggu kedatangan suaminya. Mereka selalu pergi bersama-sama ke acara tersebut.
Sembari menunggu, ia tampak memainkan ponsel ditangannya. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temannya.
Mereka mengajaknya untuk kembali berpesta nanti malam.
Aku mungkin akan sedikit terlambat. Jadi pastikan untuk menyisakan minuman untukku! Dan seperti biasa, masukkan tagihannya ke dalam bill-ku. 😉
Ia membalas pesan itu dengan segera lalu memasukkan ponsel itu kedalam tasnya.
"Dimana pria itu? Kenapa belum datang juga?" ia bertanya-tanya karena merasa bosan.
Drttt.... Drttt.... Drttt...
Tiba-tiba ponselnya terdengar bergetar dari dalam tasnya.
Tertera nama "Donatur utama" di layar ponselnya.
"Ah.. pria itu akhirnya menelpon ku." dengan nada suara yang dibuat-buat, ia menjawab panggilan telponya.
"Iya, sayang! Kau ada dimana sekarang?" tanyanya dengan suara lembut yang terlihat jelas seperti dipaksakan.
"Aku ada di bawah. Segera turun ke basement!" seorang pria terdengar memberi perintah padanya.
"Baik, Tuan! Aku akan segera turun ke bawah." ucapnya dengan nada hormat yang secara sengaja diperlihatkan.
Ia lalu mematikan ponselnya. Dengan ogah-ogahan ia beranjak dari sofa. Langkahnya seketika terasa berat. Evelyn mendadak kehilangan mood-nya.
"Lebih baik aku pergi berpesta bersama teman-temanku. Hah! Sungguh menyebalkan!" gerutunya kesal.
Ia masuk ke dalam lift, lalu turun ke basement. Pria itu menunggunya di sana.
Sebuah Rolls-Royce phantom berwarna hitam keluaran tahun 2022 sudah terparkir manis di sana. Evelyn sudah pasti mengenal si pemilik mobil tersebut. Ia tersenyum manis pada supir yang berdiri di pintu belakang ketika membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih, Billy!" seru ramah lalu masuk kedalam mobil.
Billy kembali menutup pintu itu dan kembali ke kursi pengemudi.
Di dalam mobil , seorang pria tampak duduk dengan tenang di kursi penumpang. Pria itu memiliki wajah dengan rahang yang tegas dan sorot mata yang tajam—memancarkan aura maskulin yang kuat. Pria bertubuh atletis itu terlihat sangat berwibawa dalam balutan setelan jas hitamnya.
Dia adalah Gavin Rafael Adhitama. Sosok pemeran utama pria dalam kehidupannya. Pria yang telah sah menjadi suaminya selama beberapa tahun terakhir.
"Apa kau ingin mendeklarasikan kebebasan mu? Bukankah ini terlalu cepat?" tanyanya dengan nada penuh sindiran kearah Evelyn setelah melihat penampilannya.
"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru." sanggahnya dengan senyuman.
"Kau bebas memakai apapun yang kau inginkan. Tetapi tutupi bagian itu dengan sesuatu. Jangan mengumbar dirimu terlalu murah." Gavin terang-terangan menyindirnya.
"Aku sudah menutupinya dengan cardigan, apa masih kurang." jelas Evelyn dengan menunjukkan cardigan yang dia kenakan di bahunya.
Gavin hanya diam—memutar bola matanya kearah lain. Seakan jengah pada sifat istrinya yang selalu bertindak sesuai dengan keinginannya.
Malam ini tidak akan berakhir dengan cepat...
(Evelyn)
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Hallo semua, tanpa terasa sebentar lagi kita akan memasuki penghujung tahun.
Semoga hari-hari bahagia menanti kita dengan sejuta harapan.
Ini adalah karya terbaruku, semoga bisa meninggalkan kesan di hati para pembaca sekalian.
Jangan lupa mampir untuk mendukung karyaku ini ya 😉❤️
Tinggalkan like, komentar dan jangan lupa ❤️ subscribe.
Terima kasih...🙏🏿😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
MARDONI
Ini vibes-nya classy tapi pedih banget 😭✨ Evelyn yang mau tampil sebagai dirinya sendiri sebelum resmi berpisah dari Gavin itu kerasa banget kayak simbol kebebasan yang udah lama dia tahan… tapi tiba-tiba mual dan muntah itu bikin deg-degan, jangan-jangan ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pesta semalam 👀💔 Interaksi mereka di mobil juga tajam banget, sindiran Gavin ke Evelyn bikin suasana langsung dingin, padahal di balik semua itu ada pernikahan kontrak yang cuma Bibi Almira tahu. Aku ngerasa malam ini bakal jadi titik balik buat Evelyn dan Gavin… auranya udah beda banget dari awal 😭🔥
2026-02-18
0
Evelyn...aku suka sama sikap nya itu hihi...ga harus nurut dengan tekanan yang ada,dan bisa hidup bebas sesuai keinginan... /Proud//Proud/ perasaan bebas,dan lain lain ...walau keras kepala ...entah kenapa aku suka aja gitu wkwk..
/Joyful//Joyful/.pandangan orang beda beda say
2026-02-06
1
@dadan_kusuma89
Evelyn, aku memang tak tau apa yang terpikirkan dalam benakmu, sedikit perubahan yang kau maksud itu apakah sekedar untuk memuaskan hatimu atau hanya ingin membuat suami kontrakmu kesal saja. Tapi aku tak mau ikut-ikutan memikirkan hal itu, terserah kau saja!😁
2026-02-02
1