Bab 4: Alex, sang pemuja cinta.

Gavin merebahkan tubuh Evelyn di atas ranjangnya yang luas. Wanita itu tampak pucat dan kehilangan seluruh tenaganya. Bahkan nyaris kehilangan kesadaran dirinya.

"Kau yakin tidak perlu di bawa ke rumah sakit?" Gavin tampak memastikan sekali lagi sebelum ia benar-benar pulang ke rumahnya.

"Tidak perlu. Aku akan segera membaik begitu aku beristirahat. Kau pulang saja." ucapnya sambil menutup matanya, mencoba untuk tidur.

"Haa... Baiklah. Terserah kau saja. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan jika sakitmu bertambah parah." ucap Gavin pada Evelyn , namun matanya melirik tajam ke arah bibi Almira yang berdiri di sampingnya.

Wanita itu mengangguk padanya, seolah mengatakan jika ia mengerti apa yang harus dilakukan.

"Baiklah! Aku akan pergi." pamitnya, lalu keluar dari kamar Evelyn bersama bibi Almira.

"Hubungi dokter Sarah segera! Suruh dia datang dan memeriksa kondisi Evelyn. Sepertinya ini bukan mual akibat Hangover biasa. Mungkin karena Gastritis atau yang lainnya." perintahnya tegas pada bibi Almira.

"Baik, tuan! Saya akan segera menghubunginya." ucap wanita itu mematuhi instruksinya.

"Baiklah. Aku pergi!" pamitnya sekali lagi pada wanita yang masih berstatus lajang itu.

"Hati-hati di jalan, Tuan!" ucapnya penuh rasa hormat.

Setelah pria itu pergi, bibi Almira lalu menghubungi dokter Sarah dan memintanya untuk segera datang ke apartemen malam itu juga.

Setelahnya, ia masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Evelyn dan membantunya untuk mengganti pakaian.

"Nyonya!" serunya pada Evelyn yang tampak menutup mata, namun tentu saja ia tahu bahwa wanita itu masih terjaga.

"Hmm!" dia hanya bergumam singkat tanpa membuka mata.

"Dokter Sarah sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Dia akan memeriksa anda nanti, Nyonya." jelas Almira yang sontak membuatnya membuka mata.

"CK. Aku 'kan sudah mengatakan jika aku tidak butuh di periksa. Ini hanya Hangover biasa." jelas Evelyn berdecak kesal.

"Tuan yang menyuruh saya, Nyonya. Saya tidak berani menolak perintahnya." sanggah Almira membela dirinya.

Sebenarnya wanita itu juga mencemaskan kesehatan Evelyn. Kondisinya tidak seperti biasa, ia juga penasaran dengan penyebab mualnya yang parah dan tidak kunjung sembuh.

"Dasar pria keras kepala!" Evelyn menggerutu kesal.

"Ayo bangun dulu , Nyonya! Saya akan membantu anda untuk mengganti pakaian." Almira membantunya untuk duduk di atas ranjang.

Drttt... Drttt... Drttt...

Terdengar suara getaran ponselnya dari atas nakas samping ranjangnya.

Keduanya serentak menoleh ke arah ponsel tersebut. Bibi Almira mengambilkannya dan memberikannya pada Evelyn.

"Siapa yang menelpon malam-malam begini." gumam Evelyn sambil melihat layar ponselnya yang menyala.

Ia tampak terkejut melihat nama yang tertera di layar. Lengkungan kecil seketika terbentuk di bibirnya yang terlihat mengering karena kekurangan cairan.

"Pergilah sebentar, Bibi! Nanti aku akan memanggilmu ketika aku sudah selesai." pintanya dengan suara pelan—nyaris berbisik agar tidak terdengar di sebrang sana.

"Baik, Nyonya. Saya akan menunggu dokter Sarah di luar." wanita itu lalu keluar dari kamarnya.

Ia lalu menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan.

"Eve!" terdengar suara bariton seorang pria di seberang, menyerukan namanya dengan nama panggilan yang khas yang hanya dimiliki olehnya.

"Alex!" seru Evelyn tampak senang. Wajahnya yang pucat tiba-tiba bersemu merah.

"Ku dengar kau sedang tidak sehat?" ia terdengar lirih.

"Iya. Aku hanya merasa sedikit pusing. Aku tidak menyangka jika kau akan menghubungiku selarut ini. Apa kau sedang berada di klub?" ia bertanya setelah mendengar dentuman suara musik yang riuh dari seberang sana.

"Iya. Di sini sangat ramai. Tetapi entah kenapa aku merasa sepi. Mungkin karena kau tidak ada di sini." Pria itu terdengar seperti sedang merayunya dengan kata-kata pujian yang menyenangkan hatinya.

"Kau tidak mungkin merasa kesepian. Selalu ada wanita cantik yang akan duduk di pangkuanmu dengan sukarela, tanpa kau pinta sekalipun." Evelyn terang-terangan mencibirnya, namun entah kenapa hatinya malah terasa sakit.

"Apa kau sedang cemburu?"

Ia tertawa kecil karena kehilangan tenaga, "Kenapa aku harus cemburu?" ia berbohong.

"Apa benar kau tidak merasa cemburu? Bahkan setelah malam panas yang kita lalui bersama beberapa bulan yang lalu?" Evelyn lalu tersentak.

Ingatannya seketika melayang jauh ke beberapa bulan yang lalu. Tepat disaat ia sedang menghadiri acara ulang tahun temannya di sebuah hotel berbintang lima.

Flashback on.

Alunan musik jazz lembut, mengalun merdu—memenuhi area ballroom hotel malam itu. Para tamu yang mengenakan setelan tuxedo dan gaun malam elegan tampak berbincang akrab sambil menyesap sampanye premium.

Aroma hidangan gourmet kelas dunia yang disajikan oleh para pramusaji berseragam rapi, menambah kesan prestisius pada malam yang penuh kemewahan tersebut.

Seharusnya malam itu menjadi malam yang penuh kesenangan bagi para tamu yang hadir, tetapi tidak bagi Evelyn.

Saat yang lain sedang sibuk bercengkrama bersama, ia malah lebih memilih untuk menyendiri di kursi bar, menyesap pelan segelas sampanye di tangannya. Seakan tiap tetes minuman yang masuk ke tenggorokannya teramat berharga untuk dihabiskan dalam sekejap.

Ia termenung sendirian di kursinya, tidak seperti biasanya. Seakan julukan "Ratu Pesta" yang tersemat padanya selama ini, tidak sesuai untuknya.

"Apa yang sedang mengganggu pikiran mu, Eve?" seorang pria tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Tanpa melihat pun, rasanya ia bisa mengenali si pemilik suara rendah itu. Dengan panggilan khas dari penggalan namanya yang hanya boleh terucap dari mulutnya.

Evelyn tersenyum masa padanya setelah menoleh singkat kearahnya. Seakan tidak menyukai kehadiran pria itu di sampingnya.

"Banyak hal, termasuk dirimu." ucapnya sinis.

Pria itu lalu tertawa dan duduk di sampingnya. Suara tawanya terdengar halus dan tertata, seolah setiap nadanya telah dilatih untuk menjaga citra dirinya di depan umum.

"Kata-katamu begitu menusuk di hatiku. Tapi tidak apa-apa, aku bahkan rela mati di tanganmu saat ini." Ia menoleh kearahnya, menatap dalam manik matanya yang terlihat sendu.

Deru nafasnya yang teratur, membuat Evelyn seketika mengalihkan pandangannya. Ia ingin menyembunyikan semburat rona merah yang kini terlihat menghiasi pipinya.

"Pergilah, Alex! Sebelum semua mata tertuju padaku. Kau tahu pasti jika aku tak boleh terlalu menarik perhatian, bukan?" perintahnya penuh peringatan.

"Haa ... memikirkan pernikahan konyol mu itu membuatku frustasi. Aku harus selalu menjaga jarak darimu dan hal itu sangat menyiksaku. Kapan kau akan berhenti bermain-main seperti ini?" ucap pria itu terang-terangan menyatakan isi hatinya.

Alexander Wijaya, nama pria itu. Pemilik galeri seni terkenal di Indonesia. Dia adalah seorang pelukis yang namanya sering menghiasi media Nasional maupun Internasional.

Evelyn pertama kali bertemu dengannya ketika mengunjungi galeri seni miliknya, bersama sahabatnya—Bella, yang sangat mengagumi karya seni seperti lukisan dan barang-barang antik.

Semula ia hanya iseng mengikutinya karena merasa jenuh dengan aktivitasnya. Namun pesona Alex yang begitu lihai memainkan kata-katanya , membuatnya kagum dan jatuh cinta padanya.

Tetapi karena kontrak pernikahan yang ia jalani, ia terpaksa harus mengubur perasaannya dalam-dalam. Bahkan sepertinya Alex juga tidak menyadari hal tersebut.

"Jangan minum lagi, Eve! Kau sudah cukup mabuk." Alex menyingkirkan gelas itu dari tangan Evelyn ketika wanita itu meminta bartender untuk menuangkan kembali sampanye kedalam gelasnya yang telah kosong untuk ketiga kalinya.

"Haa... Ini hanya sampanye. Aku tidak akan mabuk. Aku butuh minuman untuk menjernihkan pikiranku yang sedang kalut." jelasnya sambil memegang kepalanya yang mulai terasa ringan.

"Lihat! Kau mulai mabuk. Ayo! Aku akan membawamu ke kamar hotel." Alex merangkul pundaknya untuk membantunya berdiri.

Evelyn menepis tangannya. Ia tak ingin orang-orang berprasangka buruk padanya. Apalagi sampai mengadukan hal ini pada Gavin ataupun kepada ayahnya.

"Jangan mendekatiku di tempat umum seperti ini." gumamnya pelan nyaris berbisik kepada pria itu.

"Baik, Eve. Aku tahu." ucap Alex.

Wanita itu perlahan bangkit dari tempat duduknya. Kepalanya yang terasa ringan, membuat dirinya melayang, hampir jatuh jika saja Alex tidak memegangi tubuhnya.

"Jangan menyentuhku!" tegurnya.

Ia berjalan terhuyung-huyung, meninggalkan Alex yang tampak cemas menatap punggungnya.

Evelyn berjalan dengan sempoyongan, sesekali bahunya menabrak dinding koridor untuk menjaga agar tubuhnya tidak tersungkur. Setiap langkahnya terasa berat dan ragu, dengan kaki yang saling bersilang tak beraturan.

Ia menekan tombol lift hingga pintu itu terbuka. Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol lantai yang mengarah ke kamarnya. Pintu lift segera tertutup, namun tangan seseorang dengan cepat menghalangi hingga pintu itu terbuka kembali.

Sosok tegap Alex melangkah masuk ke dalam lift. Ia mendekap erat tubuh Evelyn yang nyaris jatuh. Evelyn menatapnya cemas. Bukan karena merasa cemas pada pria itu, melainkan takut jika ada orang lain yang melihatnya mengikuti Evelyn.

"Tenang saja, Eve! Tidak ada yang melihatku. Aku bisa pastikan itu." ucap pria itu seolah mengetahui penyebab kecemasannya.

Pintu lift tertutup. Membawa mereka menuju kamar tidur Evelyn.

Alex tampak sigap menjaga tubuhnya. Ia membantunya merebahkan tubuh Evelyn di atas ranjang. Lalu bergerak menuju kakinya, untuk melepaskan high heels yang melekat di telapak kakinya.

Tumitnya tampak lecet, mungkin karena ukuran sepatu yang tidak pas dan dia memaksakan diri untuk mengenakannya. Alex tak bisa membayangkan bagaimana ia menahannya dengan begitu baik. Seakan semua telah biasa ia lakukan.

Ia menghela nafasnya perlahan. Manahan rasa sakit yang seolah ditularkan oleh wanita itu kepadanya.

Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri seperti ini.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Ilustrasi hanya pemanis.

(Gavin Rafael Adhitama)

(Alexander Wijaya)

Terpopuler

Comments

MARDONI

MARDONI

BIKIN HATI SEDIH BANGET NIH!!! 😢💔 Evelyn yang biasanya jadi 'Ratu Pesta' tapi sekarang malah sendirian minum sampanye karena bingung sama perasaannya sama Alex! Padahal mereka jelas suka sama satu sama lain tapi Evelyn terpaksa menjauhinya gara-gara kontrak pernikahan 😭 Alex juga sangat peduli sama Evelyn ya, liatnya mau bantu pas dia hampir jatuh dan liat tumitnya lecet tuh bikin emosi banget! Semoga aja mereka bisa menemukan cara buat bersama deh, nggak tega liat Evelyn terus menyiksa diri sendiri kayak gini!

2026-02-21

0

Miu.Nuha

Miu.Nuha

pak suami kurang dingiiinnn 😖
padahal vibe narasiny wow gitu...

2026-02-21

0

PrettyDuck

PrettyDuck

yang keras kepala itu kamu eve, itu suaminya lagi khawatir looo

2026-01-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Evelyn Valencia Ariesandy
2 Bab 2 : Senyum palsu.
3 Bab 3 : Perubahan sikap yang tidak biasa.
4 Bab 4: Alex, sang pemuja cinta.
5 Bab 5 : Hati yang tersakiti.
6 Bab 6 : Buah simalakama.
7 Bab 7: seorang ibu yang arogan.
8 Bab 8 : Luka yang terbuka kembali.
9 Bab 9: Sikap aneh Evelyn.
10 Bab 10 : Bertemu seseorang.
11 Bab 11: Bagai pinang di belah dua.
12 Bab 12 : Raga yang telah kehilangan jiwanya.
13 Bab 13: Teman yang bisa diandalkan.
14 Bab 14 : Serangan panik
15 Bab 15: rencana untuk merubah penampilan.
16 Bab 16 : Shopia dan kelemahannya.
17 Bab 17: Sandiwara akhirnya di mulai.
18 Bab 18: Rencana penyamaran yang tersembunyi.
19 Bab 19 Makan malam yang dinanti.
20 Bab 20: ketegangan yang mendebarkan
21 Bab 21: Ketegangan di ruang makan.
22 Bab 22 : tindakan impulsif Gavin.
23 Bab 23: Sikap Gavin yang tidak terbaca.
24 Bab 24: Keputusan tiba-tiba
25 Bab 25: Tahanan rumah?
26 Bab 26: Suasana pesta yang tampak kaku.
27 Bab 27: Tetaplah diam—seperti biasa.
28 Bab 28 : Meminta izin pada Gavin.
29 Bab 29 : Rupa yang sama, namun berbeda.
30 Bab 30: Kotak yang buat panik.
31 Bab 31: Amarah yang memuncak.
32 Bab 32 : Sedikit kisah dari Evelyn.
33 Bab 33: Alex yang frustasi.
34 Bab 34: Bertemu seseorang dari masa lalu.
35 Bab 35: Amarah Gavin yang meluap.
36 Bab 36 : Wajah angkuh yang terlihat rapuh.
37 Bab 37: Akhirnya bertemu.
38 Bab 38 : Pertemuan mendebarkan dengan Alex.
39 Bab 39 : Ini hanyalah sebuah kesalahan.
40 Bab 40 : kehadiran seseorang yang dirindukan
41 Bab 41 : rasa takut yang perlahan menjadi harapan.
42 Bab 42 : sikap Gavin yang melembut.
43 Bab 43: Terjebak di antara percakapan yang membosankan.
44 Bab 44: barang 'rusak' yang tidak berguna.
45 Bab 45 : "Kau... normal, kan?"
46 Bab 46 : Wanita dan keinginannya.
47 Bab 47 : cinta tidak selalu datang di waktu yang tepat.
48 Bab 48 : kehadiran ibu mertua yang tidak biasa.
49 Bab 49 : Memprovokasi
50 Bab 50: Akhirnya terungkap.
51 Bab 51 : Suasana yang penuh ketegangan.
52 Bab 52: Kepergian yang tiba-tiba.
53 Bab 53: keputusan yang tiba-tiba berubah.
54 Bab 54: Musim dingin di Paris.
55 Bab 55: cinta yang tidak bisa dimiliki.
56 Bab 56: Mempertanyakan sikap
57 Bab 57: Rasa yang salah.
58 Bab 58: Apakah sudah terlambat?
59 Bab 59: Perhatian
60 Bab 60: Kau... istriku.
61 Bab 61: kencan?
62 Bab 62 : Pesta pernikahan.
63 Bab 63: kehilangan kewarasan.
64 Bab 64: Ketahuan.
65 Bab 65: Sikap aneh Gavin.
66 Bab 66: Terima kasih karena selalu ada.
67 Bab 67: Rencana jahat.
68 Bab 68: Tiba-tiba di ajak ke kantor.
69 Bab 69: Hukuman.
70 Bab 70: Pengakuan.
71 Bab 71: Rencana Gavin.
72 Bab 72: Pertemuan yang... aneh.
73 Bab 73: Saat-saat indah yang mungkin tak bisa terulang.
74 Bab 74: Rencana jahat di balik tawa bahagia.
75 Bab 75: Akhirnya...
76 Bab 76: POV Gavin part 1
77 Bab 77: POV Gavin part 2
78 Bab 78: POV Gavin part 3
79 Bab 79: POV Gavin part 4
80 Bab 80: POV Gavin part 5 (End story)
81 Bab 81: kencan
82 Bab 82: Pahit manis kehidupan.
83 Bab 83 : Kedatangan Ivana ke kantor.
84 Bab 84: Memberi tahu Ibu
85 Bab 85: Awal mula sebuah kehidupan yang baru.
86 Bab 86: Arkanza.
87 Bab 87: Rapat pemegang saham
88 Bab 88:????
89 Bab 89: Adu argumen.
90 Bab 90: kemarahan Hendry.
91 Bab 91: POV yasmin part 1
92 Bab 92: POV Yasmin part 2 (End)
93 Bab 93 : menatap tanpa rasa takut.
94 Bab 94: Hati yang dipenuhi kegelisahan.
95 Hiatus.
96 Bab 95: Pelukis misterius.
97 Bab 96 : Rencana di atas rencana.
98 Bab 97 : Permintaan maaf
99 Bab 98 : campur aduk.
100 Bab 99 : Akhirnya muncul.
101 Bab 100 : mengungkap rahasia.
102 Bab 101 : Rahasia yang akhirnya terungkap.
103 Bab 102 : Akhir dari semua luka.
104 Bab 103 : Menyerah
105 Bab 104 : Surat dari Ibu.
106 Bab 105 : sebuah renungan malam.
107 Bab 106 : Ending story
108 Bab 107 : Malam pernikahan
109 Bab 108 : Malam pertama ++
110 Bab 109 : Sebuah harapan.
111 Bab 110 : Perjalanan yang mendebarkan.
112 Bab 111 : tes pemeriksaan.
113 Bab 112: Penantian yang mendebarkan.
114 Bab 113 : Suami yang perhatian.
115 Bab 114 : Ethan dan Elena
116 Pengumuman cerita baru.
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1: Evelyn Valencia Ariesandy
2
Bab 2 : Senyum palsu.
3
Bab 3 : Perubahan sikap yang tidak biasa.
4
Bab 4: Alex, sang pemuja cinta.
5
Bab 5 : Hati yang tersakiti.
6
Bab 6 : Buah simalakama.
7
Bab 7: seorang ibu yang arogan.
8
Bab 8 : Luka yang terbuka kembali.
9
Bab 9: Sikap aneh Evelyn.
10
Bab 10 : Bertemu seseorang.
11
Bab 11: Bagai pinang di belah dua.
12
Bab 12 : Raga yang telah kehilangan jiwanya.
13
Bab 13: Teman yang bisa diandalkan.
14
Bab 14 : Serangan panik
15
Bab 15: rencana untuk merubah penampilan.
16
Bab 16 : Shopia dan kelemahannya.
17
Bab 17: Sandiwara akhirnya di mulai.
18
Bab 18: Rencana penyamaran yang tersembunyi.
19
Bab 19 Makan malam yang dinanti.
20
Bab 20: ketegangan yang mendebarkan
21
Bab 21: Ketegangan di ruang makan.
22
Bab 22 : tindakan impulsif Gavin.
23
Bab 23: Sikap Gavin yang tidak terbaca.
24
Bab 24: Keputusan tiba-tiba
25
Bab 25: Tahanan rumah?
26
Bab 26: Suasana pesta yang tampak kaku.
27
Bab 27: Tetaplah diam—seperti biasa.
28
Bab 28 : Meminta izin pada Gavin.
29
Bab 29 : Rupa yang sama, namun berbeda.
30
Bab 30: Kotak yang buat panik.
31
Bab 31: Amarah yang memuncak.
32
Bab 32 : Sedikit kisah dari Evelyn.
33
Bab 33: Alex yang frustasi.
34
Bab 34: Bertemu seseorang dari masa lalu.
35
Bab 35: Amarah Gavin yang meluap.
36
Bab 36 : Wajah angkuh yang terlihat rapuh.
37
Bab 37: Akhirnya bertemu.
38
Bab 38 : Pertemuan mendebarkan dengan Alex.
39
Bab 39 : Ini hanyalah sebuah kesalahan.
40
Bab 40 : kehadiran seseorang yang dirindukan
41
Bab 41 : rasa takut yang perlahan menjadi harapan.
42
Bab 42 : sikap Gavin yang melembut.
43
Bab 43: Terjebak di antara percakapan yang membosankan.
44
Bab 44: barang 'rusak' yang tidak berguna.
45
Bab 45 : "Kau... normal, kan?"
46
Bab 46 : Wanita dan keinginannya.
47
Bab 47 : cinta tidak selalu datang di waktu yang tepat.
48
Bab 48 : kehadiran ibu mertua yang tidak biasa.
49
Bab 49 : Memprovokasi
50
Bab 50: Akhirnya terungkap.
51
Bab 51 : Suasana yang penuh ketegangan.
52
Bab 52: Kepergian yang tiba-tiba.
53
Bab 53: keputusan yang tiba-tiba berubah.
54
Bab 54: Musim dingin di Paris.
55
Bab 55: cinta yang tidak bisa dimiliki.
56
Bab 56: Mempertanyakan sikap
57
Bab 57: Rasa yang salah.
58
Bab 58: Apakah sudah terlambat?
59
Bab 59: Perhatian
60
Bab 60: Kau... istriku.
61
Bab 61: kencan?
62
Bab 62 : Pesta pernikahan.
63
Bab 63: kehilangan kewarasan.
64
Bab 64: Ketahuan.
65
Bab 65: Sikap aneh Gavin.
66
Bab 66: Terima kasih karena selalu ada.
67
Bab 67: Rencana jahat.
68
Bab 68: Tiba-tiba di ajak ke kantor.
69
Bab 69: Hukuman.
70
Bab 70: Pengakuan.
71
Bab 71: Rencana Gavin.
72
Bab 72: Pertemuan yang... aneh.
73
Bab 73: Saat-saat indah yang mungkin tak bisa terulang.
74
Bab 74: Rencana jahat di balik tawa bahagia.
75
Bab 75: Akhirnya...
76
Bab 76: POV Gavin part 1
77
Bab 77: POV Gavin part 2
78
Bab 78: POV Gavin part 3
79
Bab 79: POV Gavin part 4
80
Bab 80: POV Gavin part 5 (End story)
81
Bab 81: kencan
82
Bab 82: Pahit manis kehidupan.
83
Bab 83 : Kedatangan Ivana ke kantor.
84
Bab 84: Memberi tahu Ibu
85
Bab 85: Awal mula sebuah kehidupan yang baru.
86
Bab 86: Arkanza.
87
Bab 87: Rapat pemegang saham
88
Bab 88:????
89
Bab 89: Adu argumen.
90
Bab 90: kemarahan Hendry.
91
Bab 91: POV yasmin part 1
92
Bab 92: POV Yasmin part 2 (End)
93
Bab 93 : menatap tanpa rasa takut.
94
Bab 94: Hati yang dipenuhi kegelisahan.
95
Hiatus.
96
Bab 95: Pelukis misterius.
97
Bab 96 : Rencana di atas rencana.
98
Bab 97 : Permintaan maaf
99
Bab 98 : campur aduk.
100
Bab 99 : Akhirnya muncul.
101
Bab 100 : mengungkap rahasia.
102
Bab 101 : Rahasia yang akhirnya terungkap.
103
Bab 102 : Akhir dari semua luka.
104
Bab 103 : Menyerah
105
Bab 104 : Surat dari Ibu.
106
Bab 105 : sebuah renungan malam.
107
Bab 106 : Ending story
108
Bab 107 : Malam pernikahan
109
Bab 108 : Malam pertama ++
110
Bab 109 : Sebuah harapan.
111
Bab 110 : Perjalanan yang mendebarkan.
112
Bab 111 : tes pemeriksaan.
113
Bab 112: Penantian yang mendebarkan.
114
Bab 113 : Suami yang perhatian.
115
Bab 114 : Ethan dan Elena
116
Pengumuman cerita baru.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!