Gavin merebahkan tubuh Evelyn di atas ranjangnya yang luas. Wanita itu tampak pucat dan kehilangan seluruh tenaganya. Bahkan nyaris kehilangan kesadaran dirinya.
"Kau yakin tidak perlu di bawa ke rumah sakit?" Gavin tampak memastikan sekali lagi sebelum ia benar-benar pulang ke rumahnya.
"Tidak perlu. Aku akan segera membaik begitu aku beristirahat. Kau pulang saja." ucapnya sambil menutup matanya, mencoba untuk tidur.
"Haa... Baiklah. Terserah kau saja. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan jika sakitmu bertambah parah." ucap Gavin pada Evelyn , namun matanya melirik tajam ke arah bibi Almira yang berdiri di sampingnya.
Wanita itu mengangguk padanya, seolah mengatakan jika ia mengerti apa yang harus dilakukan.
"Baiklah! Aku akan pergi." pamitnya, lalu keluar dari kamar Evelyn bersama bibi Almira.
"Hubungi dokter Sarah segera! Suruh dia datang dan memeriksa kondisi Evelyn. Sepertinya ini bukan mual akibat Hangover biasa. Mungkin karena Gastritis atau yang lainnya." perintahnya tegas pada bibi Almira.
"Baik, tuan! Saya akan segera menghubunginya." ucap wanita itu mematuhi instruksinya.
"Baiklah. Aku pergi!" pamitnya sekali lagi pada wanita yang masih berstatus lajang itu.
"Hati-hati di jalan, Tuan!" ucapnya penuh rasa hormat.
Setelah pria itu pergi, bibi Almira lalu menghubungi dokter Sarah dan memintanya untuk segera datang ke apartemen malam itu juga.
Setelahnya, ia masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Evelyn dan membantunya untuk mengganti pakaian.
"Nyonya!" serunya pada Evelyn yang tampak menutup mata, namun tentu saja ia tahu bahwa wanita itu masih terjaga.
"Hmm!" dia hanya bergumam singkat tanpa membuka mata.
"Dokter Sarah sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Dia akan memeriksa anda nanti, Nyonya." jelas Almira yang sontak membuatnya membuka mata.
"CK. Aku 'kan sudah mengatakan jika aku tidak butuh di periksa. Ini hanya Hangover biasa." jelas Evelyn berdecak kesal.
"Tuan yang menyuruh saya, Nyonya. Saya tidak berani menolak perintahnya." sanggah Almira membela dirinya.
Sebenarnya wanita itu juga mencemaskan kesehatan Evelyn. Kondisinya tidak seperti biasa, ia juga penasaran dengan penyebab mualnya yang parah dan tidak kunjung sembuh.
"Dasar pria keras kepala!" Evelyn menggerutu kesal.
"Ayo bangun dulu , Nyonya! Saya akan membantu anda untuk mengganti pakaian." Almira membantunya untuk duduk di atas ranjang.
Drttt... Drttt... Drttt...
Terdengar suara getaran ponselnya dari atas nakas samping ranjangnya.
Keduanya serentak menoleh ke arah ponsel tersebut. Bibi Almira mengambilkannya dan memberikannya pada Evelyn.
"Siapa yang menelpon malam-malam begini." gumam Evelyn sambil melihat layar ponselnya yang menyala.
Ia tampak terkejut melihat nama yang tertera di layar. Lengkungan kecil seketika terbentuk di bibirnya yang terlihat mengering karena kekurangan cairan.
"Pergilah sebentar, Bibi! Nanti aku akan memanggilmu ketika aku sudah selesai." pintanya dengan suara pelan—nyaris berbisik agar tidak terdengar di sebrang sana.
"Baik, Nyonya. Saya akan menunggu dokter Sarah di luar." wanita itu lalu keluar dari kamarnya.
Ia lalu menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan.
"Eve!" terdengar suara bariton seorang pria di seberang, menyerukan namanya dengan nama panggilan yang khas yang hanya dimiliki olehnya.
"Alex!" seru Evelyn tampak senang. Wajahnya yang pucat tiba-tiba bersemu merah.
"Ku dengar kau sedang tidak sehat?" ia terdengar lirih.
"Iya. Aku hanya merasa sedikit pusing. Aku tidak menyangka jika kau akan menghubungiku selarut ini. Apa kau sedang berada di klub?" ia bertanya setelah mendengar dentuman suara musik yang riuh dari seberang sana.
"Iya. Di sini sangat ramai. Tetapi entah kenapa aku merasa sepi. Mungkin karena kau tidak ada di sini." Pria itu terdengar seperti sedang merayunya dengan kata-kata pujian yang menyenangkan hatinya.
"Kau tidak mungkin merasa kesepian. Selalu ada wanita cantik yang akan duduk di pangkuanmu dengan sukarela, tanpa kau pinta sekalipun." Evelyn terang-terangan mencibirnya, namun entah kenapa hatinya malah terasa sakit.
"Apa kau sedang cemburu?"
Ia tertawa kecil karena kehilangan tenaga, "Kenapa aku harus cemburu?" ia berbohong.
"Apa benar kau tidak merasa cemburu? Bahkan setelah malam panas yang kita lalui bersama beberapa bulan yang lalu?" Evelyn lalu tersentak.
Ingatannya seketika melayang jauh ke beberapa bulan yang lalu. Tepat disaat ia sedang menghadiri acara ulang tahun temannya di sebuah hotel berbintang lima.
Flashback on.
Alunan musik jazz lembut, mengalun merdu—memenuhi area ballroom hotel malam itu. Para tamu yang mengenakan setelan tuxedo dan gaun malam elegan tampak berbincang akrab sambil menyesap sampanye premium.
Aroma hidangan gourmet kelas dunia yang disajikan oleh para pramusaji berseragam rapi, menambah kesan prestisius pada malam yang penuh kemewahan tersebut.
Seharusnya malam itu menjadi malam yang penuh kesenangan bagi para tamu yang hadir, tetapi tidak bagi Evelyn.
Saat yang lain sedang sibuk bercengkrama bersama, ia malah lebih memilih untuk menyendiri di kursi bar, menyesap pelan segelas sampanye di tangannya. Seakan tiap tetes minuman yang masuk ke tenggorokannya teramat berharga untuk dihabiskan dalam sekejap.
Ia termenung sendirian di kursinya, tidak seperti biasanya. Seakan julukan "Ratu Pesta" yang tersemat padanya selama ini, tidak sesuai untuknya.
"Apa yang sedang mengganggu pikiran mu, Eve?" seorang pria tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Tanpa melihat pun, rasanya ia bisa mengenali si pemilik suara rendah itu. Dengan panggilan khas dari penggalan namanya yang hanya boleh terucap dari mulutnya.
Evelyn tersenyum masa padanya setelah menoleh singkat kearahnya. Seakan tidak menyukai kehadiran pria itu di sampingnya.
"Banyak hal, termasuk dirimu." ucapnya sinis.
Pria itu lalu tertawa dan duduk di sampingnya. Suara tawanya terdengar halus dan tertata, seolah setiap nadanya telah dilatih untuk menjaga citra dirinya di depan umum.
"Kata-katamu begitu menusuk di hatiku. Tapi tidak apa-apa, aku bahkan rela mati di tanganmu saat ini." Ia menoleh kearahnya, menatap dalam manik matanya yang terlihat sendu.
Deru nafasnya yang teratur, membuat Evelyn seketika mengalihkan pandangannya. Ia ingin menyembunyikan semburat rona merah yang kini terlihat menghiasi pipinya.
"Pergilah, Alex! Sebelum semua mata tertuju padaku. Kau tahu pasti jika aku tak boleh terlalu menarik perhatian, bukan?" perintahnya penuh peringatan.
"Haa ... memikirkan pernikahan konyol mu itu membuatku frustasi. Aku harus selalu menjaga jarak darimu dan hal itu sangat menyiksaku. Kapan kau akan berhenti bermain-main seperti ini?" ucap pria itu terang-terangan menyatakan isi hatinya.
Alexander Wijaya, nama pria itu. Pemilik galeri seni terkenal di Indonesia. Dia adalah seorang pelukis yang namanya sering menghiasi media Nasional maupun Internasional.
Evelyn pertama kali bertemu dengannya ketika mengunjungi galeri seni miliknya, bersama sahabatnya—Bella, yang sangat mengagumi karya seni seperti lukisan dan barang-barang antik.
Semula ia hanya iseng mengikutinya karena merasa jenuh dengan aktivitasnya. Namun pesona Alex yang begitu lihai memainkan kata-katanya , membuatnya kagum dan jatuh cinta padanya.
Tetapi karena kontrak pernikahan yang ia jalani, ia terpaksa harus mengubur perasaannya dalam-dalam. Bahkan sepertinya Alex juga tidak menyadari hal tersebut.
"Jangan minum lagi, Eve! Kau sudah cukup mabuk." Alex menyingkirkan gelas itu dari tangan Evelyn ketika wanita itu meminta bartender untuk menuangkan kembali sampanye kedalam gelasnya yang telah kosong untuk ketiga kalinya.
"Haa... Ini hanya sampanye. Aku tidak akan mabuk. Aku butuh minuman untuk menjernihkan pikiranku yang sedang kalut." jelasnya sambil memegang kepalanya yang mulai terasa ringan.
"Lihat! Kau mulai mabuk. Ayo! Aku akan membawamu ke kamar hotel." Alex merangkul pundaknya untuk membantunya berdiri.
Evelyn menepis tangannya. Ia tak ingin orang-orang berprasangka buruk padanya. Apalagi sampai mengadukan hal ini pada Gavin ataupun kepada ayahnya.
"Jangan mendekatiku di tempat umum seperti ini." gumamnya pelan nyaris berbisik kepada pria itu.
"Baik, Eve. Aku tahu." ucap Alex.
Wanita itu perlahan bangkit dari tempat duduknya. Kepalanya yang terasa ringan, membuat dirinya melayang, hampir jatuh jika saja Alex tidak memegangi tubuhnya.
"Jangan menyentuhku!" tegurnya.
Ia berjalan terhuyung-huyung, meninggalkan Alex yang tampak cemas menatap punggungnya.
Evelyn berjalan dengan sempoyongan, sesekali bahunya menabrak dinding koridor untuk menjaga agar tubuhnya tidak tersungkur. Setiap langkahnya terasa berat dan ragu, dengan kaki yang saling bersilang tak beraturan.
Ia menekan tombol lift hingga pintu itu terbuka. Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol lantai yang mengarah ke kamarnya. Pintu lift segera tertutup, namun tangan seseorang dengan cepat menghalangi hingga pintu itu terbuka kembali.
Sosok tegap Alex melangkah masuk ke dalam lift. Ia mendekap erat tubuh Evelyn yang nyaris jatuh. Evelyn menatapnya cemas. Bukan karena merasa cemas pada pria itu, melainkan takut jika ada orang lain yang melihatnya mengikuti Evelyn.
"Tenang saja, Eve! Tidak ada yang melihatku. Aku bisa pastikan itu." ucap pria itu seolah mengetahui penyebab kecemasannya.
Pintu lift tertutup. Membawa mereka menuju kamar tidur Evelyn.
Alex tampak sigap menjaga tubuhnya. Ia membantunya merebahkan tubuh Evelyn di atas ranjang. Lalu bergerak menuju kakinya, untuk melepaskan high heels yang melekat di telapak kakinya.
Tumitnya tampak lecet, mungkin karena ukuran sepatu yang tidak pas dan dia memaksakan diri untuk mengenakannya. Alex tak bisa membayangkan bagaimana ia menahannya dengan begitu baik. Seakan semua telah biasa ia lakukan.
Ia menghela nafasnya perlahan. Manahan rasa sakit yang seolah ditularkan oleh wanita itu kepadanya.
Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri seperti ini.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Ilustrasi hanya pemanis.
(Gavin Rafael Adhitama)
(Alexander Wijaya)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
MARDONI
BIKIN HATI SEDIH BANGET NIH!!! 😢💔 Evelyn yang biasanya jadi 'Ratu Pesta' tapi sekarang malah sendirian minum sampanye karena bingung sama perasaannya sama Alex! Padahal mereka jelas suka sama satu sama lain tapi Evelyn terpaksa menjauhinya gara-gara kontrak pernikahan 😭 Alex juga sangat peduli sama Evelyn ya, liatnya mau bantu pas dia hampir jatuh dan liat tumitnya lecet tuh bikin emosi banget! Semoga aja mereka bisa menemukan cara buat bersama deh, nggak tega liat Evelyn terus menyiksa diri sendiri kayak gini!
2026-02-21
0
Miu.Nuha
pak suami kurang dingiiinnn 😖
padahal vibe narasiny wow gitu...
2026-02-21
0
PrettyDuck
yang keras kepala itu kamu eve, itu suaminya lagi khawatir looo
2026-01-22
1