Suasana di dalam mobil terasa hening—sedikit mencekam. Gavin hanya diam membisu di sepanjang perjalan. Tatapannya hanya fokus pada layar datar dalam genggamnya. Ia bahkan tidak bertanya sedikitpun tentang keadaan Evelyn yang kini terlihat tidak sehat.
Wajah wanita itu tampak memucat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Sesekali ia tampak menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba menahan isi perutnya yang kembali bergejolak. Dengan tangan membungkam erat mulutnya dan mata yang terpejam erat, ia berusaha keras untuk tidak kembali muntah di dalam mobil. Khususnya di depan Gavin. Ia tak mau merusak citra dirinya di hadapan pria itu.
Kenapa aku masih merasa mual. Biasanya tidak seperti ini? Evelyn jadi bertanya-tanya dalam hatinya.
Melihat Evelyn yang terlihat gelisah sepanjang perjalan, membuat Gavin akhirnya bertanya padanya.
"Kau benar-benar sedang tidak sehat?" tanya pria itu mengerutkan keningnya.
Akhirnya setelah beberapa saat, pria itu sadar jika Evelyn tidak dalam kondisi yang sehat.
Evelyn hanya meliriknya sekilas, ia bahkan tak sanggup untuk berbicara sepatah katapun. Dorongan di perutnya teramat kuat.
Apa kau pikir aku hanya mencari-cari alasan saja? Evelyn tampak kesal.
"Jika kau merasa tidak sehat, kenapa memaksakan diri untuk menghadiri acara tersebut." ucap Gavin.
"Memangnya aku boleh tidak hadir? Kau bilang aku harus ... Ughh... nghh... Aku tidak tahan lagi." Evelyn tampak panik, isi perutnya terdorong naik hingga membuat tenggorokannya terasa penuh.
"Billy! Hentikan mobilnya!" Evelyn memberi perintah pada supir untuk menghentikan laju mobil karena tidak bisa bertahan lagi.
Perjalanan menuju apartemennya masih sangat lama. Jika dipaksakan, mungkin ia akan muntah di dalam mobil.
"Hah!" Billy nampak terkejut karena Evelyn tiba-tiba saja memberikan perintah mendadak padanya.
"Hmm .. Tapi, Nyonya—?" ia melirik ragu-ragu ke arah Gavin melalui kaca spion yang berada di atas dashboard mobil, dihadapannya.
Gavin-lah yang berhak memberi perintah padanya. Karena dia bekerja sebagai supir pribadinya. Apalagi pria itu akan memarahinya jika mengambil keputusan tanpa izin darinya.
Gavin mengangguk kecil untuk mengiyakan. Mobil itu berhenti di tepi jalan. Evelyn tampak menahan emosinya karena melihat Billy yang tidak langsung menjalankan perintahnya.
Wanita itu lalu membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Ia tampak membungkuk—memuntahkan semua isi perutnya kembali di atas rerumputan hijau yang terbentang di sisi jalan.
Uhuk.... Uhuk... Hoek... Hoek...
Gavin bisa mendengar jelas suara Evelyn yang sedang terbatuk-batuk dan muntah dari dalam mobilnya.
Sepertinya dia harus benar-benar menghentikan kebiasaan mabuknya. Gavin menatap Evelyn dengan pandangan iba.
Gavin tidak sepenuhnya mengabaikan istrinya. Tanpa sepengetahuan Evelyn, pria itu menempatkan seorang mata-mata untuk mengawasi segala kegiatan istrinya saat berada di luar.
Ia tahu apa saja yang dilakukan oleh wanita itu setiap hari, dan kebiasaannya berpesta pada malam harinya. Wanita itu selalu pulang ke apartemen menjelang subuh dalam keadaan tak sadarkan diri karena mabuk.
Pengasuhnya — Almira lah yang selalu pergi ke klub untuk menjemputnya.
Tapi tentu saja Gavin tidak begitu saja menegurnya karena mereka berdua mempunyai kesepakatan bersama yang telah mereka sepakati sebelumnya, untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Namun dengan menempatkan seorang mata-mata kepercayaannya di samping Evelyn, ia tentu saja sudah melanggar poin pertama dalam perjanjian mereka.
Bergelut belasan tahun dalam dunia bisnis tidak membuatnya mudah percaya pada seseorang, termasuk kepada istrinya sendiri. Hal yang sering kali dilupakan oleh seseorang adalah mempercayai orang terdekatnya. Padahal justru orang terdekatlah yang paling sering menusuk kita dari belakang tanpa disadari.
Gavin menatap Evelyn yang kembali duduk di sampingnya setelah selesai menguras habis isi perutnya.
Wanita itu tampak pucat dengan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Malam itu Gavin bisa melihat sisi lain dari seorang Evelyn.
Wanita yang selalu terlihat kuat tanpa pernah sekalipun menunjukkan sisi kelemahan padanya, ternyata juga bisa tampak serapuh ini. Setidaknya kini Gavin sadar bahwa wanita disampingnya itu juga manusia biasa.
"Kau mau mampir ke rumah sakit sebelum pulang?" Dengan raut wajah datar, ia bertanya pada Evelyn.
"Hmm... Tidak perlu! Aku muntah karena terlalu banyak minum kemarin malam. Jadi tidak perlu pergi ke rumah sakit. Itu sangat memalukan." tolaknya dengan cepat.
"Terserah kau saja. " Gavin lalu kembali fokus pada layar datar persegi yang digenggamnya sedari tadi.
Mobil tersebut kembali melaju menuju apartemen Evelyn.
"Ada baiknya jika kau merubah kebiasaan burukmu itu sedikit. Jika tidak, kau mungkin akan mati muda sebelum sempat menikmati hidupmu." Gavin mencibirnya secara langsung.
"Haa... Itu sama sekali bukan urusanmu." sanggah Evelyn tak terima.
Gavin lalu menghentikan kegiatannya, menatap tajam kearah Evelyn yang seketika membuatnya terdiam.
"Itu akan menjadi urusanku jika kau tiba-tiba mati di apartemen. Orang-orang mungkin akan berpikir jika kau akhirnya menjadi tak waras karena sering ditinggalkan oleh suaminya. Lalu melampiaskan kesedihanmu pada minuman beralkohol hingga kau kecanduan bahkan overdosis. Bukankah itu akan menjadi rumor yang cukup merepotkan untukku?" Entah Gavin serius saat mengatakannya atau justru ia sedang bergurau dengan perkataannya. Evelyn sama sekali tak bisa membaca ekspresi wajahnya yang selalu terlihat datar.
Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya bisa mengerutkan keningnya karena merasa heran. Ia juga tak bisa membalas perkataannya karena tidak lagi punya tenaga.
Daripada menanggapi perkataannya yang dingin, ia memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Mobil itu berhenti di apartemen milik Evelyn yang berada tepat di pusat kota. Apartemen itu merupakan salah satu hunian mewah milik Gavin yang diberikan secara khusus kepada Evelyn sebagai tempat tinggalnya. Apartemen ini nantinya juga akan menjadi salah satu properti yang akan dimilik oleh wanita itu setelah bercerai darinya.
Evelyn turun dari mobil dengan bantuan bibi Almira. Gavin sudah lebih dulu menghubunginya sesaat sebelum mobil itu memasuki area basement apartemen.
Kepala Evelyn terasa sangat pusing, rasanya ia akan jatuh pingsan jika memaksakan diri untuk berjalan ke atas sendirian.
"Hati-hati, Nyonya!" ucap bibi Almira cemas ketika melihat tubuh Evelyn terhuyung ke belakang.
Bibi Almira tampak berusaha sekuat tenaga untuk menopang tubuh anak asuhnya itu agar tidak jatuh. Mereka berjalan perlahan menuju lift.
Namun tiba-tiba saja Evelyn merasakan tubuhnya seakan melayang ke udara. Tubuhnya terangkat ke atas karena tangan seseorang. Ia tersentak ketika melihat Gavin lagi-lagi mengangkat tubuhnya—merengkuhnya dalam gendongannya. Evelyn seketika melingkarkan tangannya di leher Gavin, sebagai pegangan.
Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa centimeter, membuat Gavin bisa menghirup bau parfum Evelyn yang ia kenal, tapi jarang ia perhatikan. Aroma vanilla yang manis, menggoda dan menyenangkan bagi sebagian pria, tapi tidak dengan dirinya. Entah kenapa ia tidak menyukainya.
Bibi Almira yang sedari tadi berdiri di belakang mereka, merasa terkejut melihat perlakuan tuannya itu yang tidak biasa kepada istrinya. Namun ia tak berani bicara apapun. Ia hanya diam, mengikuti mereka dari belakang.
Begitupun dengan Evelyn yang terlihat pasrah berada dalam gendongannya. Walaupun ekpresi wajah Gavin tetap datar seperti biasanya.
Evelyn benar-benar buta dalam menilai emosi pria itu.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Di tempat lainnya, sebuah klub malam khusus untuk kalangan sosial atas, seorang pria muda dengan kemeja hitam dan celana bahan warna senada tampak duduk di sebuah ruangan untuk para pelanggan VIP. Ia tidak sendiri, ada beberapa orang pria dan wanita yang ikut duduk bersamanya.
Aroma tembakau yang khas bercampur dengan bau alkohol, terasa pekat memenuhi ruangan tersebut. Namun pria itu tampaknya tidak sedikitpun merasa terganggu. Ia malah terlihat asyik berbicara dengan yang lainnya. Seakan suasana tersebut sudah tidak asing lagi di kehidupannya sehari-hari.
Pria itu memiliki wajah yang tampan dengan sorot mata yang tajam, namun terlihat intens. Membuat wanita manapun yang menatapnya seakan terhipnotis dan dengan mudahnya jatuh kedalam pelukannya.
Pria itu tidak pernah merayu dengan cara yang murah, ia hanya memberikan perhatian kecil yang tulus namun terasa sangat intim. Hal itulah yang membuat banyak wanita jatuh akan pesonanya.
"Apa Eve tidak akan datang malam ini?" tanyanya pada salah satu teman wanitanya.
"Sepertinya dia tidak jadi datang malam ini. Katanya dia sedang tidak sehat." jelasnya pada pria bernama Alex itu.
"Tidak sehat?" ia tersentak, wajahnya berubah cemas. "Hmm .. Baiklah."
Ia lalu diam, seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Lalu ia meraih ponsel yang berada di atas meja di hadapannya, tampak menghubungi seseorang.
Tak lama terdengar nada sambungan terhubung. Ia segera berbicara.
"Eve!" serunya dengan nada penuh kecemasan.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
MARDONI
EVELYN bikin jantung copot banget sih 😭 dari nahan mual di mobil sampai akhirnya turun dan muntah, aku ikut panik! Gavin tuh dingin banget ngomongnya, tapi pas dia tiba-tiba gendong Evelyn… ASTAGA itu bikin meleleh 😳💔 Dan sekarang ada Alex yang langsung cemas nyariin Eve? Wah ini makin nggak tenang hatiku, aura-aura ribetnya udah kerasa banget 🔥💕
2026-02-20
0
se ʕ´•ᴥ•`ʔ an
Duh, kasihan banget sama Evelyn! Perasaan mualnya kerasa sampai sini, apalagi harus jaga image di depan Gavin yang awalnya cuek begitu. Gregetan deh lihat Gavin yang baru sadar kalau Evelyn beneran sakit. Semangat terus nulisnya, Author! Penasaran apa yang bakal dilakukan Gavin selanjutnya.
2026-03-07
0
Miu.Nuha
yakin 😏😏
,, menilai emosi pria itu mudah,, lihat aja lewat sikapnya bagaimana,, wajah pun tak penting kalo pria pandai memberikan act of service,, itu love language ny gavin tauk 🤭
2026-02-20
0