bab 2 makan bersama di pagi hari

Yasir menoleh ke belakang ,ia melihat seorang anak kecil yang tampak membawa barang yang cukup berat, namun anak kecil tersebut tidak memiliki hal rasa lelah ,melainkan semangat yang timbul karena barang bawaannya itu.

" Yahya ,apa yang kamu bawa ?" Yasir balik bertanya ,ia memandang ke arah bakul yang di bawa oleh anak kecil yang bernama Yahya tampak seperti buah kelapa yang sudah dihilangkan sabutnya.

" ini ,kelapa ,aku mau pergi ke kota dekat desa ,menjual kelapa ini ,mumpung harganya masih mahal " kata Yahya dengan wajah kecil yang kurus.

" ohh ... bagus semangat... !"

Yasir berjalan canggung dan hanya menatap ke arah anak kecil yang membawa barang melebihi ukuran tubuhnya, " anak zaman dahulu sangat kuat dan memiliki sifat yang tangguh ,hanya saja aneh dengan sifat pemilik tubuh ini ,bodoh ,pemalas dan juga pemabuk berat " kutuknya dalam hati .

Ia terus berjalan menelusuri pematang sawah yang belum di kerjakan oleh para petani dan ia mengambil satu demi satu bulir padi yang menempel di pematang sawah ,hingga dalam waktu dua puluh menit ,berhasil mengumpulkan satu kilo bulir bulir padi .

" yah ini cukup...!"

" bang Yasir apa yang kamu lakukan dengan gabah gabah itu, ?" Tanya seorang pria muda yang membawa cangkul di pundaknya.

" ehh Kasnan ,aku hanya penasaran dan mencoba mengumpulkan gabah gabah ini " kata Yasir dengan senyum tipis .

" kalau mau banyak, ada di gubuk bang ,"

" tidak ini saja ..!" Yasir tahu pemuda itu hanya menawarkan saja ,tidak benar benar ikhlas memberi ,hal itu terlihat dari raut wajah Kasnan yang khawatir.

" tidak apa apa bang ,...!"

Yasir berdiri dan berencana membawa gabah gabah itu kembali, " tidak terimakasih, ini sudah cukup " ucap Yasir pergi dari hadapan pria muda itu.

Ia tidak mau terkena masalah atau gosip dari warga desa Plarangan, ia juga perlahan akan mengubah dirinya dari seorang pemalas menjadi pemuda yang berguna bagi keluarga dan negara ( walaupun zaman itu adalah zaman kolonial Belanda, tapi pemikiran untuk merdeka sudah ada sejak 1928 , dan mulai muncul partai politik di berbagai daerah di pulau Jawa).

Berjalan pelan ,ia kembali naik ke atas tanjakan yang cukup licin, ia tidak habis fikir dengan jalan selicin ini ,bisa dilewati dengan mudah oleh para warga dan juga keluarga barunya.

Saat sampai di rumah ,ia melihat bahwa ada satu karung kain tepung singkong dan juga beberapa ikan asin yang kering .dan ia juga melihat sebotol minuman yang tidak asing baginya.

" mas sudah pulang " gadis yang ada di dalam rumah melihat Yasir terdiam menatap ke arah dapur .

" ya , kenapa kamu membeli minuman ini ?"

" ini , aku .... !" Matanya tampak berkaca kaca ,seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut .

" baiklah jangan menangis ,aku sekarang adalah kepala keluarga, aku tidak butuh minuman seperti itu dan aku harap di masa depan, tidak ada lagi kejadian seperti ini, kembalikan " kata Yasir dengan wajah serius ,ia menghapus air mata yang mengalir pelan di wajah pucat gadis yang belum tahu namanya siapa.

" baik ,aku akan kembalikan...!"

" tunggu ..!"

" ada apa mas ?"

" umhh siapa nama kamu dan saudarimu, agar aku bisa memanggil kalian berdua dengan nama " Yasir tersenyum tipis, ia duduk di kursi meletakan gabah yang ada di kantongnya itu.

" aku Lestari dan saudariku, Halimah..." jawabnya pelan, tampak tidak berani menatap Yasir yang ada di depannya.

" baiklah, Tari ,aku akan memanggilmu dengan nama itu "

" terimakasih mas !"

Gadis kurus yang bernama Lestari itu berdiri dan akan segera mengembalikan minuman yang sempat di beli tadi, namun Yasir menghentikannya, " Tari apakah kamu sudah makan ?"

" umhh belum... nasi singkongnya belum matang !"

" tunggu dulu ,setelah makan baru kembalikan barang haram itu , juga panggil umi dan Halimah untuk makan bersama, "

" baik mas !"

Tak lama kemudian dua wanita tua dan muda muncul dengan pakaian yang dipenuhi keringat , keduanya tampak seperti baru saja dari sawah ,dan itu terlihat dari penampilan wanita tua yang kakinya penuh dengan lumpur.

" umi dari mana ?" Tanya Yasir prihatin .

" dari sawah nak , kamu juga darimana ,apakah sudah makan ?" Sang wanita tua tersenyum tipis ,dan mulai membersihkan kakinya di aliran air yang cukup untuk membersihkan kaki dan tangan.

" aku belum makan ,kita semua makan bersama sama " kata Yasir masuk ke dalam rumah .

Mata wanita tua itu dipenuhi rasa terkejut, ia merasa pemuda di depannya sangat baik dan tidak melakukan hal kasar yang seperti di beritakan oleh para penduduk.

" umi kamu sudah tua, biar aku saja yang bekerja ,juga aku lihat punggung umi sudah tidak bisa lagi tegak " mata Yasir dipenuhi rasa kasihan dan ia berjanji untuk bekerja baik dan halal .

Wanita tua itu hanya tersenyum, " tidak apa apa nak , umi tidak lelah ,umi bekerja juga demi semua orang ,kamu sebagai menantu umi memang berhak untuk bekerja , tapi umi masih sanggup"

" tidak umi ,sekarang juga umi harus berhenti ,bagaimana jika cucu umi lahir dan melihat neneknya tidak berdaya dan tidak bisa bermain dengan cucunya, aku sebagai seorang lelaki merasa gagal dan aku tidak mau melihat hal ini " kata Yasir terus membujuk.

" terus di masa depan , siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari ?"

" saya umi, aku ingat masih ada pekerjaan di pasar dan setiap minggu aku dapat sekitar sepuluh hingga dua puluh sen ,itu cukup untuk makan satu minggu dan kita semua bisa menabung sedikit, " kata Yasir bersungguh sungguh.

Wanita tua itu merasa ada yang menopang hidupnya, matanya menatap kedua anak perempuannya yang tampak memerah di mata dan wajahnya, keduanya merasa bahwa hidup di masa depan akan menjadi maju dan normal dan ada kesungguhan tekad di masing masing mata dua gadis muda itu.

" baiklah nak ,aku akan berhenti bekerja, tapi kamu harus segera memberikan umi cucu , kedua putriku secara sah sudah menjadi istrimu ,walaupun terdengar aneh, tapi sudah tertulis di atas kertas " kata wanita tua itu tersenyum penuh pengharapan.

" baik umi ,aku akan berusaha...,sudah sekarang kita sarapan bersama sama " Yasir mengambil piring kayu yang cukup kasar dan mengisinya dengan nasi singkong yang cukup banyak ,lalu meletakan di depan wanita tua itu ,lalu kemudian ia mengambil wadah dua gadis yang masih kosong itu .

" biar saja kami saja mas , "

" tidak apa apa tenang saja imah , " Yasir melakukan hal yang sama dan sekarang nasi singkong sudah berpindah tempat .

" umi makan yang banyak ,kamu harus sehat selalu, Tari , Imah kalian juga makan yang banyak ,setelah ini aku akan mengajak salah satu diantara kalian berdua untuk pergi ke pasar, agar yakin bahwa aku bekerja seperti biasa dan melakukannya secara halal " ujar Yasir dengan wajah bersungguh sungguh. Ia ingin membuktikan bahwa dia bukan pemuda malas dan akan berubah selamanya .

" baik mas ,biar Tari saja yang menemani mas pergi ke pasar , imah sama umi di rumah !"

Episodes
1 bab 1 bangun dan langsung dinikahkan
2 bab 2 makan bersama di pagi hari
3 bab 3 bekerja di pasar
4 bab 4 memperbaiki atap rumah
5 bab 5 percakapan malam yang hangat
6 bab 6 badai datang, rencana esok pagi
7 bab 7 berjualan langsung habis , Belanja di kios..
8 bab 8 makan siang. berangkat ke ladang
9 bab 9 ladang yang memperihatinkan
10 bab 10 mulai muncul masalah di desa
11 bab 12 permintaan Yasir
12 bab 12 rasa penasaran Halimah
13 bab 13 menjual keong di desa pada siang hari
14 bab 14 berburu keong sawah...dan mengambil kayu bakar
15 bab 15 sore yang sibuk
16 bab 16 pergi ke kota kecamatan Tasikmadu
17 bab 17 belanja kebutuhan rumah tangga yang banyak
18 bab 18 di perjalanan pulang
19 bab 19 sampai di rumah, menjamu tamu
20 bab 20 orang Belanda juga suka keong sawah
21 bab 21 bersama sama berburu keong sawah
22 bab 22 kehangatan di malam hari
23 bab 23 kedatangan tamu yang tak diundang
24 bab 24 ketidaknyamanan Lestari
25 bab 25 pikiran dalam seorang pria
26 bab 26 mengantarkan umi berobat
27 bab 27 datang ke desa pada malam hari
28 bab 28 bentrok di tengah malam
29 bab 29 rencana warga desa Plarangan
30 bab 30 rencana emas pasca pemulihan luka
31 bab 31 kejutan yang luar biasa
32 bab 32 belanja untuk persiapan syukuran rumah
33 bab 33 rasa bersyukur keluarga Yasir
34 bab 34 malam pertama yang ganas
35 bab 35 kerja bakti membangun jalan desa
36 bab 36 perselisihan antar pemuda
37 bab 37 perubahan dunia mulai muncul
38 bab 38 pergi dari desa pada malam hari
39 bab 39 kebenaran kepala kampung
40 bab 40 berkumpul dengan teman satu geng
41 bab 41 menimbulkan kekacauan di markas militer kota
42 bab 42 perjalanan malam yang sunyi
43 bab 43 penghuni hutan lebat
44 bab 44 kembali ke desa Sawahan
45 bab 45 untung tidak terlambat
46 bab 46 cerita kakek
47 bab 47 menemani sang istri di rumah sakit
48 bab 48 kembali pulang ke rumah
49 bab 49 hari siang yang begitu dingin
50 bab 50 berita tentang desa Plarangan
51 bab 51 para pria yang bersemangat
52 bab 52 malam akan di mulai
53 bab 53 menggunakan tangan orang lain
54 bab 54 penyelidikan pada malam itu juga
55 bab 55 kehamilan yang sama
56 bab 56 langsung di bawa tanpa sadar
57 bab 57 bencana datang di malam hari
58 bab 58 kakek yang sangat sakti
59 bab 59 membuat kerajinan saat banjir
60 bab 60 perjalanan ke kota kecamatan Tanjunghejo
61 bab 61 sebelum sampai kota , barang sudah terjual
62 bab 62 bertemu dengan teman lama
63 bab 63 kehidupan sederhana di kampung Cicadas
64 bab 64 bandit hutan datang dengan ganas
Episodes

Updated 64 Episodes

1
bab 1 bangun dan langsung dinikahkan
2
bab 2 makan bersama di pagi hari
3
bab 3 bekerja di pasar
4
bab 4 memperbaiki atap rumah
5
bab 5 percakapan malam yang hangat
6
bab 6 badai datang, rencana esok pagi
7
bab 7 berjualan langsung habis , Belanja di kios..
8
bab 8 makan siang. berangkat ke ladang
9
bab 9 ladang yang memperihatinkan
10
bab 10 mulai muncul masalah di desa
11
bab 12 permintaan Yasir
12
bab 12 rasa penasaran Halimah
13
bab 13 menjual keong di desa pada siang hari
14
bab 14 berburu keong sawah...dan mengambil kayu bakar
15
bab 15 sore yang sibuk
16
bab 16 pergi ke kota kecamatan Tasikmadu
17
bab 17 belanja kebutuhan rumah tangga yang banyak
18
bab 18 di perjalanan pulang
19
bab 19 sampai di rumah, menjamu tamu
20
bab 20 orang Belanda juga suka keong sawah
21
bab 21 bersama sama berburu keong sawah
22
bab 22 kehangatan di malam hari
23
bab 23 kedatangan tamu yang tak diundang
24
bab 24 ketidaknyamanan Lestari
25
bab 25 pikiran dalam seorang pria
26
bab 26 mengantarkan umi berobat
27
bab 27 datang ke desa pada malam hari
28
bab 28 bentrok di tengah malam
29
bab 29 rencana warga desa Plarangan
30
bab 30 rencana emas pasca pemulihan luka
31
bab 31 kejutan yang luar biasa
32
bab 32 belanja untuk persiapan syukuran rumah
33
bab 33 rasa bersyukur keluarga Yasir
34
bab 34 malam pertama yang ganas
35
bab 35 kerja bakti membangun jalan desa
36
bab 36 perselisihan antar pemuda
37
bab 37 perubahan dunia mulai muncul
38
bab 38 pergi dari desa pada malam hari
39
bab 39 kebenaran kepala kampung
40
bab 40 berkumpul dengan teman satu geng
41
bab 41 menimbulkan kekacauan di markas militer kota
42
bab 42 perjalanan malam yang sunyi
43
bab 43 penghuni hutan lebat
44
bab 44 kembali ke desa Sawahan
45
bab 45 untung tidak terlambat
46
bab 46 cerita kakek
47
bab 47 menemani sang istri di rumah sakit
48
bab 48 kembali pulang ke rumah
49
bab 49 hari siang yang begitu dingin
50
bab 50 berita tentang desa Plarangan
51
bab 51 para pria yang bersemangat
52
bab 52 malam akan di mulai
53
bab 53 menggunakan tangan orang lain
54
bab 54 penyelidikan pada malam itu juga
55
bab 55 kehamilan yang sama
56
bab 56 langsung di bawa tanpa sadar
57
bab 57 bencana datang di malam hari
58
bab 58 kakek yang sangat sakti
59
bab 59 membuat kerajinan saat banjir
60
bab 60 perjalanan ke kota kecamatan Tanjunghejo
61
bab 61 sebelum sampai kota , barang sudah terjual
62
bab 62 bertemu dengan teman lama
63
bab 63 kehidupan sederhana di kampung Cicadas
64
bab 64 bandit hutan datang dengan ganas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!