bab 3 bekerja di pasar

Yasir bersiap ,ia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian ,di dalam ia hanya bisa menghela nafas pelan ,matanya tampak begitu sedih melihat keadaan kamar yang hanya cukup untuk tiga orang saja.

" aku akan membangun perlahan rumah yang lebih besar dan cukup untuk kami tinggal di masa depan " gumamnya dengan mata tekad.

Ia kemudian mengambil pisau kecil ,lalu meletakannya di pinggang , ia teringat bahwa tugas di pasar adalah mengamankan pasar dari para perusuh atau pencuri , dan dia mendapat bayaran dari pemerintah desa Plarangan.

Saat ia keluar kamar , Lestari sudah bersiap untuk berangkat bersamanya, pakaiannya yang bersih dengan penuh tambahan kain , membuat terlihat kontras dengan pakaian kerja dinasnya, namun Yasir tidak peduli, yang penting gadis itu tahu dengan pekerjaannya.

" mas apakah tidak apa apa ,aku ikut ke pasar ?" Lestari tampak ragu ,wajahnya yang masih muda terlihat menunduk.

" tidak apa apa ,tenang saja !"

" tapi ,di pasar semua orang memakai pakaian bagus dan rapi, sedangkan aku seperti ini " ucapnya dengan nada tidak percaya diri.

" tenang saja ,ada aku ,siapa saja yang menghina istriku ,aku akan lawan !" Kata Yasir tersenyum tipis.

" umhh ...!" Wajah gadis itu sedikit memerah dan tidak berani menatap mata Yasir.

" oke sudahlah,...!" Yasir merasa bahwa gombalannya terlalu aneh di mata gadis zaman dahulu , ia lalu bersiap berangkat bersama Lestari dan berpamitan dengan umi juga Halimah .

Di perjalanan Yasir bertemu dengan beberapa warga dan juga anak anak ,mereka tampak ramah dan juga bertanya beberapa hal ,namun karena Yasir masih ada pekerjaan, ia segera bergegas menuju pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa Plarangan.

Sampai di sana, suasana pasar masih sepi, ia segera masuk ke dalam kantor pasar yang berada di tepi jalan desa .

" assalamualaikum pak Sobri !" Sapa Yasir tersenyum tipis.

Orang tua yang sedang merokok kulit jagung menoleh dan melihat pemuda yang berkulit coklat kekar menyapanya " nak Yasir tumben kamu datang awal ,biasanya saat sudah hampir pasar selesai baru datang " celetuk pak Sobri tertawa lirih.

Yasir hanya tersenyum ,ia mengambil buku catatan dan melaporkan kedatangannya .

" sekarang kamu mau kemana?" Tanya pak Sobri penasaran, matanya melihat gadis di belakang Yasir yang tampak malu menunduk.

" hei nak siapa gadis itu ,apa kamu menculiknya?"

" pak Sobri jangan sembarangan berkata ,ini adalah istriku, namanya Lestari, sengaja aku bawa ke pasar, untuk mengetahui apa pekerjaanku ini " jelas Yasir dengan wajah muram.

" wahh kamu sudah menikah ,kapan ,kenapa aku tidak diundang ?"

" maaf ,pak Sobri tidak diundang karena pak Sobri hanya menghabiskan makanan saja di rumah...!"

" hahahaha bisa saja kamu ... oke sebagai hadiah ,aku hanya bisa memberikan ini " Pak Sobri mengeluarkan satu lembar uang Belanda zaman dahulu ( gulden) dan memberikannya kepada Yasir ." Gunakan ini untuk membeli barang barang yang kamu butuhkan nak !" Ucapnya dengan mata penuh kesungguhan.

" ini .... terimakasih pak Sobri ,saya mulai sekarang akan bekerja bersungguh sungguh ,"

" oke, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?"

" aku akan memulai kegiatan baru pak , umhh mengangkat barang barang ,ini juga buat menambah penghasilan mingguan !"

" oke aku setuju ,lagipula tenaga kerja masih kurang dan Emen masih sakit belum bisa bekerja " ujarnya memberikan catatan nama pedagang yang memiliki barang yang sangat banyak.

Yasir menerima catatan itu dan menghapalnya, lalu mengembalikan lagi catatan tersebut kepada kepala pasar pak Sobri.

" sekarang aku akan mulai bekerja pak !"

" ya silahkan...!"

Yasir menoleh ke arah Lestari yang tampak diam tidak bergerak sedikitpun " apakah kamu lelah tari ?"

" tidak mas ,aku tidak lelah ,"

" kalau begitu, ayo bantu suamimu mengangkut barang di tepi jalan dan membawanya masuk ke dalam pasar "

" baik mas !"

Segera pasangan muda itu mulai bekerja, para pedagang yang baru berdatangan merasa heran saat melihat preman pasar mengangkut barang mereka , dan terlebih lagi preman pasar itu membawa seorang gadis muda bersamanya.

Setelah puluhan kali keluar masuk pasar , Yasir dan Lestari selesai mengangkut barang dari tepi jalan, wajah Yasir dipenuhi keringat segar ,sedangkan gadis muda itu terlihat kelelahan, namun tidak ada kata kata mengeluh keluar dari mulutnya, hal itu membuat Yasir merasa kasihan dan berniat untuk memberinya hadiah.

" tari ini simpan " Yasir memberikan satu lembar uang gulden dan lima koin sen kepada gadis muda yang duduk itu .

" mas uang apa ini ?"

" ini, uang kewajiban aku sebagai seorang suami ,jadi terima saja ,dan beli apa yang kamu dan Halimah suka ,dan juga untuk membeli beras serta sembako lainnya " kata Yasir tersenyum lembut.

Kedua mata gadis muda itu tampak berkaca kaca, menahan rasa haru sekaligus kesedihan.

" ada apa ,apakah kamu tidak suka?"

" tidak mas ,hanya saja aku baru pertama kali memegang uang sebanyak ini, walaupun aku tidak begitu bisa membaca tulisan tapi uang ini sangat banyak "

" itu hak kalian berdua, di masa depan kebahagian akan datang dan kamu juga harus makan yang cukup dan banyak, agar tubuhmu bisa berkembang dengan baik "

" mas kenapa kamu sangat baik pada kami semua?"

" karena aku sudah menjadi suami kalian berdua , dan kalian berhak mendapatkan semua ini ,"

" mas terimakasih... !"

" sudah, jangan emosional, kita masih ada di pasar dan segera kita belanja kebutuhan sehari hari " ucapnya menepuk tangannya yang penuh dengan debu.

" umhh ...!"

Yasir bersama Lestari berjalan menuju lapak pedagang beras dan tepung ,pasar perbatasan desa memang sangat luas dan memiliki sistem yang cukup baik dengan luas sekitar 50 meter ,bisa menampung ratusan pedagang dari dua desa .

" hei anak muda, mau beli apa ?"

" beras satu karung kain putih , dan tepung singkong 1 kg "

" oke ditunggu... !"

Yasir melihat bahwa ada beberapa bumbu tradisional yang tergeletak di bagian bawang putih dan merah.

" satu paket bumbu tradisional...!"

" oke , apakah ada yang lain ?"

" sudah itu cukup... berapa ?"

" dua puluh koin sen !"

Yasir mengeluarkan dua ikat koin sen dan memberikannya kepada pedagang beras itu, lalu ia berjalan dengan gerobak kayu berisi beras dan tepung.

" tari ,ayo selanjutnya...!"

Yasir berjalan menuju bagian kain dan memandang dengan cermat kualitas kain yang akan dia beli itu.

" pak Masrul , satu kain ini berapa ?"

" umhh ... kang Yasir kamu mau beli kain ,ini satu meter dua koin sen , butuh berapa,?"

" kain satu meter sepuluh buah, lima meter tiga buah dan dua kain besar dua puluh meter "

" oke karena kang Yasir yang membeli ,lima puluh koin sen saja ,tidak mahal "

" apakah bisa kurang, saya hanya membawa empat puluh koin sen !"

" empat sembilan...!"

" pak Masrul ,tolonglah saya, empat puluh dan aku akan membawa barang ini "

" oke oke, tidak apa apa ,bawa saja sana "

Episodes
1 bab 1 bangun dan langsung dinikahkan
2 bab 2 makan bersama di pagi hari
3 bab 3 bekerja di pasar
4 bab 4 memperbaiki atap rumah
5 bab 5 percakapan malam yang hangat
6 bab 6 badai datang, rencana esok pagi
7 bab 7 berjualan langsung habis , Belanja di kios..
8 bab 8 makan siang. berangkat ke ladang
9 bab 9 ladang yang memperihatinkan
10 bab 10 mulai muncul masalah di desa
11 bab 12 permintaan Yasir
12 bab 12 rasa penasaran Halimah
13 bab 13 menjual keong di desa pada siang hari
14 bab 14 berburu keong sawah...dan mengambil kayu bakar
15 bab 15 sore yang sibuk
16 bab 16 pergi ke kota kecamatan Tasikmadu
17 bab 17 belanja kebutuhan rumah tangga yang banyak
18 bab 18 di perjalanan pulang
19 bab 19 sampai di rumah, menjamu tamu
20 bab 20 orang Belanda juga suka keong sawah
21 bab 21 bersama sama berburu keong sawah
22 bab 22 kehangatan di malam hari
23 bab 23 kedatangan tamu yang tak diundang
24 bab 24 ketidaknyamanan Lestari
25 bab 25 pikiran dalam seorang pria
26 bab 26 mengantarkan umi berobat
27 bab 27 datang ke desa pada malam hari
28 bab 28 bentrok di tengah malam
29 bab 29 rencana warga desa Plarangan
30 bab 30 rencana emas pasca pemulihan luka
31 bab 31 kejutan yang luar biasa
32 bab 32 belanja untuk persiapan syukuran rumah
33 bab 33 rasa bersyukur keluarga Yasir
34 bab 34 malam pertama yang ganas
35 bab 35 kerja bakti membangun jalan desa
36 bab 36 perselisihan antar pemuda
37 bab 37 perubahan dunia mulai muncul
38 bab 38 pergi dari desa pada malam hari
39 bab 39 kebenaran kepala kampung
40 bab 40 berkumpul dengan teman satu geng
41 bab 41 menimbulkan kekacauan di markas militer kota
42 bab 42 perjalanan malam yang sunyi
43 bab 43 penghuni hutan lebat
44 bab 44 kembali ke desa Sawahan
45 bab 45 untung tidak terlambat
46 bab 46 cerita kakek
47 bab 47 menemani sang istri di rumah sakit
48 bab 48 kembali pulang ke rumah
49 bab 49 hari siang yang begitu dingin
50 bab 50 berita tentang desa Plarangan
51 bab 51 para pria yang bersemangat
52 bab 52 malam akan di mulai
53 bab 53 menggunakan tangan orang lain
54 bab 54 penyelidikan pada malam itu juga
55 bab 55 kehamilan yang sama
56 bab 56 langsung di bawa tanpa sadar
57 bab 57 bencana datang di malam hari
58 bab 58 kakek yang sangat sakti
59 bab 59 membuat kerajinan saat banjir
60 bab 60 perjalanan ke kota kecamatan Tanjunghejo
61 bab 61 sebelum sampai kota , barang sudah terjual
62 bab 62 bertemu dengan teman lama
63 bab 63 kehidupan sederhana di kampung Cicadas
64 bab 64 bandit hutan datang dengan ganas
Episodes

Updated 64 Episodes

1
bab 1 bangun dan langsung dinikahkan
2
bab 2 makan bersama di pagi hari
3
bab 3 bekerja di pasar
4
bab 4 memperbaiki atap rumah
5
bab 5 percakapan malam yang hangat
6
bab 6 badai datang, rencana esok pagi
7
bab 7 berjualan langsung habis , Belanja di kios..
8
bab 8 makan siang. berangkat ke ladang
9
bab 9 ladang yang memperihatinkan
10
bab 10 mulai muncul masalah di desa
11
bab 12 permintaan Yasir
12
bab 12 rasa penasaran Halimah
13
bab 13 menjual keong di desa pada siang hari
14
bab 14 berburu keong sawah...dan mengambil kayu bakar
15
bab 15 sore yang sibuk
16
bab 16 pergi ke kota kecamatan Tasikmadu
17
bab 17 belanja kebutuhan rumah tangga yang banyak
18
bab 18 di perjalanan pulang
19
bab 19 sampai di rumah, menjamu tamu
20
bab 20 orang Belanda juga suka keong sawah
21
bab 21 bersama sama berburu keong sawah
22
bab 22 kehangatan di malam hari
23
bab 23 kedatangan tamu yang tak diundang
24
bab 24 ketidaknyamanan Lestari
25
bab 25 pikiran dalam seorang pria
26
bab 26 mengantarkan umi berobat
27
bab 27 datang ke desa pada malam hari
28
bab 28 bentrok di tengah malam
29
bab 29 rencana warga desa Plarangan
30
bab 30 rencana emas pasca pemulihan luka
31
bab 31 kejutan yang luar biasa
32
bab 32 belanja untuk persiapan syukuran rumah
33
bab 33 rasa bersyukur keluarga Yasir
34
bab 34 malam pertama yang ganas
35
bab 35 kerja bakti membangun jalan desa
36
bab 36 perselisihan antar pemuda
37
bab 37 perubahan dunia mulai muncul
38
bab 38 pergi dari desa pada malam hari
39
bab 39 kebenaran kepala kampung
40
bab 40 berkumpul dengan teman satu geng
41
bab 41 menimbulkan kekacauan di markas militer kota
42
bab 42 perjalanan malam yang sunyi
43
bab 43 penghuni hutan lebat
44
bab 44 kembali ke desa Sawahan
45
bab 45 untung tidak terlambat
46
bab 46 cerita kakek
47
bab 47 menemani sang istri di rumah sakit
48
bab 48 kembali pulang ke rumah
49
bab 49 hari siang yang begitu dingin
50
bab 50 berita tentang desa Plarangan
51
bab 51 para pria yang bersemangat
52
bab 52 malam akan di mulai
53
bab 53 menggunakan tangan orang lain
54
bab 54 penyelidikan pada malam itu juga
55
bab 55 kehamilan yang sama
56
bab 56 langsung di bawa tanpa sadar
57
bab 57 bencana datang di malam hari
58
bab 58 kakek yang sangat sakti
59
bab 59 membuat kerajinan saat banjir
60
bab 60 perjalanan ke kota kecamatan Tanjunghejo
61
bab 61 sebelum sampai kota , barang sudah terjual
62
bab 62 bertemu dengan teman lama
63
bab 63 kehidupan sederhana di kampung Cicadas
64
bab 64 bandit hutan datang dengan ganas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!