Bertemu Tuan Chen

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruang tamu kediaman Tuan Chen memancarkan cahaya kekuningan yang megah namun dingin. Bu Elma dan Mita duduk dengan punggung tegak dan tangan yang saling bertautan erat di pangkuan. Kemewahan di sekeliling mereka, guci-guci porselen setinggi manusia dan ukiran kayu jati yang rumit, bukannya membuat nyaman, malah membuat mereka merasa kerdil.

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari arah tangga besar. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul, dikawal oleh empat pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang rapi.

Bu Elma menahan napas. Pria itu adalah Tuan Chen. Di luar dugaannya, sosok yang selama ini ia sebut 'tua bangka bau tanah' ternyata memiliki karisma yang mengintimidasi. Rambutnya memang memutih sempurna, dan kerutan di sudut matanya menandakan usia yang tak lagi muda, namun perpaduan garis wajah Tionghoa dan pribumi itu memberikan kesan gagah yang dingin.

Tuan Chen duduk di kursi kebesaran yang tampak seperti singgasana, menatap lurus ke arah kedua wanita yang kini tertunduk lesu di atas lantai marmer yang dingin.

"Bagaimana? Apakah kalian sudah sanggup membayar semua hutang kalian?" tanya Tuan Chen. Suaranya berat dan menggema di ruangan yang luas itu, membuat bulu kuduk Mita meremang.

Mita hanya bisa menunduk, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, Bu Elma, dengan sisa-sisa keberanian dan kelicikannya, mencoba memasang wajah paling manis yang ia miliki.

"Tuan Chen yang terhormat," ujar Bu Elma dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin. "Mengenai hutang lima ratus juta itu, kami sadar bahwa uang sebanyak itu tidak mudah untuk kami kumpulkan dalam waktu singkat. Namun, saya datang membawa penawaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar tumpukan uang kertas."

Tuan Chen menyandarkan punggungnya, menatap Bu Elma dengan sebelah alis terangkat. "Oh, jadi intinya kalian berdua tidak sanggup untuk membayar hutang, dan kalian akan menyerahkan seorang wanita untukku, betul begitu?"

Tatapan Tuan Chen seolah menembus langsung ke dalam rencana busuk mereka. Bu Elma dan Mita gemetar hebat, merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan.

"B... Betul sekali, Tuan," sahut Bu Elma terbata-bata. "Kebetulan putri saya yang kedua, Kamila, baru saja bercerai dan dia baru saja kehilangan anaknya. Saya sangat kasihan melihatnya selalu bersedih di rumah. Saya pikir... Kamila pasti akan sangat bahagia jika bisa mengabdi dan menjadi istri Tuan yang hebat ini."

Hening sejenak. Ruangan itu terasa semakin mencekam sebelum tiba-tiba Tuan Chen tertawa terbahak-bahak. Tawa yang kering dan tidak mengandung keramahan sedikit pun.

"Dasar manusia licik kalian ini!" seru Tuan Chen setelah tawanya mereda. "Berlaga sok peduli padahal hati kalian sungguh kejam. Menjual anak sendiri untuk menutupi kebodohan kalian berjudi?"

Bu Elma dan Mita semakin pucat, namun Tuan Chen melanjutkan dengan seringai tipis.

"Tapi baiklah. Saya terima tawaran kalian. Akan aku jadikan Kamila sebagai istriku, dan... hutang kalian saya anggap lunas."

Mata Bu Elma dan Mita seketika berbinar. Beban berat yang menghimpit dada mereka seolah terangkat seketika.

"Namun ingat satu hal," suara Tuan Chen berubah menjadi sedingin es. "Awas saja jika kalian sampai berbohong atau wanita itu melarikan diri, jika sampai itu terjadi, nyawa kalian berdua yang akan menjadi taruhannya. Segera bawa Kamila ke rumah ini, mengerti?!"

"Mengerti, Tuan! Sangat mengerti!" jawab Bu Elma cepat-cepat, hampir seperti menyembah.

Sepulangnya dari sana, di dalam taksi, wajah Elma dan Mita tidak lagi pucat. Mereka saling berpegangan tangan dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

"Kita berhasil, Mah! Kita bebas!" bisik Mita penuh semangat.

"Tentu saja. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui," sahut Bu Elma licik. "Hutang lunas, dan si pembawa sial Kamila akan pergi dari rumah itu selamanya. Sekarang, kita hanya perlu memikirkan satu hal..."

"Apa itu, Mah?"

"Bagaimana cara menyeret Kamila ke sana tanpa dia curiga. Kita harus menggunakan 'senjata' terakhir kita," ujar Bu Elma sambil menatap ke luar jendela, otaknya mulai merangkai kebohongan besar untuk menjerat Kamila. "Kita akan bilang padanya bahwa ini adalah wasiat terakhir ayahnya sebelum meninggal yang baru kita temukan. Dia anak yang bodoh dan berbakti, dia pasti tidak akan bisa menolak."

.

.

Mobil hitam itu baru saja menghilang dari pandangan saat Kamila masih berdiri mematung di ambang pintu, memegangi perutnya yang berdenyut nyeri. Namun, belum sempat ia menenangkan diri, mobil itu sudah kembali. Bu Elma dan Mita turun dengan wajah yang diselimuti kesedihan yang dibuat-buat.

Melihat mereka kembali dalam keadaan utuh, Kamila langsung menghampiri dengan raut wajah cemas. Di mata Kamila, meski ia sering disakiti, mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian Ayahnya dan kehilangan bayinya.

"Ibu! Kak Mita! Kalian tidak apa-apa?" tanya Kamila parau, suaranya bergetar karena khawatir. "Apa yang mereka lakukan pada kalian?"

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Bu Elma menghambur memeluk Kamila. Ia terisak keras, air mata buayanya membasahi bahu Kamila. "Mila... maafkan Ibu, Mila! Ibu sudah tidak kuat lagi memikul beban ini sendirian!"

Kamila tertegun, tangannya yang gemetar perlahan membalas pelukan ibunya. "Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?"

Bu Elma melepaskan pelukannya, menatap Kamila dengan mata sembab yang dipaksakan. "Semua hutang ini... ini semua sebenarnya bukan hutang Ibu, Mila. Ini semua peninggalan mendiang Ayahmu, Pak Jayadi."

Bak disambar petir, Kamila menggeleng cepat. "Apa? Tidak mungkin! Ibu jangan bohongi aku. Ayah mana mungkin melakukan hal seperti ini? Lagipula uang sebanyak itu untuk apa?"

"Mila, dengarkan!" sela Bu Elma dengan nada meyakinkan. "Selama ini kau hanya tahu beresnya saja. Kau tidak tahu kesusahan yang dialami oleh Ayahmu di akhir hayatnya. Usahanya kena tipu rekan bisnisnya, dan untuk mengganti kerugian pabrik agar tidak bangkrut, Ayahmu diam-diam meminjam uang dua miliar kepada Tuan Chen. Sekarang, dengan bunga yang menumpuk, hutang itu sudah mencapai tiga miliar!"

Kamila mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Tiga miliar? Tapi kenapa baru sekarang?"

Mita ikut mendekat, memasang wajah prihatin seolah ia adalah korban yang paling menderita. "Sebenarnya, kami yang meminta anak buah Tuan Chen untuk berbohong tadi, Mila. Kami bilang hutangnya hanya lima ratus juta agar kau tidak jantungan. Tapi kenyataannya jauh lebih mengerikan. Itu semua bekas hutang Ayahmu. Ibu selama ini diam-diam mencicilnya sampai perhiasannya habis semua, tapi tetap saja tidak cukup."

Kamila memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Aku tidak percaya... Ayah orang yang sangat berhati-hati. Ini tidak masuk akal."

"Percayalah, Mila!" Mita meyakinkan dengan suara yang hampir berteriak. "Tuan Chen sekarang menagih janji. Ada wasiat lisan dari Ayahmu bahwa jika hutang itu tidak bisa dilunasi, maka rumah ini, satu-satunya kenangan Ayah untukmu akan disita besok pagi! Ibu sudah menyerah, Mila. Ibu sudah tidak sanggup lagi membayar bunga-bunganya."

Kamila terdiam. Logikanya berteriak bahwa ada yang salah dengan cerita ini, namun rasa cintanya yang buta pada mendiang Ayahnya mengalahkan segalanya. Ia tidak akan membiarkan rumah peninggalan Ayahnya jatuh ke tangan orang asing.

"Besok pagi aku akan segera menemui Tuan Chen," ujar Kamila tegas, meski tubuhnya masih lemas. "Tolong berikan aku alamatnya, Bu. Aku tidak akan membiarkan rumah peninggalan Ayah diambil alih oleh pria itu. Aku akan bicara padanya, memohon agar dia memberi keringanan."

Bu Elma dan Mita saling melirik. Kilat kemenangan terpancar di mata mereka.

"Tentu saja, Mila, Ibu akan tuliskan alamatnya. Kau memang anak yang berbakti," ucap Bu Elma sambil mengusap air matanya yang sudah mengering. "Ibu tahu kau pasti bisa melunakkan hati Tuan Chen."

Malam itu, di kamar mereka, Bu Elma dan Mita tertawa tanpa suara.

"Dia benar-benar masuk perangkap, Mah," bisik Mita puas. "Besok pagi, begitu dia menginjakkan kaki di rumahnya Tuan Chen, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari sana. Dia akan menjadi 'pembayaran' paling manis untuk hutang-hutang kita."

"Benar, Mita. Biarkan dia menikmati 'kemewahannya' bersama si tua bangka itu. Dan kita? Kita akan menguasai rumah ini sepenuhnya tanpa perlu mendengar keluhannya lagi," sahut Bu Elma sambil tersenyum licik, membayangkan masa depan mereka yang bebas dari bayang-bayang Kamila.

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

dasar manusia culas, manusia licik pengen jambak aj 2 manusia rubah

2025-12-31

3

Rusmini Mini

Rusmini Mini

di balik derita pasti ada bahagia...

2026-01-30

1

Nar Sih

Nar Sih

di mana,,cerita ibu tiri selau jht 😭

2026-01-01

1

lihat semua
Episodes
1 Tragedi di tangga darurat
2 Diceraikan
3 Rencana busuk ibu tiri
4 Bertemu Tuan Chen
5 Rencana Tuan Chen yang sebenarnya
6 Salah faham
7 Tuduhan yang menyakitkan
8 Akhirnya Evan tahu kebenarannya
9 Mulai memperhatikan
10 Wasiat palsu dari Jingga
11 Rencana licik Siska
12 Pergi ke pemakaman sekaligus jalan-jalan
13 Mulai merasa nyaman
14 Rencana licik tiga ular
15 Fitnah untuk Kamila
16 Masuk dalam perangkap
17 Maafkan aku, Kamila
18 Menjebak Pelaku
19 Berakhir di jeruji besi
20 Keputusan Evan yang mengejutkan
21 Meyakinkan Kamila
22 Siska mulai menggila
23 Akhirnya Menikah
24 Berpura-pura mesra
25 Ditemukannya saksi kunci
26 Mulai merindukan Kamila
27 Tak bisa menahan diri
28 Kecanggungan kembali melanda
29 Meminta restu kepada Jingga
30 Kebenaran yang terungkap
31 Perangkap untuk wanita iblis
32 Salah faham
33 Terror terakhir
34 Badai telah berlalu
35 Menjadi istri yang seutuhnya
36 Suasana hati yang cerah
37 Lelah yang terbayarkan
38 Perjanjian di Rumah Sakit
39 Pertemuan yang tidak di duga
40 Rencana kejutan untuk Kamila
41 Kejutan yang tidak bisa dilupakan
42 Rencana busuk Maya
43 Candaan di pagi hari yang berujung penyesalan
44 Balasan untuk Maya
45 Kepergian Tuan chen dan piknik dadakan
46 Kejutan untuk Evan
47 Menikmati momen indah di kantor
48 Mulai terkuak
49 Rahasia yang terbongkar
50 pelarian yang sia-sia
51 Hari pembalasan
52 Malam penuh penantian
53 Sepupu yang menyebalkan
54 Jenika Oh Jenika
55 Pergi ke Mall dan rencana Jenika
56 Duo serigala beraksi
57 Kamila yang tegar
58 Mempersiapkan mental baja
59 Pertarungan dimulai
60 Dibalas dengan elegan
61 Kejutan yang dirahasiakan
62 Rahasia Jenika
63 Memberi tahu kepada Evan
64 Kecewa yang mendalam
65 Keputusan dan kehancuran
66 Keputusan yang sudah bulat
67 Miranda yang menggila
68 Terserang virus
69 Kondisi Baby Zevan yang membaik
70 Acara ulangtahun Baby Zevan
71 Ulangtahun Zevan, dan pertemuan yang tidak di duga
72 Mengembalikan kebahagiaan yang hilang
73 Kondisi Kamila yang memburuk
74 Kabar bahagia
75 Ngidam pinggir jalan
76 Pijatan Plus imbalan
77 Rencana besar Tuan Chen
78 Hari bahagia
79 Pernikahan Kevin dan Rani
80 Bahagia selamanya (End)
81 Pengumuman karya terbaruku
82 pengumuman karya terbaruku di bulan Maret
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Tragedi di tangga darurat
2
Diceraikan
3
Rencana busuk ibu tiri
4
Bertemu Tuan Chen
5
Rencana Tuan Chen yang sebenarnya
6
Salah faham
7
Tuduhan yang menyakitkan
8
Akhirnya Evan tahu kebenarannya
9
Mulai memperhatikan
10
Wasiat palsu dari Jingga
11
Rencana licik Siska
12
Pergi ke pemakaman sekaligus jalan-jalan
13
Mulai merasa nyaman
14
Rencana licik tiga ular
15
Fitnah untuk Kamila
16
Masuk dalam perangkap
17
Maafkan aku, Kamila
18
Menjebak Pelaku
19
Berakhir di jeruji besi
20
Keputusan Evan yang mengejutkan
21
Meyakinkan Kamila
22
Siska mulai menggila
23
Akhirnya Menikah
24
Berpura-pura mesra
25
Ditemukannya saksi kunci
26
Mulai merindukan Kamila
27
Tak bisa menahan diri
28
Kecanggungan kembali melanda
29
Meminta restu kepada Jingga
30
Kebenaran yang terungkap
31
Perangkap untuk wanita iblis
32
Salah faham
33
Terror terakhir
34
Badai telah berlalu
35
Menjadi istri yang seutuhnya
36
Suasana hati yang cerah
37
Lelah yang terbayarkan
38
Perjanjian di Rumah Sakit
39
Pertemuan yang tidak di duga
40
Rencana kejutan untuk Kamila
41
Kejutan yang tidak bisa dilupakan
42
Rencana busuk Maya
43
Candaan di pagi hari yang berujung penyesalan
44
Balasan untuk Maya
45
Kepergian Tuan chen dan piknik dadakan
46
Kejutan untuk Evan
47
Menikmati momen indah di kantor
48
Mulai terkuak
49
Rahasia yang terbongkar
50
pelarian yang sia-sia
51
Hari pembalasan
52
Malam penuh penantian
53
Sepupu yang menyebalkan
54
Jenika Oh Jenika
55
Pergi ke Mall dan rencana Jenika
56
Duo serigala beraksi
57
Kamila yang tegar
58
Mempersiapkan mental baja
59
Pertarungan dimulai
60
Dibalas dengan elegan
61
Kejutan yang dirahasiakan
62
Rahasia Jenika
63
Memberi tahu kepada Evan
64
Kecewa yang mendalam
65
Keputusan dan kehancuran
66
Keputusan yang sudah bulat
67
Miranda yang menggila
68
Terserang virus
69
Kondisi Baby Zevan yang membaik
70
Acara ulangtahun Baby Zevan
71
Ulangtahun Zevan, dan pertemuan yang tidak di duga
72
Mengembalikan kebahagiaan yang hilang
73
Kondisi Kamila yang memburuk
74
Kabar bahagia
75
Ngidam pinggir jalan
76
Pijatan Plus imbalan
77
Rencana besar Tuan Chen
78
Hari bahagia
79
Pernikahan Kevin dan Rani
80
Bahagia selamanya (End)
81
Pengumuman karya terbaruku
82
pengumuman karya terbaruku di bulan Maret

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!