Sita

Mata Astrid masih memandangi layar ponselnya, menatap sinis karena melihat Hanin yang tampil dengan elegan dan professional saat mempromosikan produknya,

"Bu, masa iya sih si Hanin ini jadi mendadak pinter kayak gini, asalnya kan otaknya butek, bodoh" ujar Astrid berkata penuh kebencian.

"Ya, kali aja dia di training dulu makanya jadi pinter gitu, trus Live kayak tadi" ujar bu Hemas yang juga menatap Hanin dengan sinis.

Tak lama kemudian, Adrian datang .. pikiranya tampak kacau, sejak dia menceraikan Hanin hidupnya pun menjadi berantakan. Adrian juga suka mabuk, penghasilan yang Adrian dapat sekarang di bagi dua.. 50% untuk ibunya, dan 50% sisanya untuk dirinya sendiri.

Wajah Adrian yang dulu bersih, kini tampak suram bahkan terlihat kucel. Astrid kakaknya lalu menghampiri Adrian..

"Adrian, si Hanin tuh.. sekarang jadi tukang promosi produk kosmetik, Live juga di tiktok ya, jangan-jangan sekalian dia open 'BO' jualan apem karena mandul" ujar Astrid dengan kasar.

"Huss, mbak nggak boleh ngomong kayak gitu ah!," ujar Adrian, ada rasa penyesalan di hatinya karena telah menceraikan Hanin, sebuah keputusan yang ia ambil hanya karena pengaruh ibu dan kakaknya.

Hati Adrian kini terasa hampa, Hanin memang hanya istri biasa tapi dia telaten mengurusnya saat bersama.

Sita, perempuan yang dipilihkan oleh ibunya sekarang ini tidak pernah mau memikirkan dirinya telaten seperti Hanin dulu.

Sita adalah seorang karyawan bank swasta, ia memilih Adrian karena Adrian seorang ASN yang mempunyai gaji tetap, dan itu cukup membuat Sita memilihnya.

Orang tua Sita juga adalah sahabat ibu Hemas, Sita juga sangat dimanja orang tuanya, hidupnya penuh glamour.. padahal hanya pegawai bank biasa, dengan gaji yang biasa saja Sita juga pemilih dalam hal makanan, tidak bisa memasak bahkan apapun selalu di kerjakan dengan pembantu rumah.

Adrian sebenarnya tidak terlalu menyukai Sita walaupun dia cantik, Sita bukan tipe perempuan yang cocok dijadikan istri.. tapi ibu Hemas bersikeras menjodohkannya.

POV SITA

Namaku Sita, usiaku 29 tahun, pendidikan terakhir S1 Hukum, aku adalah seorang karyawan bank swasta terkenal dan aku bungsu dari 2 bersaudara.

Saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan duda cerai tanpa anak, namanya Adrian, pekerjaan ASN di pemda kota Bandung.

Sejak SMP aku memang sudah tertarik dengan putra teman mamaku ini, tapi aku malu mengungkapkannya.. Adrian cukup tampan dan baik, aku juga nggak meragukan penghasilannya karena Adrian pasti ada gaji bulanannya oleh pemerintah.

Adrian juga sudah melamarku karena desakan orang tuanya, tapi kadang aku suka badmood mendengar cerita mantan istrinya yang katanya mandul itu,

"Sita, kamu nggak usah sedih gitu.. Adrian nggak akan mungkin meninggalkan kamu" ujar mbak Astrid kakak Adrian.

"Aku hanya was-was saja Adrian kembali lagi atau selingkuh dengan mantan istrinya itu, aku nggak ingin itu" ujarku saat itu. "Nggak mungkin Sita, percaya deh sama mbak.." ujar mbak Astrid yang sepertinya mendominasi keluarganya.

Sebenarnya aku ingin saja menikahi Adrian secara resmi supaya ikatan kami lebih solid, tapi Adrian selalu beralasan mentalnya belum kuat dan masalah keuangannya.

Aku sangat mencintai Adrian sejak masa SMP, tapi baru sekarang cintaku di terima itupun karena dukungan orang tua kami.

Seperti hari ini contohnya, ketika Adrian menjemputku sepulang kerja dari kantor, "Mas kita jalan-jalan dulu yuk?" ujarku. Adrian seperti tidak suka dan acuh..

"Nanti dulu deh, aku capek" ujar Adrian, "kok gitu sih mas ngomongnya?" tanyaku.

"Ya, gimana ya aku ini pulang kerja harus cuci baju sendiri, beresin rumah, karena kalau besoknya aku kerjakan aku malas, takut kesiangan kerja" ujar Adrian. Aku hanya terdiam mendengar semua alasannya.

Akhirnya Adrian hanya mengantarku sampai rumah saja, padahal aku pingin pergi jalan berdua, makan atau hanya sekedar nonton.. seperti pasangan oada umumnya.

Ada perasaan janggal yang aku rasakan, seolah Adrian belum bisa move on dari mantan istrinya yang mandul itu.

Kadang saat kami berdua pun Adrian terlihat melamun, entah pikirannya kemana.. dan itu cukup membuatku kesal.

"Sita, sini ... "panggil mamaku, "ada apa mah?" tanyaku, "itu tadi Adrian mengantarmu pulang tapi kenapa nggak mampir dulu?" ujar mamaku.

"Mas Adrian buru-buru mah, dia belum beres-beres rumahnya, belum cuci baju, belum setrika, karena dia nggak mau telat kerja besoknya" ujarku.

"Oh, seharusnya kamu coba bantu Adrian mengurus keperluannya.. "ujar mamaku.

"Aku?, ah ogah aku mah.. ngapain aku harus bantu semua pekerjaan dia, memang aku istrinya, walaupun nanti juga aku jadi istrinya aku nggak akan bisa, biar aja pembantu yang kerjakan, aku kan kerja mah.." ujarku.

Mamaku hanya menggelengkan kepalanya.

Sejujurnya aku memang nggak menyukai pekerjaan rumah tangga, kalau pun nanti aku punya anak mungkin aku akan sewa baby sitter karena aku fokus dengan pekerjaanku.

"Sita, kamu ini .. bagaimana kalau nanti kamu punya baby, kamu harus urus poopnya, cebokin, dan lain-lain, harus belajar buat makanan bayi, itu semua harus dikerjakan sendiri, ngerti?" ujar mamaku.

Aku kembali ingat Adrian, sebenarnya aku sudah nggak kuat untuk melampiaskan hasratku padanya karena itu aku pendam sejak lama, maklumlah aku sudah berusia 29 tahun.. dari dulu aku menunggu Adrian.

Mungkin jika waktunya pas dan moodku sedang bagus aku akan coba ajak Adrian berhubungan suami istri.. karena mengajaknya menikah juga sulit, dan kalau sampai aku hamil aku akan minta pertanggung jawabannya.

Aku mencoba mengirim pesan singkat untuk Adrian,

Sita : Mas.. udah sampai rumah?

Adrian : Nggak ke rumah, ini aku di rumah ibu ikut cuci baju sekalian, males mau pulang ke rumah, nggak ada yang masakin sih..

Sita : jadi Mas kapan pulang ke rumah?

Adrian : Mungkin sebentar lagi..

Aku pun berpikir sejenak, besok kan aku libur kerja 2 hari apa salahnya aku nginap di rumah Adrian, aku bisa kencan berdua aja dengannya.. aku pun senyum-senyum sendiri membayangkan hasratku yang mungkin bisa tersalurkan.

"Aku harus bisa merayu Adrian dengan tubuhku ini, masa dia nggak tertarik, aku kan juga cantik" gumamku dalam hati.

Sore harinya, aku mulai bersiap-siap menuju ke rumah Adrian.. "mau kemana Sita?" tanya mamaku. "Mau makan bareng mah sama teman-teman SMA dulu, tapi acaranya di villa teman di lembang dan mungkin sampai lusa baru pulang, kan libur mah" ujarku berbohong.

"Oh, gitu ya sudah hati-hati di jalan, jaga diri baik-baik.. "ujar mamaku. "iya mah, makasih" ujarku, lalu aku segera berpamitan.

Aku segera menuju mobilku dan pergi meninggalkan halaman rumah, dengan kecepatan sedang aku langsung menuju rumah Adrian.

Ada perasaan lega sambil aku mengemudikan mobilku, rasanya tidak sabar untuk cepat sampai dan ...... memulai rencana yang sudah ada dalam pikiranku ini.

****

Terpopuler

Comments

Yuliati Soemarlina

Yuliati Soemarlina

sita kamu sok banget..padahal ekonomi mu biasa" aja..

2026-07-08

0

Dwi Agustina

Dwi Agustina

Amit2 ada y perempuan kyk Sita😅

2026-01-01

0

lihat semua
Episodes
1 Pengaruh Orang Terdekat
2 Adrian Menggugat Cerai
3 Melihat Mantan Suami
4 Tetap Benci
5 Sita
6 Rencana Sita
7 Ruko Baru Hanin, Birahi Sita.
8 Cinta yang Ruwet.
9 Jujur
10 Sop Buntut
11 Menipu
12 POV ADRIAN
13 Korea Selatan
14 Kembali Pulang
15 Penolakan Adrian
16 Kejujuran Adrian
17 Davina Bertemu Dengan Hanin
18 Membeli Rumah Mantan Suami
19 Jadian
20 Mobil Impian
21 Sita Ngamuk
22 Berkenalan
23 Makan Siang
24 Pengusaha Wanita Terbaik
25 Melibatkan Polisi
26 Penjara
27 Lamaran Untuk Davina
28 Sita oh .. Sita
29 Melindungi
30 Pengantin Baru
31 Syukuran
32 Menahan Amarah
33 Jadian
34 Berkenalan
35 Pengajian
36 Melepas Status Janda
37 Arti Kebersamaan
38 Hati yang Keras
39 Sita dan Bimo
40 Sama Sama Hamil
41 Hari yang Menegangkan
42 Baby Boy
43 Insyaf
44 Sita Melahirkan
45 Ke Dokter Kandungan
46 Cek Laboratorium
47 Hati Seluas Samudra
48 Kejujuran
49 Hanin Melahirkan
50 Menjadi Ibu
51 Muhammad Rayyan
52 Mie Goreng Aceh
53 Sikap Adrian
54 Stroke
55 Permintaan Maaf
56 Ngeyel
57 Masjidil Haraam
58 Doha Qatar
59 Oleh Oleh Buat ART
60 Mencekam
61 Sakaratul Maut
62 Duka
63 Puber
64 Manula Genit
65 Singapore Trip
66 Menemani Rayyan
67 Jogjakarta
68 Saling Menyemangati
69 Persiapan Syukuran
70 Ulang Tahun Rayyan
71 Cemburu
72 Mengunjungi Astrid
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Pengaruh Orang Terdekat
2
Adrian Menggugat Cerai
3
Melihat Mantan Suami
4
Tetap Benci
5
Sita
6
Rencana Sita
7
Ruko Baru Hanin, Birahi Sita.
8
Cinta yang Ruwet.
9
Jujur
10
Sop Buntut
11
Menipu
12
POV ADRIAN
13
Korea Selatan
14
Kembali Pulang
15
Penolakan Adrian
16
Kejujuran Adrian
17
Davina Bertemu Dengan Hanin
18
Membeli Rumah Mantan Suami
19
Jadian
20
Mobil Impian
21
Sita Ngamuk
22
Berkenalan
23
Makan Siang
24
Pengusaha Wanita Terbaik
25
Melibatkan Polisi
26
Penjara
27
Lamaran Untuk Davina
28
Sita oh .. Sita
29
Melindungi
30
Pengantin Baru
31
Syukuran
32
Menahan Amarah
33
Jadian
34
Berkenalan
35
Pengajian
36
Melepas Status Janda
37
Arti Kebersamaan
38
Hati yang Keras
39
Sita dan Bimo
40
Sama Sama Hamil
41
Hari yang Menegangkan
42
Baby Boy
43
Insyaf
44
Sita Melahirkan
45
Ke Dokter Kandungan
46
Cek Laboratorium
47
Hati Seluas Samudra
48
Kejujuran
49
Hanin Melahirkan
50
Menjadi Ibu
51
Muhammad Rayyan
52
Mie Goreng Aceh
53
Sikap Adrian
54
Stroke
55
Permintaan Maaf
56
Ngeyel
57
Masjidil Haraam
58
Doha Qatar
59
Oleh Oleh Buat ART
60
Mencekam
61
Sakaratul Maut
62
Duka
63
Puber
64
Manula Genit
65
Singapore Trip
66
Menemani Rayyan
67
Jogjakarta
68
Saling Menyemangati
69
Persiapan Syukuran
70
Ulang Tahun Rayyan
71
Cemburu
72
Mengunjungi Astrid

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!