Status Janda, Rekening Miliaran

Status Janda, Rekening Miliaran

Pengaruh Orang Terdekat

Adrian Wijaya adalah seorang pria tampan berusia sekitar 32 tahun, dengan latar belakang sarjana ekonomi dan pekerjaan sebagai ASN di kota Bandung.

Adrian menikah dengan seorang wanita cantik bernama Hanin Kirana. Hanin berusia 30 tahun, pendidikan terakhir D3 akademi sekretaris, pekerjaan ibu rumah tangga,

Hanin dan Adrian sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Mereka berdua cukup sabar menjalani keseharian dengan bekerja dan berdoa.

Mereka berdua tinggal di sebuah rumah sederhana, tidak mewah hanya rumah mungil standar yang cukup asri.

Adrian sangat menyayangi Hanin, walau pun terkadang ibunya kerap kali mencampuri permasalahan keluarganya.

POV ADRIAN

Aku adalah anak satu-satunya laki-laki, kakakku dan adikku semuanya perempuan dan mereka juga sudah menikah.

Suatu hari sepulang kerja aku sengaja mampir ke" rumah orang tuaku, untuk menengok ayah yang sedang sakit, ternyata kakak dan adikku juga berada di sana..

"Adrian, sini kumpul nih ada martabak kesukaan kamu, "ujar ibuku. "iya bu, aku ke kamar ayah dulu sebentar.." ujarku. Aku melihat ayah di kamarnya sedang berbaring, beliau menderita stroke ringan tapi sudah agak membaik.

"Ayah, gimana sekarang kondisinya, apa yang dirasa?" tanyaku pada ayah.

"Alhamdulillah Adrian, agak mendingan jadi badan ayah terasa agak enteng" ujar pak Wijaya. "Mm, gitu ya sudah ayah yang sabar.. jangan banyak pikiran, aku mau ketemu ibu dulu" ujarku. Ayah hanya tersenyum.

Aku kemudian berjalan ke ruang tengah dan bergabung dengan ibu dan saudaraku,

"Adrian, kamu ini sudah menikah 5 tahun.. tapi istri kamu belum hamil juga, ini kenapa nak?, harusnya sebagai laki-laki kamu punya target, mau seperti ini terus?" ujar ibuku.

"Padahal Hanin itu nggak kerja kan?, kerjanya di rumah aja, banyak santainya kok nggak hamil-hamil?" ujar Astrid kakakku.

"Mungkin kami belum di percaya aja di kasih keturunan, kami cuma bisa bersabar, berdoa" ujarku santai.

"Kamu jadi suami baik banget ya Drian, kamu itu anak laki-laki satu-satunya ibu, adik kamu saja sudah punya anak usia 3 tahun, kalau Hanin hamil sejak awal mungkin anak kamu usianya sudah 4 tahun.. ngerti?" ujar ibuku.

"Adrian, coba lihat istri kamu, nggak kerja, nggak kasih keturunan tapi terus dapat gaji utuh dari kamu, itu namanya istri nggak berguna, paham?" ujar kakakku sedikit emosi.

Aku hanya terdiam, mencoba mencerna setiap omongan, kritik dari ibu dan kakakku..

"Coba kamu pikir baik-baik Adrian, apa kamu nggak rugi kamu keep istri seperti itu, kalau aku jadi laki-laki sih ogah, mending cari perempuan lain" ujar mbak Astrid kakakku.

Aku pun memikirkan omongan kakakku yang ada benarnya, juga omongan ibu yang terkesan sama dengan mbak Astrid.

"Adrian, seorang perempuan menikah 4 tahun lebih dan dia belum hamil.. itu sama saja dia cacat alias mandul, mending pisah aja deh!" ujar mbak Astrid, ibuku pun mengangguk.

Aku termenung mendengar itu semua.

"Adrian, aku punya teman perempuan.. dia itu ASN, dia kerja, pas nikah eh langsung hamil, padahal dia capek kerja, itu baru namanya perempuan sempurna, ngerti kamu?" ujar mbak Astrid lagi.

Aku pun semakin pusing mendengar omongan dan sikap ibuku dan mbak Astrid, aku seperti menghadapi dilema .. mereka ingin aku berpisah, tapi aku masih sangat mencintai Hanin istriku, dan Hanin pun juga mencintaiku.

"Adrian, dengar ibu ya nak.. kamu itu kepala keluarga, kamu harus tegas, jangan hanya diam, apa timbal balik Hanin dengan kamu?, memanjakan istri nggak salah tapi lihat .. apa dia bisa memberikan anak?" ujar ibuku, lalu diangguki oleh mbak Astrid dan adikku.

Setelah puas mendengar semua ocehan, nasihat keluargaku aku pun berpamitan pulang, dan langsung menuju ke rumah.

***

Tiba di rumah, tampak Hanin sedang bersantai dengan ponselnya. Adrian pun masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, melihat itu Hanin bergegas mengikuti suaminya ke kamar, "Mas .. capek?" tanya Hanin.

"Ya, iyalah capek.. namanya cari duit itu capek, emangnya kamu setiap hari duduk manis uang datang, langsung ada" ujar Adrian kesal, sambil menatap sinis pada istrinya.

"Mas, aku kan dirumah juga beres-beres, ya masak, aku juga ngatur keuangan" ujar Hanin pelan.

"Ahh, udahlah kamu jadi istri emang nggak becus, percuma aja pendidikan sekretaris tapi nggak menghasilkan uang, jangankan menghasilkan uang.. hamil pun nggak" ujar Adrian dengan emosinya.

"Astagfirullah hal adziim.." gumam Hanin, yang baru kali ini melihat suaminya marah dan menyinggung tentang masalah hamil dan uang gaji.

Hanin pun malas berdebat, ia lalu ke dapur membuatkan teh manis untuk Adrian.

"Mas, minum dulu tehnya" ujar Hanin dengan lembut. "Ah, udahlah kamu itu jangan sok perhatian sok baik" ujar Adrian. Hanin terkejut dengan sikap Adrian yang tidak biasa.

"Maksudnya apa sih mas, aku hanya nawarin teh manis kayak biasanya, tapi kamu ...." ujar Hanin tidak meneruskan kata-katanya.

"Sudahlah Nin, mulai sekarang kamu nggak akan lagi dapat sepeserpun gaji aku, karena aku nggak dapat timbal balik apapun dari kamu" ujar Adrian agak keras.

Hanin pun tertunduk, dia merasa suaminya ada yang mempengaruhinya. Hanin juga menyadari bahwa selama ini ia tidak menghasilkan uang dan juga belum memberi Adrian keturunan.. tapi seingatnya baru 3 hari lalu mereka berdiskusi dan saling menguatkan, untuk saling bertawakal, tapi kini malah sebaliknya.. perkataan Adrian benar-benar sangat menyakitkan.

"Aku tahu siapa sebenarnya yang mempengaruhi pikiran Adrian, ibunya dan mbak Astrid yang selalu menyindirku dengan kata-kata yang pedas seolah-olah ini kesalahanku, aku dibilang mandul padahal dokter bilang aku sehat.. aku normal, tapi anehnya mas Adrian tidak mau periksa ke dokter, serba salah jadinya" gumam Hanin dalam hati.

Hanin kemudian mendiamkan Adrian yang uring-uringan, sambil men-scroll layar ponselnya mencari bisnis yang bermodal usaha kecil.

Tanpa Hanin sadari, mbak Astrid muncul tiba-tiba menyelonong begitu saja ke dalam rumah Adrian, "Mm, enak ya jadi istri .. main Hp teruuuus" ujar mbak Astrid sambil memanggil Adrian.

"Adrian, adrian .. ini Hp kamu ketinggalan di rumah ibu" ujar mba Astrid berteriak. Tidak lama Adrian pun keluar dari kamarnya.

"Eh, mbak Astrid.. makasih ya," ujar Adrian sambil tersenyum.

"Ya, sama-sama Adrian.. lain kali kamu itu yang teliti sama barang sendiri, kamu juga nggak teliti pilih-pilih istri, tuh lihat sendiri enak-enakan main Hp, sementara suaminya pulang kerja malah nggak di urus, istri macam apa itu?" ujar mbak Astrid dengan nada yang ketus sambil menatap Hanin yang hanya terdiam.

Adrian pun hanya terdiam, ucapan mbak Astrid benar-benar berhasil membuatnya semakin menilai bahwa Hanin bersalah.

Hanin pun tidak menyangka ocehan mbak Astrid dengan nada sinis juga mulai melukai perasaannya sebagai seorang istri Adrian, pria yang sangat ia kenal betul sikap dan karakternya, tapi kini seolah Adrian berubah seratus delapan puluh derajat.

Hanin diam-diam berdoa dalam hatinya, "hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman nassir" .. ia mengembalikan masalah ini hanya kepada sang Pencipta.

 

Episodes
1 Pengaruh Orang Terdekat
2 Adrian Menggugat Cerai
3 Melihat Mantan Suami
4 Tetap Benci
5 Sita
6 Rencana Sita
7 Ruko Baru Hanin, Birahi Sita.
8 Cinta yang Ruwet.
9 Jujur
10 Sop Buntut
11 Menipu
12 POV ADRIAN
13 Korea Selatan
14 Kembali Pulang
15 Penolakan Adrian
16 Kejujuran Adrian
17 Davina Bertemu Dengan Hanin
18 Membeli Rumah Mantan Suami
19 Jadian
20 Mobil Impian
21 Sita Ngamuk
22 Berkenalan
23 Makan Siang
24 Pengusaha Wanita Terbaik
25 Melibatkan Polisi
26 Penjara
27 Lamaran Untuk Davina
28 Sita oh .. Sita
29 Melindungi
30 Pengantin Baru
31 Syukuran
32 Menahan Amarah
33 Jadian
34 Berkenalan
35 Pengajian
36 Melepas Status Janda
37 Arti Kebersamaan
38 Hati yang Keras
39 Sita dan Bimo
40 Sama Sama Hamil
41 Hari yang Menegangkan
42 Baby Boy
43 Insyaf
44 Sita Melahirkan
45 Ke Dokter Kandungan
46 Cek Laboratorium
47 Hati Seluas Samudra
48 Kejujuran
49 Hanin Melahirkan
50 Menjadi Ibu
51 Muhammad Rayyan
52 Mie Goreng Aceh
53 Sikap Adrian
54 Stroke
55 Permintaan Maaf
56 Ngeyel
57 Masjidil Haraam
58 Doha Qatar
59 Oleh Oleh Buat ART
60 Mencekam
61 Sakaratul Maut
62 Duka
63 Puber
64 Manula Genit
65 Singapore Trip
66 Menemani Rayyan
67 Jogjakarta
68 Saling Menyemangati
69 Persiapan Syukuran
70 Ulang Tahun Rayyan
71 Cemburu
72 Mengunjungi Astrid
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Pengaruh Orang Terdekat
2
Adrian Menggugat Cerai
3
Melihat Mantan Suami
4
Tetap Benci
5
Sita
6
Rencana Sita
7
Ruko Baru Hanin, Birahi Sita.
8
Cinta yang Ruwet.
9
Jujur
10
Sop Buntut
11
Menipu
12
POV ADRIAN
13
Korea Selatan
14
Kembali Pulang
15
Penolakan Adrian
16
Kejujuran Adrian
17
Davina Bertemu Dengan Hanin
18
Membeli Rumah Mantan Suami
19
Jadian
20
Mobil Impian
21
Sita Ngamuk
22
Berkenalan
23
Makan Siang
24
Pengusaha Wanita Terbaik
25
Melibatkan Polisi
26
Penjara
27
Lamaran Untuk Davina
28
Sita oh .. Sita
29
Melindungi
30
Pengantin Baru
31
Syukuran
32
Menahan Amarah
33
Jadian
34
Berkenalan
35
Pengajian
36
Melepas Status Janda
37
Arti Kebersamaan
38
Hati yang Keras
39
Sita dan Bimo
40
Sama Sama Hamil
41
Hari yang Menegangkan
42
Baby Boy
43
Insyaf
44
Sita Melahirkan
45
Ke Dokter Kandungan
46
Cek Laboratorium
47
Hati Seluas Samudra
48
Kejujuran
49
Hanin Melahirkan
50
Menjadi Ibu
51
Muhammad Rayyan
52
Mie Goreng Aceh
53
Sikap Adrian
54
Stroke
55
Permintaan Maaf
56
Ngeyel
57
Masjidil Haraam
58
Doha Qatar
59
Oleh Oleh Buat ART
60
Mencekam
61
Sakaratul Maut
62
Duka
63
Puber
64
Manula Genit
65
Singapore Trip
66
Menemani Rayyan
67
Jogjakarta
68
Saling Menyemangati
69
Persiapan Syukuran
70
Ulang Tahun Rayyan
71
Cemburu
72
Mengunjungi Astrid

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!