"Dengar, Sora. Aku tidak punya waktu seharian meladeni tingkah kekanak-kanakanmu."
Kairo membanting pintu hingga bergema, mengabaikan fakta istrinya baru saja mencoba bunuh diri. Dia berjalan lurus ke arah sofa, menatap Elena rendah.
Elena tak bergeming. Tangan kiri yang diperban bertumpu santai di sandaran sofa, tangan kanan memegang dokumen hangat.
"Siapa yang memintamu meladeni?" balas Elena datar. "Aku tidak memintamu pulang. Kembali saja ke kantor, atau ke mana pun kau biasa pergi saat muak melihat wajahku."
Langkah Kairo mati seketika. Alisnya menukik tajam. Biasanya, kalimat sekasar itu dibalas tangisan histeris Sora. Tapi wanita di depannya ini... terlihat bosan.
"Jangan memancingku," geram Kairo. Dia merogoh saku, mengeluarkan buku cek dan pena emas. Sret. Dia merobek selembar cek.
Kertas itu melayang jatuh di pangkuan Elena.
"Ambil," perintah Kairo dingin. "Isi sendiri nominalnya. Beli tas, beli perhiasan, atau sewa pulau. Asal kau berhenti mempermalukan nama Diwantara dengan drama bunuh diri kampungan ini."
Elena menatap cek kosong itu. Bagi Sora, ini tiket surga. Bagi Elena, ini penghinaan profesional. Dia menjepit cek itu dengan dua jari, seolah memegang sampah.
"Kau pikir semua masalah selesai dengan ini?"
Kairo melonggarkan dasi. "Bukankah itu bahasamu? Uang? Jangan munafik. Kau menikahiku karena uang. Ambil dan diam."
"Kau benar. Uang memang bahasa universal," aku Elena, tersenyum miring. "Tapi maaf, Tuan Kairo. Nilai tawar cek ini terlalu rendah untuk harga diriku sekarang."
Srek!
Elena meremas cek itu menjadi bola kertas, lalu menjentikkannya tepat ke dada Kairo. Bola kertas itu memantul di kemeja mahal sang CEO, jatuh menggelinding tak berharga.
Rahang Kairo mengeras. "Kau... apa maumu? Menantangku?"
"Bernegosiasi," potong Elena. Dia berdiri, menyodorkan dokumen print-an itu ke depan wajah Kairo. "Baca."
Kairo menepis kasar, tapi matanya menangkap judul besar itu.
PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET
Kairo tertawa kering. "Kerjasama? Sejak kapan kita bekerjasama? Kau cuma benalu yang menempel di pohon besar."
"Benalu ini sadar diri dan ingin turun," balas Elena tajam. "Karena posisi kita tidak setara, aku mengajukan resign."
Kata resign terdengar asing. Kairo merebut dokumen itu, membalik halaman kasar. Matanya menyipit membaca poin tuntutan.
Hutang lunas. Apartemen studio. 5 Miliar.
"Lima miliar?" Kairo mendengus sinis. "Jadi ini harga nyawamu? Kau sayat tangan cuma untuk memeras lima miliar?"
"Aku realistis," jawab Elena tenang. "Itu pesangon wajar untuk kerja keras setahun jadi istrimu. Menahan sikap dinginmu, pura-pura bahagia, mengurus rumah kosong ini. Kau bos yang pelit, Kairo."
"Kerja keras?!" Kairo membanting dokumen ke meja kaca. Brak! "Kerja kerasmu cuma menghabiskan limit kartu kredit dan mempermalukanku!"
"Makanya aku berhenti!" sentak Elena, suaranya meninggi satu oktaf.
Dia menunjuk dokumen itu. "Aku tahu aku istri yang buruk. Kau benci aku. Kau jijik. Makanya kutawarkan jalan keluar! Tanda tangani, transfer uangnya, dan kau tak perlu melihatku lagi seumur hidup. Kita bicara bisnis di pengadilan agama minggu depan."
Elena menatap lurus mata hitam legam itu.
"Aku serius. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku muak denganmu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Selama ini Sora selalu mengemis cinta. Sekarang dia bilang muak? Ego Kairo terusik. Dia, Kairo Diwantara, dicampakkan oleh istri benalu?
"Kau muak?" bisik Kairo pelan, suaranya berubah berbahaya.
Dia maju perlahan. Tatapannya terkunci pada bibir Elena. Alarm bahaya berdering di kepala Elena. Dia mencoba mundur, tapi pinggangnya membentur meja rias. Terperangkap.
"Ya, aku muak," Elena mendongak menantang. "Kaget istrimu akhirnya punya otak? Cepat tanda tangan dan keluar."
"Kamarmu?" Kairo tertawa tanpa humor. "Ini rumahku, Sora. Termasuk kau."
Tangan Kairo menyambar dokumen di meja.
Sreeet!
Kairo merobek proposal itu jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Dia menghancurkannya tanpa kedip.
"Itu hasil kerjaku!" protes Elena, mencoba merebut serpihan kertas yang kini dihamburkan Kairo ke udara seperti salju.
"Omong kosong," desis Kairo. "Bisnis? Pengadilan? Kau pikir semudah itu?"
Kairo menghentakkan kedua tangan ke meja rias, di sisi kiri dan kanan tubuh Elena, mengurungnya. Aroma musk dan amarah maskulin menyergap Elena.
"Kau pikir pernikahan ini pintu putar hotel? Bisa masuk keluar semaumu?" Kairo menunduk, wajahnya inci dari wajah Elena. Mata hitamnya menyala posesif.
"Kau tanda tangan kontrak seumur hidup saat memaksa masuk keluargaku setahun lalu, Sora."
Jantung Elena berdegup kencang karena adrenalin. "Kontrak bisa dibatalkan kalau ada penalti. Aku bayar penaltinya. Lepaskan aku."
"Tidak ada penalti uang."
Kairo tersenyum miring, kejam. Tangannya mencengkeram dagu Elena, memaksa wanita itu mendongak.
"Kau mau main bisnis? Baik. Aturan pertamaku: Aku tidak pernah melepaskan asetku. Sekalipun aset itu sampah."
Dia mendekatkan wajahnya lagi, berbisik serak.
"Kau ingin keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sayang. Rapat belum selesai, dan kau masih milikku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ego Kairo terlalu tinggi jadi saat Sora (jiwa Elena) melawan dia tertantang padahal Kairo kayaknya sudah mulai penasaran dengan perubahan Sora atau mungkin mulai tertarik.🤔
2026-04-03
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑬𝒍𝒆𝒏𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒉𝒂𝒅𝒆𝒑𝒊𝒏 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒅𝒏𝒈𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 𝒅𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒃𝒊𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒌𝒆𝒑𝒖𝒕𝒖𝒔𝒂𝒏 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒖 😉😏
2026-05-22
0
Sweet Girl
Hmmm jangan angap remeh dengan penghuni tubuh Sora yg sekarang ya, Toooo.🤣
Ndak bisa dibeli dengan uang.
2026-04-03
0