Bab 3: The Confrontation

​"Dengar, Sora. Aku tidak punya waktu seharian meladeni tingkah kekanak-kanakanmu."

​Kairo membanting pintu hingga bergema, mengabaikan fakta istrinya baru saja mencoba bunuh diri. Dia berjalan lurus ke arah sofa, menatap Elena rendah.

​Elena tak bergeming. Tangan kiri yang diperban bertumpu santai di sandaran sofa, tangan kanan memegang dokumen hangat.

​"Siapa yang memintamu meladeni?" balas Elena datar. "Aku tidak memintamu pulang. Kembali saja ke kantor, atau ke mana pun kau biasa pergi saat muak melihat wajahku."

​Langkah Kairo mati seketika. Alisnya menukik tajam. Biasanya, kalimat sekasar itu dibalas tangisan histeris Sora. Tapi wanita di depannya ini... terlihat bosan.

​"Jangan memancingku," geram Kairo. Dia merogoh saku, mengeluarkan buku cek dan pena emas. Sret. Dia merobek selembar cek.

​Kertas itu melayang jatuh di pangkuan Elena.

​"Ambil," perintah Kairo dingin. "Isi sendiri nominalnya. Beli tas, beli perhiasan, atau sewa pulau. Asal kau berhenti mempermalukan nama Diwantara dengan drama bunuh diri kampungan ini."

​Elena menatap cek kosong itu. Bagi Sora, ini tiket surga. Bagi Elena, ini penghinaan profesional. Dia menjepit cek itu dengan dua jari, seolah memegang sampah.

​"Kau pikir semua masalah selesai dengan ini?"

​Kairo melonggarkan dasi. "Bukankah itu bahasamu? Uang? Jangan munafik. Kau menikahiku karena uang. Ambil dan diam."

​"Kau benar. Uang memang bahasa universal," aku Elena, tersenyum miring. "Tapi maaf, Tuan Kairo. Nilai tawar cek ini terlalu rendah untuk harga diriku sekarang."

​Srek!

​Elena meremas cek itu menjadi bola kertas, lalu menjentikkannya tepat ke dada Kairo. Bola kertas itu memantul di kemeja mahal sang CEO, jatuh menggelinding tak berharga.

​Rahang Kairo mengeras. "Kau... apa maumu? Menantangku?"

​"Bernegosiasi," potong Elena. Dia berdiri, menyodorkan dokumen print-an itu ke depan wajah Kairo. "Baca."

​Kairo menepis kasar, tapi matanya menangkap judul besar itu.

​PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET

​Kairo tertawa kering. "Kerjasama? Sejak kapan kita bekerjasama? Kau cuma benalu yang menempel di pohon besar."

​"Benalu ini sadar diri dan ingin turun," balas Elena tajam. "Karena posisi kita tidak setara, aku mengajukan resign."

​Kata resign terdengar asing. Kairo merebut dokumen itu, membalik halaman kasar. Matanya menyipit membaca poin tuntutan.

​Hutang lunas. Apartemen studio. 5 Miliar.

​"Lima miliar?" Kairo mendengus sinis. "Jadi ini harga nyawamu? Kau sayat tangan cuma untuk memeras lima miliar?"

​"Aku realistis," jawab Elena tenang. "Itu pesangon wajar untuk kerja keras setahun jadi istrimu. Menahan sikap dinginmu, pura-pura bahagia, mengurus rumah kosong ini. Kau bos yang pelit, Kairo."

​"Kerja keras?!" Kairo membanting dokumen ke meja kaca. Brak! "Kerja kerasmu cuma menghabiskan limit kartu kredit dan mempermalukanku!"

​"Makanya aku berhenti!" sentak Elena, suaranya meninggi satu oktaf.

​Dia menunjuk dokumen itu. "Aku tahu aku istri yang buruk. Kau benci aku. Kau jijik. Makanya kutawarkan jalan keluar! Tanda tangani, transfer uangnya, dan kau tak perlu melihatku lagi seumur hidup. Kita bicara bisnis di pengadilan agama minggu depan."

​Elena menatap lurus mata hitam legam itu.

​"Aku serius. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku muak denganmu."

​Kalimat itu menggantung di udara.

​Selama ini Sora selalu mengemis cinta. Sekarang dia bilang muak? Ego Kairo terusik. Dia, Kairo Diwantara, dicampakkan oleh istri benalu?

​"Kau muak?" bisik Kairo pelan, suaranya berubah berbahaya.

​Dia maju perlahan. Tatapannya terkunci pada bibir Elena. Alarm bahaya berdering di kepala Elena. Dia mencoba mundur, tapi pinggangnya membentur meja rias. Terperangkap.

​"Ya, aku muak," Elena mendongak menantang. "Kaget istrimu akhirnya punya otak? Cepat tanda tangan dan keluar."

​"Kamarmu?" Kairo tertawa tanpa humor. "Ini rumahku, Sora. Termasuk kau."

​Tangan Kairo menyambar dokumen di meja.

​Sreeet!

​Kairo merobek proposal itu jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Dia menghancurkannya tanpa kedip.

​"Itu hasil kerjaku!" protes Elena, mencoba merebut serpihan kertas yang kini dihamburkan Kairo ke udara seperti salju.

​"Omong kosong," desis Kairo. "Bisnis? Pengadilan? Kau pikir semudah itu?"

​Kairo menghentakkan kedua tangan ke meja rias, di sisi kiri dan kanan tubuh Elena, mengurungnya. Aroma musk dan amarah maskulin menyergap Elena.

​"Kau pikir pernikahan ini pintu putar hotel? Bisa masuk keluar semaumu?" Kairo menunduk, wajahnya inci dari wajah Elena. Mata hitamnya menyala posesif.

​"Kau tanda tangan kontrak seumur hidup saat memaksa masuk keluargaku setahun lalu, Sora."

​Jantung Elena berdegup kencang karena adrenalin. "Kontrak bisa dibatalkan kalau ada penalti. Aku bayar penaltinya. Lepaskan aku."

​"Tidak ada penalti uang."

​Kairo tersenyum miring, kejam. Tangannya mencengkeram dagu Elena, memaksa wanita itu mendongak.

​"Kau mau main bisnis? Baik. Aturan pertamaku: Aku tidak pernah melepaskan asetku. Sekalipun aset itu sampah."

​Dia mendekatkan wajahnya lagi, berbisik serak.

​"Kau ingin keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sayang. Rapat belum selesai, dan kau masih milikku."

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Ego Kairo terlalu tinggi jadi saat Sora (jiwa Elena) melawan dia tertantang padahal Kairo kayaknya sudah mulai penasaran dengan perubahan Sora atau mungkin mulai tertarik.🤔

2026-04-03

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑬𝒍𝒆𝒏𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒉𝒂𝒅𝒆𝒑𝒊𝒏 𝑲𝒂𝒊𝒓𝒐 𝒅𝒏𝒈𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 𝒅𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒃𝒊𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒌𝒆𝒑𝒖𝒕𝒖𝒔𝒂𝒏 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒖 😉😏

2026-05-22

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Hmmm jangan angap remeh dengan penghuni tubuh Sora yg sekarang ya, Toooo.🤣
Ndak bisa dibeli dengan uang.

2026-04-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian Sang Konsultan dan Kebangkitan yang Membingungkan
2 Bab 2: Audit Kehidupan
3 Bab 3: The Confrontation
4 Bab 4: Pembekuan Aset
5 Bab 5: Makan Malam Neraka
6 Bab 6: Parasit di Dapur Mewah
7 Bab 7: Efisiensi Anggaran
8 Bab 8: Batas Teritori
9 Bab 9. Kejutan
10 Bab 10: Tes Kejiwaan
11 ​Bab 11: Pembatalan Jadwal
12 Bab 12: Penangkapan di Depan Gerbang
13 Bab 13: Undangan Perang
14 Bab 14: Kandang Ular
15 ​Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)
16 Bab 16: Dewi Investasi
17 Bab 17: Audit Tengah Malam
18 Bab 18: Persiapan Perang
19 Bab 19: Mulut Harimau
20 Bab 20: Dansa Interogasi
21 Bab 21: Eksekusi Sang Direktur
22 Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati
23 Bab 23: Gua Persembunyian
24 Bab 24: Klien Pertama
25 Bab 25: Pemasangan Tali kekang
26 Bab 26: Kucing Garong
27 Bab 27: Sarapan Penuh Duri
28 Bab 28. Ultimatum Sang Ratu
29 Bab 29: Senjata Makan Tuan
30 Bab 30: Kemenangan Tanpa Keringat
31 Bab 31: Memburu Hantu
32 Bab 32: Kontrak Kosong & Aturan Main
33 Bab 33: Tes Pertama
34 Bab 34: Curhat Tengah Malam
35 Bab 35: Cemburu Buta Pada Diri Sendiri
36 ​Bab 36: Krisis Keuangan
37 Bab 37: Masuk Kandang Harimau
38 Bab 38: Rapat di Pangkuan Suami
39 Bab 39: Pembersihan Total
40 Bab 40: Gosip Panas & Meja Baru
41 Bab 41: Tamu Tak Diundang
42 Bab 42: Insiden Kopi
43 Bab 43: Investigasi Kilat
44 ​Bab 44: Skakmat Sang Model
45 Bab 45: Catatan Mental Kairo
46 Bab 46: Serangan Fajar
47 Bab 47: Bioskop Dua Orang
48 Bab 49: Ciuman di Saat Hujan
49 Bab 49: Malam yang Panjang
50 Bab 50: Ibu Suri Datang
51 Bab 51: Perang Menantu
52 Bab 53: Jejak Digital
53 Bab 53: Penggerebekan Apartemen
54 Bab 54: Hukuman Suami
55 Bab Terakhir: CEO Pingsan & Tangisan Bahagia
56 ​Bab 56: Cuti Melahirkan yang Membosankan
57 Bab 57: Rapat via Earpiece
58 Bab 58: Persiapan Pesta Aqiqah
59 Bab 59: Tamu yang Tak Diinginkan
60 Bab 60: Istri vs Mantan
61 ​Bab 61: Proposal Merger Beracun
62 Bab 62: Inspeksi Mendadak
63 Bab 63: Bayi di Ruang Rapat
64 Bab 64: Koreksi Sang Ibu
65 Bab 65: Tempat Wanita Bodoh
66 Bab 66: Dendam Viona
67 Bab 67: Investigasi EL
68 Bab 68: Panggung Sandiwara
69 Bab 69: Skandal Terbongkar
70 Bab 70: Labrakan Terakhir
71 Bab 71: Maldives, Here We Come
72 Bab 72: Salah Kostum
73 Bab 73: Babysitter Miliarder
74 Bab 74: Romansa Pantai
75 Bab 75: Kepulangan & Ancaman Baru
76 Bab 76: Pulang Kandang
77 Bab 77: Bersih-Bersih Parasit
78 Bab 78: Elvano Masuk Kantor
79 Bab 79: Benteng Pertahanan
80 Bab 80: Salam Perkenalan
81 Bab 81: Undangan Makan Malam
82 Bab 82: Tatapan Sang Predator
83 Bab 83: Dansa di Atas Bara
84 Bab 84: Kecemburuan Kairo
85 Bab 85: Konfrontasi di Balkon
86 Bab 86: Sabotase Proyek
87 Bab 87: Teror Detak Jantung
88 Bab 88: Hadiah Kenangan & Pernyataan Perang
89 Bab 89: Investigasi Sang Suami
90 Bab 90: Foto di Dompet
91 Bab 91: Kebohongan Putih & Sumpah Kairo
92 Bab 92: Di Ujung Tanduk
93 Bab 93: Akting Terbaik
94 Bab 94: Jebakan Likuiditas
95 Bab 95: Jantung Dibayar Jantung
96 Bab 96: Tuan Muda Elvano
97 Bab 97: Warisan Genetik
98 Bab 98: Makan Malam Bencana
99 Bab 99: Dividen Baru
100 Bab 100: Investasi Masa Depan
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Kematian Sang Konsultan dan Kebangkitan yang Membingungkan
2
Bab 2: Audit Kehidupan
3
Bab 3: The Confrontation
4
Bab 4: Pembekuan Aset
5
Bab 5: Makan Malam Neraka
6
Bab 6: Parasit di Dapur Mewah
7
Bab 7: Efisiensi Anggaran
8
Bab 8: Batas Teritori
9
Bab 9. Kejutan
10
Bab 10: Tes Kejiwaan
11
​Bab 11: Pembatalan Jadwal
12
Bab 12: Penangkapan di Depan Gerbang
13
Bab 13: Undangan Perang
14
Bab 14: Kandang Ular
15
​Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)
16
Bab 16: Dewi Investasi
17
Bab 17: Audit Tengah Malam
18
Bab 18: Persiapan Perang
19
Bab 19: Mulut Harimau
20
Bab 20: Dansa Interogasi
21
Bab 21: Eksekusi Sang Direktur
22
Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati
23
Bab 23: Gua Persembunyian
24
Bab 24: Klien Pertama
25
Bab 25: Pemasangan Tali kekang
26
Bab 26: Kucing Garong
27
Bab 27: Sarapan Penuh Duri
28
Bab 28. Ultimatum Sang Ratu
29
Bab 29: Senjata Makan Tuan
30
Bab 30: Kemenangan Tanpa Keringat
31
Bab 31: Memburu Hantu
32
Bab 32: Kontrak Kosong & Aturan Main
33
Bab 33: Tes Pertama
34
Bab 34: Curhat Tengah Malam
35
Bab 35: Cemburu Buta Pada Diri Sendiri
36
​Bab 36: Krisis Keuangan
37
Bab 37: Masuk Kandang Harimau
38
Bab 38: Rapat di Pangkuan Suami
39
Bab 39: Pembersihan Total
40
Bab 40: Gosip Panas & Meja Baru
41
Bab 41: Tamu Tak Diundang
42
Bab 42: Insiden Kopi
43
Bab 43: Investigasi Kilat
44
​Bab 44: Skakmat Sang Model
45
Bab 45: Catatan Mental Kairo
46
Bab 46: Serangan Fajar
47
Bab 47: Bioskop Dua Orang
48
Bab 49: Ciuman di Saat Hujan
49
Bab 49: Malam yang Panjang
50
Bab 50: Ibu Suri Datang
51
Bab 51: Perang Menantu
52
Bab 53: Jejak Digital
53
Bab 53: Penggerebekan Apartemen
54
Bab 54: Hukuman Suami
55
Bab Terakhir: CEO Pingsan & Tangisan Bahagia
56
​Bab 56: Cuti Melahirkan yang Membosankan
57
Bab 57: Rapat via Earpiece
58
Bab 58: Persiapan Pesta Aqiqah
59
Bab 59: Tamu yang Tak Diinginkan
60
Bab 60: Istri vs Mantan
61
​Bab 61: Proposal Merger Beracun
62
Bab 62: Inspeksi Mendadak
63
Bab 63: Bayi di Ruang Rapat
64
Bab 64: Koreksi Sang Ibu
65
Bab 65: Tempat Wanita Bodoh
66
Bab 66: Dendam Viona
67
Bab 67: Investigasi EL
68
Bab 68: Panggung Sandiwara
69
Bab 69: Skandal Terbongkar
70
Bab 70: Labrakan Terakhir
71
Bab 71: Maldives, Here We Come
72
Bab 72: Salah Kostum
73
Bab 73: Babysitter Miliarder
74
Bab 74: Romansa Pantai
75
Bab 75: Kepulangan & Ancaman Baru
76
Bab 76: Pulang Kandang
77
Bab 77: Bersih-Bersih Parasit
78
Bab 78: Elvano Masuk Kantor
79
Bab 79: Benteng Pertahanan
80
Bab 80: Salam Perkenalan
81
Bab 81: Undangan Makan Malam
82
Bab 82: Tatapan Sang Predator
83
Bab 83: Dansa di Atas Bara
84
Bab 84: Kecemburuan Kairo
85
Bab 85: Konfrontasi di Balkon
86
Bab 86: Sabotase Proyek
87
Bab 87: Teror Detak Jantung
88
Bab 88: Hadiah Kenangan & Pernyataan Perang
89
Bab 89: Investigasi Sang Suami
90
Bab 90: Foto di Dompet
91
Bab 91: Kebohongan Putih & Sumpah Kairo
92
Bab 92: Di Ujung Tanduk
93
Bab 93: Akting Terbaik
94
Bab 94: Jebakan Likuiditas
95
Bab 95: Jantung Dibayar Jantung
96
Bab 96: Tuan Muda Elvano
97
Bab 97: Warisan Genetik
98
Bab 98: Makan Malam Bencana
99
Bab 99: Dividen Baru
100
Bab 100: Investasi Masa Depan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!