Bab 4: Pembekuan Aset

​Brak!

​Pintu kamar tidur terbanting keras dari luar. Getarannya merambat hingga meja rias. Kairo sudah pergi.

​Elena menghempaskan punggung ke sofa, memijat pelipis yang berdenyut. Konfrontasi dengan pria narsistik berego benua itu menguras energi.

​"Menolak cerai tapi membenci istri. Logika macam apa itu?" gumam Elena sinis. Dia melirik serpihan proposal bisnisnya di lantai. "Dia pikir merobek kertas mengubah fakta neraca keuangan rumah tangga ini bobrok?"

​Ponsel Sora di meja nakas bergetar panjang. Rentetan notifikasi masuk.

​*BANK ALERT: Kartu Kredit Platinum **4567 DIBLOKIR.

BANK ALERT: Transaksi ditolak.

BANK ALERT: Akses rekening tambahan DIBEKUKAN.

​Elena membaca pesan itu dengan wajah datar. Sudut bibirnya terangkat mengejek.

​"Oh, wow. Langkah klasik," komentarnya. "Sanksi ekonomi. Bekukan aset, matikan arus kas, buat lawan kelaparan sampai menyerah."

​Kairo pasti sedang tersenyum puas di mobil mewahnya, membayangkan Sora menangis bombay karena tidak bisa belanja.

​"Sayang sekali, Mas Kairo," bisik Elena pada layar ponsel. "Kau lupa satu hal. Aku bukan konsumen. Aku produsen."

​Elena bangkit. Adrenalin menghilangkan rasa sakit di pergelangan tangannya. Dia melangkah menuju walk-in closet. Pintu ganda terbuka, lampu sensor menyala, mengungkapkan "surga" Sora yang bagi Elena adalah "gudang aset".

​Rak kaca menjulang ke langit-langit. Ratusan tas, sepatu, dan baju bermerek tertata seperti butik Paris. Hermia, Channello, Louis Vondon.

​"Aset tidak bergerak," gumam Elena, menyentuh tas kulit buaya. "Ratusan juta ditumpuk, berdebu, nilai depresiasi berjalan tiap detik. Bodoh."

​Sora melihat ini sebagai koleksi. Elena melihat ini sebagai modal kerja.

​"Mina!" teriaknya lantang.

​Pintu kamar terbuka. Mina muncul dengan wajah cemas dan teko kopi cadangan. "Ya, Nyonya? Tadi saya dengar suara bantingan..."

​"Lupakan bantingannya. Masuk sini," perintah Elena. "Bawa tripod lampu yang biasa Sora pakai selfie. Kita kerja lembur."

​Mina masuk dengan ragu, matanya membulat melihat Elena menurunkan tas-tas seharga mobil dari rak paling atas dan melemparnya kasar ke karpet.

​"Nyonya! Hati-hati! Itu Hermia! Jangan dilempar!" pekik Mina histeris.

​"Diam dan bantu aku. Tata semua di meja tengah. Kita lakukan likuidasi aset," jawab Elena tanpa menoleh. "Siapkan akun sosial media Sora. Apa namanya?"

​"Akun... Sora_Official? Nyonya mau pamer tas lagi?"

​"Bukan pamer. Jualan," koreksi Elena. Matanya berkilat tajam. "Kairo memblokir kartuku. Dia pikir aku mati kelaparan tanpa uangnya. Jadi, kita ubah tumpukan kulit mati ini jadi uang tunai. Cash keras."

​Mulut Mina menganga. "Jual tas pemberian Tuan? Tuan bisa mengamuk! Itu hadiah anniversary..."

​"Hadiah yang diberikan dengan uang tapi tanpa hati itu bukan hadiah, itu kompensasi," potong Elena dingin. "Secara hukum barang ini milikku. Pegang ponselnya. Arahkan kameranya padaku. Kalau buram, gajimu kupotong."

​Mina gemetar memegang ponsel, membuka aplikasi BuzzLive.

​"Judulnya apa, Nyonya?"

​"Tulis: CUCI GUDANG NYONYA SULTAN: JUAL MURAH DEMI SURVIVAL. SUAMI PELIT, ISTRI BANGKIT."

​Mina menelan ludah. "Nyonya yakin? Tuan Kairo bisa membunuh kita..."

​"Tekan tombol Live sekarang."

​"Tiga, dua, satu... Live."

​Ekspresi Elena berubah instan. Wajah dinginnya berganti menjadi topeng profesional yang ramah namun mematikan. Aura "Hiu Betina" keluar.

​"Selamat malam, warga internet yang budiman," sapa Elena jernih.

​Penonton melonjak drastis. 50. 200. 1.000. Notifikasi beruntun. Netizen yang biasa melihat Sora menangis, kini melihat sesuatu yang berbeda.

​"Oke, langsung saja. Saya tidak punya waktu untuk drama, saya butuh uang tunai malam ini," buka Elena lugas. Dia mengangkat tas pertama. Vercelli hijau neon.

​"Item pertama. Tas Vercelli Neon Limited Edition. Lihat warnanya? Hijau stabilo yang menyakitkan mata. Suami saya membelikan ini tahun lalu karena dia lupa ulang tahun saya dan menyuruh asistennya beli barang termahal tanpa melihat model. Kondisi 100% baru. Saya tidak mau dikira rambu lalu lintas berjalan."

​Mina menahan napas. Nyonya-nya sedang me-roasting selera bos besar!

​"Harga toko 150 juta. Saya jual cepat 80 juta saja. Transfer langsung, barang dikirim kurir instan malam ini. Tidak ada booking. Uang masuk, barang keluar."

​Komentar meledak.

@SultanBintaro: 80 juta?! Deal!

@HatersSora: Barang KW pasti.

​"Sertifikat lengkap, bahkan debu di kotaknya orisinal dari rumah gedongan ini," jawab Elena sarkas. "Saya DM nomor rekening pribadi saya—bukan rekening suami. Lima menit tidak transfer, saya lempar ke penawar berikutnya."

​Ting! Notifikasi masuk ke rekening masa gadis Sora. 80 juta rupiah.

​"Sold!" seru Elena, melempar tas mahal itu ke arah Mina. "Bungkus. Selanjutnya!"

​Elena menyambar tas kedua. Channello hitam klasik.

​"Item kedua. Klasik. Elegan. Sayangnya, tas ini punya memori buruk. Suami saya memberikan ini sebagai permintaan maaf karena ketahuan makan malam dengan mantannya. Tas sogokan," ujar Elena tanpa beban, membongkar aib rumah tangga semudah membuka bungkus permen.

​Penonton tembus 10.000.

​"Kondisi 99% mulus. 1% ternoda air mata saya yang dulu bodoh menangisi pria brengsek. Harga pasar 200 juta. Saya lepas 120 juta. Anggap saja kalian membeli sejarah."

​Komentar semakin liar.

@GosipLambe: Anjayyy Kairo makan sama mantan?!

@BuyerSultan: SAYA AMBIL!

​Dalam satu jam, Elena beraksi seperti pialang saham di lantai bursa. Cepat. Taktis. Memainkan emosi. Sepuluh tas terjual. Total hampir 1 miliar rupiah masuk ke rekening pribadinya.

​"Ayo, tinggal tiga tas lagi! Uang suami kalian tidak dibawa mati, lebih baik dipakai beli tas murah dari istri CEO yang sedang bangkrut ini!" teriak Elena.

​"Nyonya... sudah 50 ribu penonton... ini viral..." bisik Mina pucat.

​"Bagus," Elena tersenyum miring ke kamera. "Biar viral. Biar Kairo tahu, kalau dia menutup satu pintu, aku akan menjebol dindingnya."

​Sementara itu, di lantai teratas Diwantara Tower.

​Kairo duduk di kursi kebesaran, membelakangi meja kerja, menatap lampu kota Jakarta. Gelas wiski di tangan, emosi masih mendidih pasca pertengkaran. Kata-kata "Aku muak denganmu" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Tuan Kairo." Suara asistennya, Reza, terdengar ragu.

​"Keluar. Jangan ganggu aku kecuali kantor ini kebakaran."

​"I... ini lebih parah dari kebakaran, Tuan."

​Kairo memutar kursi dengan wajah menyeramkan. Reza menyodorkan tablet dengan tangan gemetar.

​"Nyonya Sora... sedang live streaming, Tuan."

​"Apa peduliku?" Kairo mendengus. "Paling menangis curhat kartunya kublokir. Biar dia malu sendiri."

​"Bukan curhat, Tuan. Nyonya... sedang berjualan."

​Kening Kairo berkerut. Dia melirik layar tablet.

​Di sana, dia melihat Sora. Tapi bukan Sora yang dia kenal.

​Wanita itu memakai kemeja putih Kairo yang kebesaran, lengan digulung asal, rambut diikat kuda. Wajahnya bersinar, penuh semangat, tertawa lepas. Di tangannya, wanita itu memegang sebuah jam tangan Rolex pria.

​Jam tangan Kairo yang dia cari tadi pagi.

​"Oke, item bonus terakhir!" suara Elena terdengar jernih. "Ini jam tangan pria. Saya temukan tergeletak. Kayaknya punya suami saya yang ketinggalan. Daripada jadi sampah, kita uangkan saja. Siapa mau jam tangan bekas tangan CEO yang suka marah-marah? Auranya negatif, tapi besinya asli emas. Buka harga 50 juta saja!"

​PRANG!

​Gelas wiski di tangan Kairo pecah berkeping-keping. Cairan amber dan darah segar menetes ke karpet.

​Reza mundur ketakutan. "Tuan..."

​Kairo tidak merasakan sakit. Matanya terpaku pada layar. Pada senyum istrinya yang terlihat begitu hidup. Begitu liar. Begitu menantang.

​Dia menjual jam tangan Kairo? Dan caption itu: SUAMI PELIT, ISTRI BANGKIT.

​Angka penonton 75.000. Kolom komentar penuh orang menertawakan Kairo Diwantara. Tapi anehnya, di tengah kemurkaan yang meledak, ada perasaan asing yang menyelinap. Darahnya berdesir panas.

​Wanita di layar itu bukan lagi boneka pajangan. Dia lawan yang sepadan.

​Kairo menyeka darah di tangannya dengan sapu tangan, tatapannya tidak lepas dari wajah Elena yang berteriak "SOLD OUT!" dengan gembira.

​"Reza," panggil Kairo. Suaranya rendah, tenang, namun jauh lebih menakutkan.

​"Ya, Tuan?"

​"Siapkan mobil. Kita pulang lagi ke rumah."

​Kairo berdiri, mengambil tablet itu.

​"Dan beli jam tangan itu. Beli semua barang yang dia jual. Pakai akun anonim. Jangan sampai ada satu pun barang dari rumahku yang jatuh ke tangan orang lain."

​Reza melongo. "Maksud Tuan... kita borong dagangan Nyonya?"

​"Lakukan saja!" bentak Kairo. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar, langkahnya lebar penuh obsesi. "Aku akan pastikan dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual selain dirinya sendiri."

Terpopuler

Comments

Rakha Al Badri Yasin

Rakha Al Badri Yasin

kayaknya autornya Piter aku suka karyamu👍👍

2026-06-17

1

wikha Sandra

wikha Sandra

suka banget ama si thoor keren thoor ibarat "Keker Tembak Kenak"

2026-08-27

0

yuzu

yuzu

keren...awal aja udah darder dor

2026-04-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian Sang Konsultan dan Kebangkitan yang Membingungkan
2 Bab 2: Audit Kehidupan
3 Bab 3: The Confrontation
4 Bab 4: Pembekuan Aset
5 Bab 5: Makan Malam Neraka
6 Bab 6: Parasit di Dapur Mewah
7 Bab 7: Efisiensi Anggaran
8 Bab 8: Batas Teritori
9 Bab 9. Kejutan
10 Bab 10: Tes Kejiwaan
11 ​Bab 11: Pembatalan Jadwal
12 Bab 12: Penangkapan di Depan Gerbang
13 Bab 13: Undangan Perang
14 Bab 14: Kandang Ular
15 ​Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)
16 Bab 16: Dewi Investasi
17 Bab 17: Audit Tengah Malam
18 Bab 18: Persiapan Perang
19 Bab 19: Mulut Harimau
20 Bab 20: Dansa Interogasi
21 Bab 21: Eksekusi Sang Direktur
22 Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati
23 Bab 23: Gua Persembunyian
24 Bab 24: Klien Pertama
25 Bab 25: Pemasangan Tali kekang
26 Bab 26: Kucing Garong
27 Bab 27: Sarapan Penuh Duri
28 Bab 28. Ultimatum Sang Ratu
29 Bab 29: Senjata Makan Tuan
30 Bab 30: Kemenangan Tanpa Keringat
31 Bab 31: Memburu Hantu
32 Bab 32: Kontrak Kosong & Aturan Main
33 Bab 33: Tes Pertama
34 Bab 34: Curhat Tengah Malam
35 Bab 35: Cemburu Buta Pada Diri Sendiri
36 ​Bab 36: Krisis Keuangan
37 Bab 37: Masuk Kandang Harimau
38 Bab 38: Rapat di Pangkuan Suami
39 Bab 39: Pembersihan Total
40 Bab 40: Gosip Panas & Meja Baru
41 Bab 41: Tamu Tak Diundang
42 Bab 42: Insiden Kopi
43 Bab 43: Investigasi Kilat
44 ​Bab 44: Skakmat Sang Model
45 Bab 45: Catatan Mental Kairo
46 Bab 46: Serangan Fajar
47 Bab 47: Bioskop Dua Orang
48 Bab 49: Ciuman di Saat Hujan
49 Bab 49: Malam yang Panjang
50 Bab 50: Ibu Suri Datang
51 Bab 51: Perang Menantu
52 Bab 53: Jejak Digital
53 Bab 53: Penggerebekan Apartemen
54 Bab 54: Hukuman Suami
55 Bab Terakhir: CEO Pingsan & Tangisan Bahagia
56 ​Bab 56: Cuti Melahirkan yang Membosankan
57 Bab 57: Rapat via Earpiece
58 Bab 58: Persiapan Pesta Aqiqah
59 Bab 59: Tamu yang Tak Diinginkan
60 Bab 60: Istri vs Mantan
61 ​Bab 61: Proposal Merger Beracun
62 Bab 62: Inspeksi Mendadak
63 Bab 63: Bayi di Ruang Rapat
64 Bab 64: Koreksi Sang Ibu
65 Bab 65: Tempat Wanita Bodoh
66 Bab 66: Dendam Viona
67 Bab 67: Investigasi EL
68 Bab 68: Panggung Sandiwara
69 Bab 69: Skandal Terbongkar
70 Bab 70: Labrakan Terakhir
71 Bab 71: Maldives, Here We Come
72 Bab 72: Salah Kostum
73 Bab 73: Babysitter Miliarder
74 Bab 74: Romansa Pantai
75 Bab 75: Kepulangan & Ancaman Baru
76 Bab 76: Pulang Kandang
77 Bab 77: Bersih-Bersih Parasit
78 Bab 78: Elvano Masuk Kantor
79 Bab 79: Benteng Pertahanan
80 Bab 80: Salam Perkenalan
81 Bab 81: Undangan Makan Malam
82 Bab 82: Tatapan Sang Predator
83 Bab 83: Dansa di Atas Bara
84 Bab 84: Kecemburuan Kairo
85 Bab 85: Konfrontasi di Balkon
86 Bab 86: Sabotase Proyek
87 Bab 87: Teror Detak Jantung
88 Bab 88: Hadiah Kenangan & Pernyataan Perang
89 Bab 89: Investigasi Sang Suami
90 Bab 90: Foto di Dompet
91 Bab 91: Kebohongan Putih & Sumpah Kairo
92 Bab 92: Di Ujung Tanduk
93 Bab 93: Akting Terbaik
94 Bab 94: Jebakan Likuiditas
95 Bab 95: Jantung Dibayar Jantung
96 Bab 96: Tuan Muda Elvano
97 Bab 97: Warisan Genetik
98 Bab 98: Makan Malam Bencana
99 Bab 99: Dividen Baru
100 Bab 100: Investasi Masa Depan
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Kematian Sang Konsultan dan Kebangkitan yang Membingungkan
2
Bab 2: Audit Kehidupan
3
Bab 3: The Confrontation
4
Bab 4: Pembekuan Aset
5
Bab 5: Makan Malam Neraka
6
Bab 6: Parasit di Dapur Mewah
7
Bab 7: Efisiensi Anggaran
8
Bab 8: Batas Teritori
9
Bab 9. Kejutan
10
Bab 10: Tes Kejiwaan
11
​Bab 11: Pembatalan Jadwal
12
Bab 12: Penangkapan di Depan Gerbang
13
Bab 13: Undangan Perang
14
Bab 14: Kandang Ular
15
​Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)
16
Bab 16: Dewi Investasi
17
Bab 17: Audit Tengah Malam
18
Bab 18: Persiapan Perang
19
Bab 19: Mulut Harimau
20
Bab 20: Dansa Interogasi
21
Bab 21: Eksekusi Sang Direktur
22
Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati
23
Bab 23: Gua Persembunyian
24
Bab 24: Klien Pertama
25
Bab 25: Pemasangan Tali kekang
26
Bab 26: Kucing Garong
27
Bab 27: Sarapan Penuh Duri
28
Bab 28. Ultimatum Sang Ratu
29
Bab 29: Senjata Makan Tuan
30
Bab 30: Kemenangan Tanpa Keringat
31
Bab 31: Memburu Hantu
32
Bab 32: Kontrak Kosong & Aturan Main
33
Bab 33: Tes Pertama
34
Bab 34: Curhat Tengah Malam
35
Bab 35: Cemburu Buta Pada Diri Sendiri
36
​Bab 36: Krisis Keuangan
37
Bab 37: Masuk Kandang Harimau
38
Bab 38: Rapat di Pangkuan Suami
39
Bab 39: Pembersihan Total
40
Bab 40: Gosip Panas & Meja Baru
41
Bab 41: Tamu Tak Diundang
42
Bab 42: Insiden Kopi
43
Bab 43: Investigasi Kilat
44
​Bab 44: Skakmat Sang Model
45
Bab 45: Catatan Mental Kairo
46
Bab 46: Serangan Fajar
47
Bab 47: Bioskop Dua Orang
48
Bab 49: Ciuman di Saat Hujan
49
Bab 49: Malam yang Panjang
50
Bab 50: Ibu Suri Datang
51
Bab 51: Perang Menantu
52
Bab 53: Jejak Digital
53
Bab 53: Penggerebekan Apartemen
54
Bab 54: Hukuman Suami
55
Bab Terakhir: CEO Pingsan & Tangisan Bahagia
56
​Bab 56: Cuti Melahirkan yang Membosankan
57
Bab 57: Rapat via Earpiece
58
Bab 58: Persiapan Pesta Aqiqah
59
Bab 59: Tamu yang Tak Diinginkan
60
Bab 60: Istri vs Mantan
61
​Bab 61: Proposal Merger Beracun
62
Bab 62: Inspeksi Mendadak
63
Bab 63: Bayi di Ruang Rapat
64
Bab 64: Koreksi Sang Ibu
65
Bab 65: Tempat Wanita Bodoh
66
Bab 66: Dendam Viona
67
Bab 67: Investigasi EL
68
Bab 68: Panggung Sandiwara
69
Bab 69: Skandal Terbongkar
70
Bab 70: Labrakan Terakhir
71
Bab 71: Maldives, Here We Come
72
Bab 72: Salah Kostum
73
Bab 73: Babysitter Miliarder
74
Bab 74: Romansa Pantai
75
Bab 75: Kepulangan & Ancaman Baru
76
Bab 76: Pulang Kandang
77
Bab 77: Bersih-Bersih Parasit
78
Bab 78: Elvano Masuk Kantor
79
Bab 79: Benteng Pertahanan
80
Bab 80: Salam Perkenalan
81
Bab 81: Undangan Makan Malam
82
Bab 82: Tatapan Sang Predator
83
Bab 83: Dansa di Atas Bara
84
Bab 84: Kecemburuan Kairo
85
Bab 85: Konfrontasi di Balkon
86
Bab 86: Sabotase Proyek
87
Bab 87: Teror Detak Jantung
88
Bab 88: Hadiah Kenangan & Pernyataan Perang
89
Bab 89: Investigasi Sang Suami
90
Bab 90: Foto di Dompet
91
Bab 91: Kebohongan Putih & Sumpah Kairo
92
Bab 92: Di Ujung Tanduk
93
Bab 93: Akting Terbaik
94
Bab 94: Jebakan Likuiditas
95
Bab 95: Jantung Dibayar Jantung
96
Bab 96: Tuan Muda Elvano
97
Bab 97: Warisan Genetik
98
Bab 98: Makan Malam Bencana
99
Bab 99: Dividen Baru
100
Bab 100: Investasi Masa Depan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!