ke-lima

Saat Afkar sedang menerima telepon penting di ruang depan, Raisa menghampiri Najwa yang baru saja meletakkan kopernya di lantai marmer.

Seperti rencana awal yang mereka susun....Raisa berjalan menghampiri Najwa sambil melemparkan sebuah tas belanjaan besar ke depan kaki Najwa "Eh, Najwa! Selamat datang ya. Di rumah ini, kita nggak suka ada orang nganggur. Tadi Mama bilang, karena kamu biasa kerja di pesantren, tolong rapihin baju-baju baruku ini ke lemari di lantai tiga. Oh ya, sekalian cuci sepatu ketsku yang kena lumpur kemarin ya. Anggap aja ini pemanasan biar kamu nggak kaget sama gaya hidup kami." ucap Raisa dengan melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuhnya.

Najwa menatap tas belanjaan itu, lalu menatap Raisa dengan tatapan yang sangat tenang, bukan tatapan ketakutan, melainkan tatapan seperti seorang guru yang sedang melihat murid nakal.

Najwa tersenyum sangat manis "Terima kasih, Raisa. Tapi di pesantren, Kyai Rahman mengajariku tentang adab sebelum ilmu. Beliau bilang, menyambut tamu dengan tumpukan baju kotor adalah bentuk penghinaan pada tuan rumah sendiri. Aku tidak ingin orang-orang berpikir Tante Monica tidak bisa mendidikmu dengan baik. Jadi, lebih baik tas ini kamu simpan dulu, ya? Aku mau mencari kamarku yah"

Raisa terbelalak. Ia tidak menyangka gadis yang ia kira ndeso itu bisa bicara seberani dan secerdas itu.

"Heh! Lo berani ngelawan gue?!" tanya Raisa dengan melototkan kedua matanya.

Najwa tersenyum sambil berjalan melewati Raisa dengan anggun "Aku tidak melawan, Raisa. Aku hanya sedang membantumu agar tidak terlihat memalukan di depan Ayah. Mari, kita makan siang bersama, aku dengar Ayah sudah memesan menu spesial untukku." balas Najwa dengan elegan.

Dari kejauhan, di balik pilar rumah, Monica memperhatikan dengan tangan mengepal. Ia menyadari satu hal, Najwa bukan Maryam. Najwa adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya....

" Najwa kenapa masih berdiri di situ nak" ucap Afkar lembut,ia melihat Najwa masih berdiri di ruang tamu...

" maafkan Najwa ayah....bukan maksud Najwa menolak,tapi Najwa masih kenyang, bukankah dua jam yang lalu kita sudah makan di rest area....?" jawab Najwa tersenyum sekaligus bertanya.

Afkar tersenyum mengangguk..." ayo... sebaiknya kita ke ruang makan...., perut Ayah sudah sangat lapar , kau menemani kami saja dan bisa memakan buah atau cemilan ringan lainnya..." lalu Afkar menoleh ke arah pembantu.

" Bi... tolong bawakan koper dan tas kecil milik nona muda ke kamarnya " tegas Afkar yang di angguki oleh pembantu.

Monica mendekat dan merangkul bahu Najwa, bukan merangkul sayang, melainkan lebih mencengkeram membuat Najwa sedikit meringis,namun ia mencoba tetap terlihat biasa, ia tidak mau terlihat lemah..." Ayo nak, kau bisa menemani kita makan siang, sekaligus belajar ,agar tidak canggung lagi.

" iya mama" balas Najwa tersenyum.lalu berjalan di belakang ayahnya,di ikuti Raisa dan Monika yang saling melempar tatapan tajam....

Sesampainya di meja makan, mereka makan siang dengan lahap tanpa berbicara .Najwa memakan jeruk yang baru ia kupas , memakannya dengan santai.... Raisa tidak menikmati makan siangnya yang terasa hambar itu, ia fokus pada gerakan tubuh Najwa yang terlihat santai,ia tidak suka itu, apalagi perhatian ayah yang terlihat sangat berlebihan kepada Najwa, itu membuatnya iri, dan semakin membenci Raisa.

" makan yang banyak nak....kau terlihat kurus" Ucap sang Ayah dengan lembut, memberikan puding mangga kesukaannya untuk sang putri.

" terimakasih ayah.... Najwa lebih suka dengan berat badan Najwa yang sekarang, dengan makan cukup,tidak kurang dan tidak berlebihan membuat tubuh Najwa terasa lebih sehat" balas Najwa tersenyum.

" ah...benar nak, lihatlah mama sekarang, biarpun mama tidak muda lagi, tapi tubuh mama tetap terawat, seperti masih gadis" celetuk Monica yang membuat semuanya tersenyum.

" benar mah....mama masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi" sahut Najwa memuji Monica yang membuat Monica semakin besar kepala.

Setelah selesai makan siang... Najwa di antara pembantu untuk memasuki kamarnya...Begitu pintu kamar terbuka, Najwa terpaku sejenak. Kamar itu sangat luas, mungkin seukuran separuh asrama di pesantrennya. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal kecil yang berkelip, tempat tidur berukuran king size dengan sprei sutra, dan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kolam renang.

Namun, bagi Najwa, kemewahan ini terasa dingin. Ia meletakkan tas kainnya yang kusam di atas sofa beludru, lalu duduk bersimpuh di lantai, posisi yang lebih nyaman baginya daripada duduk di kasur empuk itu.

Tak lama kemudian, pintu diketuk dengan kasar. Monica masuk tanpa menunggu izin, diikuti Raisa yang bersedekap dengan wajah angkuh. Monica menutup pintu rapat, memastikan suaranya tidak akan terdengar sampai ke kamarnya di ujung lorong.

Monica berjalan mengelilingi Najwa, matanya menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki "Jangan pikir karena Afkar memberikan kamar ini, kau sudah menjadi bagian dari kami. Di rumah ini, kau hanyalah sebuah kesalahan yang terpaksa kami tampung."

Najwa mendongak pelan, wajahnya tetap tenang tanpa ada gurat ketakutan "Tante Monica... kesalahan itu adalah rahasia masa lalu Papa. Saya ke sini bukan untuk merebut apa yang Tante miliki. Saya hanya ingin mengenal Ayah saya."

Raisa mendekat, menendang koper kain Najwa dengan ujung sepatunya "Halah, basi! Lo pasti cuma mau mengincar harta Kakek Suhadi, kan? Lo pikir dengan tampang sok suci lo itu, lo bisa nipu kami? Denger ya, dua kakak gue, Alendra dan Adriansyah, bakal balik sebentar lagi. Mereka nggak bakal sudi punya adek kayak lo. Lo bakal jadi keset di rumah ini!" ucap Raisa dengan penuh percaya diri.

Najwa berdiri perlahan. Meski tubuhnya sedikit lebih kecil dari Raisa, aura yang ia pancarkan membuat Raisa tanpa sadar mundur satu langkah.

Najwa menjawab dengan suaranya yang lembut namun setiap katanya mengandung penekanan "Raisa, harta itu titipan. Allah bisa memberi dan mengambilnya secepat hembusan napas. Jika kedua kakakmu belum menyukaiku, itu hak mereka. Tapi ingat satu hal..."

Najwa melangkah mendekati Monica, menatap mata wanita licik itu dengan keberanian yang ia pelajari dari Kyai Rahman.

"Saya dididik untuk menghormati orang tua, jadi saya akan tetap menghormati Tante sebagai istri Papa. Tapi saya juga dididik untuk tidak tunduk pada kezaliman. Jika Tante ingin saya menjadi 'budak' seperti yang Tante rencanakan tadi di ruang tengah... mohon maaf, tenaga saya hanya untuk beribadah dan membantu Ayah, bukan untuk melayani kesombongan yang tidak ada ujungnya."

Wajah Monica memerah, tangannya gemetar menahan amarah "Kau... kau berani menguping?!"

Najwa tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat mirip dengan Rukayyah saat menghadapi musuh "Suara di rumah ini menggema, Tante. Dan hati yang tenang bisa mendengar lebih banyak daripada yang terlihat. Sekarang, jika Tante dan Raisa tidak keberatan, saya ingin mandi dan bersiap untuk Shalat Ashar. Ayah bilang kakek akan kesini ."

Mendengar nama kakek Monica langsung menarik tangan Raisa keluar dari kamar dengan kasar. "Biarkan dia sombong sekarang, Raisa. Kita lihat bagaimana dia bertahan saat Alendra dan Adriansyah mengerjainya nanti malam. Mereka jauh lebih kejam daripada Mama."

Terpopuler

Comments

Edi Sulaiman

Edi Sulaiman

seru nih!". jgn takut Najwa lawan semua penindasan dari monica dan keroni2nya..

2026-05-02

0

Tiara Bella

Tiara Bella

kakeknya malah gk tinggal disitu pasti akan banyak drama dr Monica dan Raisa.....

2026-05-01

0

Dewi tari

Dewi tari

keren najwa....semangat nak💪

2026-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 ke-satu
2 ke-dua
3 ke-tiga
4 ke-empat.
5 ke-lima
6 ke-enam
7 ke-tujuh
8 ke-delapan
9 ke-sembilan
10 ke-sepuluh
11 ke-sebelas
12 ke-duabelas.
13 ke-tigabelas
14 ke-empat belas
15 ke-lima belas
16 ke-enam belas
17 ke-tujuh belas.
18 ke-delapan belas.
19 ke-sembilan belas.
20 ke-dua puluh
21 ke-dua puluh satu
22 ke-dua puluh dua
23 ke-dua puluh tiga
24 ke-dua puluh empat
25 ke-dua puluh lima.
26 ke-dua puluh enam
27 ke-dua puluh tujuh
28 ke-dua puluh delapan.
29 ke- dua puluh sembilan
30 ke-tiga puluh
31 ke-tiga puluh satu
32 ke-tiga puluh dua
33 tiga puluh tiga
34 Tiga puluh empat.
35 tiga puluh lima
36 tiga puluh enam
37 tiga puluh tujuh.
38 tiga puluh delapan
39 tiga puluh sembilan
40 empat puluh
41 empat puluh satu
42 empat puluh dua
43 empat puluh tiga
44 empat puluh empat
45 empat puluh lima
46 empat puluh Enam
47 empat puluh tujuh
48 empat puluh delapan
49 empat puluh sembilan
50 lima puluh
51 lima puluh satu
52 lima puluh dua
53 Lima puluh enam
54 lima puluh empat
55 lima puluh Lima.
56 lima puluh enam
57 lima puluh tujuh
58 lima puluh delapan
59 lima puluh sembilan.
60 Enam puluh
61 enam puluh satu
62 enam puluh dua
63 enam puluh tiga
64 enam puluh empat.
65 enam puluh lima
66 enam puluh enam
67 enam puluh tujuh
68 enam puluh delapan
69 enam puluh sembilan
70 tujuh puluh
71 tujuh puluh satu
72 tujuh puluh dua
73 tujuh puluh tiga
74 tujuh puluh empat
75 Tujuh puluh lima
76 tujuh puluh enam
77 tujuh puluh tujuh
78 tujuh puluh delapan
79 tujuh puluh sembilan
80 delapan puluh
81 delapan puluh satu
82 delapan puluh dua
83 delapan puluh tiga
84 delapan puluh empat
85 delapan puluh lima
86 Delapan puluh Enam
87 delapan puluh tujuh
88 delapan puluh delapan
89 delapan puluh sembilan
90 sembilan puluh
91 sembilan puluh satu
92 sembilan puluh dua
93 sembilan puluh tiga
94 sembilan puluh empat
95 sembilan puluh lima
96 sembilan puluh enam
97 sembilan puluh tujuh
98 sembilan puluh delapan
99 sembilan puluh sembilan
100 seratus
101 101
102 seratus dua
103 seratus tiga
104 seratus empat
105 seratus lima
106 seratus enam
107 seratus tujuh
108 seratus delapan
109 seratus sembilan
110 seratus sepuluh
111 seratus sebelas
112 seratus dua belas
113 seratus tiga belas
114 seratus empat belas
115 seratus lima belas
116 seratus enam belas
117 seratus tujuh belas
118 seratus delapan belas
119 seratus sembilan belas
120 seratus dua puluh
121 seratus dua puluh satu
122 seratus dua puluh dua
123 seratus dua puluh tiga
124 seratus dua puluh empat
125 seratus dua puluh lima
126 seratus dua puluh enam
127 seratus dua puluh tujuh
128 seratus dua puluh delapan
129 seratus dua puluh sembilan
130 seratus tiga puluh.
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 TAMAT
Episodes

Updated 147 Episodes

1
ke-satu
2
ke-dua
3
ke-tiga
4
ke-empat.
5
ke-lima
6
ke-enam
7
ke-tujuh
8
ke-delapan
9
ke-sembilan
10
ke-sepuluh
11
ke-sebelas
12
ke-duabelas.
13
ke-tigabelas
14
ke-empat belas
15
ke-lima belas
16
ke-enam belas
17
ke-tujuh belas.
18
ke-delapan belas.
19
ke-sembilan belas.
20
ke-dua puluh
21
ke-dua puluh satu
22
ke-dua puluh dua
23
ke-dua puluh tiga
24
ke-dua puluh empat
25
ke-dua puluh lima.
26
ke-dua puluh enam
27
ke-dua puluh tujuh
28
ke-dua puluh delapan.
29
ke- dua puluh sembilan
30
ke-tiga puluh
31
ke-tiga puluh satu
32
ke-tiga puluh dua
33
tiga puluh tiga
34
Tiga puluh empat.
35
tiga puluh lima
36
tiga puluh enam
37
tiga puluh tujuh.
38
tiga puluh delapan
39
tiga puluh sembilan
40
empat puluh
41
empat puluh satu
42
empat puluh dua
43
empat puluh tiga
44
empat puluh empat
45
empat puluh lima
46
empat puluh Enam
47
empat puluh tujuh
48
empat puluh delapan
49
empat puluh sembilan
50
lima puluh
51
lima puluh satu
52
lima puluh dua
53
Lima puluh enam
54
lima puluh empat
55
lima puluh Lima.
56
lima puluh enam
57
lima puluh tujuh
58
lima puluh delapan
59
lima puluh sembilan.
60
Enam puluh
61
enam puluh satu
62
enam puluh dua
63
enam puluh tiga
64
enam puluh empat.
65
enam puluh lima
66
enam puluh enam
67
enam puluh tujuh
68
enam puluh delapan
69
enam puluh sembilan
70
tujuh puluh
71
tujuh puluh satu
72
tujuh puluh dua
73
tujuh puluh tiga
74
tujuh puluh empat
75
Tujuh puluh lima
76
tujuh puluh enam
77
tujuh puluh tujuh
78
tujuh puluh delapan
79
tujuh puluh sembilan
80
delapan puluh
81
delapan puluh satu
82
delapan puluh dua
83
delapan puluh tiga
84
delapan puluh empat
85
delapan puluh lima
86
Delapan puluh Enam
87
delapan puluh tujuh
88
delapan puluh delapan
89
delapan puluh sembilan
90
sembilan puluh
91
sembilan puluh satu
92
sembilan puluh dua
93
sembilan puluh tiga
94
sembilan puluh empat
95
sembilan puluh lima
96
sembilan puluh enam
97
sembilan puluh tujuh
98
sembilan puluh delapan
99
sembilan puluh sembilan
100
seratus
101
101
102
seratus dua
103
seratus tiga
104
seratus empat
105
seratus lima
106
seratus enam
107
seratus tujuh
108
seratus delapan
109
seratus sembilan
110
seratus sepuluh
111
seratus sebelas
112
seratus dua belas
113
seratus tiga belas
114
seratus empat belas
115
seratus lima belas
116
seratus enam belas
117
seratus tujuh belas
118
seratus delapan belas
119
seratus sembilan belas
120
seratus dua puluh
121
seratus dua puluh satu
122
seratus dua puluh dua
123
seratus dua puluh tiga
124
seratus dua puluh empat
125
seratus dua puluh lima
126
seratus dua puluh enam
127
seratus dua puluh tujuh
128
seratus dua puluh delapan
129
seratus dua puluh sembilan
130
seratus tiga puluh.
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!