THE CEO’S SECRET SON
Jaxon Thorne sedang duduk di kursi kebesarannga. Dia bersandar. Sebuah pose kekuasaan yang telah menjadi ciri khasnya.
Mereka menyebutnya The Ice Prince di berita-berita bisnis, dan julukan itu melekat dengan sempurna.
Pada usia tiga puluh satu tahun, dia adalah pemimpin dari kerajaan bisnis Thorne Global, dan hari ini, dia baru saja menyelesaikan sebuah akuisisi yang cukup sulit.
“Rapat dengan tim dari Rusia telah dipindahkan ke pukul tiga sore, Tuan Thorne,” ucap Brice, asisten setianya yang telah bekerja selama lima tahun, tanpa menatapnya, matanya tertuju pada tablet. “Dokumen untuk proyek Dubai sudah ada di meja anda. Dan …” dia terdengar ragu, suatu hal yang sangat jarang.
Jaxon menoleh ke arahnya, matanya tajam.
“Dan?” dia mendesak, meletakkan tabletnya di meja.
“Ada undangan … untuk upacara pemberian beasiswa Thorne Future besok siang di atrium.”
Jaxon mengerutkan kening. Program beasiswa itu adalah inisiatif public relation-nya, sebuah cara yang sinis untuk memberi sedikit rasa kemanusiaan pada citra perusahaan mereka.
Dia biasanya menghindari acara-acara seperti itu. “Kirimkan saja Harrison dari PR. Itu tugasnya.”
“Dia yang meminta anda untuk hadir, Tuan,” Brice tetap bertahan, meski suaranya lembut. “Acara ini mendapat banyak perhatian media tahun ini karena … kandidat yang luar biasa. Akan baik untuk citra perusahaan jika anda muncul, meski hanya sepuluh menit.”
Jaxon mendesah. Dia membenci politik pencitraan, tapi dia memahami permainannya. “Sepuluh menit. Tidak lebih. Siapkan pidato singkat. Sesuatu yang cepat dan padat.”
“Sudah disiapkan, Tuan.”
Setelah Brice pergi, Jaxon berdiri menghadap jendela. Kota di bawahnya tampak hidup.
Malam itu, seperti banyak malam lainnya, dia tidak pulang ke penthouse mewahnya yang sunyi. Dia bekerja hingga larut, seperti biasa.
*
*
Ketika akhirnya dia pulang, dia melepas jasnya, melepas dasinya, dan berdiri di tengah ruangan yang luas dan tak berjiwa itu.
Tidak ada foto. Tidak ada kenangan. Hanya interior yang sempurna dan tak bernyawa.
*
*
Malam itu, ada sebuah kencan buta yang diatur oleh ayahnya dengan seorang putri sosialita. Restoran yang terlalu eksklusif, percakapan yang membosankan.
Wanita itu cantik, elegan, dan dengan jelas tertarik padanya, atau lebih tepatnya, pada kekayaannya dan statusnya.
Dia tak tersenyum. Hanya menjawab singkat dan membuat wanita itu canggung karena tak tahu apa yang menarik baginya.
Saat makan malam berakhir, dia mengantarnya pulang dengan sopan, menolak langsung ajakannya untuk masuk tanpa basa basi.
Dia melihat kilatan kekecewaan di mata wanita itu sebelum dia beranjak dari sana.
*
Mengapa dia melakukannya? Mungkin karena masih ada balas dendam kecil dan kosong terhadap semua wanita, terhadap satu wanita khususnya, yang telah mengajarinya bahwa cinta hanyalah sebuah omong kosong yang membuatnya bodoh.
Dia kembali ke penthouse. Lalu menuangkan segelas Scotch, menegaknya, dan merasakan kehangatannya yang palsu menyusuri tenggorokannya.
Dia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkedip. Kekayaannya melimpah. Kerajaannya luas.
Tapi kebenciannya pada pengkhianatan, pada ingatan akan sepasang mata hijau yang telah menghilang, masih membara lebih dalam dan lebih panas daripada apapun.
Besok ada acara beasiswa. Sebuah formalitas. Lalu, merger berikutnya. Hidup akan terus berjalan, seperti mesin. Dingin. Cepat. Hampa.
Tak lama, ponselnya berdering, nama ayahnya terpampang di layar. Dengan enggan dia mengangkatnya.
“Halo.”
“Apa maksudmu bersikap seperti itu pada Britney?? Dia—“
“Sudah kubilang aku tak akan menikah!” bentak Jaxon.
“Owh … jadi kau sudah begitu sombong setelah semua saham kau kuasai?”
“Apa? Aku yang membuat perusahaan kita begitu besar seperti sekarang! Kalian sama sekali tak bekerja! Kalian memeras otakku dan aku bukan orang bodoh yang hanya bisa kalian perintah terus menerus!” geram Jaxon yang mulai emosi ditambah rasa lelahnya.
“KAU! Kau lupa bahwa kami yang mendukungmu kuliah hingga—“
“Kalian mendukungku? Bullshit!!” potong Jaxon. “Diam saja atau aku akan menghentikan semua bantuan keuangan untukmu, keluargamu, dan istri barumu itu!” Lalu Jaxon menutup ponselnya.
Jaxon memang tak pernah akur dengan ayahnya yang otoriter. Dulu dia masih terkekang dan mengikuti perintah ayahnya karena dia masih membutuhkan penyokong dana pendidikannya.
Tapi sekarang, Jaxon sudah tak terlalu menggubris sang ayah yang baru saja menikah lagi dengan wanita yang bahkan umurnya ada di bawah Jaxon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Alexa Juliana
Cukup sdh kau jd anak penurut Jax,skrg kau punya kekuatan dan bisa mengendalikan semuanya..Jd jgn mau di atur2 lagi..
2026-06-20
0
Pandin Beatrix
Jaxon CEO ganteng tapi dingin , dingin karena penghianatan, tapi penghianatan dr istri atau justru dr keluarga ?
2026-03-21
0
Yuli Yanti
mamfir kk zarin klo ngasih visual nya ga usah d'ragu kan lgi keren pokok nya mah 😁
2026-03-02
0