Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung

Raka berjalan perlahan menuju pintu pemeriksaan tiket, namun pikirannya melayang jauh meninggalkan keriuhan Stadion GBK, menuju ke selatan Jakarta. Tepatnya ke hadiah properti gila yang baru saja mendarat di pangkuannya.

The Sultan Residence - Pondok Indah Bukit Golf.

Bagi warga Jakarta, nama itu bukan sekadar alamat. Itu adalah mantra. Itu adalah garis batas tegas yang memisahkan antara "orang kaya" dan "konglomerat lama".

Raka tahu betul reputasi tempat itu. Dikembangkan di atas lahan berkontur bukit langka di jantung Jakarta Selatan, kompleks ini adalah anomali. Di saat Jakarta sesak dengan beton dan polusi, The Sultan Residence menawarkan oase hijau yang mustahil. Bagian belakang villa menyandar pada bukit buatan yang rimbun, sementara bagian depannya menghadap langsung ke hamparan rumput lapangan golf 18-hole yang terawat.

Pagi hari di sana konon diselimuti kabut tipis seolah berada di Puncak Pass. Siang hari, penghuninya bisa menyesap Earl Grey tea di balkon sambil memandang cakrawala gedung pencakar langit SCBD dari kejauhan. Dan malam hari? Malam hari adalah pertunjukan lampu kota yang gemerlap, dinikmati dari keheningan privasi yang absolut.

Bisa dibilang, di seluruh Jakarta bahkan mungkin Indonesia tidak ada real estat yang lebih prestisius dari ini.

Lebih gila lagi, Villa Nomor 1 yang kini menjadi milik Raka bukan sekadar rumah. Itu adalah masterpiece. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur tropis modern, dilengkapi private lift, kolam renang infinity yang menggantung di tepi bukit, dan sistem Smart Home berbasis AI yang mungkin lebih pintar daripada dosen pembimbing skripsi Raka.

Tetangga kanan-kirinya? Kalau bukan menteri, pasti CEO unicorn, atau mungkin diplomat asing.

"Gila..." Raka menggelengkan kepala, tertawa kecil. "Kemarin gue masih mikir gimana caranya bayar iuran sampah kostan 20 ribu perak. Sekarang? Gue tetanggaan sama orang yang mobilnya lebih mahal dari harga diri gue."

Tempat seperti itu, bagi Raka versi lama, adalah zona terlarang. Lewat depannya saja mungkin satpamnya sudah menatap curiga. Tapi sekarang? Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Raka Adiyaksa sudah tersimpan aman di sistem.

Ini terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi terlalu indah untuk disebut kenyataan.

Tiba-tiba, langkah Raka terhenti.

Sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung kaki, merambat naik ke tulang belakang, hingga meledak pelan di batang otaknya.

Krak... Kretek...

Terdengar bunyi halus persendiannya yang bergeser.

Itu bukan rasa sakit. Itu adalah... kenikmatan murni. Rasanya seperti baru saja dipijat oleh sepuluh terapis profesional secara bersamaan setelah lari maraton, lalu disiram air es yang menyegarkan.

Skill [Transformasi Fisik Adonis] mulai bekerja.

Otot-otot di lengan dan kakinya terasa memadat, mengencang di balik kemeja kusamnya. Rasa pegal akibat berdiri berjam-jam mengantre tiket lenyap seketika, digantikan oleh lonjakan energi yang membuatnya merasa bisa membelah beton dengan tangan kosong.

Pandangannya menajam. Dia bisa melihat detail serat kain pada baju orang di depannya. Dia bisa mendengar percakapan samar dari jarak sepuluh meter.

"Jadi ini rasanya punya 'Cheat Code' di dunia nyata?" Raka menyeringai, meremas kepalan tangannya. Terasa solid. Kuat.

Sambil menikmati tubuh barunya, Raka melirik ponsel. Notifikasi m-banking masih terus bermunculan dengan ritme yang menghipnotis.

Tring! (Rp 250 masuk) Tring! (Rp 250 masuk)

Raka menatap angka itu dengan tatapan lapar. Dia membayangkan, jika dia diam saja selama 10 detik, dia dapat Rp 2.500. Cukup buat bayar parkir. Satu menit diam? Rp 15.000. Cukup buat beli Nasi Padang lauk rendang. Satu jam diam? Rp 900.000. Cukup buat... well, cukup buat mentraktir satu asrama makan.

"Kalau gini caranya, gue tidur siang aja udah lebih produktif daripada manajer gue dulu," gumamnya geli. "Emang bener kata orang, yang kaya makin kaya, yang miskin makin... ah sudahlah."

Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan euforia yang nyaris membuatnya gila, Raka melangkah mantap menuju gerbang pemeriksaan. Dia mengeluarkan dua tiket fisik VVIP dari sakunya.

Petugas pemeriksa tiket, seorang wanita muda dengan seragam rapi, menatap Raka sebentar. Penampilan Raka yang "biasa saja" kemeja kusam, jeans pudar, sepatu kets yang agak dekil sedikit kontras dengan pemegang tiket VVIP lain yang rata-rata wangi uang dan bermerek dari ujung rambut sampai kaki.

"Tiket VVIP ya, Mas?" tanya petugas itu, sedikit ragu.

Raka tersenyum tipis, menyodorkan tiketnya. "Dua orang. Tapi saya masuk sendiri."

Petugas itu memindai barcode. Bip. Valid. Matanya membelalak sedikit, lalu sikapnya berubah drastis menjadi sangat sopan. "Silakan, Pak. Lewat jalur merah di sebelah kanan. Selamat menikmati konser."

Raka mengangguk dan melenggang masuk.

Di dalam stadion, atmosfernya gila. Ribuan manusia memadati tribun dan area festival. Lautan lightstick berwarna ungu neon mulai dinyalakan, menciptakan galaksi buatan yang berkedip-kedip. Suara musik latar berdentum di dada.

Ini konser Vania Winata.

Raka berjalan mencari tempat duduknya di area VVIP, baris paling depan yang berhadapan langsung dengan panggung utama. Dia bukan cuma suka lagunya. Raka respect sama Vania.

Gadis itu fenomena. Ditemukan umur 16 tahun saat menyanyi iseng di lomba agustusan sekolah, videonya viral, lalu ditarik label besar. Debut album pertamanya langsung meledak, menyapu bersih semua tangga lagu dari Spotify sampai YouTube Trending.

Sekarang usianya 18 tahun. Dalam dua tahun, dia sudah bertransformasi dari siswi SMA polos menjadi Diva Nasional.

Tapi bukan itu yang bikin Raka kagum. Raka pernah baca artikel investigasi di Twitter. Vania diam-diam menyumbangkan hampir 70% penghasilan tahun pertamanya untuk membangun sekolah-sekolah rusak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tanpa konferensi pers. Tanpa pamer di Instagram Story. Justru orang lain yang membocorkannya.

"Cantik, suara bagus, hati malaikat," batin Raka. "Beda banget sama ular berbisa kayak Tiara."

Mengingat Tiara, Raka akhirnya menemukan kursinya. Row A, Seat 12 & 13.

Posisi "Sultan". Tepat di tengah, pandangan lurus ke panggung tanpa halangan. Kursinya bukan kursi plastik lipat, tapi kursi busa empuk dengan sandaran tangan lebar.

Raka duduk di kursi nomor 12. Dia menatap kursi nomor 13 di sebelahnya. Kursi kosong yang harganya 3,5 juta rupiah.

Tanpa ragu, Raka melepaskan tas ransel bututnya dan meletakkannya di atas kursi nomor 13. Dia menepuk-nepuk tas itu seolah itu adalah benda berharga.

Lalu, dengan gaya santai yang memancing emosi, Raka menyilangkan kaki, merentangkan tangan kirinya menguasai sandaran kursi nomor 13, dan bersandar nyaman.

Aksi ini, tentu saja, menjadi tontonan di area VVIP.

Di sekelilingnya adalah para influencer, anak pejabat, dan "Crazy Rich" Jaksel yang datang dengan pasangan atau geng mereka. Melihat seorang cowok berpenampilan "rakyat jelata" duduk sendirian dan membiarkan satu kursi VVIP hanya untuk menaruh tas butut, adalah sebuah penistaan terhadap nilai uang.

Bisik-bisik mulai terdengar dari baris belakang.

"Eh, liat tuh cowok di depan," bisik seorang cewek dengan riasan tebal dan tas Gucci di pangkuannya. "Gila, dia beli dua tiket VVIP cuma buat naro tas ransel?"

"Anjir, itu tas apaan? Limited edition?" sahut temannya sambil menyipitkan mata. "Kok kayak tas pembagian diklat PNS?"

"Hush! Jangan gitu. Siapa tau dia intel nyamar. Atau anak tambang yang lagi low profile."

"Tapi gila sih flexing-nya. Jiwa miskin gue meronta-ronta liat tiket 3 juta dipakein tas doang."

Raka, dengan pendengaran barunya yang super sensitif, mendengar semua itu. Dia menahan tawa. Silakan berasumsi. Kalian nggak tau kalau tas butut ini isinya botol minum tupperware sama jas hujan.

"Bro," tiba-tiba seorang cowok di sebelahnya, yang memakai kemeja batik sutra, menegur ramah. "Temennya nggak dateng?"

Raka menoleh, tersenyum santai. "Nggak. Lagi sakit perut katanya. Jadi ya udah, tas saya aja yang duduk. Biar lega."

Si cowok batik melongo, lalu mengacungkan jempol canggung. "Sultan mah bebas, Bro. Sadis."

Raka kembali menatap panggung. Dia merasa puas. Sangat puas.

Tiba-tiba, lampu stadion padam total. Gelap gulita.

Teriakan histeris puluhan ribu penonton memecah malam. "VANIA!!! VANIA!!! VANIA!!!"

Suara gemuruh itu seperti ombak yang menghantam karang.

DUAR!!

Kembang api meluncur dari empat sudut panggung, meledak menjadi hujan emas di udara. Musik intro orkestra yang megah mulai mengalun, membangun ketegangan. Layar LED raksasa menyala, menampilkan siluet seorang gadis.

Lift hidrolik di tengah panggung perlahan naik. Asap dry ice mengepul dramatis.

Dan di sanalah dia.

Vania Winata.

Saat lampu sorot utama menghantam sosoknya, Raka merasa napasnya tercekat.

Dia mengenakan gaun putih panjang berbahan sutra yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Bagian roknya semi-transparan, memberikan siluet kaki jenjang yang indah tanpa terlihat vulgar. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, bergerak lembut tertiup angin buatan dari blower panggung.

Wajahnya... astaga. Di layar LED raksasa, wajah itu diperbesar ribuan kali lipat, dan Raka tidak bisa menemukan satu cela pun. Kulit putih porselen, hidung mancung yang elegan, dan mata bulat yang bersinar seperti bintang.

Dia tersenyum, dan rasanya satu stadion meleleh.

"Selamat malam, Jakarta!" sapanya. Suaranya bening, renyah, namun bertenaga.

"KYAAAAA!!!!"

Raka ikut tersenyum. Pesona gadis ini benar-benar di level yang berbeda. Bukan cuma cantik, tapi dia punya aura. Aura bintang yang membuat orang tidak bisa memalingkan wajah.

Vania mulai mengangkat mikrofonnya. Musik berubah lembut. Lagu pembuka: "Cinta dalam Diam".

Saat nada pertama keluar dari bibirnya, Raka memejamkan mata sejenak, membiarkan suara emas itu membasuh kekesalan dan amarahnya seharian ini.

Namun, saat dia membuka mata lagi, pandangannya terkunci pada sosok Vania yang berjalan mendekati bibir panggung, tepat di depan area tempat Raka duduk.

Skill pasif [Radar Bidadari] miliknya tiba-tiba berkedip aktif.

Sebuah panel status transparan berwarna merah muda muncul di atas kepala sang penyanyi, mengambang di udara.

[Target Terdeteksi: Vania Winata]

Usia: 18 Tahun

Nilai Wajah: 98/100 (Kategori: Dewi Nasional)

Nilai Bentuk Tubuh: 96/100 (Kategori: Golden Ratio)

Status: Murni / Single

Mood Saat Ini: Lelah tapi Bahagia.

Kesan: "Menyembunyikan kesepian di balik sorotan lampu."

"Wow..." Raka melongo, hampir menjatuhkan rahangnya. "Sistem ini... transparan banget?"

Nilai 98? Itu angka yang hampir mustahil. Raka iseng melirik cewek-cewek influencer di sekitarnya. Rata-rata hanya memiliki skor 70-80 di mata sistem. Tiara? Mungkin kalau di-scan sekarang cuma dapet 65 karena minus akhlak.

Vania adalah spesimen sempurna.

Dan malam ini, di kursi VVIP dengan tas butut di sebelahnya, Raka merasa takdir baru saja mempertemukan dua garis hidup yang seharusnya tidak bersinggungan.

Terpopuler

Comments

Sang M

Sang M

matamu.....jgn bikin malu...cookkl

2026-04-20

0

Eza Bae

Eza Bae

tes

2026-07-31

0

On fire

On fire

💖💛💛🩵🩵

2026-05-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2 Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3 Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4 Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5 Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6 Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7 Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8 Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9 Bab 9: Drama Pelat Nomor
10 Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11 Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12 Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13 Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14 Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15 Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16 Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17 Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18 Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19 Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20 Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21 Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22 Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23 Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24 Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25 Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26 Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27 Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28 Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29 Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30 Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31 Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32 Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33 Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34 Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35 Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36 Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37 Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38 Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39 Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40 Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41 Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42 Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43 Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44 Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45 Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46 Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47 Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48 Bab 47: Definisi Teman Sultan
49 Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50 Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51 Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52 Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53 Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54 Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55 Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56 Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57 Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58 Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59 Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60 Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61 Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62 Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63 Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64 Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65 Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66 Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67 Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68 Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69 Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70 Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71 Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72 Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73 Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74 Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75 Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76 Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77 Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78 Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79 Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80 Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81 Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82 Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83 Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84 Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85 Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86 Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87 Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88 Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89 Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90 Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91 Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92 Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93 Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94 Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95 Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96 Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97 Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98 Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99 Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100 Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101 Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102 Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103 Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104 Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105 Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106 Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107 Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108 Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109 Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110 Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111 Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112 Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113 Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114 Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115 Bab 113: Ambisi Film
116 Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117 Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118 Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119 Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120 Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121 Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122 Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123 Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124 Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125 Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126 Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127 Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128 Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129 Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130 Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131 Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132 Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133 Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134 Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135 Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136 Adu Gengsi Alkohol
137 Tagihan 13 Miliar
138 Sirkus Pangeran Jaksel
139 Drama Queen di Jok Belakang
140 Membeli Restoran Demi Traktiran
141 Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142 Metode Akting Jalur Galau
143 Murka Sang Patriark
144 Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145 Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146 Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147 Drama Keluarga Selesai
148 Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149 Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150 Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151 Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152 Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153 Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154 Misi Detektif Dadakan
155 Uang Saweran yang Salah Alamat
156 Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157 Surat Somasi dan Teror Belanja
158 Kehancuran Agensi
159 Insiden Perampokan!
160 Dilabrak Bella.
161 "Pria Otot Macho"
162 Mengalihkan Hype, Konten FYP
163 Gengsi Para Sutradara
164 Penyamaran Ninja Sultan
165 Filosofi Sang Maestro
166 Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167 Cemburu Buta Sang Ratu
168 Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169 Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170 Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171 Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172 Rahasia Busuk Musuh
173 Amukan Ormas Pengemis
174 Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175 Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176 Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177 Surat Somasi Bag.1
178 Surat Somasi Bag.2
179 Batas Akhir Toleransi
180 Perpisahan Sang Sultan
181 Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182 Perdebatan
183 Bukti CCTV
184 Hancurnya Ego Sang Sultan
185 Menunggu dalam Gelap
186 Jejak Sang Diva
187 Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188 Tragedi Pohon Palsu
189 Lenyapnya Dana Triliunan
190 Honor Fantastis
191 Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192 Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193 Asumsi Keliru
194 Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195 Tatapan Sang Tuan Muda
196 Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197 Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198 Membeli Rumah Sakit
199 Kakak Sepupu Konglomerat
200 Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201 Kesempatan Terakir
202 Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203 Hukuman Nasib Buruk
Episodes

Updated 203 Episodes

1
Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2
Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3
Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4
Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5
Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6
Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7
Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8
Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9
Bab 9: Drama Pelat Nomor
10
Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11
Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12
Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13
Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14
Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15
Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16
Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17
Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18
Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19
Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20
Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21
Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22
Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23
Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24
Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25
Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26
Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27
Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28
Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29
Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30
Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31
Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32
Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33
Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34
Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35
Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36
Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37
Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38
Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39
Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40
Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41
Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42
Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43
Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44
Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45
Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46
Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47
Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48
Bab 47: Definisi Teman Sultan
49
Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50
Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51
Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52
Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53
Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54
Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55
Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56
Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57
Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58
Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59
Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60
Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61
Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62
Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63
Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64
Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65
Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66
Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67
Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68
Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69
Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70
Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71
Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72
Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73
Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74
Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75
Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76
Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77
Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78
Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79
Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80
Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81
Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82
Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83
Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84
Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85
Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86
Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87
Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88
Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89
Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90
Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91
Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92
Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93
Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94
Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95
Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96
Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97
Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98
Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99
Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100
Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101
Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102
Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103
Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104
Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105
Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106
Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107
Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108
Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109
Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110
Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111
Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112
Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113
Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114
Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115
Bab 113: Ambisi Film
116
Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117
Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118
Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119
Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120
Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121
Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122
Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123
Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124
Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125
Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126
Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127
Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128
Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129
Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130
Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131
Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132
Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133
Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134
Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135
Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136
Adu Gengsi Alkohol
137
Tagihan 13 Miliar
138
Sirkus Pangeran Jaksel
139
Drama Queen di Jok Belakang
140
Membeli Restoran Demi Traktiran
141
Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142
Metode Akting Jalur Galau
143
Murka Sang Patriark
144
Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145
Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146
Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147
Drama Keluarga Selesai
148
Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149
Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150
Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151
Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152
Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153
Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154
Misi Detektif Dadakan
155
Uang Saweran yang Salah Alamat
156
Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157
Surat Somasi dan Teror Belanja
158
Kehancuran Agensi
159
Insiden Perampokan!
160
Dilabrak Bella.
161
"Pria Otot Macho"
162
Mengalihkan Hype, Konten FYP
163
Gengsi Para Sutradara
164
Penyamaran Ninja Sultan
165
Filosofi Sang Maestro
166
Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167
Cemburu Buta Sang Ratu
168
Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169
Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170
Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171
Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172
Rahasia Busuk Musuh
173
Amukan Ormas Pengemis
174
Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175
Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176
Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177
Surat Somasi Bag.1
178
Surat Somasi Bag.2
179
Batas Akhir Toleransi
180
Perpisahan Sang Sultan
181
Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182
Perdebatan
183
Bukti CCTV
184
Hancurnya Ego Sang Sultan
185
Menunggu dalam Gelap
186
Jejak Sang Diva
187
Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188
Tragedi Pohon Palsu
189
Lenyapnya Dana Triliunan
190
Honor Fantastis
191
Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192
Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193
Asumsi Keliru
194
Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195
Tatapan Sang Tuan Muda
196
Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197
Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198
Membeli Rumah Sakit
199
Kakak Sepupu Konglomerat
200
Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201
Kesempatan Terakir
202
Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203
Hukuman Nasib Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!