Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan

Jakarta, Kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Malam minggu di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk mencekik mereka yang kesepian. Udara malam yang lembap bercampur dengan aroma aspal panas, asap knalpot, dan samar-samar wangi parfum mahal dari ribuan manusia yang memadati pelataran stadion.

Di tengah lautan manusia yang antusias menanti gerbang konser dibuka, seorang pemuda berdiri gelisah di dekat trotoar. Keringat dingin membasahi punggung kemejanya yang sudah agak kusut.

Namanya Raka.

Tangan kanannya menggenggam ponsel erat-erat, sementara tangan kirinya meremas saku celana, memastikan dua lembar tiket konser mahal itu masih aman di sana. Tiket yang dibelinya dengan memeras keringat dari kerja paruh waktu selama tiga bulan, makan mie instan setiap akhir bulan, hanya demi malam ini.

"Halo? Tiara?"

Raka berbicara ke arah ponselnya dengan nada mendesak, berusaha mengalahkan kebisingan suara klakson dan teriakan calo tiket di sekitarnya.

"Kamu di mana? Gate-nya bentar lagi dibuka, lho. Kalau telat nanti kita dapet spot jelek..."

Ada nada memohon dalam suaranya. Wajar saja, Raka sudah merencanakan ini sejak lama. Tiara bukan sekadar teman kuliah satu jurusan baginya. Dia adalah gadis yang selama setahun terakhir ini menjadi pusat dunianya. Raka sudah menjadi sopir pribadinya, tempat curhatnya, bahkan penyedia hadiah-hadiah kecil yang Raka sendiri sebenarnya tak mampu beli.

Teman-teman tongkrongannya sudah sering menyindir. "Ka, lo itu cuma badut. Cuma ojol gratisan." Tapi Raka menutup telinga. Dia percaya, malam ini, di bawah lampu sorot konser dan lagu romantis, dia akan menyatakan perasaannya.

Namun, jawaban di ujung telepon menghancurkan skenario itu dalam hitungan detik.

"Aduh, Raka... sorry banget ya," suara manja di seberang sana terdengar serak, dibuat-buat. "Perut aku sakit banget dari tadi sore. Kayaknya asam lambung aku kumat deh. Aku nggak bisa dateng. Sumpah, maaf banget ya..."

Jantung Raka mencelos. "Sakit? Kamu butuh obat? Atau aku ke kostan kamu sekarang "

"Nggak usah!" potong Tiara cepat. "Aku cuma butuh tidur. Udah ya, have fun nontonnya. Bye."

Sambungan terputus.

Raka mematung. Hiruk-pikuk di sekitarnya seolah meredam, menyisakan suara dengung di telinganya. Dia menatap layar ponsel yang gelap, lalu menatap dua tiket di tangannya. Sia-sia.

"Mungkin dia beneran sakit..." gumam Raka, mencoba membohongi logikanya sendiri.

Namun, takdir punya selera humor yang brengsek malam itu.

Mata Raka tanpa sengaja menangkap kilatan lampu depan sebuah mobil mewah yang perlahan merayap di tengah kemacetan drop-off zone VIP, tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah sedan BMW Seri 3 berwarna hitam mengkilap berhenti dengan anggun.

Pintu penumpang terbuka.

Waktu seolah melambat bagi Raka.

Seorang gadis melangkah turun. Kakinya jenjang, dibalut rok mini yang memamerkan kulit putih mulus. Rambutnya ditata sempurna, wajahnya glowing di bawah lampu jalan. Tidak ada tanda-tanda sakit perut atau asam lambung kumat. Dia terlihat segar, cantik, dan... siap bersenang-senang.

Itu Tiara.

Dan dia tidak sendirian.

Dari pintu pengemudi, seorang pemuda keluar. Gayanya santai tapi loud. Kaos oversized Balenciaga, celana kargo trendi, dan sepatu Air Jordan edisi terbatas yang harganya mungkin setara biaya hidup Raka selama satu semester.

Raka mengenalnya. Kevin.

Anak tajir dari fakultas sebelah. Tipe cowok yang ke kampus bawa mobil beda-beda tiap minggu, yang jam tangannya Rolex atau minimal TAG Heuer, dan yang menjadikan mobil mewahnya sebagai senjata utama untuk menaklukkan mahasiswi-mahasiswi cantik.

Raka melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kevin berjalan memutar, lalu dengan santai merangkul pinggang ramping Tiara. Tangan itu mendarat di sana seolah dia memiliki hak penuh. Dan Tiara? Gadis yang katanya "sakit perut" itu tertawa renyah, menyandarkan kepalanya manja di bahu Kevin.

Ponsel di tangan Raka bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Tiara.

Tiara: Sorry ya Raka, aku beneran nggak kuat bangun. Next time ya.

Raka membaca pesan itu sambil melihat Tiara dan Kevin berjalan menjauh menuju pintu masuk VIP, melewati antrean panjang yang harusnya dilalui Raka.

"Cih..."

Tawa dingin keluar dari mulut Raka. Terdengar kering dan menyedihkan.

Dia bukan pacar Tiara. Dia sadar itu. Dia tidak punya hak untuk marah, tidak punya hak untuk melabrak. Tapi rasa sakit karena dibohongi, rasa perih karena sadar bahwa dia hanya dijadikan cadangan atau lebih parah, badut terasa nyata menghantam ulu hatinya.

"Ternyata bener kata anak-anak," bisik Raka pada aspal jalanan. "Gue cuma badut."

Dia menatap punggung Kevin yang perlahan menghilang di kerumunan. Perbedaan kasta itu begitu mencolok. Kevin dengan segala kemewahannya, dan Raka dengan kemeja diskonan dan keringat bau matahari.

Drrt... Drrt...

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk dari sahabatnya, Doni.

Raka menarik napas panjang, berusaha menormalkan suaranya sebelum mengangkat. "Halo, Don. Kenapa?"

"Ka! Lo di mana sekarang?" suara Doni terdengar heboh.

"Di GBK. Kenapa?"

"Lo buka link yang barusan gue kirim di WA. Buruan! Itu akun Marketplace-nya si Tiara!"

Dahi Raka berkerut. "Marketplace? Ngapain?"

"Udah buka aja dulu! Liat apa yang dia jual!"

Dengan perasaan tidak enak yang semakin menebal, Raka meminimalkan panggilan dan membuka aplikasi pesan. Dia mengklik tautan yang dikirim Doni. Aplikasi marketplace barang bekas terbuka, menampilkan sebuah daftar produk.

Samsung Galaxy A54 5G - Mulus Like New Harga: Rp 3.500.000 (Nego Tipis)

Deskripsi penjualnya membuat darah Raka mendidih: "Jual cepet aja gan/sist. Hape pemberian orang, jarang dipake karena udah ganti iPhone 14 Pro. Kondisi 99% mulus no minus. Siapa cepat dia dapat. Butuh dana buat nambahin beli tas."

Itu ponsel yang Raka belikan bulan lalu. Dia menabung mati-matian, makan nasi telur kecap setiap hari demi membelikan kado ulang tahun untuk Tiara karena gadis itu mengeluh hp lamanya lemot.

Raka mengklik profil penjualnya.

Isinya adalah galeri penghinaan bagi harga diri Raka.

Tas Charles & Keith yang Raka belikan semester lalu? Sold. Sepatu sneakers yang Raka cari keliling mall seharian? Sold. Bahkan powerbank lucu bentuk beruang yang Raka kasih minggu lalu pun sudah terjual.

"Gila..." Raka terkekeh getir. Matanya terasa panas.

"Halo? Ka? Lo liat kan?" suara Doni kembali terdengar. "Gue udah bilang, Ka. Itu cewek cuma jadiin lo ATM berjalan. Lo itu cuma sapi perah buat dia. Sadar, Ka!"

"Iya, Don. Gue liat," suara Raka datar, tanpa emosi. "Thanks infonya. Gue tutup dulu."

Raka menutup aplikasi itu dengan kasar. Dia merasa jijik. Bukan pada Tiara, tapi pada dirinya sendiri yang sebegitu bodohnya. Dia sudah diperlakukan seperti anjing yang setia, yang dikasih sisa-sisa perhatian hanya kalau majikannya butuh sesuatu.

Dia menatap lagi ke arah pintu masuk VIP yang sudah kosong. Bayangan Kevin dan Tiara kembali melintas.

Tiba-tiba, sebuah kalimat yang pernah dia baca di kolom komentar video "galau" di TikTok terngiang di kepalanya, menghantamnya dengan kebenaran yang pahit:

“Orang-orang kaya itu membeli masa muda dan kecantikan para gadis. Sedangkan kita, orang-orang biasa yang berjuang mati-matian, harus menghabiskan seluruh gaji dan tabungan hanya untuk mendapatkan sisa-sisa dari wanita yang pernah mereka nikmati.”

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang diputar di dalam dada.

Sangat akurat. Sangat menyakitkan.

Kevin mungkin hanya akan main-main dengan Tiara selama beberapa bulan, lalu membuangnya saat bosan. Tapi bagi Raka? Tiara adalah segalanya. Dan ironisnya, Raka yang berkorban segalanya justru yang dibuang sebelum sempat memiliki.

Raka berbalik arah. Dia tidak jadi masuk ke konser. Tiket di tangannya diremas hingga lecek, lalu dilempar begitu saja ke tong sampah terdekat. Persetan dengan uangnya. Dia tidak sanggup duduk di sana sendirian sambil membayangkan Tiara sedang bersenang-senang dengan Kevin di area VIP.

Dia berjalan melawan arus manusia yang baru berdatangan. Wajah-wajah di sekitarnya penuh tawa dan kebahagiaan, kontras sekali dengan awan mendung di wajah Raka.

"Bangsat..." umpatnya pelan, menendang kerikil di trotoar.

"Coba aja gue punya duit... Coba aja gue kaya..."

Kemarahan, rasa malu, dan keputusasaan bercampur aduk menjadi satu. Raka merasa dunia ini tidak adil. Kenapa orang seperti Kevin bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, sementara dia harus berdarah-darah hanya untuk dihargai sebagai manusia?

Tepat saat amarah itu memuncak di ubun-ubun, sesuatu yang aneh terjadi.

Pandangan Raka tiba-tiba kabur. Sebuah cahaya biru transparan muncul entah dari mana, melayang tepat di depan matanya, seolah-olah diproyeksikan langsung ke retina.

Raka berhenti berjalan, mengucek matanya. "Hah? Apaan nih? Gue halusinasi karena stres?"

Tapi cahaya itu semakin jelas. Membentuk sebuah panel holografik futuristik, mirip seperti antarmuka dalam game RPG yang sering dia mainkan. Tulisan-tulisan digital mulai bermunculan satu per satu, disertai suara notifikasi mekanis yang terdengar jelas di dalam otaknya.

[DING!]

[Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas sedang dalam proses pengikatan...]

[Proses: 0%] ... [Proses: 25%] ... [Proses: 50%] ... [Proses: 100%]

Raka ternganga. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah orang lain melihat layar biru yang melayang di depannya ini. Tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang terus berjalan melewatinya, sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya dia yang bisa melihat ini.

"Sistem... Sultan?" gumam Raka bingung.

Tulisan di layar itu berubah lagi.

[Pengikatan Berhasil!]

[Selamat datang, Tuan Rumah.]

Sebuah panel status karakter muncul, menampilkan data diri Raka dengan detail yang mengerikan.

[STATUS PENGGUNA]

Nama: Raka Adiyaksa

Tinggi Badan: 183 cm

Saldo Rekening Saat Ini: Rp 750.000,00

Skill: Tidak Ada

Raka menelan ludah. Angka saldo itu... benar-benar akurat sampai ke digit terakhir sisa uang di rekening BCA-nya setelah membeli tiket sialan tadi.

Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, sebuah kotak dialog baru muncul, berkedip-kedip dengan warna emas yang menggoda.

[Misi Pemula Terdeteksi!]

[Silakan lakukan GACHA 10x pertama Anda untuk mengaktifkan fitur!]

[Apakah Anda ingin melakukan Gacha sekarang?] [YA] / [TIDAK]

Jantung Raka berdegup kencang. Apakah ini mimpi? Atau... apakah doa putus asanya barusan benar-benar dijawab oleh semesta dengan cara yang paling gila?

Terpopuler

Comments

Bocil

Bocil

la kayak gini novel yg jenuhin mau dengerin cerita tapi gak ada suara audionya jdi males baca

2026-02-20

1

Chairul Yamin

Chairul Yamin

sekian lama baca novel di sebelah yg Bru baca bbrp halaman tiba² udh iklan gak bisa nolak dgn hati yg sabar, stelah pindah ke noveltoon ternyata lebih enak baca di sini aja

2026-04-08

1

REY ASMODEUS

REY ASMODEUS

haa raka, jangan jadi pemain latar di panggung manusia manusia super ya. tapi jadilah villain untuk mereka....

2026-02-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2 Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3 Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4 Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5 Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6 Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7 Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8 Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9 Bab 9: Drama Pelat Nomor
10 Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11 Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12 Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13 Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14 Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15 Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16 Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17 Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18 Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19 Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20 Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21 Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22 Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23 Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24 Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25 Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26 Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27 Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28 Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29 Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30 Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31 Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32 Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33 Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34 Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35 Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36 Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37 Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38 Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39 Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40 Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41 Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42 Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43 Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44 Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45 Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46 Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47 Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48 Bab 47: Definisi Teman Sultan
49 Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50 Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51 Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52 Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53 Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54 Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55 Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56 Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57 Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58 Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59 Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60 Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61 Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62 Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63 Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64 Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65 Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66 Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67 Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68 Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69 Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70 Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71 Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72 Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73 Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74 Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75 Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76 Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77 Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78 Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79 Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80 Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81 Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82 Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83 Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84 Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85 Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86 Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87 Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88 Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89 Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90 Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91 Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92 Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93 Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94 Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95 Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96 Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97 Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98 Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99 Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100 Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101 Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102 Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103 Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104 Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105 Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106 Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107 Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108 Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109 Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110 Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111 Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112 Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113 Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114 Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115 Bab 113: Ambisi Film
116 Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117 Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118 Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119 Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120 Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121 Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122 Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123 Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124 Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125 Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126 Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127 Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128 Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129 Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130 Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131 Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132 Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133 Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134 Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135 Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136 Adu Gengsi Alkohol
137 Tagihan 13 Miliar
138 Sirkus Pangeran Jaksel
139 Drama Queen di Jok Belakang
140 Membeli Restoran Demi Traktiran
141 Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142 Metode Akting Jalur Galau
143 Murka Sang Patriark
144 Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145 Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146 Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147 Drama Keluarga Selesai
148 Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149 Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150 Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151 Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152 Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153 Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154 Misi Detektif Dadakan
155 Uang Saweran yang Salah Alamat
156 Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157 Surat Somasi dan Teror Belanja
158 Kehancuran Agensi
159 Insiden Perampokan!
160 Dilabrak Bella.
161 "Pria Otot Macho"
162 Mengalihkan Hype, Konten FYP
163 Gengsi Para Sutradara
164 Penyamaran Ninja Sultan
165 Filosofi Sang Maestro
166 Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167 Cemburu Buta Sang Ratu
168 Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169 Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170 Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171 Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172 Rahasia Busuk Musuh
173 Amukan Ormas Pengemis
174 Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175 Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176 Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177 Surat Somasi Bag.1
178 Surat Somasi Bag.2
179 Batas Akhir Toleransi
180 Perpisahan Sang Sultan
181 Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182 Perdebatan
183 Bukti CCTV
184 Hancurnya Ego Sang Sultan
185 Menunggu dalam Gelap
186 Jejak Sang Diva
187 Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188 Tragedi Pohon Palsu
189 Lenyapnya Dana Triliunan
190 Honor Fantastis
191 Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192 Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193 Asumsi Keliru
194 Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195 Tatapan Sang Tuan Muda
196 Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197 Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198 Membeli Rumah Sakit
199 Kakak Sepupu Konglomerat
200 Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201 Kesempatan Terakir
202 Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203 Hukuman Nasib Buruk
Episodes

Updated 203 Episodes

1
Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2
Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3
Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4
Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5
Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6
Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7
Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8
Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9
Bab 9: Drama Pelat Nomor
10
Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11
Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12
Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13
Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14
Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15
Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16
Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17
Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18
Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19
Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20
Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21
Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22
Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23
Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24
Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25
Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26
Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27
Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28
Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29
Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30
Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31
Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32
Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33
Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34
Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35
Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36
Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37
Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38
Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39
Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40
Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41
Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42
Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43
Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44
Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45
Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46
Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47
Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48
Bab 47: Definisi Teman Sultan
49
Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50
Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51
Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52
Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53
Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54
Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55
Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56
Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57
Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58
Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59
Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60
Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61
Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62
Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63
Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64
Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65
Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66
Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67
Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68
Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69
Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70
Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71
Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72
Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73
Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74
Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75
Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76
Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77
Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78
Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79
Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80
Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81
Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82
Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83
Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84
Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85
Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86
Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87
Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88
Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89
Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90
Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91
Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92
Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93
Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94
Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95
Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96
Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97
Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98
Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99
Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100
Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101
Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102
Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103
Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104
Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105
Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106
Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107
Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108
Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109
Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110
Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111
Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112
Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113
Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114
Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115
Bab 113: Ambisi Film
116
Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117
Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118
Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119
Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120
Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121
Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122
Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123
Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124
Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125
Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126
Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127
Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128
Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129
Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130
Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131
Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132
Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133
Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134
Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135
Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136
Adu Gengsi Alkohol
137
Tagihan 13 Miliar
138
Sirkus Pangeran Jaksel
139
Drama Queen di Jok Belakang
140
Membeli Restoran Demi Traktiran
141
Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142
Metode Akting Jalur Galau
143
Murka Sang Patriark
144
Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145
Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146
Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147
Drama Keluarga Selesai
148
Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149
Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150
Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151
Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152
Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153
Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154
Misi Detektif Dadakan
155
Uang Saweran yang Salah Alamat
156
Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157
Surat Somasi dan Teror Belanja
158
Kehancuran Agensi
159
Insiden Perampokan!
160
Dilabrak Bella.
161
"Pria Otot Macho"
162
Mengalihkan Hype, Konten FYP
163
Gengsi Para Sutradara
164
Penyamaran Ninja Sultan
165
Filosofi Sang Maestro
166
Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167
Cemburu Buta Sang Ratu
168
Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169
Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170
Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171
Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172
Rahasia Busuk Musuh
173
Amukan Ormas Pengemis
174
Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175
Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176
Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177
Surat Somasi Bag.1
178
Surat Somasi Bag.2
179
Batas Akhir Toleransi
180
Perpisahan Sang Sultan
181
Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182
Perdebatan
183
Bukti CCTV
184
Hancurnya Ego Sang Sultan
185
Menunggu dalam Gelap
186
Jejak Sang Diva
187
Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188
Tragedi Pohon Palsu
189
Lenyapnya Dana Triliunan
190
Honor Fantastis
191
Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192
Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193
Asumsi Keliru
194
Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195
Tatapan Sang Tuan Muda
196
Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197
Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198
Membeli Rumah Sakit
199
Kakak Sepupu Konglomerat
200
Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201
Kesempatan Terakir
202
Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203
Hukuman Nasib Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!