Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan

Stadion Utama Gelora Bung Karno mendadak berubah menjadi kawah gunung berapi aktif.

Setelah momen "pelukan suci" dengan Vania Winata tadi, atmosfer di stadion berubah drastis. Dari euforia konser musik, menjadi arena penghakiman massal bagi satu orang pria bernama Raka.

Di layar raksasa LED, kolom live chat dari platform streaming (YouTube, TikTok, Instagram) bergulir dengan kecepatan cahaya. Isinya? 99% sumpah serapah, 1% orang jualan obat kuat.

[Netizen +62 Bersabda]:

"WOY ITU TANGANNYA TOLONG DIKONDISIKAN YA!"

"Bangsat, gue beli tiket VIP 5 juta cuma dapet salaman sama satpam, dia tiket gratisan dapet peluk?!"

"Lepasin Dewi gue, Dasar Kutil Badak!"

"Siapa sih tu cowok? Sok asik banget anjir. Keliatan banget sange-nya."

"FIX SETTINGAN! Gimmick murahan biar viral!"

"Laporin polisi! Pelecehan visual ini namanya!"

Raka, yang masih berdiri di atas panggung, tentu saja tidak melihat kolom komentar itu. Tapi dia bisa merasakan hawa membunuh yang memancar dari ribuan penonton pria di bawah sana.

Namun, alih-alih takut, Raka justru sedang menikmati sisa-sisa sensasi di dada bidangnya. Analisis sistem tadi ternyata bukan sekadar angka di atas kertas. Kelembutan yang sempat menempel selama dua detik itu terasa begitu nyata, elastis, dan... adiktif. Aroma tubuh Vania yang seperti campuran vanilla dan blooming jasmine masih tertinggal di kemeja flanelnya.

"Gila..." batin Raka sambil tersenyum tipis, senyum yang diartikan netizen sebagai senyum kemenangan iblis. "Ternyata jadi orang hoki itu rasanya se-nagih ini."

Vania, sebagai profesional sejati, berusaha mencairkan suasana. Meskipun dia sedikit kaget dengan keberanian cowok ini, dia harus menjaga mood acara. Dia mengambil kembali mikrofon dari tangan Raka.

"Oke! Selamat sekali lagi buat Raka," kata Vania dengan senyum yang dipaksakan ceria. "Nah, karena tangan kamu lagi wangi banget nih, gimana kalau kamu yang teken tombol buat undian hadiah kedua?"

Raka mengangkat alis. "Boleh? Nanti kalau saya menang lagi gimana?"

Vania tertawa renyah. "Ya nggak mungkin dong, Mas Raka. Probabilitasnya itu satu banding delapan puluh ribu. Kalau kamu menang lagi, aku traktir makan malem deh."

Salah ngomong lo, Neng, batin Raka.

"Oke, kalau maksa," jawab Raka santai.

Jarinya yang panjang menekan tombol virtual di layar tablet yang dipegang Vania.

[ SPINNING... ]

Angka-angka di layar raksasa berputar acak dengan kecepatan tinggi. Ribuan penonton menahan napas, berharap nomor tiket mereka yang muncul kali ini. Please, jangan dia lagi. Please, Tuhan.

"Stop!" seru Vania.

Raka mengangkat jarinya.

Layar berhenti berputar.

[ ROW A - SEAT 12 ]

Hening.

Benar-benar hening.

Bahkan suara jangkrik pun segan untuk berbunyi di momen absurd ini.

Mata Vania membelalak. Mulut mungilnya sedikit terbuka, membentuk huruf 'O' yang lucu. Dia menoleh ke layar, lalu ke Raka, lalu ke layar lagi.

"Loh?" Vania bingung. "Kok... kok A-12 lagi?"

Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu memasang wajah paling polos sedunia. "Waduh. Maaf ya, Mbak Vania. Kayaknya sistemnya ngefans sama saya."

Penonton: "BOOOOOOOOO!!!!!"

Teriakan protes mulai terdengar. "CURANG WOY!" "SETTINGAN! BALIKIN DUIT GUE!" "ORANG DALEM ITU PASTI!"

Vania panik. Dia menoleh ke arah Stage Manager yang berdiri di pinggir panggung. Wajahnya bertanya: Ini gimana ceritanya? Error ya?

Si Stage Manager menggeleng panik, memberi kode tangan menyilang, lalu menunjuk ke arah ear monitor Vania. Suara panitia terdengar di telinga Vania: "Lanjut aja, Van! Kita cek sistemnya. Anggap aja hoki. Kasih hadiahnya."

Vania menelan ludah. "O-oke... Wah, gila banget ya! Raka lagi! Tepuk tangan dong buat keberuntungan yang nggak masuk akal ini!"

Tepuk tangan yang terdengar sangat garing dan penuh kebencian.

"Hadiah kedua... Poster Limited Edition plus tanda tangan basah," Vania mengambil gulungan poster dari kru, lalu menyerahkannya ke Raka dengan gerakan agak kaku.

Raka menerima poster itu, lalu tanpa ragu, dia merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Hadiahnya udah. Pelukannya belum," kata Raka santai.

Vania: "..."

Ngelunjak ya, Mas.

Tapi Vania tidak bisa menolak di depan kamera. Citranya sebagai idola yang ramah adalah segalanya. Dengan senyum kaku, dia membiarkan Raka memeluknya lagi.

Grep.

Kali ini Raka memeluk sedikit lebih lama. Sekitar 3,5 detik. "Makasih, Van. Kamu wangi banget malem ini," bisik Raka tepat di telinga Vania.

Wajah Vania memerah padam. Antara malu, kaget, dan... sensasi aneh karena suara berat Raka yang berbisik itu terdengar sangat maskulin.

"Sama-sama..." jawab Vania cepat, langsung melepaskan diri. Jantungnya berdegup lebih kencang dari lagu rock yang tadi dia nyanyikan. Ini cowok kenapa sih? Kenapa gue deg-degan?

"Oke! Lanjut hadiah ketiga!" Vania buru-buru mengalihkan perhatian, berharap kutukan ini berakhir. "Sekarang kita minta kru aja yang pencet tombolnya! Biar adil!"

Kru panggung menekan tombol. Angka berputar. Berhenti.

[ ROW A - SEAT 12 ]

"ANJIIIIIRRR!!!" Seorang penonton di baris depan melempar botol air mineral saking frustrasinya.

Raka tertawa kecil. "Yah, saya lagi. Maaf ya, Guys. Emang susah jadi orang ganteng dan beruntung."

Dan ritual itu berulang. Hadiah ke-3 (Tumbler Eksklusif). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania. Hadiah ke-4 (Tiket Backstage Pass). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania (kali ini Raka menepuk punggung Vania pelan). Hadiah ke-5 (Smartwatch Garmin). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania.

... ...

Sampai hadiah ke-9.

Setiap kali nama (posisi kursi) Raka muncul, Raka dengan tanpa dosa merentangkan tangan, dan Vania dengan pasrah masuk ke dalam pelukan itu.

Pada pelukan ketujuh, Vania sudah tidak lagi kaku. Dia justru menatap Raka dengan tatapan aneh. Campuran antara rasa ingin tahu, frustrasi, dan kekaguman. Kok bisa? Ini cowok pake susuk apa?

Dan pada pelukan kesembilan, Raka sudah tidak dianggap manusia oleh penonton. Dia sudah dianggap musuh negara.

Di Area Kontrol Belakang Panggung (Backstage):

Kepanikan yang terjadi di sini jauh lebih parah daripada di panggung.

"GIMANA BISA ITU PROGRAM MUNCULIN ANGKA YANG SAMA 9 KALI BERTURUT-TURUT?!"

Pak Burhan, penanggung jawab Event Organizer, berteriak di depan wajah kepala tim IT. Wajahnya merah padam, keringat sebesar biji jagung mengucur deras. Ponselnya berdering non-stop dari pihak sponsor yang marah-marah menuduh ada kecurangan.

"Sumpah, Pak! Demi Allah!" Si Kepala IT, seorang pria berkacamata tebal yang sudah nyaris botak karena stres koding, mengetik dengan jari gemetar di laptopnya. "Saya udah cek source code-nya tiga kali! Algoritmanya bener! Ini murni RNG (Random Number Generator)!"

"Masa RNG ngasih angka sama terus?! Lo pikir gue bego?!" bentak Pak Burhan.

"Coba Bapak liat sendiri!" Si Kepala IT memutar laptopnya. Dia menjalankan simulasi di layar.

Klik. Angka keluar: B-45. Klik. Angka keluar: C-102. Klik. Angka keluar: VIP-08.

"Tuh kan, Pak! Kalau saya yang klik, atau kru yang klik di sini, angkanya acak! Normal!" Si Kepala IT mengusap wajahnya frustrasi. "Tapi begitu tombol di panggung itu dipencet buat undian real-time... entah kenapa semesta kayak membelokkan kode binernya ke kursi A-12 itu! Ini bukan bug, Pak. Ini... ini mistis!"

"Mistis ndasmu!" Pak Burhan memijat pelipisnya yang berdenyut. "Sponsor Honda udah nelpon. Mereka nanya, ini Grand Prize mobilnya aman nggak? Jangan sampe jatuh ke bocah setan itu lagi!"

"S-saya nggak bisa jamin, Pak..."

Kembali ke Panggung:

Vania menatap Raka dengan napas terengah. Sembilan kali dipeluk. Sembilan kali mencium aroma maskulin yang sama. Sembilan kali merasakan dada bidang itu. Jujur saja, Vania mulai merasa nyaman. Dan itu bahaya.

"Mas Raka..." suara Vania terdengar memelas, mic-nya dijauhkan sedikit. "Udah dong. Kasian yang lain. Masa kamu borong semua? Gudang rumah kamu nanti penuh loh."

Raka terkekeh, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia melihat tumpukan hadiah di kakinya yang sudah menggunung. "Sebenernya saya nggak butuh barang-barangnya sih, Van. Headphone, poster, smartwatch... bagi saya itu receh."

Sombong amat! batin Vania.

"Saya cuma butuh alasan buat meluk kamu aja," lanjut Raka dengan suara rendah, menatap langsung ke mata Vania.

Blush.

Wajah Vania memerah total sampai ke telinga. Smooth criminal. Dia belum pernah digombalin sehalus ini di atas panggung di depan 80 ribu orang.

"T-tapi..." Vania tergagap. "Ini tinggal satu hadiah terakhir. Grand Prize. Mobil Honda Civic Turbo RS."

Vania menatap penonton yang sudah siap melakukan revolusi anarkis. "Temen-temen... Maafin ya kejadian tadi. Aku yakin ini murni kebetulan semesta yang langka banget. Sekarang, Grand Prize! Mobil impian! Masa sih Raka lagi? Nggak mungkin kan?"

Vania mencoba membangun harapan palsu.

"Programmer kita udah reset sistemnya! Bener-bener fresh! Peluangnya nol koma sekian persen!"

Raka hanya tersenyum. Di retinanya, notifikasi sistem berkedip santai.

[Skill Pasif: Aura Keberuntungan Absolut - AKTIF] [Probabilitas Menang: 100%] [Pesan Sistem: Nikmati mobil barumu\, Tuan Rumah. McLaren butuh teman di garasi.]

"Oke," kata Vania, suaranya bergetar. "Kita hitung mundur buat mobilnya! Tiga! Dua! Satu! STOP!"

Layar berkedip. Warna-warni confetti digital meledak di layar.

Dan satu kombinasi angka muncul, besar, tegas, dan tak terbantahkan.

[ ROW A - SEAT 12 ]

Keheningan di stadion pecah. Bukan oleh tepuk tangan. Tapi oleh suara tangisan massal dan teriakan putus asa.

"DAJJAAAAAAALLLLL!!!" teriak seorang penonton dari tribun atas.

Raka tertawa lepas. Dia mengambil kunci simbolis mobil itu dari tangan SPG yang gemetar ketakutan. Lalu dia menatap Vania yang sudah pasrah, lemas, seolah jiwanya baru saja disedot oleh drakula hoki.

Raka merentangkan tangannya untuk yang kesepuluh kalinya.

"Sini, Sayang. Mobilnya nggak penting. Pelukan penutupnya yang penting."

Dan malam itu, Raka Adiyaksa resmi menjadi Musuh Publik Nomor Satu di Indonesia, sekaligus pria paling bahagia di muka bumi.

Terpopuler

Comments

saa

saa

hahahah jancok sakit perut aing dri tdi ktawa trs🤣🤣

2026-02-23

1

Vein

Vein

Baru download aplikasi ini malah nemu novel menarik 🤭

2026-02-21

1

Rieta

Rieta

senang banget rasanya pas Raka bilang ..sini sayang peluk 🤣

2026-02-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2 Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3 Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4 Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5 Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6 Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7 Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8 Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9 Bab 9: Drama Pelat Nomor
10 Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11 Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12 Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13 Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14 Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15 Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16 Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17 Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18 Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19 Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20 Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21 Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22 Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23 Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24 Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25 Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26 Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27 Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28 Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29 Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30 Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31 Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32 Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33 Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34 Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35 Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36 Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37 Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38 Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39 Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40 Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41 Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42 Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43 Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44 Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45 Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46 Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47 Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48 Bab 47: Definisi Teman Sultan
49 Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50 Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51 Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52 Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53 Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54 Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55 Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56 Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57 Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58 Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59 Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60 Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61 Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62 Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63 Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64 Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65 Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66 Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67 Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68 Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69 Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70 Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71 Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72 Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73 Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74 Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75 Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76 Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77 Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78 Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79 Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80 Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81 Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82 Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83 Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84 Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85 Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86 Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87 Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88 Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89 Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90 Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91 Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92 Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93 Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94 Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95 Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96 Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97 Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98 Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99 Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100 Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101 Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102 Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103 Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104 Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105 Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106 Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107 Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108 Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109 Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110 Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111 Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112 Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113 Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114 Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115 Bab 113: Ambisi Film
116 Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117 Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118 Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119 Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120 Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121 Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122 Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123 Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124 Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125 Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126 Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127 Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128 Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129 Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130 Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131 Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132 Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133 Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134 Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135 Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136 Adu Gengsi Alkohol
137 Tagihan 13 Miliar
138 Sirkus Pangeran Jaksel
139 Drama Queen di Jok Belakang
140 Membeli Restoran Demi Traktiran
141 Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142 Metode Akting Jalur Galau
143 Murka Sang Patriark
144 Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145 Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146 Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147 Drama Keluarga Selesai
148 Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149 Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150 Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151 Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152 Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153 Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154 Misi Detektif Dadakan
155 Uang Saweran yang Salah Alamat
156 Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157 Surat Somasi dan Teror Belanja
158 Kehancuran Agensi
159 Insiden Perampokan!
160 Dilabrak Bella.
161 "Pria Otot Macho"
162 Mengalihkan Hype, Konten FYP
163 Gengsi Para Sutradara
164 Penyamaran Ninja Sultan
165 Filosofi Sang Maestro
166 Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167 Cemburu Buta Sang Ratu
168 Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169 Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170 Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171 Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172 Rahasia Busuk Musuh
173 Amukan Ormas Pengemis
174 Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175 Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176 Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177 Surat Somasi Bag.1
178 Surat Somasi Bag.2
179 Batas Akhir Toleransi
180 Perpisahan Sang Sultan
181 Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182 Perdebatan
183 Bukti CCTV
184 Hancurnya Ego Sang Sultan
185 Menunggu dalam Gelap
186 Jejak Sang Diva
187 Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188 Tragedi Pohon Palsu
189 Lenyapnya Dana Triliunan
190 Honor Fantastis
191 Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192 Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193 Asumsi Keliru
194 Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195 Tatapan Sang Tuan Muda
196 Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197 Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198 Membeli Rumah Sakit
199 Kakak Sepupu Konglomerat
200 Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201 Kesempatan Terakir
202 Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203 Hukuman Nasib Buruk
Episodes

Updated 203 Episodes

1
Bab 1: Menjadi Badut dan Sistem Sultan
2
Bab 2: Jackpot Sepuluh Kali Lipat
3
Bab 3: Kursi Sultan dan Bidadari Panggung
4
Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C
5
Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan
6
Bab 6: Plot Twist Kursi Kosong dan Donasi Sultan
7
Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
8
Bab 8: Manajer Cantik dan Analisis 36B
9
Bab 9: Drama Pelat Nomor
10
Bab 10: Duel Sengit di Samsat dan Makan Siang Bintang Lima
11
Bab 11: Makan Siang 60 Juta dan Cashback Brutal
12
Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan
13
Bab 13: Misi Daddy dan Streamer Polos
14
Bab 14: Harga Diri vs Paus Sultan
15
Bab 15: Hujan Universe dan Janji Kencan Buta
16
Bab 16: iPhone Sultan dan Kue Sus Gagal
17
Bab 17: Zoom 5x dan Black Card Sakti
18
Bab 18: Lidah Sultan dan Skandal Salah Panggil
19
Bab 19: Misteri Push-Up Bra dan Serangan Ani-Ani
20
Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
21
Bab 21: Pesta Tas Mewah dan Tamparan 5 Miliar
22
Bab 22: Abs Reveal dan Kaburnya Sang Gadun
23
Bab 23: Diary Adik Laknat dan Folder 100GB
24
Bab 24: Modus Pagi Buta dan Voucher Taksi Hangus
25
Bab 25: Bidadari Bandara dan Predator Jaguar
26
Bab 26: Skakmat Jaguar dan Pangeran McLaren
27
Bab 27: Penolakan Dingin dan Nasib Penumpang Koper
28
Bab 28: Rekrutmen BEM dan Senior Penggoda
29
Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
30
Bab 30: Ferrari 812 dan Tantangan Sang Maestro
31
Bab 31: Sihir Lonceng Kecil dan Senior yang Posesif
32
Bab 31 Bagian 2: Verifikasi Data Fisik
33
Bab 32: Raungan V12 dan Penumpang Pertama
34
Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
35
Bab 34: Prank Kakek dan Trik Marketing Dukun
36
Bab 35: Misi Push-Up dan Monster Filter
37
Bab 36: Tantangan 100 Juta dan Streamer Matre
38
Bab 37: Hujan Roket dan Bidadari di Depan Pintu
39
Bab 38: Snack Keramat dan Misi Penyelamatan Sahabat
40
Bab 39: Jeep Masuk Desa dan Patung Pusaka
41
Bab 40: Gudang Harta Karun dan Tameng Hidup
42
Bab 41: Kejutan di Dalam Batu dan Diplomasi Tingkat Dewa
43
Bab 42: Konvoi Mercy Hitam Masuk Desa
44
Bab 43: Saudara Seperjuangan dan Bungkusan Kain Lusuh
45
Bab 44: Harta Karun dan Parkiran Hotel Mulia
46
Bab 45: Parkir VVIP dan Anjing Sultan
47
Bab 46: Pamer Harta dan Tamparan Realita
48
Bab 47: Definisi Teman Sultan
49
Bab 48: Sopir Cantik dan Fantasi Liar
50
Bab 49: Adik yang Hyperaktif dan Begal GTO
51
Bab 50: Monster Putih dan Ferrari Hari Minggu
52
Bab 51: Modus Operandi dan Akting Kelas Teri
53
Bab 52: Harga Sebuah Tamparan dan Kalkulator Sultan
54
Bab 53: Malam Seni dan Kancing yang Berjuang
55
Bab 54: Bintang Tamu Kabur dan Sponsor Menikam
56
Bab 55: Taruhan Kancing Kemeja dan Misteri Bintang Tamu
57
Bab 56: Kesombongan Si Kacang Lupa Kulit
58
Bab 57: Di Balik Masker Sang Dewi
59
Bab 58: Panggung yang Berubah Menjadi Lautan Emosi
60
Bab 59: Histeria Massal dan Penyesalan Para Haters
61
Bab 60: Panen Raya Sultan dan Tragedi Salah Langkah
62
Bab 61: Bencana Karir dan Jebakan Ambigu di Ruang VIP
63
Bab 62: Terapi Pijat "Plus" (Plus Keahlian Dewa)
64
Bab 63: Detektif Asisten dan Koleksi Mobil Sultan
65
Bab 64: Tetangga Masa Gitu?
66
Bab 65: Hormat Senjata dan Maling Mangga Sultan
67
Bab 66: Selamat Datang di Istana, Nyonya Tetangga
68
Bab 67 : Melodi "Liebestraum" di Ruang Musik Sultan
69
Bab 67: Adik yang Halu dan Panggilan Sang Raja Samudra
70
Bab 68: Kebohongan Kecil dan Bencana di Atas Laut
71
Bab 69: Unboxing di Tengah Laut dan Kartu Sultan
72
Bab 70: Grup Kelas "Julid" dan Fitnah Sang Ketua Kelas
73
Bab 71: Bisikan Beracun dan Panggilan Telepon di Ujung Dermaga
74
Bab 72: Sang Sultan Palsu dan Tawaran Hotel Gratis
75
Bab 73: Singa Betina yang Bangun dan Runtuhnya Wibawa Sultan Palsu
76
Bab 74: Mentalitas Gratisan dan Serangan Para Penjilat
77
Bab 76: Teori Sok Tahu Sang Sultan Palsu
78
Bab 77: Jebakan Macet dan Raungan Monster V12
79
Bab 78: Pangeran Ferrari dan Satu Kata yang Menghentikan Dunia
80
Bab 79: Pukulan Telak Bagi Sang Pembual dan Pelukan di Bawah Terik Matahari
81
Bab 80: Definisi "Urusan Kecil" dan Tanda Tangan Sang Raja Laut
82
Bab 81: Kartu ATM Bernilai Miliaran dan Balas Dendam yang Elegan
83
Bab 82: Topeng Persahabatan Palsu dan Logika Para Parasit
84
Bab 83: Penyesalan Tak Berujung dan Kedatangan Sang Diva
85
Bab 84: Reuni Tak Terduga dan Pesta Makanan Laut di Atas Samudra
86
Bab 85: Master Suite, Kebenaran Sang Diva.
87
Bab 86: Pesta Sultan, Steak Wagyu, dan Detak Jantung Sang Diva
88
Bab 88: Ciuman Sang Diva dan Iklan Game Web
89
Bab 89-90: Definisi "Uang Hanyalah Angka" dan Mental Breakdance MadDog
90
Bab 91: Kemenangan Telak dan Shareloc Kapal Pesiar
91
Bab 92: Pijatan Maut Senior BEM dan Kamar Sang Putri
92
Bab 92.5: Tarian Kelinci Nakal dan Hukuman Sang Sultan
93
Bab 93: Kemeja Kebesaran dan Kurir yang Nyasar
94
Bab 94: Misi Sit-Up Ratusan Juta dan Kekecewaan di Restoran Bintang Lima
95
Bab 95: Fitur Baru Terbuka: 'DEEP SCAN & SEAL CHECK'
96
Bab 96: Bertemu Bella Anindya
97
Bab 97: MacBooks Gratis, Musuh Baru, dan Anomali Sang Ratu Pesta
98
Bab 98: Godaan di Tengah Malam
99
Bab 99: Gema Pertama Palu Lelang
100
Bab 100: Ritual Pecah Guci dan Perang Harga Ronde Pertama
101
Bab 100: Jebakan Yang Sukses dan Tuan Tanah Baru
102
Bab 101: Misi Menghabiskan Uang dan Lelang Solo yang Gila
103
Bab 102: Makan Siang dengan Legenda dan Kartu Nama Polos
104
Bab 103: Wanita Besi, Misi 10 Triliun, dan Iklan Cringe Sang Diva
105
Bab 104: Naskah Masterpiece dan Ambisi Sepuluh Triliun
106
Bab 105: Penyamaran Ninja Sang Diva
107
Bab 106: Seleksi Pemeran dan Kerendahan Hati Sang Diva
108
Bab 107: Parsel Mewah dan Rencana Gila Melipatgandakan Uang
109
Bab 108: Papi Raka Beraksi dan Pesta Hadiah di PandaLive
110
Bab 109: Hujan Uang dan Titah Mendadak Sang Sultan
111
Bab 110: "Luka Lecet" Belanja dan Truk Properti Sultan
112
Bab 111: Gagalnya Jebakan Batman dan Investasi Brutal
113
Bab 111,5: Tidak ada rotan, Akar pun jadi
114
Bab 112: Teh Rasa Air Cucian Piring
115
Bab 113: Ambisi Film
116
Bab 114: Deadline Gila dan Rumah Orang Tua yang Hilang
117
Bab 115: Utang Delapan Juta dan Pengusiran Preman Kampung
118
Bab 116: Masakan Ibu, Kecurigaan Bapak, dan Uang Jajan 300 Juta
119
Bab 117: Sisi Lain Sang Diva dan Toko Mainan yang Pindah Tempat
120
Bab 118: Lamaran Gadis Kecil dan Atap yang Menangis
121
Bab 119: Logika Sultan Menolak Gratisan dan Helikopter Penyelamat
122
Bab 120: Kamu Juga Mau Jadi Artis? Horror di Balik Layar
123
Bab 121: Membeli Rumah Demi Garasi dan Tercapainya Misi Mustahil
124
Bab 122: Gacha Tanpa Batas dan Pertanyaan Fatal Bella
125
Bab 123: Gosip Pagi Hari dan Sinetron Rasa Netflix
126
Bab 124: Nasi Kotak Rasa Hotel Bintang Lima dan Pancingan Cinta
127
Bab 125: Ferrari di Jalan Gelap dan Pancasila Pengusir Setan
128
Bab 126: Gua Persembunyian Sultan dan Fajar Pertama di Puncak
129
Bab 127: Ferrari Off-Road, Ladang Milik Sendiri, dan Cara Membuang Sampah Mewah
130
Bab 128: Menteri Keuangan Pribadi dan Cokelat Satu Rak
131
Bab 129: Janji di Tepi Pantai dan Senja yang Menjadi Saksi
132
Bab 130: Ancaman di Parkiran dan Rahasia Sang Putri
133
Bab 131: Jebakan Foto Paparazzi dan Hantaman Batu Bata
134
Bab 132: Saham Runtuh dan Penculikan di Pabrik Tua
135
Strategi Sunyi dan Pertemuan di Bar Elite
136
Adu Gengsi Alkohol
137
Tagihan 13 Miliar
138
Sirkus Pangeran Jaksel
139
Drama Queen di Jok Belakang
140
Membeli Restoran Demi Traktiran
141
Pasukan Buzzer Bayaran, Totalitas Sang Putri
142
Metode Akting Jalur Galau
143
Murka Sang Patriark
144
Makan Siang Properti Syuting dan Penjemputan Paksa
145
Tamu Tak Diundang dan Filosofi "Seni" Sang Sultan Gabut
146
Macan Turun Gunung dan Akting Terbaik Sang Putri
147
Drama Keluarga Selesai
148
Dilema Angka 80 Juta dan Pasukan Hater Bayaran
149
Quantum Physics di Depan Sekawanan Sapi.
150
Momen Mendebarkan dan menanfaatkan Bug
151
Hadiah Porsche untuk Teman Biasa
152
Misi 1 Miliar Views telah Berhasil, Kembalinya Sang Kaisar
153
Dana Cair dan Gacha Sultan Sepuluh Kali.
154
Misi Detektif Dadakan
155
Uang Saweran yang Salah Alamat
156
Password Wi-Fi dan Tagihan UK
157
Surat Somasi dan Teror Belanja
158
Kehancuran Agensi
159
Insiden Perampokan!
160
Dilabrak Bella.
161
"Pria Otot Macho"
162
Mengalihkan Hype, Konten FYP
163
Gengsi Para Sutradara
164
Penyamaran Ninja Sultan
165
Filosofi Sang Maestro
166
Chemistry Menakjubkan, Kecelakaan Kecil
167
Cemburu Buta Sang Ratu
168
Operasi Medis di Jok Belakang dan Perkumpulan Anak Jaksel
169
Godaan Jamet Elit, Bos Loli, dan Pindah Tongkrongan
170
Prinsip Sang Sultan, dan Asisten Tumbal
171
Sogokan Rolls-Royce untuk Anak Motor
172
Rahasia Busuk Musuh
173
Amukan Ormas Pengemis
174
Uang Tutup Mulut 2 Miliar
175
Pemeras Berdasi dan Prediksi Kampanye Hitam
176
Fitnah Buzzer dan Mulut Manis
177
Surat Somasi Bag.1
178
Surat Somasi Bag.2
179
Batas Akhir Toleransi
180
Perpisahan Sang Sultan
181
Masa Lalu Asisten, Teori Konspirasi Absurd
182
Perdebatan
183
Bukti CCTV
184
Hancurnya Ego Sang Sultan
185
Menunggu dalam Gelap
186
Jejak Sang Diva
187
Manipulator Tingkat Dewa dan Rahasia Gelap Sang Diva
188
Tragedi Pohon Palsu
189
Lenyapnya Dana Triliunan
190
Honor Fantastis
191
Ratu Kecil di Lokasi Syuting
192
Kebohongan Sekretaris dan Petunjuk Rekening Sang Diva
193
Asumsi Keliru
194
Tuduhan Pencucian Uang, Malam Amal Keluarga Kusuma
195
Tatapan Sang Tuan Muda
196
Tamparan Donasi 150 Miliar dan Runtuhnya Grup Surya
197
Saudara Angkat, Kedok Sang Diva
198
Membeli Rumah Sakit
199
Kakak Sepupu Konglomerat
200
Tagihan Makan Ratusan Juta, Fitnah Sang Diva
201
Kesempatan Terakir
202
Mastermind Sesungguhnya dan Skenario Fitnah Triliunan
203
Hukuman Nasib Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!