Luka Nara

Di belahan kota yang berbeda. Terlihat, seorang wanita berusia 25 tahun tengah menatap putri kecilnya yang tengah tertidur lelap di atas bed pasien rumah sakit. Di tangan mungil gadis kecil itu, terpasang infusan yang mengalirkan cairan penolong. Wajah gadis itu tampak sangat menggemaskan saat tertidur, namun pemandangan itu justru membuat hati Nara Geisya Rodriguez tersayat dan hancur berkeping-keping.

"Papa Laya mau Papa ...," gumam anak itu lirih dalam tidurnya, memanggil sosok yang sangat ia rindukan.

Nara memejamkan matanya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia mengelus kepala putrinya perlahan agar sang buah hati kembali terlelap dalam tidurnya. Setelah memastikan putrinya tenang, Nara beranjak berdiri. Ia mengambil ponsel dan tasnya dengan gerakan yang penuh tekad yang dipaksakan. Saat ia berbalik untuk keluar ruangan, ia berpapasan dengan kedua orang tuanya yang baru saja datang membawakan makanan.

"Mau kemana Nara?" tanya Angkasa Rodriguez, sang ayah yang menatap putrinya dengan dahi berkerut, bingung melihat Nara yang tampak terburu-buru.

"Aku ada perlu sebentar, Pa," ucap Nara singkat tanpa menatap mata ayahnya.

"Nara, kamu mau bertemu lagi dengan pria baj1ngan itu? Mau mengemis lagi padanya agar dia menjenguk Raya? Dimana harga dirimu, Nara?" tanya Angkasa dengan nada suara yang meninggi, tidak tahan melihat putrinya terus-menerus merendahkan diri di depan mantan suaminya.

"Sayang, tenang," tegur Jingga, istri Angkasa. Ia memegang lengan suaminya, mencoba meredam emosi pria itu. Walaupun Nara adalah putri sambungnya, bagi Jingga, Nara sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri yang ia besarkan dengan kasih sayang.

Nara berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan hancur. "Ayah sudah jadi orang tua, masih tanya dimana harga diriku sebagai ibu? Pa, aku akan melakukan apapun untuk putriku, termasuk menjatuhkan harga diriku ke titik terendah sekalipun!" seru Nara dengan suara bergetar sebelum akhirnya ia melesat pergi meninggalkan ruangan.

Angkasa menatap kepergian putrinya dengan tatapan tak percaya dan penuh amarah. Ia memalingkan wajah ke arah Jingga dengan napas memburu.

"Kamu sering memanjakan dia, membuatnya menjadi keras kepala seperti ini. Andaikan saat itu aku tak mendengarkanmu dan melarangnya menikah, putriku tak akan jatuh ke tangan pria br4ngsek sepertinya!" sentak Angkasa yang kemudian berlalu pergi dengan emosi yang meluap-luap.

Jingga hanya bisa memejamkan matanya sejenak, mencoba tetap sabar menghadapi badai yang sedang menghantam keluarganya.

Di sisi lain, Nara baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang cukup tenang. Kaca tengah spion mobilnya memantulkan bayangan wajahnya yang sendu, namun lipstik merah yang ia poleskan mencoba menutupi pucat di bibirnya. Rambutnya yang tergerai indah sebenarnya menambah pesonanya, namun tatapan matanya menyiratkan rasa kecewa yang luar biasa dalam. Nara mengatur napasnya berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri turun dari mobil. Dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya, ia melangkah masuk ke dalam kafe untuk menemui seorang pria yang sudah menunggunya di sudut ruangan.

Nara duduk di hadapan pria itu dan meletakkan tasnya di kursi sebelah. Ia melepas kacamata hitamnya, namun ia enggan menatap langsung mata pria di hadapannya. Pria itu adalah Zeno Elmore, mantan suaminya.

"Raya sakit, dia ... dia mau ketemu kamu, Zeno," ucap Nara dengan suara yang diusahakan tetap tegar.

Pria di hadapannya itu justru meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan santai. Ia menatap Nara dengan pandangan yang datar, seolah kabar tentang anak kandungnya yang sedang sakit bukanlah hal yang penting. "Mila juga sedang sakit, dia dirawat di rumah sakit tepat di depan kafe ini. Aku bisa bertemu denganmu sekarang karena lokasinya dekat. Katakan saja pada Raya jika aku sedang sibuk bekerja, biar dia tidak merasa kecewa," jawab Zeno tanpa beban sedikit pun.

Mendengar itu, emosi Nara yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya tersulut hebat. "ZENO! Raya juga putrimu! D4rah dagingmu sendiri! Kenapa tidak bisa sekali saja kamu perhatian padanya?! Dia hanya bisa bertemu denganmu sesekali, itu pun sangat sebentar! Dan sekarang, saat dia sedang sakit parah, kamu justru memilih menemani putri dari wanita mur4han itu!" teriak Nara, mengabaikan tatapan mata pengunjung kafe lainnya.

Pernikahan mereka yang berjalan selama 5 tahun berakhir kandas karena pengkhianatan Zeno. Nara yang dulu memutuskan menikah muda karena cinta, kini harus menelan pil pahit kenyataan bahwa suaminya memiliki anak lain dari kekasih gelapnya, anak yang usianya hampir sama dengan putrinya sendiri. Zeno lebih memilih membahagiakan selingkuhannya dan anak hasil perselingkuhan itu, membuat Nara memutuskan untuk bercerai. Namun, karena Raya yang selalu merindukan sosok ayah, Nara terpaksa terus berhubungan dengan pria itu.

"Jaga ucapanmu, Nara!" bentak Zeno dengan mata membulat penuh amarah.

"Apa yang perlu aku jaga, hah?! Aku harus menjulukinya wanita baik-baik? Wanita baik-baik mana yang tega merebut suami orang dan ayah dari seorang balita, Zeno?!" balas Nara dengan suara yang semakin meninggi.

"Kamu—" Zeno beranjak berdiri dari kursinya, menatap Nara dengan tajam seolah ingin melenyapkannya. Tapi Nara tidak gentar sedikit pun, ia menantang tatapan mantan suaminya itu dengan penuh emosi yang meluap.

"Aku tak masalah jika putriku tidak mendapat nafkah sepeser pun darimu. Berikan saja semua uangmu untuk wanita mur4han itu. Karena aku tahu, kamu sebenarnya kere! Kamu tidak mampu membiayai dua putri sekaligus, aku paham itu! Anggap saja ... aku sedang mengasihani fakir miskin yang berlagak sok berselingkuh!"

"Kurang aj4r kamu!" Zeno yang sudah kehilangan kesabaran mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Nara.

Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan lain yang terbungkus sarung tangan hitam yang sangat bersih menahan pergelangan tangan Zeno dengan kuat di udara. Waktu seakan berhenti berputar bagi Nara. Ia menoleh perlahan dan menatap sosok pria tampan yang tiba-tiba muncul dan berhasil melindunginya. Pria itu menatap Zeno dengan tatapan yang luar biasa dingin dan meremehkan.

"Jangan kamu kira kamu seorang pria, maka kamu bisa seenaknya menyakiti wanita," ucap pria itu dengan suara yang berat dan berwibawa.

Zeno yang merasa kesal dan malu pun menarik tangannya dengan kasar. Pria yang menolong Nara itu tak lain adalah Xavier, yang kebetulan sedang berada di kafe tersebut untuk sebuah urusan bisnis. Dengan gerakan yang penuh rasa j1jik, Xavier segera melepas sarung tangannya yang baru saja menyentuh kulit Zeno dan membuangnya begitu saja ke lantai seolah itu adalah sampah beracun. Ia kemudian mengambil sepasang sarung tangan baru dari tas yang dibawa Atlas dan langsung mengenakannya kembali.

"Aku tak suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, karena aku memiliki seorang ibu dan tiga saudara perempuan, mana bisa aku melihat 'banci' sepertimu melakukan hal memuakkan tadi di depan mataku," ucap Xavier dengan nada menghina yang sangat kental.

Tepat pada saat itu, ponsel di tas Nara berdering nyaring. Nara segera mengangkatnya dengan tangan gemetar setelah melihat nama penelponnya. "Halo Pa ...," ucap Nara pelan. Namun, detik berikutnya matanya membulat sempurna saat mendengar kabar dari seberang telepon. Tubuhnya seakan lemas seketika.

"Raya kejang?!" pekik Nara dengan suara yang melengking karena panik. Ia segera mematikan ponselnya dengan terburu-buru. Matanya yang sudah dipenuhi air mata menatap Zeno yang juga menunjukkan raut wajah kecemasan sesaat.

"Raya kejang! Kamu masih mau diam di sini, hah?! Anak kamu sedang bertaruh nyawa, Zeno!" teriak Nara sambil terisak hebat. Ia merasa jiwanya hampir tercerabut. Ia sudah merendahkan harga dirinya sedalam mungkin hanya untuk membawa pria ini ke rumah sakit, namun hasilnya justru seperti ini.

Zeno terlihat sangat bimbang antara harus pergi ke rumah sakit Raya atau tetap di rumah sakit depannya untuk Mila. Namun, sebuah telepon masuk ke ponsel Zeno membuat pria itu justru menatap Nara dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Nara, maaf ... Mila ... Mila juga sedang butuh aku ...,"

Nara tertawa hambar di tengah tangisannya, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan. "URUS SAJA ANAKMU ITU! JANGAN PERNAH LAGI TEMUI PUTRIKU! RAYA TAK BUTUH AYAH PECUUND4NG SEPERTIMU!" teriak Nara sekuat tenaga sebelum akhirnya ia berlari keluar kafe menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli lagi pada keselamatannya asalkan ia bisa sampai di samping Raya.

Sementara itu, Xavier masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mobil Nara dengan kening berkerut. Ada sesuatu dari wanita itu yang menarik perhatiannya,sesuatu yang sangat asing bagi dunianya. "Kira-kira, mengapa dia masih mau menemui mantannya yang kotor itu? Apa dia tak merasa ... j1jik?" tanya Xavier tanpa menoleh ke arah Atlas.

"Hah? Gimana maksudnya Tuan?" tanya Atlas yang merasa bingung dengan pertanyaan mendadak bosnya itu.

Xavier menghela napas panjang, ia merasa udara di kafe itu mulai terasa penuh bakteri. "Lupakan, otakmu juga sepertinya sudah penuh kuman hari ini. Cepat bersihkan," ucap Xavier dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang selalu steril, meninggalkan Atlas yang hanya bisa mendengus kesal di belakangnya.

Terpopuler

Comments

RiriChiew🌺

RiriChiew🌺

eh eh ehh nahkan terjawab sudahh ternyata Nara inii anak jingga dan angkasa, wow 😱 mereka disatukan dimarii . wihh bener² lah kak Ra inii amazing bangett , sukaa nihhh novel² favorit ku sebelum nya 👏👏

2026-01-12

5

j4v4n3s w0m3n

j4v4n3s w0m3n

akhirnya keluar jg ini cerita aku masih inget.inget lupa.kak....jingga dan angkasa bukanya temenan y asama bapakna xavier...wah kudu liat kebelakang dikit biar gak.lupa😂😂😂😂😂maaf kak udah tuwirrr di maklum klw.salah salah komen dan lupa siap siapa ini 🤭🤭🤭🤭tapi aku masib inget kok cerita sblmnya jg favorit aku tenang kak aku setia padamu

2026-01-14

0

sleepyhead

sleepyhead

Yang gua inget adik kembarnya Vilaa ( Xavira) nah yg kembar lg lupa atau emg blm nongol saat cerita 🤭 maaf kalau salah 🙏

2026-01-12

16

lihat semua
Episodes
1 CEO Anti Bakteri
2 Luka Nara
3 Obrolan 2 Ayah
4 Kediaman Lergan
5 Usulan Xander
6 Ingin Melamar Putrimu
7 Lampu Hijau?
8 Kesakitan Raya
9 Penyesalan Nara
10 Tawaran Menikah
11 Aku Mau, Bunda!
12 Pertemuan 2 Keluarga
13 Sosok Menggemaskan Penggetar Hati
14 Papa?
15 Ibumu Juga Mantan Single Mom
16 Gaunnya Yang Cantik Atau Orangnya?
17 Mulai Sadar?
18 Pendekatan Calon Pasangan
19 Kepanikan Xavier
20 Mysophobia
21 Nasehat Ayah
22 Papa Anti Bakteli!
23 Periksa Putriku~
24 Nasib Ikan Biru
25 Harapan Xavier
26 Pernikahan
27 Genggaman Hangat
28 Malam Pertama Penuh Keributan
29 Kekhawatiran Angkasa Dan Jingga
30 Apa Kamu Ingin Punya Anak?
31 Raya (Tuyul Pemikat Ikan)
32 Memancing Penuh Drama
33 Mau ... Lihat Sekarang?
34 Lagi-lagi Ulah Pengantin Baru
35 Nda Jadi Papa Anti Bakteli?
36 Izin Xavier
37 Tinggal Bersama
38 Persyaratan Papa Anti Bakteri
39 Papa Anti Bakteli!
40 Kehangatan Keluarga Kecil
41 Istri Dan Putriku~
42 Kamu Masih Mencintainya?
43 Normal?
44 Benda Keramat Wanita
45 Tragedi
46 Kepanikan Raisa
47 Kepedulian Suami
48 Cemburu?
49 Tambah Peraturan
50 Di Beri Arah Sama Yang Hilang Arah
51 Kepergok
52 Semakin Nyaman?
53 Bunga Pertama
54 Papa Layaaa!
55 Suap-Suapan
56 Kemarahan Xavier
57 Cara Membujuk Istri
58 Soang
59 Hadiah Valentine
60 Gara-Gara Soang
61 Xavier Demam
62 First Kiss Tuan Anti Bakteri
63 Mulai Protes
64 Kata-kata Pedas Xavier
65 Bibirku Bengkak~
66 Emosi Nara
67 Apa Salah Saling Mencintai?
68 Apa Aku Ada Salah, Nara?
69 Hati Yang Sepi
70 Saling Merindu
71 Keadaan Zeno
72 Serahkan Dirimu Padaku
73 Tuduhan Xander
74 Pencuri Mangga
75 Siap Punya Anak?
76 Sikap Asli Xavier
77 Karma?
78 Bukan Papa Laya itu!
79 Papa Laya, Papa Anti Bakteli!
80 Saran Xavier
81 Hancur Perlahan
82 Kepanikan 2 keluarga
83 Keadaan Raya
84 Aku Hamil?
85 Membaik
86 Tindakan Xavier
87 Aku Cemburu!
88 Adek dari terigu apa?
89 Bumil Sensitif
90 Kembar
91 Laya Nda Mau!
92 Obrolan memusingkan Raya
93 Perang Malam
94 Bujukan Xander
95 Kembali Berbaikan
96 Jual Adek
97 Pertanda
98 Baby Twins
99 Kebahagiaan 2 Keluarga
100 Ayah Baru
101 Cemburu Buta
102 Zira
103 Piw Piw
104 Tamu Spesial
105 Zira & Kayden
106 Drama Malam Kediaman Lergan
107 Kakek Ngambek
108 Pernikahan Si Kembar
109 Pelabuhan Cinta (End)
110 Kisah Kayden
111 MAFIA
Episodes

Updated 111 Episodes

1
CEO Anti Bakteri
2
Luka Nara
3
Obrolan 2 Ayah
4
Kediaman Lergan
5
Usulan Xander
6
Ingin Melamar Putrimu
7
Lampu Hijau?
8
Kesakitan Raya
9
Penyesalan Nara
10
Tawaran Menikah
11
Aku Mau, Bunda!
12
Pertemuan 2 Keluarga
13
Sosok Menggemaskan Penggetar Hati
14
Papa?
15
Ibumu Juga Mantan Single Mom
16
Gaunnya Yang Cantik Atau Orangnya?
17
Mulai Sadar?
18
Pendekatan Calon Pasangan
19
Kepanikan Xavier
20
Mysophobia
21
Nasehat Ayah
22
Papa Anti Bakteli!
23
Periksa Putriku~
24
Nasib Ikan Biru
25
Harapan Xavier
26
Pernikahan
27
Genggaman Hangat
28
Malam Pertama Penuh Keributan
29
Kekhawatiran Angkasa Dan Jingga
30
Apa Kamu Ingin Punya Anak?
31
Raya (Tuyul Pemikat Ikan)
32
Memancing Penuh Drama
33
Mau ... Lihat Sekarang?
34
Lagi-lagi Ulah Pengantin Baru
35
Nda Jadi Papa Anti Bakteli?
36
Izin Xavier
37
Tinggal Bersama
38
Persyaratan Papa Anti Bakteri
39
Papa Anti Bakteli!
40
Kehangatan Keluarga Kecil
41
Istri Dan Putriku~
42
Kamu Masih Mencintainya?
43
Normal?
44
Benda Keramat Wanita
45
Tragedi
46
Kepanikan Raisa
47
Kepedulian Suami
48
Cemburu?
49
Tambah Peraturan
50
Di Beri Arah Sama Yang Hilang Arah
51
Kepergok
52
Semakin Nyaman?
53
Bunga Pertama
54
Papa Layaaa!
55
Suap-Suapan
56
Kemarahan Xavier
57
Cara Membujuk Istri
58
Soang
59
Hadiah Valentine
60
Gara-Gara Soang
61
Xavier Demam
62
First Kiss Tuan Anti Bakteri
63
Mulai Protes
64
Kata-kata Pedas Xavier
65
Bibirku Bengkak~
66
Emosi Nara
67
Apa Salah Saling Mencintai?
68
Apa Aku Ada Salah, Nara?
69
Hati Yang Sepi
70
Saling Merindu
71
Keadaan Zeno
72
Serahkan Dirimu Padaku
73
Tuduhan Xander
74
Pencuri Mangga
75
Siap Punya Anak?
76
Sikap Asli Xavier
77
Karma?
78
Bukan Papa Laya itu!
79
Papa Laya, Papa Anti Bakteli!
80
Saran Xavier
81
Hancur Perlahan
82
Kepanikan 2 keluarga
83
Keadaan Raya
84
Aku Hamil?
85
Membaik
86
Tindakan Xavier
87
Aku Cemburu!
88
Adek dari terigu apa?
89
Bumil Sensitif
90
Kembar
91
Laya Nda Mau!
92
Obrolan memusingkan Raya
93
Perang Malam
94
Bujukan Xander
95
Kembali Berbaikan
96
Jual Adek
97
Pertanda
98
Baby Twins
99
Kebahagiaan 2 Keluarga
100
Ayah Baru
101
Cemburu Buta
102
Zira
103
Piw Piw
104
Tamu Spesial
105
Zira & Kayden
106
Drama Malam Kediaman Lergan
107
Kakek Ngambek
108
Pernikahan Si Kembar
109
Pelabuhan Cinta (End)
110
Kisah Kayden
111
MAFIA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!