Rumah yang penuh pengkhianat

"Sayang?"

Elina menoleh. Terlihat suaminya berjalan mendekat. Biasanya, ia akan tersenyum setiap kali mendengar panggilan itu. Namun kini kata sayang justru terdengar menjijikkan di telinganya.

"Ada apa?" tanya Elina singkat, lalu kembali menatap cermin dan melanjutkan rutinitas skincare-nya.

Ares mengerutkan kening. Ia merasa Elina terlihat jauh lebih cuek dari biasanya, tapi ia memilih tak peduli dan tetap melangkah mendekat.

"Ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu," ucap Ares.

"Ya sudah, ngomong saja, Mas. Biasanya juga begitu, kan," jawab Elina datar.

"Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah saja, siapa tahu kamu bisa hamil," kata Ares sambil mengelus rambut Elina dengan senyum dibuat-buat.

Diam-diam Elina tersenyum miring. Ia tahu betul maksud di balik ucapan itu—agar lebih mudah mengalihkan aset miliknya, sekaligus memberi ruang lebih leluasa untuk berselingkuh.

"Kalau aku berada di rumah, siapa yang mengurus perusahaan? Lagian aku juga pernah istirahat, tapi Tuhan belum memberiku," jawab Elina santai.

"Mas kan ada, sayang. Mas bisa menangani semuanya. Kamu cukup nikmati aja hasil kerja Mas," ucap Ares masih berusaha membujuk.

Elina menghela napas, lalu membalikkan badan dan menatap suaminya dengan dingin. "Hasil yang mana yang kamu maksud, Mas? Uang bulanan maksud kamu yang tidak seberapa itu?"

Wajah Ares langsung menegang. Senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan perlahan menghilang, tergantikan sorot kesal yang gagal ia sembunyikan.

"Maksud kamu apa, Elina?" tanyanya datar, rahangnya mengeras.

"Mas, uang bulanan yang kamu berikan kepadaku tidak ada apa-apanya dengan gaji kamu. Aku tanya, berapa yang sebenarnya kamu berikan kepadaku, hah?" tanya Elina sambil menyilangkan tangan, menatap sinis. Ares terdiam. Ia tahu betul gajinya besar ia transfer ke ibunya dan Maya, sementara sisanya yang tak seberapa baru ia berikan pada Elina.

"Tapi kamu punya gaji, Elina. Gaji aku kasih ke Mama," jawab Ares akhirnya.

"Kamu paham tidak sih apa itu namanya nafkah untuk istri! Dengar, Mas, bulanan yang kamu kasih ke aku gak sebanding dengan pengeluaran kita. Belum lagi kita menampung orang asing," ucap Elina menahan emosi.

Ares menghela napas kasar, jelas mulai kehilangan kesabaran.

"Kamu ini kenapa sih, Elina? Dari dulu juga begini, aku kan cuma membantu Mama."

"Sudahlah, Mas. Biar aku jelaskan pun kamu tak akan paham maksud aku," ucap Elina lirih namun tegas.

"Ingat, aku tidak akan pernah melepaskan perusahaan Ayahku."

Setelah mengatakan itu, Elina langsung berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya, membelakangi Ares.

Ares mengepalkan tangan. Ini pertama kalinya Elina bersikap sedingin ini padanya. Tanpa berkata apapun lagi, ia keluar dari kamar dengan perasaan gusar.

Saat suara pintu tertutup terdengar, Elina membuka mata. Napas berat keluar dari dadanya.

"Enak saja dia pikir dia siapa ingin merebut semua aset aku," gumam Elina. "Ya Tuhan, aku tahu Engkau tidak menyukai perceraian, tapi aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak sanggup hidup dengan mereka yang hanya mengincar hartaku saja."

♡♡

"Ares mau ke mana?" tanya Arman saat melihat putranya meraih kunci mobil.

"Ares, ini sudah malam," sambung Amelia dengan nada memperingatkan.

"Ares ingin ke Maya, Mah," jawab Ares tanpa ragu.

"Ngapain kamu ke sana? Nanti Elina curiga bagaimana?" tanya Amelia, menatap tajam.

"Aku kesal dengan Elina, Mah, Pah," jawab Ares singkat.

"Kesal?" Arman mengerutkan kening. "Elina buat kamu kesal? Masa sih. Dia kan wanita penurut sama kamu."

"Aku juga gak nyangka, Pah. Elina gak seperti biasanya," ucap Ares, nadanya terdengar dongkol.

"Emang Elina ngapain sampai buat kamu kesal?" tanya Amelia penasaran.

"Aku hanya suruh dia berhenti kerja, biar aku saja. Eh, dia gak mau. Dia juga ngungkit uang bulanan yang aku berikan," jawab Ares.

Amelia langsung berdiri dari sofa, wajahnya memerah menahan amarah.

"Kurang ajar!" hardiknya. "Perempuan itu memang sudah mulai berani melawan sekarang. Dulu nurut, sekarang sudah merasa paling berjasa."

Arman ikut berdiri sambil menghela napas panjang.

"Istrimu mulai besar kepala, Res. Karena merasa semua ini miliknya, dia jadi lupa kalau dia itu masih butuh kita di hidupnya."

Ares mengepalkan tangan.

"Ares juga heran, Mah. Dia bilang uang bulanan yang aku berikan tidak sebanding dengan pengeluaran. Padahal selama ini dia kan punya gaji sendiri."

"Makanya, Res!" potong Amelia tajam. "Perempuan seperti Elina itu harus dikasih pelajaran. Jangan dibiarkan merasa paling punya kuasa."

Amelia mendekat pada Ares. Suaranya kini direndahkan, penuh racun.

"Kamu datangi Maya malam ini, biar hatimu tenang. Besok, kamu bujuk lagi Elina. Pakai cara lama. Tunjukkan perhatian, manis-manis dikit. Kalau dia sudah luluh, suruh dia tanda tangan apa pun yang kamu kasih."

Arman mengangguk setuju.

"Jangan lama-lama. Kalau aset sudah di tangan kamu, kita tidak perlu lagi bergantung pada perempuan itu."

Ares tersenyum tipis, rasa kesalnya perlahan mereda.

"Iya, Mah. Ares ngerti."

Tanpa mereka sadari, di balik dinding kamar lantai atas, Elina berdiri mematung di balik dinding. Tangannya mencengkeram ponsel yang sejak tadi merekam semua ucapan mereka.

Elina menurunkan ponselnya perlahan. Rekaman itu masih berjalan, namun hatinya justru terasa lebih tenang dari sebelumnya.

"Aku tidak lagi ragu sedikit pun. Kalian semua… adalah musuhku," bisiknya lirih.

••

Tok! Tok!

"Maya, ini aku, sayang."

Tak lama kemudian, pintu terbuka.

"Mas Ares…" ucap Maya terkejut melihat kedatangan Ares di malam hari.

"Sayang, aku rindu kamu," ucap Ares sambil langsung memeluk Maya.

"Mas, kenapa kamu datang? Apa Elina gak marah sama kamu?" tanya Maya khawatir.

Ares melepaskan pelukannya, lalu melangkah masuk ke dalam kontrakan Maya. Maya menutup pintu terlebih dahulu, kemudian mengikutinya.

"Aku lagi kesal sama Elina, sayang. Jadi lebih baik aku kesini," jawab Ares santai.

Maya menggigit bibir. Wajahnya tampak bimbang, tapi matanya memancarkan binar bahagia.

"Mas... kamu jangan terlalu sering ke sini. Kalau sampai Elina tahu..."

Ares tertawa kecil lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa usang di ruang tamu kontrakan itu. "Elina itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Lagian sekarang dia juga mulai berani sama aku," ucapnya kesal.

Maya duduk di samping Ares, sengaja mendekat. "Berani bagaimana?"

"Dia menolak berhenti bekerja, malah menuntut soal uang bulanan. Seolah-olah aku ini cuma numpang hidup sama dia," gerutu Ares.

Maya terdiam sesaat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ares.

"Mas... kamu pantas dapat yang lebih baik. Bukan istri yang sibuk kerja dan lupa sama perasaan suaminya."

Ares tersenyum tipis.

"Makanya aku betah sama kamu, May. Kamu ngerti aku."

Maya mengangkat wajahnya, menatap Ares penuh arti. "Kalau begitu... sampai kapan Mas mau bertahan sama Elina?"

Pertanyaan itu membuat Ares terdiam. Ia menghela napas panjang.

"Sebentar lagi. Kalau semua sudah aku pegang, aku akan lepas dari dia."

Maya tersenyum puas, menyembunyikan ambisi di balik wajah polosnya.

"Mas janji?"

Ares menatapnya yakin. "Aku janji."

Maya tersenyum puas, lalu memeluk Ares erat.

"Bagaimana dengan anak aku?" tanya Ares sambil mengelus perut Maya.

"Dia anak yang baik, Mas. Dia gak pernah nuntut ini itu," jawab Maya tersenyum. "Oh iya, Mas, apa kamu gak kasihan sama aku? Masa aku dan calon anak kita tinggal di kontrakan sih."

Ares terdiam, lalu menatap sekeliling kontrakan Maya. Meski cukup bersih dan nyaman, tempat itu jelas jauh dari kata layak untuk masa depan yang ia janjikan.

"Mas, aku pengen rumah," ucap Maya manja.

"Sabar ya, sayang. Aku akan belikan kamu rumah yang mewah. Nanti kita akan tinggal di sana bersama anak kita. Setelah urusan Elina selesai, kamu akan meninggalkan kontrakan ini," jawab Ares.

Ares meraih tangan Maya, menatapnya penuh keyakinan. "Percaya sama aku, May. Semua ini cuma sementara."

Maya mengangguk kecil, tapi sorot matanya berubah sendu. "Aku cuma capek, Mas. Tiap malam nungguin Mas, takut kalau Elina tiba-tiba sadar. Aku juga pengen hidup tenang, punya rumah sendiri, tanpa harus sembunyi-sembunyi."

Ares mengusap rambut Maya. "Sebentar lagi..."

Maya tersenyum tipis lalu memeluk perutnya sendiri.

"Kalau nanti semuanya sudah jadi, aku mau jadi istri Mas yang sah. Aku gak mau anak kita besar dengan status yang salah."

Ares mengangguk cepat.

"Itu juga yang aku mau. Kamu tenang saja. Aku gak akan biarkan anak kita hidup susah."

Maya tersenyum puas dan menyandarkan kepala di dada Ares.

"Mas… jangan lama-lama ya."

Namun di tempat lain, di rumah megah itu, Elina berdiri di depan jendela kamarnya. Ponselnya menampilkan notifikasi baru dari sistem GPS yang diam-diam ia pasang di mobil Ares.

Lokasinya: kontrakan Maya.

Elina tersenyum tipis.

"Pergilah sejauh mungkin, Mas," bisiknya.

"Semakin jauh kamu melangkah… semakin dalam lubang yang kamu gali sendiri."

Terpopuler

Comments

dome🌬️🌀🌀🌀

dome🌬️🌀🌀🌀

idihhhh... aresss.. aress.. Siti amnesia kah. emang kau dan kluarga kauu kan emang numpang 🤣🤣🤣
kok jadi geli yaa dengernya dia ngerasa seolah2 numpang hidup sama istrinya 🤣🤣. lah itu kan kenyataannya 🤣

yoookkkk ketawain Ares berjamaah atas penyakit gilanya. karna gila mau rebut harta orng lain.. gak tau diri lu res... res

2026-05-15

0

Fisee

Fisee

cuiiiiiiiihhhh cuiiiiiiiih keluarga mokondo ba biii kubangan beracun🖕🖕🖕

2026-06-07

0

Ds Phone

Ds Phone

meraka tu tak sedar diri

2026-08-23

0

lihat semua
Episodes
1 Benalu dibalik Cinta
2 Rumah yang penuh pengkhianat
3 Istri sah musuh dalam selimut
4 Semua bukti akan bicara
5 Sarapan untuk para benalu
6 Kalian menumpang dirumahku
7 Permainan gelap
8 Kos terakhir
9 Rumah Impian
10 Rencana tersembunyi
11 Siapa yang pantas dimeja ini?
12 Ratu tanpa takhta
13 Istri dan selir
14 Lupa posisi
15 Harga diri yang runtuh
16 Saat Ayah turun tangan
17 Harga sebuah percepatan
18 Perang tanpa suara
19 Dibawah perlindunganku
20 Kilau yang menyakitkan
21 Menunggu jatuh
22 Kesempatan Emas yang salah.
23 Saat kesabaran Elina habis
24 Isu yang disiapkan
25 Di balik meja makan
26 Panggung kemenangan
27 Klaim tanpa hak
28 Di hadapan publik
29 Terbongkar
30 Kita selesai
31 Istirahat
32 Meninggalkan Astera
33 Di kota asing
34 Di tengah kerumunan
35 Hari yang tenang
36 Elvano
37 Tamparan harga diri
38 Api yang sama
39 Langkah pertama
40 Century Park
41 Atas nama Oma
42 Jejak yang terlalu bersih
43 Tempat bernama pulang
44 Runtuh perlahan
45 Perbedaan
46 Keluarga
47 Sinyal
48 Siapa aku?
49 Undangan
50 Terlambat
51 Bukan milik
52 Pantau
53 Tak tersentuh
54 Membela
55 Harga seorang putri
56 Waktu telah habis
57 Surat perintah
58 Balasan yang nyata
59 Giliranmu
60 Jejak di sungai
61 Nama yang terungkap
62 Ilusi
63 Air mata dan balas dendam
64 Masih bernapas
65 Putus dibalik jeruji
66 Yang mandul bukan dia
67 Rumah kedua
68 Hari yang kosong
69 Kembali
70 Giliranku
71 Masih hidup
72 Kebenaran yang menyaksikan
73 Di bawah kendaliku
74 Kendali
75 Sisa hidup
76 Tempat untuk pulang
77 Para tahanan
78 Harga ambisi
79 Kendali
80 Kebangkitan sang pewaria
81 Tempat kembali
82 Seperti ombak
83 Berbeda
84 Pion
85 Sejak lama
86 Momen
87 Iya?
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Benalu dibalik Cinta
2
Rumah yang penuh pengkhianat
3
Istri sah musuh dalam selimut
4
Semua bukti akan bicara
5
Sarapan untuk para benalu
6
Kalian menumpang dirumahku
7
Permainan gelap
8
Kos terakhir
9
Rumah Impian
10
Rencana tersembunyi
11
Siapa yang pantas dimeja ini?
12
Ratu tanpa takhta
13
Istri dan selir
14
Lupa posisi
15
Harga diri yang runtuh
16
Saat Ayah turun tangan
17
Harga sebuah percepatan
18
Perang tanpa suara
19
Dibawah perlindunganku
20
Kilau yang menyakitkan
21
Menunggu jatuh
22
Kesempatan Emas yang salah.
23
Saat kesabaran Elina habis
24
Isu yang disiapkan
25
Di balik meja makan
26
Panggung kemenangan
27
Klaim tanpa hak
28
Di hadapan publik
29
Terbongkar
30
Kita selesai
31
Istirahat
32
Meninggalkan Astera
33
Di kota asing
34
Di tengah kerumunan
35
Hari yang tenang
36
Elvano
37
Tamparan harga diri
38
Api yang sama
39
Langkah pertama
40
Century Park
41
Atas nama Oma
42
Jejak yang terlalu bersih
43
Tempat bernama pulang
44
Runtuh perlahan
45
Perbedaan
46
Keluarga
47
Sinyal
48
Siapa aku?
49
Undangan
50
Terlambat
51
Bukan milik
52
Pantau
53
Tak tersentuh
54
Membela
55
Harga seorang putri
56
Waktu telah habis
57
Surat perintah
58
Balasan yang nyata
59
Giliranmu
60
Jejak di sungai
61
Nama yang terungkap
62
Ilusi
63
Air mata dan balas dendam
64
Masih bernapas
65
Putus dibalik jeruji
66
Yang mandul bukan dia
67
Rumah kedua
68
Hari yang kosong
69
Kembali
70
Giliranku
71
Masih hidup
72
Kebenaran yang menyaksikan
73
Di bawah kendaliku
74
Kendali
75
Sisa hidup
76
Tempat untuk pulang
77
Para tahanan
78
Harga ambisi
79
Kendali
80
Kebangkitan sang pewaria
81
Tempat kembali
82
Seperti ombak
83
Berbeda
84
Pion
85
Sejak lama
86
Momen
87
Iya?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!