Sarapan untuk para benalu

"Wati, di mana kamu?" teriak Amelia dari meja makan.

Arman yang baru saja keluar dari kamar langsung menatap istrinya heran. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama teriak-teriak begitu?" tanyanya sambil mengusap wajah lelah.

"Ini, Pah. Bi wati itu," ucap Amelia sambil menunjuk meja makan yang kosong melompong. "Dia belum buat sarapan sama sekali!"

Arman menoleh ke meja makan. Benar saja, tidak ada piring, tak ada gelas, bahkan aroma masakan pun nihil.

“Coba Mama lihat di kamarnya, siapa tahu dia belum bangun,” saran Arman tenang.

Amelia mendengus sebal, tapi tetap melangkah menuju kamar Bi Wati.

Tok! Tok!

“Wati, di mana kamu, hah!” teriaknya lantang.

Tok! Tok!

“Wati! Wati!” panggil Amelia lagi dengan suara meninggi. Tak ada jawaban.

Dengan kesal, Amelia membuka pintu kamar itu. Kosong. Ia masuk ke kamar mandi kecil di dalamnya—juga kosong.

“Di mana sih dia!” gumam Amelia geram sebelum kembali ke ruang tengah dengan wajah masam.

“Bagaimana, Mah?” tanya Arman.

“Bi Wati tida ada, Mas,” jawab Amelia pendek.

Belum sempat Arman berkata apa-apa, Ares turun dari tangga sambil menguap lebar.

“Ada apa ribut-ribut, Mah? Kenapa Mama teriak-teriak? Mama pikir ini hutan, apa?”

“Wati nggak ada, Res. Sarapan juga nggak ada sama sekali,” jawab Amelia dengan nada penuh kejengkelan.

Ares mengerutkan kening. “Coba cek kamarnya, Ma.”

“Mama sudah cek. Pembantu itu nggak ada,” sahut Amelia. “Coba panggil Elina, suruh dia buat sarapan. Mama lapar.”

“Elina sudah pergi dari tadi, Mah,” jawab Ares.

“Apa? Secepat itu?” ucap Amelia terkejut.

“Iya. Ada klien dari luar negeri yang harus dia temui pagi ini.”

“Terus bagaimana dong? Mama lapar nih.”

“Res, kamu harus cari pembantu baru,” timpal Arman.

“Elina nggak mau, Pah. Dia cuma mau Bi Wati,” jawab Ares.

“Tuh anak pelit amat sih. Bayar pelayan puluhan orang juga nggak bikin miskin,” omel Amelia.

“Daripada Mama marah-marah, lebih baik Mama masak. Papa harus sarapan,” ucap Arman datar.

“Mas, kuku Mama baru dari salon kemarin. Bisa rusak kalau masak,” jawab Amelia sambil memamerkan kukunya.

“Pesan saja,” kata Ares malas.

“Ya sudah, kamu pesan,” balas Amelia cepat.

“Mama nggak bisa pesan? Mama punya ponsel, kan?”

“Uang Mama tinggal sedikit, Res. Kemarin Mama shopping sama Maya.”

“Apa? Tinggal sedikit? Kemarin aku baru transfer, jumlahnya juga nggak sedikit,” ucap Ares kesal.

“Namanya juga shopping. Nanti jangan lupa transfer lagi ya,” jawab Amelia enteng.

Ares menghela napas kasar.

“Res, cepat pesan sarapan. Papa sudah lapar,” ujar Arman.

Ares baru hendak memesan saat suara tak asing terdengar dari luar.

“Tidak usah beli, Mas. Aku bawa sarapan.”

Ketiganya langsung menoleh bersamaan.

Di ambang pintu, Maya berdiri sambil membawa dua wadah besar tertutup kain. Senyumnya manis, seolah baru saja keluar dari dapur.

“Gak usah pesan, Mas. Aku sudah masakin sarapan buat Papa sama Mama.”

Wajah Amelia langsung berubah sumringah.

“Ya ampun, Maya… Calon menantu Mama memang paling pengertian.”

Maya meletakkan wadah itu di meja makan dan membuka tutupnya perlahan. Aroma makanan menyebar ke seluruh ruangan.

Dalam hati, Maya terkekeh sinis.

Mana mungkin aku masak, tinggal pesan jadi deh.

Ares tersenyum. “Makasih ya, Sayang. Kamu repot-repot.”

“Gak apa-apa, Mas. Selama Mas dan keluarga Mas senang.”

Arman ikut mengangguk puas.

“Nah, ini baru perempuan idaman. Tidak seperti pembantu itu, pagi-pagi malah kabur entah ke mana.”

“Lihat tuh, Res. Istrimu seharusnya belajar dari Maya,” sahut Amelia bangga.

Maya menunduk malu-malu, padahal di dalam hatinya ia tertawa puas menikmati semua pujian itu.

Ia membagikan kotak makanan lalu duduk manis di samping Amelia.

“Mas…” ucapnya lirih, “aku kasihan lihat Mama sama Papa. Harusnya mereka nggak sampai kelaparan begini. Elina juga… sibuk terus, ya.”

“Iya,” jawab Ares pelan. “Sekarang dia fokus ke perusahaan.”

“Perusahaan terus,” dengus Amelia. “Sampai lupa sama suami dan mertuanya.”

Maya menatap Ares dengan mata berkaca-kaca.

“Mas… aku takut nanti Mas terus-terusan begini. Aku nggak tega lihat Mas diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri.”

Ares menggenggam tangan Maya di bawah meja.

“Tenang, Sayang… semua ini cuma soal waktu.”

“Benarkah, Mas?”

“Percaya sama aku. Aku akan mengambil semuanya. Perusahaan, aset, bahkan rumah ini. Dia akan tahu rasanya kehilangan segalanya.”

••

Di restoran bintang lima itu, Elina sengaja mengajak Bi Wati sarapan bersama. Ia tahu, tindakannya akan membuat seisi rumah merasa kesal, tapi hari ini ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu: membuat orang yang selama ini setia padanya merasa dihargai.

“Non, makanannya enak banget,” ucap Bi Wati sambil menikmati hidangan di hadapannya. Matanya berbinar, seolah lupa sejenak pada semua tekanan yang ia alami di rumah itu.

“Syukurlah Bibi suka. Maaf ya, Bi… Elina baru bisa ngajak Bibi lagi sekarang,” ucap Elina dengan nada sedikit bersalah.

“Tidak apa-apa, Non. Bibi tahu Non sibuk di perusahaan,” jawab Bi Wati tulus.

“Saking sibuknya aku… sampai aku diselingkuhi, Bi,” ucap Elina dengan senyum miris.

Bi Wati langsung menggenggam tangan Elina dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca.

“Non… Bibi tahu semuanya bukan salah Non. Non itu perempuan baik, kerja keras, sayang keluarga. Kalau ada orang yang tega mengkhianati Non, itu karena hatinya yang busuk, bukan kerana Non kurang apa pun."

Elina terdiam. Senyum tipisnya memudar, berganti sorot mata yang bergetar.

“Kadang Elina capek, Bi… Elina merasa sendirian di rumah sendiri. Semua orang seolah menunggu aku jatuh.”

Bi Wati menggeleng pelan.

“Non tidak sendirian. Selama Bibi masih hidup, Bibi selalu di pihak Non. Mereka boleh bersekongkol, boleh merendahkan Non… tapi Non jangan pernah merendahkan diri sendiri.”

Elina menunduk, menahan perasaan yang sejak tadi ia kubur rapat-rapat.

“Non itu kuat,” lanjut Bi Wati lembut. “Bibi lihat sendiri Non bangun perusahaan ini dari nol, berdiri meski sering disakiti. Kalau sekarang Non terluka, itu bukan tanda Non lemah. Itu tanda Non manusia… tapi manusia yang luar biasa.”

Elina menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil—senyum yang kali ini bukan miris, melainkan penuh tekad.

“Terima kasih, Bi. Kata-kata Bibi… lebih berharga dari apa pun yang mereka rampas dariku.”

Bi Wati tersenyum dan mengangguk.

“Makan sepuasnya, Bi. Hari ini Bibi harus happy dan kita akan belanja sepuasnya,” ucap Elina.

“Non…” Bi Wati hendak menolak.

“Tidak ada tapi-tapian, Bi. Bibi harus belanja sepuasnya, apa pun yang Bibi inginkan untuk Bibi dan anak Bibi,” potong Elina cepat.

“Makasih, Non. Bibi hanya bisa balas dengan doa… semoga setelah badai ini ada pelangi untuk Non Elina.”

“Makasih, Bi.”

Hari itu Bi Wati benar-benar menikmati waktunya bersama Elina. Mereka berpindah dari satu butik ke butik lain. Elina tak segan membelikan pakaian-pakaian terbaik untuk Bi Wati dan anaknya di kampung.

“Bibi pilih saja yang mana, tidak usah lihat harga,” ucap Elina dengan nada setengah mengancam.

“Iya-iya, Non,” jawab Bi Wati terkekeh.

Saat Bi Wati sibuk memilih pakaian, Elina membuka aplikasi di ponselnya secara perlahan. Layar menampilkan beberapa kamera tersembunyi yang terpasang di sudut-sudut rumah—ruang tamu, ruang makan, hingga dapur.

Ia mengetuk salah satu ikon.

Tampak Ares, Maya, Amelia, dan Arman sedang bercanda di meja makan. Ares dan Maya saling suap-suapan, tertawa tanpa rasa bersalah. Bibir mereka bergerak membahas bagaimana semua aset milik Elina akan jatuh ke tangan Ares.

Senyum Elina perlahan mengembang—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang wanita yang baru saja memastikan bahwa semua bidak caturnya bergerak tepat seperti yang ia harapkan.

“Silakan bermimpi setinggi langit, Ares,” bisiknya dingin.

“Karena sebentar lagi, akulah yang akan membangunkan kalian dengan kenyataan.”

Terpopuler

Comments

Nunuk Sutrisno

Nunuk Sutrisno

agak gmn ya ceritanya...sahabat dgn seenaknya sendiri begitu dirumah temannya yg lg kerja,gak masuk akal🤭🤭

2026-07-29

0

Titien Prawiro

Titien Prawiro

Apa memang Ares gk kerja? jadi parasit dirumah istri, tdk malukah?

2026-08-10

0

Ds Phone

Ds Phone

tak sedar diri lagi tu meraka semua

2026-08-23

0

lihat semua
Episodes
1 Benalu dibalik Cinta
2 Rumah yang penuh pengkhianat
3 Istri sah musuh dalam selimut
4 Semua bukti akan bicara
5 Sarapan untuk para benalu
6 Kalian menumpang dirumahku
7 Permainan gelap
8 Kos terakhir
9 Rumah Impian
10 Rencana tersembunyi
11 Siapa yang pantas dimeja ini?
12 Ratu tanpa takhta
13 Istri dan selir
14 Lupa posisi
15 Harga diri yang runtuh
16 Saat Ayah turun tangan
17 Harga sebuah percepatan
18 Perang tanpa suara
19 Dibawah perlindunganku
20 Kilau yang menyakitkan
21 Menunggu jatuh
22 Kesempatan Emas yang salah.
23 Saat kesabaran Elina habis
24 Isu yang disiapkan
25 Di balik meja makan
26 Panggung kemenangan
27 Klaim tanpa hak
28 Di hadapan publik
29 Terbongkar
30 Kita selesai
31 Istirahat
32 Meninggalkan Astera
33 Di kota asing
34 Di tengah kerumunan
35 Hari yang tenang
36 Elvano
37 Tamparan harga diri
38 Api yang sama
39 Langkah pertama
40 Century Park
41 Atas nama Oma
42 Jejak yang terlalu bersih
43 Tempat bernama pulang
44 Runtuh perlahan
45 Perbedaan
46 Keluarga
47 Sinyal
48 Siapa aku?
49 Undangan
50 Terlambat
51 Bukan milik
52 Pantau
53 Tak tersentuh
54 Membela
55 Harga seorang putri
56 Waktu telah habis
57 Surat perintah
58 Balasan yang nyata
59 Giliranmu
60 Jejak di sungai
61 Nama yang terungkap
62 Ilusi
63 Air mata dan balas dendam
64 Masih bernapas
65 Putus dibalik jeruji
66 Yang mandul bukan dia
67 Rumah kedua
68 Hari yang kosong
69 Kembali
70 Giliranku
71 Masih hidup
72 Kebenaran yang menyaksikan
73 Di bawah kendaliku
74 Kendali
75 Sisa hidup
76 Tempat untuk pulang
77 Para tahanan
78 Harga ambisi
79 Kendali
80 Kebangkitan sang pewaria
81 Tempat kembali
82 Seperti ombak
83 Berbeda
84 Pion
85 Sejak lama
86 Momen
87 Iya?
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Benalu dibalik Cinta
2
Rumah yang penuh pengkhianat
3
Istri sah musuh dalam selimut
4
Semua bukti akan bicara
5
Sarapan untuk para benalu
6
Kalian menumpang dirumahku
7
Permainan gelap
8
Kos terakhir
9
Rumah Impian
10
Rencana tersembunyi
11
Siapa yang pantas dimeja ini?
12
Ratu tanpa takhta
13
Istri dan selir
14
Lupa posisi
15
Harga diri yang runtuh
16
Saat Ayah turun tangan
17
Harga sebuah percepatan
18
Perang tanpa suara
19
Dibawah perlindunganku
20
Kilau yang menyakitkan
21
Menunggu jatuh
22
Kesempatan Emas yang salah.
23
Saat kesabaran Elina habis
24
Isu yang disiapkan
25
Di balik meja makan
26
Panggung kemenangan
27
Klaim tanpa hak
28
Di hadapan publik
29
Terbongkar
30
Kita selesai
31
Istirahat
32
Meninggalkan Astera
33
Di kota asing
34
Di tengah kerumunan
35
Hari yang tenang
36
Elvano
37
Tamparan harga diri
38
Api yang sama
39
Langkah pertama
40
Century Park
41
Atas nama Oma
42
Jejak yang terlalu bersih
43
Tempat bernama pulang
44
Runtuh perlahan
45
Perbedaan
46
Keluarga
47
Sinyal
48
Siapa aku?
49
Undangan
50
Terlambat
51
Bukan milik
52
Pantau
53
Tak tersentuh
54
Membela
55
Harga seorang putri
56
Waktu telah habis
57
Surat perintah
58
Balasan yang nyata
59
Giliranmu
60
Jejak di sungai
61
Nama yang terungkap
62
Ilusi
63
Air mata dan balas dendam
64
Masih bernapas
65
Putus dibalik jeruji
66
Yang mandul bukan dia
67
Rumah kedua
68
Hari yang kosong
69
Kembali
70
Giliranku
71
Masih hidup
72
Kebenaran yang menyaksikan
73
Di bawah kendaliku
74
Kendali
75
Sisa hidup
76
Tempat untuk pulang
77
Para tahanan
78
Harga ambisi
79
Kendali
80
Kebangkitan sang pewaria
81
Tempat kembali
82
Seperti ombak
83
Berbeda
84
Pion
85
Sejak lama
86
Momen
87
Iya?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!